Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 81 - Kado yang Diinginkan


__ADS_3

Setelah satu bulan lebih menikmati waktu di Indonesia, Claudia dan Mason akhirnya pulang kembali ke negara mereka. Selain untuk mengunjungi lebih banyak tempat, mereka sengaja menunggu sampai ada kabar baik dari anak-anak mereka. Penantiannya membuahkan hasil. Putri Claudia hamil. Dia begitu senang karena aku dan dia benar-benar akan menjadi keluarga.


Hendra terus mengingatkannya bahwa rencana orang tua belum tentu menjadi rencana anak-anak juga. Kami tetap harus menunggu sampai mereka cukup dewasa untuk tahu apakah mereka mau menikah dengan satu sama lain. Dan itu masih lama sekali.


“Aku tidak peduli. Aku akan berdoa siang malam jika perlu agar mereka dijodohkan oleh Tuhan.” ucap Claudia bersikeras. Kami hanya tertawa.


Setelah mengantar kepergiannya, aku dan Hendra menuju salah satu mal. Hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Kami ingin memberinya hadiah. Mama sangat menyukai perhiasan, jadi kami memilih salah satu koleksi terbaru dari merek kesukaannya.


“Tidak terasa. Sebentar lagi Hari Natal.” Aku mendengar lagu yang diputar oleh toko tersebut dengan saksama. “Apa yang sebaiknya kita lakukan pada malam Natal nanti?”


“Kamu sedang hamil. Kita tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Lebih baik di rumah saja,” katanya. Aku cemberut mendengarnya, lalu sebuah rencana terlintas di benakku.


“Kita bisa makan malam bersama di rumah orang tuaku. Sekalian juga mengundang Rasmi,” ucapku memberi usul. Dia mengangguk setuju.


“Ini kalungnya dan ini tanda terimanya, Pak.” Penjaga toko kembali, lalu memberikan sebuah tas belanja dan secarik kertas kepada suamiku.


Kami menuju rumah orang tuanya. Rumah yang selalu aku anggap rumah keduaku, tetapi kini sudah tidak lagi. Aku bahkan sudah tidak dianggap menantu lagi oleh kedua mertuaku. Dan karena aku, Mama kehilangan sahabat baiknya.


Aku merasakan tanganku disentuh. Aku menoleh dan melihat Hendra tersenyum kepadaku. Dia baik sekali. Mau bersabar menjalani semua ini bersamaku. Hubungannya dengan orang tuanya ikut rusak karena dia tidak mau meninggalkan aku. Bagaimana? Bagaimana caranya memperbaiki semua ini?


“Jangan katakan apa pun selama di rumah nanti. Biar aku yang bicara. Kamu mengerti?” ucap Hendra untuk kesekian kalinya. Aku mengangguk.


Kepala pelayan menyambut kedatangan kami dengan ramah dan membawa kami ke ruang duduk. Dia meninggalkan kami, lalu seorang pelayan wanita datang membawakan makanan dan minuman untukku dan Hendra. Saat pintu terbuka kembali, Papa dan Mama pun masuk.

__ADS_1


Mereka sama sekali tidak mau mendekati kami. Hendra juga tidak. Aku menelan ludah dengan berat. Saat mereka duduk dengan meja berada di antara kami, suamiku juga mengajakku untuk duduk. Kami terdiam sesaat, tidak ada seorang pun yang memulai pembicaraan.


“Papa dan Mama sehat?” tanya Hendra.


“Kamu bisa melihat sendiri,” jawab Mama.


“Selamat ulang tahun, ya, Ma. Aku dan Za ingin mengajak Papa dan Mama makan malam bersama tetapi semua panggilan dari kami diabaikan. Jadi, kami memberanikan diri untuk datang ke sini.” Hendra meletakkan tas berisi kalung berlian untuk Mama. “Kami tidak bisa memberi banyak. Tapi semoga Mama menyukai kado ini.”


“Hanya satu kado yang aku inginkan dari kalian berdua. Dan kalian tahu itu.” Mama berdiri dari tempat duduknya. Aku dan Hendra ikut berdiri. “Jangan datang lagi. Aku tidak ingin melihat kalian bersama seperti ini. Kalian berdua membuatku muak.”


“Apa kalian pikir aku akan memuji hubungan kalian dan menyebutnya sebagai cinta sejati? Yang kalian miliki ini hanya sandiwara. Yang satu cinta mati hingga buta dengan kesalahan pasangannya. Yang satu lagi penuh tipu daya hanya demi kekayaan,” ucap Mama tajam. “Petugas keamanan tidak akan membuka gerbang lagi jika kalian berani datang ke rumah ini.”


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Mama keluar dari ruangan. Papa mendesah pelan. “Hari ini suasana hati ibumu sedang tidak baik. Kalian pulanglah.”


Aku melihat ke arah Papa yang hanya menundukkan kepalanya, sama sekali tidak mau melihat ke arahku. Saat di luar ruangan, aku melihat ke arah tangga di mana kamar Mama berada. Rumah ini terasa berbeda sekarang. Lebih dingin, tanpa emosi sama sekali.


Sampai di rumah, Hendra tidak mengajakku ke kamar seperti biasanya. Dia malah membawaku ke teras samping rumah. Saat pintu dibuka, aku akhirnya mengerti. Dia sudah meminta kepada pelayan kami untuk menyajikan makan malam di teras. Hendra menolongku untuk duduk, kemudian dia duduk di depanku.


“Terima kasih. Ini kejutan yang menyenangkan!” ucapku senang. Hendra tersenyum.


“Syukurlah, kamu menyukainya.” Dia menyendokkan beberapa potongan tipis ikan ke atas piringku. “Makanlah. Kamu pasti sudah lapar.”


Kami makan dalam diam. Angin dingin yang bertiup pada malam itu menandakan hujan sebentar lagi akan turun. Selera makanku bertambah karenanya. Aku menyentuh perutku saat merasakan gerakan. Hendra menatapku penuh tanya.

__ADS_1


“Dia menyapaku,” kataku menjawab pertanyaan yang tidak diucapkannya.


“Oh, ya?” Dia berdiri dan segera berlutut di sisiku. Dia meletakkan tangannya di dekat tanganku. “Wah. Tendangannya kuat sekali.”


“Sepertinya dia juga suka dengan menu makan malam yang sudah disiapkan oleh ayahnya,” kataku. Si kecil setuju dengan memberikan tendangan lagi. Kami tertawa merasakannya. “Tuh, benar, ‘kan? Dia langsung menjawab iya.”


“Hei, jagoan. Walaupun aku tidak marah kepadamu, jangan pikir aku setuju melihatmu menyakiti istriku seperti ini. Pelan sedikit menendangnya,” ucap Hendra kepada perutku. Dia memekik pelan saat si kecil membalas. “Wah, kamu menantangku? Sudah berani melawan ayahmu, ya?”


“Hentikan, Hendra. Jangan memarahi putraku,” kataku sambil tertawa geli.


“Kamu dengar itu? Kamu telah membuat istriku marah kepadaku. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan kepadamu saat kamu lahir. Aku akan membuat perhitungan.” Hendra melingkarkan tangan kanannya di punggungku. Aku membalas dengan memeluk lehernya. “Cepat besar, Nak. Kami tidak sabar ingin segera bertemu denganmu.”


“Tapi awas, jangan sampai jatuh cinta kepada ibumu. Dia adalah istriku. Meskipun kecantikannya memesonamu, jangan harap aku akan membiarkanmu mengambilnya dariku. Kamu dengar itu?” kata Hendra yang hanya membuatku semakin tertawa lepas. “Tapi kamu tenang saja. Kamu sudah punya calon istri yang tidak kalah cantiknya.”


“Oh, aku sangat berharap dia seperti Claudia.” Aku bersorak senang. Hendra menatapku tidak mengerti. “Berambut pirang dan bermata biru cerah. Dia pasti cantik sekali!”


“Tidak, tidak. Aku tidak setuju. Putra kita bisa tidak percaya diri nanti saat mendekatinya.” Hendra menggeleng keras. “Dia harus sama seperti ayahnya. Bermata dan berambut hitam.”


“Putra kita akan seperti kamu. Yang maju terus pantang mundur saat dia menemukan cintanya,” kataku penuh percaya diri. Hendra tertawa kecil. “Tenang saja, Nak. Aku akan mengajarimu cara menaklukkan hati wanita dengan benar. Kamu pasti bisa memenangkan hati tunanganmu itu dengan mudah secantik apa pun dia.”


Hendra memindahkan kursinya di sampingku. Kami melanjutkan makan sambil terus berbincang dengan si kecil yang sudah tidak lagi menendangku. Sepertinya suara kami menenangkannya. Hendra mendekat lalu mencium pipiku.


“Kamu akan menjadi ibu yang keren,” katanya memuji.

__ADS_1


“Dan kamu akan menjadi ayah yang hebat,” ucapku membalas. Dia terlihat sedih. Tetapi hanya sekilas. Karena dia segera tersenyum kepadaku.


__ADS_2