
Istriku begitu bersemangat mengakhiri puasa panjang kami. Aku senang melihat dia mempunyai kegiatan lain sepanjang hari selain mengurus anak-anak. Dia terlihat lebih bahagia, memesona, dan tentu saja cantik. Aku semakin suka berada di dekatnya karena tubuhnya mengeluarkan aroma yang sangat harum. Godaannya semakin besar begitu harinya mendekat.
Joging pada pagi hari juga sudah tidak menjadi masalah lagi. Hilang sudah drama yang harus aku hadapi karena dia tidak mau bangun pagi atau merasa pekarangan rumah kami mendadak menjadi lebih luas. Alasan yang tidak masuk akal.
“Apa hari ini kamu akan pergi ke tempat yang akhir-akhir ini kamu datangi itu?” tanyaku saat dia dan anak-anak mengantar aku sampai ke teras.
“Day spa, sayang. Day spa. Dasar pria. Aku memberitahu kamu setiap hari tetapi aku selalu lupa namanya.” Dia memutar bola matanya.
“Ah, iya. Day spa.” Aku menoleh ke arah Dira yang ada dalam gendonganku. “Dira, ingatkan papa besok, ya. Namanya day spa.” Putri kami hanya tertawa geli. Aku mencium pipinya, lalu menurunkan dia agar berdiri di sisi istriku.
“Tolong, jaga emosimu saat bekerja. Jangan menambah musuh,” kata Za khawatir. Aku memeluk, lalu mencium bibirnya. Dia menggeleng pelan sambil melihat ke arah Kafin. “Hati-hati menyetir.”
“Baik, Nyonya,” ucap sopirku dengan patuh.
“Sampai nanti, sayang.” Aku mencium bibirnya sekali lagi. “Jangan pasang wajah sedih begitu. Aku akan menjaga diri dan sikapku dengan baik. Sampai nanti, anak-anak. Baik-baik dengan Mama, ya.”
“Iya, Pa. Daag, Papa,” ucap mereka serentak.
Kafin mengendarai mobil dengan sabar melintasi lalu lintas pagi yang sibuk. Aku menggunakan waktu tersebut dengan memeriksa semua surelku, baik surel kerja atau pribadi. Ada pesan baru dari Xavier. Dia mengirim proposal kerja sama kami berikutnya. Aku tersenyum puas membaca angka yang tertera pada penawaran tersebut. Dia memang tidak pernah pelit dalam urusan proyek besar.
Ada beberapa poin yang perlu diperbaiki, maka aku mulai mengetik konsep surel balasanku untuknya pada tabletku. Begitu tiba di kantor, aku memeriksanya kembali lewat laptopku. Gista masuk untuk memberitahu jadwalku pada hari ini sekaligus mengantar kopi.
“Batalkan semua janjiku besok malam, aku ingin cepat pulang,” kataku sebelum lupa.
“Sudah saya kosongkan, Pak. Begitu juga dengan jadwal malam ini,” jawabnya. Dia memang selalu tahu apa yang menjadi tugasnya. “Bila tidak ada lagi yang perlu saya lakukan, apa saya boleh kembali ke meja saya, Pak?” Aku mengangguk.
Aku akhirnya menyelesaikan surel balasanku untuk Xavier dan mengirimnya. Di sana sudah dini hari, jadi aku harus menunggu sampai dia bangun untuk mendapatkan balasan darinya. Aku meregangkan badan dan mendekati sofa. Masih ada beberapa dokumen yang perlu aku baca, namun aku ingin beristirahat sejenak.
Baru saja menghabiskan satu roti bantal, interkom berbunyi. Aku berdiri dengan malas dan menjawab panggilan dari Gista. “Panggilan masuk dari wali kota di jalur satu, Pak.” Wali kota? Ada urusan apa dia menelepon aku?
“Baik, terima kasih,” kataku sambil menekan angka satu pada interkom tersebut. “Selamat pagi.”
__ADS_1
“Selamat pagi, Pak Mahendra,” sapa pria itu dengan ramah. “Bagaimana kabar Bapak pagi ini?”
Aneh. Sejak kapan dia berbasa-basi begini dan menelepon aku langsung? Biasanya ajudannya yang bicara atau minimal wakilnya. “Baik, terima kasih. Saya harap kabar Bapak juga baik.”
“Tadinya kabar saya baik sampai saya mendengar kabar yang tidak enak.”
“Kabar apa, Pak?” tanyaku pura-pura ingin tahu.
“Beberapa pengusaha menolak untuk memberikan bantuan dana proyek baru yang saya ajukan. Kata mereka, Bapak yang menyarankan mereka untuk melakukan hal itu. Ada apa ini, Pak Mahendra? Saya tahu Bapak jarang mau memberikan bantuan, tetapi mengapa memengaruhi orang lain juga?” katanya dengan suara yang terdengar ramah.
“Saya tidak tahu siapa yang memfitnah saya, tetapi saya tidak memengaruhi siapa pun untuk menolak proposal yang Bapak ajukan.”
“Itu bukan fitnah karena saya melihat sendiri bahwa Bapak benar makan siang bersama Ibu Keva dan dua teman Bapak di restoran. Saya melihat buktinya dari CCTV, Pak. Bukan sebuah kebetulan bila mereka bertiga sama-sama menolak proposal saya beberapa hari setelah pertemuan itu,” lapornya.
Ooo. Keva. Jadi, dia sudah memulai ancamannya kepadaku. Jika dia pikir aku akan menggunakan alasan ini untuk menelepon atau menemuinya, dia salah. Aku tidak akan datang kepadanya. Ini masalah yang bisa aku atasi sendiri.
Lagi pula yang sempat dia singgung pada hari itu adalah proposal proyek dari gubernur, bukan wali kota. Aku ingat karena aku segera menyetujui proposal tersebut dan mentransfer uang yang cukup besar untuk membantu proyek pembangunan fasilitas baru di kota ini.
“Ibu Keva menyebut nama saya sebagai orang yang memengaruhi keputusannya? Bapak perlu bukti lebih dari sekadar rekaman CCTV. Saya bukan satu-satu orang yang mereka temui sepanjang minggu lalu, juga minggu ini,” kataku memberi alasan.
“Bapak masih membutuhkan tanda tangan saya untuk surat izin yang Anda ajukan …,” ancamnya.
“Aku punya banyak bukti penyerapan anggaran daerah yang tidak wajar.” Aku tidak lagi bersikap segan kepadanya. “Tolong, tanda tangani surat izin itu sebelum tanggal terbit yang sudah dijanjikan oleh utusan Bapak. Atau aku tidak akan menunda memberikan semua bukti itu kepada polisi.”
“Ka-kamu … beraninya kamu …,” ucapnya tergagap.
“Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?” tanyaku kembali bersikap sopan. Dia menjawab tidak dan segera memutuskan hubungan telepon kami. Aku meletakkan gagang telepon pada pesawatnya.
Aku mengambil ponselku dan memilih nomor Irwan. Aku meminta dia untuk menyelidiki setiap hal yang mencurigakan mengenai Keva. Apa yang dia inginkan dariku? Aku tidak percaya dia mendekati aku hanya demi cinta atau kerja sama bisnis.
“Beri aku waktu beberapa hari. Aku usahakan paling cepat hari Senin, kamu sudah mendapatkan semua informasi mengenai dia,” jawab Irwan.
__ADS_1
“Terima kasih.” Aku mengakhiri hubungan telepon, lalu melanjutkan pekerjaanku.
Aku telah menambah seorang musuh pada hari ini. Tetapi aku tidak menyesalinya. Apa pun jawaban yang aku berikan atas sebuah proposal proyek, sosial, politik, dan sebagainya, mereka tidak bisa marah. Uang yang aku berikan adalah uangku, berasal dari kantongku sendiri.
Begitu juga dengan teman-temanku. Mereka memberi atau tidak dengan alasan apa pun, itu adalah hak mereka. Lalu apa haknya protes kepadaku hanya karena omong kosong wanita itu? Dasar wali kota yang rakus.
Ketika aku bersiap untuk pulang pada sore harinya, interkom di atas mejaku berbunyi. Aku menjawab dan Gista memberitahu bahwa ada panggilan masuk dari Keva. Mau apa lagi dia? Gista menawarkan agar dia menyampaikan bahwa aku sudah pulang yang segera aku iyakan.
Aku tidak perlu membicarakan apa pun dengannya. Untuk apa dia menelepon aku? Setelah beberapa kali bertemu dan melihat tingkah anehnya, lebih baik aku tidak berurusan dengannya lagi. Semoga dengan ini dia mengerti bahwa aku tidak tertarik kepadanya sama sekali.
Semua masalah itu aku lupakan. Aku akan pikirkan urusan berikutnya setelah mendapat laporan dari Irwan. Aku sudah belajar dari pengalaman sebelumnya. Aku harus menyerang lebih dahulu sebelum mereka menyerang aku. Sudah cukup istri dan anak-anakku terlibat dalam masalahku karena aku terlalu lambat bertindak.
Entah mengapa anak-anak mendadak manja kepadaku. Mereka berdua duduk di dekatku saat kami menonton bersama di ruang keluarga. Sepertinya istriku membawa mereka bermain di taman karena mereka terlihat lelah. Ara juga berbaring di dekat kaki, bukan di kaki Za.
Mungkin mereka hanya merindukan aku setelah seharian tidak bertemu. Begitu anak-anak mulai mengantuk, aku dan Za membawa mereka ke kamar masing-masing. Lalu kami bergandengan tangan menuju kamar kami sendiri.
“Keva tidak main-main. Dia sudah mulai secara halus memberiku peringatan bahwa ancamannya itu serius.” Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur setelah memadamkan lampu di atas nakas.
“Apa maksud kamu? Apa yang telah dia lakukan hari ini?” tanya Za ingin tahu.
“Dia mengadu domba aku dengan wali kota mengenai sebuah proposal,” jawabku.
“Bukankah itu bisa berbahaya untuk kelancaran surat izin yang baru kamu ajukan?” tanyanya lagi. Aku tersenyum. Ternyata dia ingat tentang itu.
“Aku tahu kelemahannya. Jangan khawatir. Dia tidak akan bisa menunda-nunda surat izin usaha tersebut.” Aku memeluknya dengan erat. “Lupakan saja masalah itu. Bagaimana keadaanmu, sayang? Apa kamu sudah siap untuk aksi kita besok pagi?”
“Aksi kita besok pagi?” tanyanya bingung.
“Kamu tidak akan meminta aku menunggu sampai anak-anak tidur pada malam hari untuk membuka puasa kita, ‘kan?” Aku menyentuh rahangnya dengan ujung hidungku. Dia tertawa geli.
“Tentu saja tidak. Aku tidak akan mau menunggu. Tiga bulan sudah cukup.” Dia membalas pelukanku. “Aku punya kejutan untukmu.”
__ADS_1
“Kejutan?” tanyaku penasaran. Dia tertawa kecil.
“Kamu harus menunggu sampai besok untuk mengetahuinya.”