Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 172 - Jawaban dari Masalah Kita


__ADS_3

Aku berada pada puncak bertambahnya usiaku. Keluarga, sahabat, dan mereka yang menyayangi aku dan suamiku berada di rumah kami, di kebun ini untuk merayakan hari lahirku. Tetapi pada saat yang bersamaan, dia datang dengan pisau terhunus di leherku. Setelah apa yang dia lakukan selama ini, aku percaya dia sanggup menyakiti aku jika aku melawan perintahnya. Ya, Tuhan. Apakah hari ini adalah hari kematianku?


“Sedikit saja istriku tergores, kamu akan mati di tanganku.” Hendra menatap Vivaldo dengan tajam. Dia tidak mengalihkan pandangan matanya sama sekali dari pria yang menahan tubuhku.


“Mama!!” teriak Hadi. Zach segera menahannya agar tidak mendekat. Adikku menatapku dengan khawatir, sama seperti tatapan istrinya. Mungkin karena mendengar suara kakaknya, Dira yang ada dalam pelukan Claudia ikut menangis memanggil namaku.


“Semua ini tidak akan terjadi, seandainya saja kamu tidak menyulitkan aku, sayang,” kata Vivaldo sambil perlahan membawaku melangkah mundur bersamanya. “Aku melakukan semua ini demi bisa bersamamu. Aku harus lebih kaya dari laki-laki itu agar kamu mau kembali kepadaku. Tetapi seperti biasa, kamu berlagak jual mahal.”


“Hubungan kita sudah lama berakhir. Sejak kamu mencium perempuan itu di kamar sewamu, aku sudah bukan milikmu lagi. Apa pun yang kamu lakukan, aku tidak akan pernah kembali kepadamu. Kamu sudah menghancurkan aku. Apa kamu pikir aku sudah gila mau hidup bersamamu setelah segala yang kamu rencanakan bersama Dicky dan Nora?” Seharusnya aku tidak memprovokasi dia, tetapi aku tidak tahan lagi. Biar saja bila dia mau membunuh aku. Mungkin itu jalan yang terbaik.


“Kamu pikir aku takut menyakiti kamu, ya? Bila aku tidak bisa mendapatkan kamu kembali. Maka laki-laki itu juga tidak. Aku datang untuk memberi kamu kesempatan terakhir. Kembali kepadaku, maka semua orang akan baik-baik saja. Tolak aku, ini akan menjadi ulang tahun terakhirmu,” ancamnya dengan sedikit menekan mata pisau itu ke leherku. Orang-orang memekik ketakutan.


“Laki-laki berengsek!” pekik Qiana. “Lepaskan dia! Apa kamu tidak bisa bersikap jantan satu kali saja dalam hidupmu? Zahara tidak mencintai kamu lagi. Dia tidak mau bersamamu. Untuk apa kamu terus memaksanya? Apa kamu sudah tidak punya harga diri lagi?”


“Ara hanya milikku. Dia hanya akan menjadi milikku, bukan milik yang lain. Mundur!” hardik Vivaldo saat Hendra maju satu langkah saat perhatiannya teralihkan oleh Qiana. “Jangan coba-coba mendekat. Aku tidak akan mengatakannya lagi.”


“Bunuh saja aku. Aku juga tidak mau hidup lagi. Aku lelah dengan permainanmu. Aku juga bosan menjadi pihak yang disalahkan setelah tidur denganmu. Kamu bisa bebas pergi menyebar fitnah atas perbuatan yang kamu rencanakan sendiri. Tetapi aku yang menanggung dosamu? Sudah cukup. Bunuh saja aku. Kita akhiri semua ini.” Dengan tangan kananku, aku memegang tangannya yang menggenggam pisau.


“Sayang, jangan lakukan itu!” seru Hendra panik. Aku tersenyum kepadanya. Suamiku sayang. Pria yang sangat baik yang pernah aku sia-siakan. Ketulusannya, cintanya, perhatiannya, kebaikan hatinya, bahkan pengorbanannya untukku tidak akan pernah bisa aku balas.

__ADS_1


Aku sudah lelah dengan semua ini. Mengapa dia harus datang lagi? Mengapa dia harus mengganggu hidupku lagi? Apa belum cukup semua penderitaan yang aku alami akibat perbuatannya? Sampai kapan dia akan membuat rencana demi rencana lagi untuk menghancurkan hidupku? Penjara tidak mengubahnya. Dia justru menjadi semakin jahat.


Kematian adalah jawabannya. Dia akan berhenti bila aku mati. Lagi pula aku tidak akan sendiri. Ada bayi kecilku yang akan menemani aku menunggu sampai papa dan kedua kakaknya menyusul kami suatu hari nanti. Bayi yang harus pergi sebelum sempat melihat dunia.


“Ara, lepaskan tanganku!” teriak Vivaldo panik. Dia yang ingin aku mati, mengapa sekarang dia yang panik? Sekecil itukah nyalinya?


“Ara! Jangan, Nak!” Aku mendengar suara memelas Papa dan Mama di tengah pekikan ketakutan orang di kebun.


“Zahara, hentikan!” mohon teman-temanku.


Aku memejamkan mata saat tangan kananku berusaha sekuat tenaga menggerakkan tangan Vivaldo untuk mengiris leherku. Salakan anjing menarik perhatianku. Kemudian diikuti dengan teriakan kesakitan Vivaldo. Lalu segalanya berjalan begitu cepat.


Pegangan pria itu pada tangan kiriku melonggar. Hendra segera menggenggam tangan kanannya dengan erat hingga pisau jatuh ke lantai. Abdi menunduk untuk mengambil benda tajam tersebut. Teman-teman memeluk aku dan membawaku menjauh dari Vivaldo yang pasrah mendapat pukulan yang bertubi-tubi dari suamiku.


Suasana yang semula tegang berubah penuh dengan tawa. Orang-orang bahkan memberi semangat kepada Ara yang masih betah menggigit pergelangan kaki Vivaldo dengan moncong kecilnya. Aku mendesah lega melihat segalanya sudah dalam kendali.


“Syukurlah. Kamu tidak terluka.” Qiana memeriksa keadaan leherku. “Apa kamu sudah gila?!” Tiba-tiba saja dia meninggikan suaranya. Aku sampai melompat terkejut dibuatnya. “Apa jadinya aku kalau kamu sampai mati tadi?”


“Jangan lakukan itu, Zahara. Apa yang terjadi bukan salahmu. Laki-laki itu yang salah. Kamu masih punya kami, jadi jangan pikirkan apa yang orang katakan mengenai kamu di luar sana. Mereka tidak mengenal siapa kamu.” Lindsey masih memeluk tubuhku bersama Qiana.

__ADS_1


“Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa aku katakan.


Hendra, Zach, dan seluruh pekerja pria kami membawa Vivaldo ke dalam rumah, sedangkan acara makan dilanjutkan. Semua undangan kembali duduk dan menikmati santapan mereka. Keluargaku memeluk dan memeriksa keadaanku sebelum kembali ke tempat duduk mereka.


Ara yang telah menjadi pahlawan, menjadi pusat perhatian semua orang. Dia menggoyang-goyang ekornya saat menerima usapan di kepala dari orang-orang yang mendekatinya. Teman-temanku bahkan memberinya begitu banyak daging panggang. Claudia yang tadi protes hanya makan daging dalam porsi kecil pun menyumbangkan daging bagiannya.


Hadi dan Dira tidak mau jauh dariku, maka aku duduk di antara mereka berdua. Semua orang makan dengan santai dan saling berbincang dengan akrab terhadap satu sama lain. Suasana kebun hening sejenak ketika mobil polisi memasuki pekarangan rumah kami. Semua mata memandang ke arah pekarangan depan. Lalu mereka pun pergi.


Aku melihat ke arah pintu samping. Hendra, Zach, dan para pelayan pria belum juga kembali, apa mereka sedang melakukan sesuatu di dalam rumah? Aku baru bisa bernapas lega saat suamiku keluar dan mendekati aku. Wajahnya sangat serius. Dia pasti kecewa dengan apa yang aku lakukan tadi.


“Kamu tidak apa-apa?” Dia mengangkat Dira dari kursi di sisiku lalu dia duduk dan memangku putri kami. “Kamu tidak terluka?”


“Aku tidak apa-apa dan aku tidak terluka.” Aku tersenyum kepadanya. Dia menatapku sesaat. Aku merasa bersalah mengetahui apa yang sedang dia pikirkan. “Maafkan aku.”


“Kita akan bicarakan ini nanti. Suasana sudah kembali seperti semula, aku tidak mau merusaknya. Malam ini milikmu.” Dia mencium pipiku.


Perayaan ulang tahunku ini sepertinya direncanakan sejak dari jauh hari. Karena semua orang membawa kado untukku. Ada yang memberi aku buket bunga, kotak dan tas yang diberi pita, bahkan amplop yang aku yakin isinya adalah voucher belanja atau makan. Teman-teman tidak membawa kado apa pun karena pakaian, sepatu, dan tas yang aku pilih di butik tadi telah mereka bayar. Mereka pandai sekali menyimpan rahasia.


“Jadi, apa rencana selanjutnya?” tanya Papa saat kami berkumpul bersama di ruang keluarga setelah para tamu pulang. “Apa mereka akan memasukkan Vivaldo ke penjara karena perbuatannya tadi?”

__ADS_1


“Tentu saja, Pa,” jawab Zach. “Dia sudah pasti akan kita tuntut atas percobaan pembunuhan. Terlalu banyak saksi mata untuk berkelit. Ditambah dengan kasus korupsi besar yang menjeratnya, aku yakin dia akan berada di dalam penjara lebih lama dari sebelumnya.”


Qiana terlihat gelisah. “Apa dia tidak bisa dituntut hukuman seumur hidup? Bagaimana kalau saat dia bebas nanti dia mencoba menyakiti Zahara lagi?”


__ADS_2