
Vivaldo mengerutkan keningnya melihat empat orang wanita berjalan ke arahnya dengan wajah sangat serius. Dia melihat ke kanan dan kiri berusaha untuk melarikan diri, tetapi dia bertindak bijak dengan berdiri diam di tempatnya. Bila dia kabur, maka dia sendiri yang akan menjadi perhatian orang banyak yang ada di sekitar kami.
“Kamu, apa kamu tahu apa yang terjadi karena mulut penuh kebohonganmu itu?” ucap Qiana dengan nada kesal. Dia mengarahkan telunjuknya ke wajah Vivaldo. Pria itu mundur selangkah. “Sahabatku dilecehkan orang-orang karena mereka pikir tubuhnya adalah milik bersama.”
“Kamu ini manusia atau bukan? Ini yang kamu sebut cinta? Setelah menyebabkan dia dan suaminya bercerai, legalitas anaknya diragukan, kamu masih berani datang menyusahkan hidupnya lagi? Dia tidak mencintaimu, jadi buka matamu. Hentikan semua ini.”
“Kalian orang kaya tahu apa tentang kami yang tidak punya kuasa atas hidup kami sendiri?” balas Vivaldo. “Ara tidak bisa lepas dari laki-laki itu karenanya kami belum bisa bersama.”
“Apa telingamu sudah tidak berfungsi lagi? Zahara tidak mencintaimu. Dia bercerai dari Hendra, apa dia pernah mencarimu? Apa dia pernah mengunjungimu di penjara? Dengar, ya. Ini terakhir kalinya aku mendengar kamu menyebarkan kebohongan mengenai dia. Bila kamu masih berani melakukan itu lagi, aku sendiri yang akan melaporkan semua kejahatanmu atas sahabatku,” ancam Qiana.
“Ara, apa kamu tidak bisa bicara sendiri? Kamu takut bicara jujur mengenai perasaanmu kepadaku karena mereka akan mengadu kepada Mahendra?” tanyanya kepadaku.
“Maaf, aku tidak mengenalmu.” Aku mengangkat kedua bahuku. Aku melihat ke arah Qiana. “Apa kamu sudah selesai bicara dengan kenalanmu, Qiana?” Dia tersenyum puas.
“Sekarang sudah.” Qiana menoleh ke arah Vivaldo, lalu membalikkan badannya. Tiba-tiba saja pria itu berlari melewati teman-temanku ke arahku. Bukan aku, tetapi anak laki-laki di dekatku.
“Hadi, dengar. Ayahmu bukan Mahendra, tetapi aku.” Vivaldo memegang tangan putraku agar dia melihat kepadanya. “Akulah ayahmu yang sebenarnya.”
“Tidak.” Hadi menarik tangannya. “Mahendra Satya Perkasa adalah papaku. Aku, Hadiyan Bagas Perkasa adalah putra dari Mahendra Satya Perkasa. Kamu adalah orang asing.” Liando segera berdiri melindungi Hadi melihat Vivaldo masih berusaha untuk bicara dengannya.
“Menyedihkan. Kamu sampai melibatkan anak-anak juga?” ucap Claudia yang berdiri di depan Liando. “Hendra yang sudah kamu hina itu jauh lebih terhormat darimu. Setidaknya, dia tidak pernah mencoba mengambil apa yang bukan miliknya.”
“Dia sudah mengambil Ara dariku.” Vivaldo menggeram pelan.
“Yang aku dengar, kamu sudah lama bersamanya tetapi tidak serius untuk menikahinya. Hendra hanya bertindak lebih cepat darimu. Dan yang aku dengar juga, Zahara sendiri yang ingin menikah dengannya. Sama sekali tidak ada paksaan,” tambah Claudia.
“Bukan hanya Qiana yang akan kamu hadapi bila kamu berusaha menyebarkan kebohongan lagi, tetapi aku juga. Kamu tidak akan suka berhadapan denganku. Aku selalu berhasil menghukum orang yang mencari masalah denganku dengan hukuman maksimal. Selalu.” Hilang sudah Claudia yang ceria ketika mengatakan kalimat itu.
__ADS_1
“Aku juga.” Lindsey berdiri di depan Claudia.
“Dan aku,” kata Darla tidak mau kalah.
Kami tidak menunggu respons Vivaldo dan memasuki mobil kami masing-masing. Claudia dan Mason berada di mobil Lindsey. Kami beriringan keluar dari bandara menuju rumahnya. Aku mengusap kepala Hadi dan merasa bangga kepadanya. Dia bisa menyebut nama ayahnya dengan benar. Aku berterima kasih kepada Liando atas tindakan cepatnya tadi. Dia membalas dengan sopan.
Hendra dan para suami datang menyusul untuk makan malam di kediaman Lindsey dan Edu begitu mereka pulang kerja. Suamiku segera mengerang melihat tumpukan hadiah untuk anak-anak kami dari Claudia dan Mason. Aku hanya tertawa melihatnya.
Charlotte mendapatkan lebih banyak kado dan dia sudah membuka semuanya dibantu oleh Hadi dan Dira. Kami ikut tersenyum bahagia setiap kali gadis kecil itu bersorak senang atau melompat-lompat histeris melihat isi dari setiap kotak yang dibukanya. Aku memberi pengertian kepada putriku setiap kali dia terlihat sedih karena benda-benda bagus itu tidak bisa dia miliki.
“Semua ini punya Charlotte, sayang. Punya Dira yang itu.” Aku menunjuk ke arah tumpukan hadiah yang sengaja aku biarkan tetap berada dalam ruangan agar dia tidak cemburu dengan sahabatnya.
“Mau lihat, Ma.” Dia menarik tanganku agar mendekati kado tersebut.
“Iya. Nanti di rumah, ya.” Dia mempertimbangkan ucapanku itu sesaat, lalu mengangguk.
Semua hadiah dari Claudia dibawa ke rumah oleh Liando. Tidak ada tempat di apartemen kami untuk semua barang tersebut. Lagi pula kami hanya tinggal sementara saja di sana. Hendra menggendong Dira saat kami tiba, sedangkan Hadi masih bangun dan bisa berjalan sendiri.
Malam itu aku masih bermimpi buruk. Aku terbangun dan mendapati napasku memburu dan keringat membasahi sekujur tubuhku. Hendra tidur pulas di sisiku. Aku segera mendekatinya dan meletakkan tangannya di tubuhku. Aku berusaha untuk tidur dalam pelukannya. Pergilah. Pergi dan jangan ganggu aku lagi. Aku mengucapkan mantra itu agar bisa segera tertidur.
Bila pada malam hari tidurku terganggu, maka aku tidur dengan nyenyak pada siang hari. Aku selalu memanfaatkan kesempatan itu saat anak-anak juga sedang tidur siang. Aku merasa jauh lebih segar pada sore harinya.
Salah satu ruangan di rumah Qiana sudah diubah menjadi ruang rias sementara. Ada lima kursi yang sudah tersedia untuk kami masing-masing lengkap dengan meja riasnya. Kami berbincang dengan santai saat penata rias dan rambut mengerjakan tugas mereka.
Kami saling memuji ketika kami bertemu lagi di ruang depan setelah memakai gaun kami masing-masing. Tentu saja Qiana adalah yang tercantik. Dia mengenakan gaun putih yang melekat mengikuti lekuk tubuhnya. Kami berempat memakai gaun malam berbeda model tetapi dari bahan yang sama berwarna ungu muda nyaris putih, warna kesukaan Qiana.
Para suami menatap kami tidak percaya saat mereka melihat penampilan kami. Hendra mendekat, lalu melingkarkan tangannya di pinggangku dan mencium bibirku dengan lembut. Dia berhati-hati agar tidak merusak lipstik yang menghiasi bibirku.
__ADS_1
“Seandainya saja kita berada di kamar sekarang,” bisiknya di telingaku. Aku tertawa kecil, berusaha mengabaikan aliran listrik yang bergerak dari telinga ke sekujur tubuhku. “Aku mencintaimu, cantik.”
“Apa kamu tidak akan mencintaiku jika aku tidak cantik lagi?” Aku berpura-pura tersinggung. Dia tertawa. “Aku juga mencintaimu, ganteng.”
“Ha! Pembohong. Aku tidak ganteng.” Dia memindahkan tangannya yang memelukku ke tanganku. “Dan tidak. Tidak peduli bagaimana pun keadaanmu, aku akan selalu mencintaimu.”
“Pembohong.” Aku membalas ucapannya dengan intonasi yang sama. Dia kembali tertawa. “Kamu jatuh cinta kepadaku karena wajahku.”
“Iya, aku mengakuinya. Tetapi aku tetap mencintaimu setelah kita melewati banyak hal bersama.” Itu benar. Dan itulah yang membuatku jatuh cinta kepadanya. Karena dia tidak menyerah kepadaku.
“Sudah, sudah. Hari ini adalah hari besarku tetapi malah kalian berdua yang mabuk kepayang,” protes Qiana. Aku dan Hendra tertawa mendengarnya.
Kami beriringan menuju convention center di mana perayaan ulang tahun pernikahan Qiana dan Helmut diadakan. Lapangan parkir sudah penuh dengan kendaraan para tamu undangan. Dan tentu saja, pintu masuk utama sudah dipenuhi dengan wartawan.
Mereka segera mengambil foto kami. Saat giliranku dan keluargaku, kami berdiri sesaat membiarkan mereka memotret aku dan Hendra bersama kedua anak kami. Aku dan teman-temanku masuk lebih dahulu saat giliran Helmut dan Qiana yang menjadi pusat perhatian.
Penerima tamu segera menyambut kami setelah melihat undangan yang kami bawa dan mengantar kami ke meja di mana label nama kami berada. Keluargaku satu meja dengan Darla, sedangkan Lindsey bersama Claudia. Hadi dan Dira duduk dengan manis dan menikmati makanan mereka.
Qiana dan Helmut sedang berada di ruang sebelah untuk mengikuti konferensi pers, jadi para tamu dipersilakan untuk menikmati santapan malam lebih dahulu. Setiap meja sudah dirapikan saat pembawa acara naik ke panggung meminta kami menyambut pasangan yang sedang berbahagia.
Hadi dan Dira bersorak senang melihat om dan tante mereka memasuki aula seperti layaknya pengantin baru. Keempat keponakan Qiana dan Helmut membuka jalan di depan mereka sambil menari dan menyebarkan kelopak mawar merah.
Mereka berdiri di panggung dan acara singkat perayaan ulang tahun mereka yang kedua puluh lima pun dimulai. Mereka berbagi cerita pengalaman pertama mereka bertemu, kapan mereka saling menyatakan cinta, hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Mereka kemudian bercerita apa yang mereka alami selama menjalani kehidupan bersama.
Bunyi mendenging yang memekakkan telinga memenuhi aula tersebut. Kami serentak menutup kedua telinga dengan tangan. Helmut yang sedang bicara berhenti sejenak sambil melihat ke arah mikrofon yang dipegangnya.
“Semua cerita indah yang kalian katakan itu hanya omong kosong. Pernikahan kalian tidak sempurna dan aku akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada semua orang.” Seorang wanita berdiri di atas panggung setelah berhasil mengambil paksa mikrofon dari pembawa acara. Aku ingat wajah itu. Tetapi bagaimana dia bisa berada di tempat ini?
__ADS_1