
Aku menatap gedung tinggi yang ada di hadapanku. Walaupun sudah lama menikah, aku baru dua kali datang ke tempat kerjanya dengan kemauanku sendiri dan memerhatikan gedung tersebut dengan saksama. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku yang ingin segera kabur dari sisi Hendra setiap kali kami sedang bersama di tempat ini.
Papa telah melakukan hal yang luar biasa sehingga usaha kecilnya bisa menjadi sebesar ini. Aku yakin Hendra akan bisa melanjutkannya dengan caranya sendiri. Lalu bagaimana dengan anak kami nanti? Aku mengusap-usap perutku ketika si kecil menendang seolah-olah mengetahui bahwa aku sedang memikirkannya. Aku akan membantu suamiku menyiapkannya menjadi pemimpin yang hebat.
“Selamat siang, Bu Mahendra,” sapa seorang petugas keamanan yang membukakan pintu mobil untukku. Aku membalas sapaannya, kemudian dia mengantarku sampai memasuki elevator khusus para eksekutif. Aku tidak punya tanda pengenal, jadi dia membantuku dengan memindai kartu pengenal miliknya di lift.
“Selamat siang, Bu.” Sherry berdiri menyambut kedatanganku. “Ibu tidak bilang akan datang, jadi saya tidak menyambut Ibu di bawah.”
“Tidak apa-apa. Hendra ada di dalam?”
“Iya, Bu. Mari, ikut dengan saya.” Dia mengetuk pintu dan tidak menunggu sampai suamiku menjawab. Dia membuka pintu. “Pak, ada Ibu Mahendra.”
“Terima kasih,” ucapku saat dia memberi jalan untukku masuk ke ruangan.
“Sayang?” Hendra mendekatiku. Dia mencium rambutku, lalu mengajakku mendekati sofa. “Sherry, batalkan semua janjiku siang ini.” Sekretarisnya itu menurut. Sikapnya kini sangat berbeda dengan kedatanganku yang sebelumnya.
“Kamu tidak bilang akan datang ke sini. Ada apa?” tanya Hendra setelah kami duduk bersebelahan di sofa. Aku mengangkat tas yang aku bawa.
“Aku membawakan makan siang untukmu.” Aku melihat ke arah pintu. “Apakah tidak apa-apa kamu membatalkan janjimu? Aku bisa datang lain kali. Aku tadi spontan saja ingin menemuimu di sini.”
“Tidak apa-apa. Bila aku ada janji dengan orang penting, dia akan berkoordinasi dengan sekretaris Papa. Biasanya Papa tidak sesibuk aku, jadi dia bisa menggantikan aku.” Hendra mengambil tas yang aku bawa dan membukanya. “Kamu membawa apa saja?”
Karena kami hanya berdua, kami tidak canggung untuk mengobrol sambil menikmati makanan kami. Sesekali aku menyuapkan makanan karena dia tidak terbiasa makan menggunakan tangan kirinya. Dia tersenyum kepadaku.
__ADS_1
“Kapan gips ini bisa dibuka? Rasanya kamu sudah lama memakainya.” Aku melihat ke arah tangan kanannya. Dia memberikan kotak bekalnya yang sudah kosong kepadaku.
“Rencananya pada akhir bulan depan,” jawabnya.
“Jaga dirimu baik-baik. Aku tidak suka melihatmu terluka begini.” Aku memasukkan kembali semua kotak bekal ke tasnya, lalu meletakkannya di atas meja.
“Iya.” Dia membelai pipiku dengan tangan kirinya. “Bagaimana perkembangan bukumu? Apakah sudah ada berita dari penerbit?”
“Karyaku sudah masuk antrian. Kata Rasmi, paling cepat, bukuku akan dicetak besar-besaran pada pertengahan tahun depan. Jadi, dia memintaku untuk bersabar sebelum mempublikasikan rencana penerbitan edisi cetaknya. Mereka masih memilih gambar sampul yang cocok.” Aku bercerita panjang lebar. “Setelah sampulnya diputuskan, aku bisa memulai promosi awal.”
“Menerbitkan buku dengan penerbit besar memang butuh waktu lama. Tetapi mengapa Rasmi ikut terlibat dalam urusan penerbitan bukumu? Dia seorang wakil direktur, bukankah dia punya urusan lain yang lebih penting?” tanya Hendra bingung. Aku mengangakan mulutku tidak percaya. “Apa? Kamu memutuskan untuk menandatangani kontrak dengan penerbit itu dan kamu tidak tahu siapa wakil direkturnya?”
“A-aku … bagaimana aku bisa tahu? Lagi pula aku hanya perlu tahu siapa editorku. Kamu tahu aku lemah mengingat nama orang karena itu aku tidak mencari tahu mengenai struktur kepemimpinan penerbit milik keluarga Rasmi,” ucapku menjelaskan panjang lebar. Dia tersenyum penuh arti.
“Iya. Cerita baruku sudah hampir tamat. Tetapi ada pembaca yang memintaku untuk menambah beberapa bab lagi. Mereka belum mau berpisah dengan tokohnya.” Aku mendesah pelan.
“Buku itu adalah milikmu. Kamu yang menentukan alur, cerita, bahkan akhirnya. Lakukan saja apa yang menurutmu baik. Aku mau membacanya. Kirim tautannya kepadaku agar aku baca setelah tamat nanti,” katanya. Aku menatapnya dengan senang.
“Kamu akan memberikan pendapatmu seperti pada buku pertama, ‘kan?” tanyaku penuh harap.
“Aku janji.” Dan aku percaya kepada ucapannya itu. “Sebaiknya kamu tidak memaksakan diri saat menulis. Istirahatlah bila kamu lelah atau mengantuk.”
“Iya, Papa,” jawabku setengah menggodanya. Dia menatapku sesaat sebelum memelukku dan menciumku tanpa ampun. Aku membalas ciumannya dengan senang hati. “Apakah kamu ada urusan lagi setelah ini?”
__ADS_1
“Tidak. Aku akan langsung pulang ke rumah.” Aku berusaha mengatur napasku yang memburu. Dia malah membuat usahaku itu menjadi sia-sia dengan menciumku lagi.
“Kamu perlu belajar bagaimana mengatur napasmu dengan baik, sayang. Aku sudah katakan, bernapaslah dengan hidungmu dan jangan panik. Aku tidak akan pergi ke mana pun,” katanya di sela-sela ciumannya. Aku mengabaikan ejekannya itu dan menciumnya sesukaku. Dia malah tertawa.
Saat dia mengangkat tubuhku agar duduk di pangkuannya, hatiku melompat bahagia. Kami tidak akan mengakhiri ciuman kami untuk beberapa saat. Aku menikmati setiap sentuhan, belaian dan ciumannya. Rasanya sudah lama sekali kami tidak bermesraan seperti ini.
“Aku ingin sekali meneruskan ini tetapi aku masih punya banyak pekerjaan, Za.” Hendra menjauhkan wajahnya dariku. Aku membuka mata dan menatap wajahnya. Ya, Tuhan. Aku sangat mencintainya.
“Aku mengerti.” Aku membelai pipinya lalu mengecup bibirnya. Dia tersenyum saat membantuku untuk berdiri.
Kami bergandengan tangan ketika berjalan keluar dari ruangannya. Dia memberitahu bahwa dia akan pulang tepat waktu dan tidak ada janji makan malam. Kepalaku segera berputar memikirkan menu apa yang sebaiknya aku persiapkan untuk makan malam nanti.
Petugas keamanan yang tadi membantuku membukakan pintu mobil untukku. Aku berterima kasih kepadanya. Hendra memberikan tas berisi bekal makan siang kami tadi kepadaku. Dia menciumku sekali lagi sebelum melihat ke arah Liando.
“Hati-hati menyetir,” ucapnya dengan nada serius.
“Baik, Tuan,” jawab Liando menurut.
Hendra menutup pintu, aku melambaikan tanganku kepadanya. Dia membalas lambaianku. Saat mobil bergerak, aku tetap melihat ke arahnya. Dia tertawa. Aku melambaikan tanganku untuk terakhir kalinya sebelum Liando keluar dari pekarangan gedung perkantoran tersebut.
Kami akan baik-baik saja, ‘kan? Semoga saja begitu. Aku akan melakukan apa saja agar hubungan kami tidak berakhir begitu saja. Terlambat atau tidak, aku akan berusaha sampai Hendra bisa memaafkan aku dan menerimaku lagi seutuhnya seperti dahulu.
Aku mengusap perutku. Terima kasih, Nak. Sejak tahu bahwa kamu adalah laki-laki, sikap ayahmu berubah drastis. Anak ini adalah hadiah terbesar yang pernah aku terima. Perempuan atau laki-laki, Hendra tetap akan menyayanginya. Tetapi dia pasti berharap besar pada anak laki-laki karena akan menjadi penerusnya kelak memimpin perusahaan keluarga kami.
__ADS_1