
Pria itu tidak membantuku sama sekali dengan menyapaku dan melambaikan tangannya saat aku dan keluargaku pergi dari restoran tersebut. Hadi hanya membalas sapaannya dengan sopan tanpa mengurangi kecepatan langkahnya di sisiku.
Hendra membuka kunci mobil, lalu mendudukkan Dira di kursi khususnya. Dia tidak mau melihat ke arahku sama sekali. Aku masuk ke mobil bersamaan dengannya. Setelah kami memasang sabuk pengaman, dia mengendarai mobil menjauh dari restoran tersebut.
Kedua anak kami sudah pulas saat kami tiba di vila. Seperti biasa, aku mengurus Dira, sedangkan dia membantu Hadi. Salakan anjing segera menyambut kami. Kali ini dia mengejutkan aku. Bukannya mengikuti Hendra dan Hadi, makhluk kecil itu mengikuti aku ke kamar Dira. Dia menyalak senang membuatku kesal. Sudah malam dan putriku perlu beristirahat.
“Ara,” panggil Hendra dari ambang pintu. Dia tidak menuruti panggilan tuannya itu, malah tetap menyalak menggangguku. “Sepertinya dia merindukan Dira. Kamu bisa turunkan dia sebentar agar Ara melihatnya.” Aku jelas menolak ide itu.
“Anjing ini menyayangi anak kita, kamu jangan bersikap begitu.” Hendra menggendong Dira kemudian duduk di lantai. Anak anjing itu mengendus-endusnya, lalu terlihat sedih karena Dira tidak membalas sapaannya. “Dia sudah tidur. Kamu bisa bermain dengannya lagi besok pagi.” Hendra mengusap-usap kepala anak anjing yang merintih sedih itu.
Setelah menidurkan Dira, aku menuju kamarku dan lagi-lagi bertemu dengan Hendra yang tidak mengenakan baju. Anak anjing itu berdiri di dekatnya dengan ekor bergoyang senang. Dia mendengar tuannya menceritakan apa yang dilakukannya bersama kami tadi. Aku hanya melewati mereka dan masuk ke kamar mandi.
Aku cepat-cepat mandi karena airnya dingin, lalu bergegas mengenakan salah satu piyama bersihku. Lidahku tiba-tiba ingin menikmati minuman hangat. Aku mendengar suasana di luar kamar. Hening. Apa Hendra dan anak anjing itu sudah tidur? Dia terlihat marah di restoran tadi, aku takut dia akan membunuhku jika kami hanya berdua saja. Hendra yang sedang marah sangat mengerikan.
Aku membuka pintu dan mendengar suara dari televisi. Tetapi aku tidak melihat pria itu di mana pun. Aku menutup pintu dan berjalan menuju dapur. Ternyata dia juga punya rencana yang sama. Dia sedang berada di dapur membuat minuman hangat yang dari aromanya adalah cokelat.
“Kamu mau marshmallow pada cokelatmu?” tanyanya, lagi-lagi memamerkan bahwa dia masih tahu banyak mengenai kesukaanku. “Baik. Aku beri beberapa saja.”
“Tambah lagi,” kataku tanpa sempat mencegah diriku sendiri. Aku cemberut melihat dia tersenyum penuh kemenangan. Dia memberikan mug bagianku. “Terima kasih.” Oh, Tuhan. Sengatan listrik itu lagi. Apa aku tidak akan pernah terbiasa bersentuhan dengannya tanpa memberi reaksi?
“Kencan kita hari ini akan sangat menarik.” Dia mengangkat sebuah buku yang segera aku kenali.
“Kamu sudah selesai membacanya?” tanyaku tidak percaya.
“Dan aku masih tetap pada pendapat awalku. Bukumu jelek.” Dia membawa buku dan mug ke ruang depan. Aku mengikutinya dengan membawa mug berisi minuman hangatku juga. Sepertinya dia tidak marah lagi. Dia sama sekali tidak menyinggung mengenai kejadian di restoran.
“Mengapa kamu bilang begitu? Penerbit tidak akan mau menerbitkan buku itu jika ceritanya seburuk yang kamu katakan. Dan respons pembaca juga tidak akan sebaik yang aku terima. Apa kamu tidak tahu bahwa buku itu sudah masuk cetakan ketiga hanya dalam waktu kurang dari satu tahun?” Aku membela karyaku itu sekuat tenaga. Aku duduk di sofa di sampingnya.
__ADS_1
“Kamu harus ubah karakter tokohmu pada buku keempat jika kamu ingin mendapat sambutan yang lebih baik.” Dia menutupi kakiku dengan selimut. “Kamu sudah siap?”
“Silakan serang aku,” jawabku tidak gentar. Dia tertawa kecil.
“Pertama, Za, jangan buat cerita di mana kedua tokoh mati-matian memperjuangkan cinta mereka jika pada ujungnya mereka tidak berakhir bersama. Kamu hanya akan membuat emosi pembaca terbuang percuma. Kami berdoa, berharap untuk kedua tokoh utamamu, tetapi kamu malah memisahkan mereka? Ada apa denganmu?”
“Dan tokoh wanitamu sangat plin-plan. Jika mau, katakan mau. Tidak, tidak. Untuk apa dia memberi harapan begitu besar kepada sang pria? Lalu pada akhirnya memilih pria lain yang sudah dijodohkan keluarganya dengannya? Alasannya hanya karena dia tidak mau menyusahkan pria yang dia cintai? Kami para pria lebih baik mati demi wanita yang kami cintai daripada melihatnya bahagia dengan yang lain.” katanya berapi-api.
“Kamu sedang membicarakan tokoh dalam cerita dan bukan sedang mencampuradukkannya dengan kisah dalam kehidupan nyata, ‘kan?” tanyaku penuh selidik.
“Tidak. Aku murni kesal karena kebodohan tokoh utama dalam bukumu,” katanya dengan serius.
“Jika pria itu seperti yang kamu sebutkan, dia tidak akan berhenti berjuang. Dia akan mengajak wanita itu kawin lari,” balasku dengan santai.
“Di mana? Di mana tokohmu itu pernah mengatakannya?” tanyanya sambil membuka-buka halaman buku di tangannya.
“Itu kesalahanmu yang berikutnya. Karena itu aku katakan semalam, aku mengenal cara berpikirmu. Jadi aku tahu bahwa bukumu akan mudah ditebak.” Dia meletakkan buku itu di atas meja. “Za, tokohmu tidak bisa berharap bahwa sang pria bisa membaca semua yang ada dalam pikirannya. Dia harus mengatakannya. Kamu tidak cukup hanya mengekspresikan cinta, kamu harus sampaikan apa yang ada dalam kepalamu.”
Aku menatapnya sejenak. Dia menelengkan kepalanya melihatku tidak merespons. “Mengapa aku merasa bahwa kamu sedang memarahiku dan bukan tokoh buku itu?”
“Karena dia adalah hasil rekayasa pikiranmu sendiri.” Dia menggeleng pelan. “Aku harap kamu lebih baik lagi pada buku keempatmu. Berhenti menggunakan karakter wanita yang lemah begitu.”
“Apa kamu sedang mengatakan bahwa aku lemah?” tanyaku mulai tidak suka. Dia hanya diam berarti dugaanku benar. “Kamu masih marah karena aku tidur dengan Aldo?” Dia tertawa kecil.
“Kita sudah bercerai. Aku tidak peduli kamu tidur dengan siapa di luar sana selama kamu menjaga anak kita dengan baik.” Dasar pembohong. Jika dia tidak peduli, dia tidak akan terdengar marah.
“Selagi kita membahas ini, aku ingin mengklarifikasi sesuatu.” Akhirnya, kesempatan yang sudah aku tunggu datang juga. “Aku dan Aldo tidak tidur dua kali. Hanya satu kali dan aku tidak menikmatinya seperti yang kamu dan Aldo klaim selama ini. Kami juga bukan sepasang kekasih, kami tidak pernah kembali bersama.”
__ADS_1
“Apa bedanya? Kamu mau tidur berapa kali pun dengannya tidak akan mengubah kenyataan bahwa kamu memberikan milikku kepada pria lain.”
“Aku tahu ini tidak akan mengubah apa pun. Aku hanya ingin mengurangi beban yang menekan pundakku. Aldo berbohong mengenai aku dan aku berhak untuk membela diriku. Aku tidak seburuk yang kamu pikirkan.”
“Aku tidak pernah memikirkan yang buruk mengenaimu, Za. Kamu salah paham. Aku meninggalkan kamu agar kamu bahagia dengan pria yang kamu cintai. Dan sekalipun aku pernah mengatakannya, aku tidak membencimu. Jangan jadikan perceraian kita sebagai beban untukmu. Cari bahagiamu.” Dia mengangkat tangannya mencegahku untuk bicara. “Cukup. Tidak perlu lagi membahas masa lalu. Aku sudah bilang, kita hanya akan saling menyakiti.”
“Baiklah. Terserah kamu saja.” Aku melirik ke arah buku. “Aku tidak berhasil membuatmu menyukai bukuku. Katakan, apa yang kamu inginkan?”
“Aku bisa meminta apa pun dan kamu akan memenuhinya, ‘kan?” katanya mengonfirmasi.
“Iya. Aku tidak akan melanggar janjiku,” jawabku dengan tegas.
“Ceritakan kepadaku apa yang terjadi pada malam itu sehingga kamu mengandung Dira.” Dia benar. Aku kini menyesali kesepakatan yang aku buat dengannya.
...*******...
...~Author's Note~...
Bab seratuuuss ...! ♡♡♡ Waahh .... Ternyata bisa juga sampai di sini dalam waktu satu bulan. ≧ω≦
Terima kasih atas dukungannya, ya, teman-teman. Jangan lupa kasih jempol, beri komentar jika ada, juga bantu vote, rating, dan share untuk menaikkan popularitas buku ini. Sekali lagi, terima kasih. ♡(´ε` )♡
Kira-kira Zahara mau cerita, ngga, ya, apa yang terjadi pada malam sekitar tiga tahun yang lalu? Atau dia akan membiarkan Hendra menebak sendiri sampai dia mengingatnya? Hihihi .... Menyenangkan bisa menggoda mantan sendiri. Aku kembali ke laptop. Sampai nanti. ^ω^
Salam sayang,
Meina H.
__ADS_1