Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 20 - Mencari Solusi


__ADS_3

“Kami baru-baru ini menemui dokter. Mamamu membutuhkan operasi segera untuk pemasangan cincin. Kami tidak mempunyai biaya untuk melakukannya. Asuransi kesehatan mamamu tidak menanggung seluruh biaya yang akan dibutuhkan. Dengan beberapa tagihan bank yang belum lunas, aku tidak bisa mengajukan pinjaman lagi. Kita butuh uang secepatnya untuk biaya operasi mamamu, Ara,” ucap Papa yang menjatuhkan bom begitu saja di depanku.


“Mengapa Papa dan Mama tidak pernah cerita sebelumnya?” protesku. Aku tidak bisa tidak marah kepada mereka setelah selama ini mereka diam saja, lalu tiba-tiba memberiku kabar buruk ini.


“Kami tidak ingin membebanimu. Lagi pula kamu sudah menikah dan sudah punya tanggung jawab yang lain. Kami tidak mungkin datang kepadamu untuk menceritakan ini. Kamu pasti tidak tinggal diam dan berusaha menolong kami. Aku tidak bisa melakukan itu kepadamu.”


“Papa dan Mama adalah orang tuaku, tentu saja aku akan menolong semampuku. Tapi aku tidak punya uang simpanan,” ucapku pelan.


“Seharusnya kamu tidak menolak uang yang diberikan suamimu kepadamu. Enam tahun menikah, pasti sekarang kamu sudah punya cukup uang untuk membantu kami.” Papa memijat keningnya dengan jempol dan telunjuknya. Aku menatapnya tidak percaya.


“Apakah Papa menikahkan aku dengannya demi uang? Kalau aku menerima uangnya, itu sama saja dengan menjual tubuhku sendiri,” balasku.


“Ara, dia itu suamimu. Sudah sepantasnya dia menafkahi istrinya sendiri.” kata Papa dengan nada putus asa, terlihat lelah dengan perdebatan kami.


“Aku tidak sudi menerima uangnya. Menikah dengannya sudah cukup membuatku menderita. Aku tidak mau berutang budi dengan menerima uang darinya. Kita akan cari keluar lain. Kalau perlu aku akan bekerja untuk mendapatkan uang itu.”


“Tapi kita tidak punya banyak waktu, Nak,” ucap Mama pelan, sedikit mendesak. “Bukan maksudku membuatmu susah. Tapi kita benar-benar tidak punya banyak waktu.”


“Ma, aku akan usahakan yang bisa aku lakukan. Mama jangan khawatir, ya.” Aku berusaha untuk menenangkannya. Bila Mama merasa khawatir yang berlebihan, maka sakitnya akan semakin parah.


Aku harus bagaimana sekarang? Mengadu kepada Hendra, aku tidak sudi. Tetapi mengusahakan uang sendiri, aku tidak punya. Bila waktunya mendesak begini, dari mana aku bisa mendapatkan uang yang banyak kalau bukan darinya? Bekerja juga bukan pilihan yang tepat. Aku tidak mungkin bisa mendapatkan pekerjaan yang memberi banyak gaji pada bulan pertama.


Terdengar bunyi dari arah luar rumah. Tanda bahwa suamiku sudah pulang. Aku mendengar langkah kaki di depan pintu ruangan menuju pintu depan. Itu pasti Abdi yang akan membukakan pintu untuk Hendra. Dia mungkin berpikir aku tidak akan bisa membuka pintu seperti biasanya karena menemani Papa dan Mama berbincang.


“Suamiku sudah pulang. Aku segera kembali.” Aku berdiri dan membuka pintu. Aku menoleh sesaat ke arah kedua orang tuaku sebelum keluar ruangan. Mereka terlihat begitu tua dan rapuh karena masalah yang sedang mereka hadapi. Aku merasakan perasaan bersalah menjalar di dadaku. Aku masih belum bisa menemukan cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah mereka.

__ADS_1


Aku berjalan menuju pintu depan. Abdi membukakan pintu dan Hendra melangkah masuk. Dia memberikan kunci mobil kepada pembantu kami tersebut lalu berjalan mendekatiku dengan wajah bahagia. Tangannya melingkari pinggangku lalu bibirnya mengecup bibirku.


“Apakah Papa dan Mama sudah datang?” tanya Hendra. Aku menganggukkan kepalaku.


“Iya,” jawabku pelan. Dia tersenyum. Dengan salah satu tangan tetap berada di pinggangku, dia berjalan mendekati ruang duduk.


“Ayo, kita temui mereka,” ajaknya dengan senyum bahagia.


Hendra membukakan pintu dan mempersilakan aku untuk masuk lebih dahulu. Aku berterima kasih lalu masuk ke dalam ruangan tersebut. Papa dan Mama berdiri menyambut kedatangannya. Dia mendekati mereka. Aku berdiri tidak jauh darinya.


“Hai, Pa.” Hendra menjabat tangan Papa.


“Hai, Nak,” balas Papa dengan ramah. Papa sama sekali tidak terlihat gundah seperti saat terakhir kali aku melihatnya tadi. Aku mendesah lega. Masalah keluargaku bukanlah hal yang ingin aku bagi dengan suamiku. Jujur saja, aku tidak pernah ingin berbagi masalah apa pun dengannya.


“Ma,” Hendra memeluk Mama sesaat lalu melepaskan pelukannya. “Silakan duduk.”


“Dengan senang hati, Pa. Maaf, kami tidak membuat perayaan khusus untuk hari jadi pernikahan kami, hanya acara makan malam sederhana.” Hendra menoleh ke arahku. Aku hanya tersenyum sambil menundukkan kepalaku.


“Setelah perayaan besar untuk ulang tahun putri kami, mengadakan perayaan lagi hanya akan membuang-buang uang,” kata Papa setuju.


“Aku tidak pernah keberatan menggunakan uang sebanyak apa pun kalau itu untuk menyenangkan istriku.” Hendra meraih tanganku yang ada di atas pangkuanku lalu meremasnya pelan.


“Kamu memang suami yang baik, Nak.” Papa melirik ke arahku sesaat sebelum kembali melihat ke arah Hendra. Dia memang suami yang baik, jadi aku tidak akan mendebatnya.


“Bagaimana kabar Papa dan Mama? Sehat-sehat saja?” tanya Hendra.

__ADS_1


“Kami sehat.”


“Zahara akan sangat sedih kalau dia tahu bahwa Papa dan Mama kurang sehat. Aku tidak suka melihat istriku sedih. Kalau ada yang bisa aku bantu, aku harap Papa dan Mama tidak segan datang kepadaku. Sebagai suami Zahara, aku juga adalah anak Papa dan Mama.” Entah mengapa kalimatnya itu seperti punya arti tersembunyi. Apakah diam-diam dia tahu mengenai penyakit Mama?


“Tentu saja, Nak.” Papa kembali melihat sesaat ke arahku lalu kembali ke arah menantunya. Aku hanya memejamkan mata berharap Papa berhenti melakukannya. Hendra bisa curiga bahwa ada sesuatu yang kami sembunyikan darinya.


“Bagaimana dengan kalian berdua? Segalanya baik-baik saja?” tanya Mama.


“Baik, Ma. Terima kasih.” Hendra melihat ke arahku. “Putri Mama telah merawatku dengan baik. Sampai sekarang aku merasa begitu bahagia dia bersedia menikah denganku. Dia telah melengkapi hidupku.”


“Kalau dia membuatmu susah, beritahu aku. Aku akan mengajarinya lagi,” goda Mama. Aku cemberut mendengar ucapannya itu.


“Akan aku ingat, Ma,” ucap Hendra geli.


Mendengar deru sepeda motor, aku mengerutkan kening. Aku mengenal bunyi itu. Tetapi bisa saja dugaanku salah. Ada banyak orang yang menggunakan sepeda motor yang sama, dengan bunyi mesin yang sama. Senyuman Hendra membuatku curiga.


“Ah, sepertinya itu Zach,” ucap Hendra menjawab kecurigaanku. Aku mengerutkan kening.


“Kamu mengundang Zach juga?” tanyaku yang senang dengan ide itu.


“Tentu saja.” Dia berdiri lalu mengulurkan tangannya kepadaku. “Mari, Pa, Ma, kita ke ruang makan sekarang. Makan malam untuk kita pasti sudah siap.”


Saat kami keluar dari ruangan itu bertepatan dengan Zach masuk ke dalam rumah melalui pintu depan. Dia tersenyum kepada kami semua. Dia mendekatiku, memelukku lalu mengucapkan selamat atas ulang tahun pernikahanku. Aku hanya tersenyum kecil. Kemudian dia menjabat tangan Hendra dan memeluknya dengan gaya khas pria. Kami beriringan menuju ruang makan.


Wajah Zach berubah ceria melihat makanan yang disajikan di atas meja makan. Kami hanya tertawa geli melihatnya. Yuyun meninggalkan ruang makan setelah mengisi setiap gelas dengan air minum. Kami makan sambil berbincang dengan santai.

__ADS_1


Sesekali Zach menggodaku dan aku tidak diam saja mendengarnya berusaha menggangguku. Hendra hanya tersenyum melihat tingkah kami berdua. Papa dan Mama berusaha melerai ketika kami berdebat melewati batas.


__ADS_2