
Aku hanya tersenyum mendengar setiap nasihat yang Hendra ucapkan. Sudah tiga hari ini dia terus mengingatkan aku mengenai hal yang sama. Hal-hal apa saja yang boleh aku lakukan dan yang tidak boleh, makanan yang sebaiknya aku makan dan yang harus aku hindari, emosi yang aku pertahankan dan yang harus aku buang jauh-jauh, agar aku dan si kecil baik-baik saja.
Mengerti dengan kekalutan yang dia rasakan, aku tidak membantah semua ucapannya. Aku menurut dan mendengarkannya saja. Ini kehamilan pertama dan pengalaman pertama kami menjadi calon orang tua dari buah hati kami. Tetapi dia harus pergi jauh selama dua minggu karena urusan pekerjaan dan meninggalkan aku.
Abdi masuk ke dalam kamar dan mengambil koper milik Hendra dari atas tempat tidur. Dia keluar kamar sambil membawa koper itu bersamanya. Hendra mendekatiku, melingkarkan tangannya di tubuhku, lalu mencium bibirku. Aku tersenyum membalas ciumannya.
Hendra tidak berhenti sampai di situ. Dia meminta untuk masuk, maka aku mengizinkannya. Ketika dia memperdalam ciumannya dan membangkitkan sesuatu pada tubuhku, aku mulai merasa tidak nyaman. Tetapi aku juga tidak mau dia menghentikannya. Aku membalas ciumannya dengan intensitas yang sama. Kami bagaikan dua orang yang kelaparan terhadap satu sama lain.
Ciumannya semakin hari semakin membuatku menginginkannya. Membayangkan aku tidak akan bisa merasakan sentuhannya selama beberapa hari ke depan, aku mulai panik. Tidak. Bagaimana aku bisa tidur tanpa dia ada di sisiku? Kini aku mengerti apa yang suamiku rasakan. Aku juga tidak mau dia pergi begitu lama dan sejauh itu dariku.
Apa? Tidak. Tunggu sebentar. Aku tadi memikirkan apa? Aku tidak menginginkan ini. Aku tidak mau menginginkan ciuman ini, pelukannya, atau sentuhannya. Lalu mengapa aku memeluk lehernya begitu erat tidak mau melepaskannya dariku? Mengapa aku membalas ciumannya dan membiarkan dia terus menciumku? Dan mengapa sekarang aku ingin merasakan kulitnya menyentuh kulitku?
“Tidak, sayang.” Hendra berusaha menjauhkan wajahnya, tetapi dengan tanganku yang ada di lehernya, mudah saja bagiku untuk mempertemukan bibir kami kembali. “Aku harus pergi sekarang. Aku menginginkanmu tetapi aku tidak bisa terlambat.”
Sekuat tenaga, aku menarik diri darinya. Napas kami memburu. Hendra meletakkan keningnya pada keningku saat kami berusaha untuk mengatur napas kami kembali. Aku memejamkan mata saat dia membelai pipiku. Apa yang aku rasakan ini? Apakah ini karena aku sedang hamil?
Hendra menggandeng tanganku saat kami keluar dari kamar dan berjalan hingga pintu depan. Kafin sudah memarkirkan mobil suamiku di depan rumah. Abdi mengatakan bahwa koper Hendra sudah dimasukkan ke bagasi mobil. Aku merasakan genggaman tangannya semakin erat.
Dia menoleh ke arahku. Aku tersenyum. Dia memelukku lagi. “Dua minggu. Itu sangat lama,” keluhnya pelan. Aku mengelus punggungnya.
“Kita bisa melakukan panggilan telepon setiap pagi dan malam hari. Lagi pula kalau kamu sudah menyelesaikan urusanmu, kamu bisa pulang kapan saja. Ya ‘kan?” Aku mencoba untuk menghiburnya. Dia mempererat pelukannya.
“Ini Xavier, sayang. Kamu tahu dia orang yang sangat detail dan tidak akan suka melakukan sesuatu terburu-buru,” keluhnya lagi. Aku tertawa kecil.
__ADS_1
“Aku akan baik-baik saja,” ucapku menenangkannya. Lalu berbisik, “Begitu juga dengan si kecil.” Aku merasakan dia mencium leherku.
“Jaga dirimu,” ucapnya pelan. Aku mengangguk.
“Aku janji,” kataku.
Hendra mencium bibirku sekali lagi, hanya sebuah ciuman singkat sebelum kami saling memantik api pada tubuh kami masing-masing. Lalu dengan enggan, dia melepaskan pelukannya. Dia bergegas masuk ke mobil. Aku mengantar kepergiannya dengan lambaian tanganku.
Siang ini, aku akan makan bersama Qiana dan Darla. Aku melirik arlojiku dan memutuskan untuk bersiap-siap. Aku tidak punya cukup waktu untuk menulis apa pun di blogku sekarang. Aku memilih untuk mengenakan salah satu dress biru polosku dan memadukannya dengan blazer putih berlengan pendek. Aku memakai salah satu sepatu berwarna putih yang haknya tidak terlalu tinggi.
Karena malas menata rambut, aku hanya membiarkannya tergerai menutupi punggungku. Setelah memasukkan dompet, ponsel, tas perlengkapan makeup, dan satu kemasan tisu ke tas, aku keluar dari kamar. Aku memberitahu Abdi bahwa aku tidak akan makan malam di rumah saat dia membukakan pintu untukku. Aku mempersilakan mereka untuk beristirahat lebih dahulu.
Darla sudah menunggu di meja yang telah dipesan untuk kami. Aku segera memeluk dan mencium kedua pipinya. Hanya berselang satu menit, Qiana datang dengan senyum bahagia di wajahnya. Kami bergantian memeluk dan menciumnya.
Meskipun Lindsey tidak bisa datang pada pertemuan rutin kami, kami tetap melanjutkan rencana dan bertemu bertiga saja. Kami memesan makanan masing-masing, kemudian sembari menunggu, kami membahas perkembangan kegiatan yang kami lakukan. Aku selalu kagum dengan aktivitas sosial yang dilakukan oleh teman-temanku.
Kadang-kadang aku menemani Mama melakukan salah satu kegiatan sosial rutin yang diadakannya. Kami mengunjungi salah satu panti asuhan dengan membawa begitu banyak pakaian anak-anak, buku, perlengkapan sekolah, perlengkapan mandi, semuanya dalam kondisi baru. Mama juga membawa makanan sehat untuk bisa dinikmati oleh mereka.
Aku tidak kuat melihat pemandangan tersebut. Duduk makan bersama mereka, mendengarkan mereka bercerita, membuatku sedih. Aku bertanya-tanya di dalam hati, mengapa ada orang tua yang tega membuang anak mereka sendiri? Anak-anak itu berperilaku baik, sopan, dan mudah sekali untuk dicintai. Mereka adalah tipe anak yang akan membuat orang tua mereka merasa bangga.
Ponsel di dalam tasku bergetar. Darla dan Qiana serentak melihat ke arahku dan tersenyum penuh arti. Aku tertawa melihat ekspresi wajah mereka. Hendra tahu bahwa saat ini aku sedang bersama teman-temanku tetapi dia melakukan panggilan telepon. Aku memutuskan untuk tidak mencari tempat sepi dan menjawab panggilan darinya di tempat dudukku.
“Hai, Hen,” sapaku. Aku menjauhkan ponsel dariku sehingga teman-temanku juga bisa ikut dalam percakapan kami. “Kami sedang makan es krim. Kamu mau?”
__ADS_1
“Hai, Hendra,” sapa Qiana dan Darla serentak. Suamiku tertawa.
“Hai, gadis-gadis cantik,” balasnya. “Kalian bersikap baik kepada wanitaku, ‘kan?”
“Dia tidak akan tertawa sebahagia itu jika kami tidak memperlakukannya dengan baik,” jawab Darla. Aku tertawa mendengarnya. “Kamu akan segera berangkat?”
“Iya. Sebentar lagi boarding,” jawab Hendra yang terdiam sejenak. “Aku hanya ingin melihat wajah istriku sebentar sebelum aku masuk ke pesawat.”
“Semoga penerbanganmu lancar,” ucapku kepadanya.
“Iya, sayang. Terima kasih.” Dia kembali diam sejenak. Sepertinya suara pengumuman itu ditujukan kepadanya. “Aku sudah harus pergi sekarang. Sampai nanti. Aku mencintaimu.” Aku tidak perlu membalas kalimat itu karena dia sudah mengakhiri panggilan tersebut.
Aku melihat ke arah Darla dan dia sedang mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Begitu juga dengan Qiana. Mereka berdua memeriksa ponsel mereka masing-masing, kemudian mendesah bersama secara dramatis. Aku tertawa kecil memahami maksud mereka tersebut.
“Berhenti menggodaku,” ucapku pelan.
“Jangankan menelepon, suamiku bahkan tidak mau sekadar mengirim pesan kepadaku.” Qiana memasukkan ponselnya kembali ke tas.
“Apalagi suamiku. Itu hanya mimpi.” Darla juga melakukan hal yang sama. Dia kemudian meletakkan tasnya kembali ke sisi tempat duduknya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
Mendengar bunyi getaran halus, kami saling bertukar pandang. Bukan ponselku. Darla mengambil tasnya kembali dan membukanya. Aku dan Qiana menatapnya, penasaran ingin tahu siapa yang menghubunginya tersebut. Darla tertawa kemudian menjauhkan ponsel tersebut agar kami bisa melihat layarnya bersama.
“Haaii..!” sapa Lindsey dengan suara bahagia. Kami membalas sapaannya dengan kebahagiaan yang sama. “Aku tidak bisa datang, bukan berarti aku tidak bisa ikut dalam pertemuan kita.”
__ADS_1
Kami saling bertukar cerita bersama Lindsey. Namun ceritanya pasti lebih menarik, maka kami memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Dia menceritakan suasana wisuda putranya yang menyenangkan, makan malam bersama dengan keluarga calon menantunya yang bersahabat, juga surga belanja yang didatanginya bersama calon menantunya tersebut.
Qiana segera mengingatkannya agar selalu membawa daftar darinya ke mana pun dia pergi. Kami hanya tertawa mendengarnya. Darla tidak memberinya daftar apa pun tetapi mempersilakan Lindsey menunjukkan foto beberapa barang yang dianggapnya bagus. Jika Darla menyukainya, maka dia akan membelinya. Berbeda dengan mereka, aku tidak menginginkan apa pun. Barang yang aku miliki sudah terlalu banyak.