Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 53 - Menikmati Liburan


__ADS_3

“Qiana, itu adalah tuduhan yang tidak main-main,” ucap Darla sambil memegang tangan Qiana yang ada di atas meja. “Apakah kamu yakin dengan itu atau hanya perasaan kamu saja?”


“Darla, tidak ada suami yang akan lebih berpihak kepada perempuan lain selain istrinya, jika tidak ada apa-apa di antara mereka berdua,” ujar Qiana membela diri. “Helmut membelaku setiap kali beradu pendapat dengan mamanya. Tetapi dia lebih membela sahabatnya daripada aku?”


Kami terdiam mendengarnya. Apa yang dia ucapkan ada benarnya. Setelah menghabiskan kue kami masing-masing, kami menuju kamar. Bahkan Darla pun kehilangan selera humornya. Biasanya dia bisa menolong mencairkan suasana yang canggung seperti ini.


Aku sudah tertidur pulas saat aku merasakan seseorang menyentuhku. Entah itu kenyataan atau mimpi. Tidak akan ada orang lain yang bisa masuk ke kamar ini, jadi aku yakin suamiku yang sedang memelukku. Aku kembali membiarkan kantuk mengambil alih kesadaranku.


Suasana hotel pada hari Sabtu jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Ada begitu banyak tamu yang memenuhi ruang makan pada pagi itu. Aku dan teman-teman tidak kesulitan mendapatkan tempat duduk, tetapi kami harus mengantri lebih lama untuk mengambil makanan.


Hendra memintaku untuk duduk dan tidak ikut mengantri, tetapi aku menolak. Teman-teman bisa curiga jika aku lebih banyak duduk. Aku belum siap untuk memberitahu mereka bahwa aku sedang hamil. Kami makan dalam diam dan memutuskan untuk menikmati makanan penutup di teras.


Kami sepakat untuk bertemu beberapa menit lagi di pantai setelah mengambil barang-barang yang kami butuhkan. Aku sudah membawa semua yang aku butuhkan, begitu juga dengan Hendra. Maka kami berdua lebih dahulu pergi ke pantai dan duduk di salah satu payung yang tersedia. Kami meminta petugas agar menandai keempat payung lainnya untuk teman-teman kami.


“Sebelum hari semakin panas, kamu mau berjalan menyentuh air?” tanya Hendra. Aku melihat ke arah tangannya lalu ke arah laut.


“Ayo!” Aku menerima uluran tangannya dan membiarkan dia membantuku berdiri.


Tidak seperti perjalanan berlibur biasanya di mana aku selalu membawa kamera dan catatanku ke mana pun aku melangkah, maka kali ini aku hanya ingin menikmati pemandangan yang ada di sekitarku. Kami berjalan bergandengan tangan menyusuri garis pantai.


“Apakah kamu sudah memikirkan akan memberi nama apa kepada anak kita?” tanya Hendra.


“Belum. Kamu?” Aku balik bertanya.


“Bila dia laki-laki, maka kamu yang akan memberi nama. Biar aku yang memberinya nama bila dia perempuan,” katanya memberi usul.

__ADS_1


“Aku tidak punya nama khusus yang aku persiapkan untuknya. Dan kamu tahu bahwa aku lemah dengan nama dan tanggal. Lebih baik kamu saja yang memberi nama pada anak kita.”


“Kamu yakin kamu tidak akan menyesali keputusanmu ini?” tanyanya memastikan. Aku tertawa.


“Ini bukan hal besar, Hendra. Kamu harus tunggu sampai dia lahir nanti untuk tahu apa yang lebih penting dari memiliki anak selain memberinya nama.”


“Awal bulan depan kita sudah bisa memberitahu orang tua kita mengenai dia. Bagaimana sebaiknya kita memberitahu mereka?” Hendra terlihat sedang serius berpikir.


“Kamu ingin memberi mereka kejutan?”


“Tentu saja. Apa kamu pikir aku akan mengatakan kepada mereka begitu saja? Sayang, ke mana hilangnya kreativitasmu? Bukankah kamu seorang penulis?” godanya. Aku memicingkan mata mendengar kalimatnya tersebut. “Ada apa? Mengapa kamu melihatku seperti itu?”


Aku melihat ke arah dia, lalu ke arah laut. Hm. Aku menarik tangannya agar mengikutiku menuju bagian air yang lebih dalam. Dia berusaha untuk menahanku agar kami tetap berada di tepi, tetapi aku mengerahkan seluruh tenagaku supaya kami berada di bagian yang lebih dalam. Aku tahu dia tidak akan mau melihatku susah, jadi dia menurutiku.


Sampai di bagian yang dalamnya menyentuh pertengahan pahaku, aku menyiramnya dengan air. Bisa-bisanya dia mengatakan aku tidak kreatif. Awalnya, dia hanya tertawa sebelum membalas mencipratkan air ke tubuhku. Tetapi hanya satu kali, dan dia menoleh ke belakang. Aku melihatnya dengan bingung tanpa berhenti menyiramnya dengan air.


“Bajumu berbayang. Orang-orang bisa melihat tubuhmu,” katanya dengan kesal. Aku melihat ke arah lenganku. Dan iya, aku mengenakan dress tanpa lapisan lain di luarnya, jadi pakaian dalamku bisa terlihat karena bajuku basah. Tetapi aku tidak bisa memeriksanya karena dia memelukku.


“Hendra, kita sedang berada di pantai. Orang-orang tidak akan memandang aneh ke arahku. Kamu sebaiknya lepaskan pelukanmu.” Aku tertawa begitu mengerti apa yang dia takutkan. Dia manis sekali saat bersikap begini. “Aku memakai pakaian dalam khusus ke pantai. Sama seperti saat kita berada di Sabang. Mereka tidak akan bisa melihat tubuhku. Kamu ini berlebihan.”


“Tidak. Sebaiknya kamu mengganti pakaianmu, baru kamu boleh bergabung dengan teman-temanmu,” katanya bersikeras. Satu tangannya masih memelukku ketika tangannya yang lain membuka kancing kemejanya. Aku tertawa melihatnya. Dia melepas pakaiannya dan menutup bagian depan tubuhku dengan bajunya itu.


Kami berjalan kembali ke pantai. Teman-temanku heran melihat kami tidak mendatangi mereka, tetapi berjalan terus ke arah hotel. Aku hanya tertawa. Pandangan orang-orang di sekitar kami tidak tertuju kepadaku sama sekali. Mereka lebih suka mengagumi tubuh bagian atas suamiku yang atletis yang tidak ditutupi kemejanya lagi.


Entah mengapa aku tidak suka dengan tatapan para perempuan yang menatap dada suamiku tanpa berpaling sedikit pun. Bahkan beberapa dari mereka seperti sedang menelanjanginya dengan mata lapar mereka. Aku meletakkan tanganku di dada Hendra, menutupi tubuhnya sebisaku.

__ADS_1


Sampai di kamar, dia langsung membawaku ke kamar mandi. Dia menyuruhku untuk mandi sebelum berganti pakaian. Bahkan papaku sendiri tidak pernah menjagaku seketat itu. Aku memeluknya dan mencium dadanya. Tubuhnya terlalu tinggi bagiku untuk bisa mencium bibirnya. Dia ingin keluar dari kamar mandi, tetapi aku tidak mengizinkannya.


“Kamu bisa sakit kalau tidak mandi sekarang, sayang.” Dia berusaha melepaskan dirinya dariku.


“Kamu juga bisa sakit kalau tidak mandi sekarang,” kataku tidak mau melepaskan pelukanku.


“Kita tidak mungkin mandi bersama, ruang mandinya hanya ada satu.” Dia masih berusaha untuk membuka tautan kedua tanganku. Aku mengangkat wajahku dan menatapnya.


“Kita bisa mandi bersama.” Aku tersenyum. Dia tertegun mendengarnya.


“Apa kamu mabuk karena minum air laut?” tanyanya bingung. Aku tertawa. Dia hanya diam menatapku sesaat. Sikapnya itu membuatku ikut diam. Apa yang sedang dia pikirkan? Lalu dia menurunkan wajahnya dan mengecup bibirku. Aku membalas ciumannya.


Dia memberikan apa yang aku minta. Kami mandi bersama dan bercinta di bak mandi. Pengalaman pertama yang membuatku bertanya, mengapa kami tidak melakukan ini sebelumnya. Ini bahkan lebih intim dibandingkan bercinta di tempat tidur.


Kami tidak buru-buru kembali ke pantai, jadi aku memeluk dan menciumnya sepuasku. Dia sampai kesulitan membantuku berpakaian dan mengeringkan rambutku. Aku memutuskan untuk tidak memakai riasan apa pun pada wajah. Kami hanya memakai krim tabir surya untuk melindungi kulit dari terik matahari.


“Apa yang dikatakan para dokter benar. Wanita hamil memiliki hormon yang sering tidak terkendali.” Hendra menjauhkan wajahnya dariku. “Berhenti menggodaku, sayang. Kita harus kembali menemui teman-temanmu. Kita bisa lanjutkan ini nanti.”


“Aku tidak akan mau menyentuhmu lagi nanti,” ancamku dengan nada bercanda. Dia menggandeng tanganku dan mengajakku mendekati pintu.


“Kamu tidak akan bisa menolakku nanti.” Dia membuka pintu, mengecup bibirku saat jarak kami sudah dekat, lalu menutup pintu kamar kembali.


“Jangan terlalu percaya diri, Tuan Mahendra Satya Perkasa.” Aku melepaskan tangannya dan memeluk pinggangnya. Dia membalas dengan merangkul bahuku.


Kami berdiri begitu dekat saat menunggu elevator tiba. Saat pintunya terbuka, ada beberapa orang di dalam lift tersebut, jadi aku bersikap sopan dan tidak menarik perhatian orang di sekitar kami. Semua orang keluar di lantai dasar. Kami berjalan kembali menuju pantai.

__ADS_1


“Sepertinya bukan hanya aku yang tidak bisa melepaskan tanganku dari suamiku.” Aku melihat ke arah pasangan yang sedang berciuman mesra di balik tanaman yang ada di halaman belakang hotel, tertutup dari pandangan mata orang lain. Tetapi dari sudut di mana kami berjalan, aku bisa melihat mereka dengan baik.


“Bukankah itu Helmut?” tanya Hendra pelan. Aku kembali melihat ke arah pasangan itu. Oh. Iya, itu Helmut. Tetapi wanita yang dipeluk dan diciumnya itu bukan Qiana.


__ADS_2