Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 168 - Syarat Damai


__ADS_3

Ketiga pengacaranya segera berbisik kepadanya, mencegahnya mengambil keputusan sebelum berdiskusi terlebih dahulu. Tetapi Nora mengabaikan nasihat mereka dan menatap aku menunggu aku mengatakan syarat yang akan aku ajukan.


“Mudah saja. Kamu sudah mengundang banyak wartawan untuk datang ke gedung ini, maka kita sebaiknya tidak membuang waktu berharga mereka. Kami akan menyediakan satu ruangan untuk konferensi pers. Akui semua perbuatanmu seperti yang sudah disampaikan oleh pengacaramu, lalu minta maaflah kepada keluarga besar kami.”


“Apa?” Dia tertawa. “Kamu bermimpi bila kamu pikir aku akan melakukan hal itu. Aku tidak akan merusak nama baikku sendiri demi menyelamatkan namamu.”


“Kalau begitu, tawaran tidak akan kami turunkan. Kamu harus membayar ganti rugi sebanyak yang kami ajukan.” Aku menoleh ke arah Pak Oscar, menyerahkan acara kembali ke tangannya.


“Nora sudah meminta maaf, itu sudah cukup. Dia tidak harus mengakuinya di depan publik. Lagi pula semua orang sudah mendengar sendiri pengakuannya pada acara di hotelnya. Untuk apa lagi merendahkan dia lebih jauh dari itu? Nora sudah menyesal dan tidak akan mengulangi perbuatannya tersebut. Iya, ‘kan, Nora?” Mama memegang tangannya yang ada di atas meja.


“Sayang,” kata Papa berusaha untuk menghentikan Mama bicara lebih lanjut.


“Iya, Tante.” Dia yang semula berwajah sombong, memasang wajah memelas. “Aku sadar bahwa Hendra tidak akan pernah meninggalkan istrinya. Aku tidak akan berusaha merusak pernikahan mereka atau terlibat dengan apa pun yang berhubungan dengan mereka lagi. Aku sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan.”


“Kalian sudah mendengarnya sendiri. Akhiri sengketa ini dengan baik dan damai. Tidak perlu melibatkan lebih banyak orang.”


“Sekali lagi, Nyonya Adhyana Perkasa, dan ini adalah peringatan terakhir. Pertemuan ini hanya antara klien saya dan Nora. Bila Ibu masih mencoba untuk mengintervensi, Ibu harus keluar dari ruangan ini,” kata Pak Oscar dengan tegas.


Dia melanjutkan agenda acara dengan menyebutkan nama dan nomor rekening tujuan, lalu tanggal tenggat uang ganti rugi harus ditransfer. Hendra memutuskan untuk menggunakan nomor rekening pribadiku karena aku yang telah banyak dirugikan. Aku kalah berdebat, maka aku membiarkan dia dan Pak Oscar melakukan tugas mereka.

__ADS_1


“Aku hanya punya waktu dua hari untuk mengumpulkan uang sebanyak itu? Apa kamu bercanda, Hendra?” tanya Nora yang segera menepis tangan pengacaranya yang berusaha untuk menarik perhatiannya. Mengapa dia hanya bicara kepada Hendra? Akulah yang menjadi klien utama Pak Oscar pada pertemuan ini.


“Bila tidak ada lagi yang perlu kita diskusikan, saya dan klien saya mohon undur diri,” kata Pak Oscar. Dia merapikan setiap berkas yang ada di hadapannya. Hendra menoleh ke arahku, aku mengangguk mengerti. Kami berdiri dari tempat duduk kami masing-masing.


“Tunggu. Tunggu sebentar,” seru Nora setelah beberapa menit hanya diam. Pengacaranya sudah tidak mengambil alih tugas mereka lagi. Kini wanita itu bicara atas namanya sendiri. “Baik. Aku terima syarat dari kalian. Tolong, siapkan ruangannya.”


“Anda tidak boleh mengurangi satu kata pun dalam konferensi pers nanti. Syarat dianggap tidak memenuhi syarat bila Anda mencoba memanipulasi suasana.” Pak Oscar mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. “Ini adalah surat perjanjian damai yang sudah kami siapkan. Silakan bubuhkan tanda tangan Anda, lalu kita bisa ke ruang konferensi.”


Hendra menoleh ke arah Zach. Dia mengerti apa yang harus dia lakukan. Dia menyingkir ke dekat jendela dan bicara dengan seseorang lewat ponselnya. Pengacara Nora membaca surat perjanjian itu dengan setengah hati. Mereka pasti tersinggung setelah beberapa kali Nora mengabaikan nasihat mereka dan memilih untuk bicara tanpa menanyakan pendapat mereka terlebih dahulu.


Setelah Pak Oscar memeriksa ketiga dokumen tersebut telah ditandatangani oleh kedua pihak yang bersengketa, yaitu aku dan Nora, juga para saksi, maka surat itu dinyatakan sah. Aku mengulurkan tanganku kepada Nora, tetapi dia tidak mau menerimanya. Dia justru memberikan tangannya kepada Hendra yang tentu saja hanya diabaikan.


Pak Oscar keluar ruangan lebih dahulu setelah Zach menahan pintu tetap terbuka untuk kami semua. Hendra menggandeng tanganku selama kami berjalan dari ruang pertemuan, di elevator, bahkan hingga sampai di ruang konferensi di mana wartawan sudah duduk menunggu.


“Yang kalian lakukan ini sangat berlebihan,” ucap Mama yang berdiri di sisi Hendra. “Dia sudah cukup menderita tanpa kalian tambah lagi dengan konferensi ini.”


“Zahara kehilangan bayi kami, dia hampir diperkosa di tempat umum, dan dia nyaris mengakhiri hidupnya karena tekanan yang dia rasakan. Semua itu karena ulah Nora, Dicky, dan Vivaldo. Juga orang lain yang masih aku selidiki. Bila Nora sudah merasakan setengah saja dari yang istriku alami, konferensi ini tidak perlu diadakan.


“Tetapi dia masih bisa berjalan bebas dengan dagu terangkat, tidak ada hukuman apa pun yang diberikan kepadanya, bahkan mamaku sendiri masih berpihak kepadanya. Katakan kepadaku, Ma. Penderitaan apa yang sudah dia alami yang Mama maksudkan tadi?” tanya Hendra.

__ADS_1


“Apa maksudmu, Hendra? Zahara hamil?” tanya Papa terkejut. Aku menoleh ke arah Mama. Dia tidak memberitahu Papa mengenai hal itu?


“Iya, Pa. Usianya bahkan belum genap delapan minggu.”


“Maafkan aku, Nak. Aku turut sedih mendengarnya, Zahara.” Papa menyentuh bahuku. Air mataku mendesak keluar merasakan perhatian tulusnya.


“Iya, Pa.” Aku berdehem pelan mendengar suaraku mendadak serak. “Terima kasih.” Hendra melingkarkan tangannya di bahuku.


Kami mengarahkan pandangan begitu Gista mempersilakan Nora menyampaikan apa yang ingin dia katakan pada konferensi pers tersebut. Ada sebuah catatan di atas meja, diletakkan di hadapannya, untuk mempermudah dia mengatakan semua hal yang perlu dia ucapkan.


“Aku, Nora Camillia, mengundang Anda semua rekan media ke tempat ini untuk menyampaikan bahwa masalah antara aku secara pribadi dengan Mahendra perkasa dan keluarganya telah diselesaikan dengan baik.” Dia berdehem pelan.


“Aku mengaku salah telah melakukan begitu banyak hal yang telah merugikan nama baik mereka. Akulah yang telah memberikan rekaman CCTV hotel kepada stasiun televisi dan media milik Dicky Ardyanto untuk disebarkan secara luas. Aku juga telah membayar banyak orang untuk membentuk opini publik lewat komentar di media sosial. Aku telah memanipulasi hasil tes DNA yang menyatakan bahwa Hadi adalah anak kandung Mahendra, menjadi Hadi adalah anak kandung Vivaldo Chandra.


“Yang terakhir, aku mengaku bahwa aku telah memprovokasi beberapa pria yang tertarik kepada istri Mahendra untuk melecehkan dia. Aku juga yang telah menyebut bahwa perempuan itu bukan wanita baik-baik agar reputasinya hancur dan Mahendra meninggalkannya.


“Atas semua kesalahan itu, aku mengaku menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi. Tidak kepada keluarga Mahendra Perkasa atau pun orang lain di masa yang akan datang. Kepada Mahendra dan seluruh keluarga besarnya, Zahara Aprilia, Hadiyan Bagas Perkasa, Erendira Bella Perkasa, Adhyana Perkasa, dan Naava Perkasa, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya.”


Ruangan itu menjadi riuh setelah Nora menyampaikan permintaan maafnya. Gista mengambil alih dan mereka pun tenang kembali. Dia hanya memberi mereka dua sesi untuk bertanya. Setiap sesi hanya diberikan kepada tiga orang dengan satu pertanyaan saja.

__ADS_1


Saat ada yang bertanya apakah Nora mencintai Hendra sehingga melakukan semua itu, aku hanya tersenyum. Apa tidak ada pertanyaan lain yang lebih berbobot? Mereka adalah karyawan yang seharusnya bisa menganalisa masalah lebih dalam. Yang dia lakukan ini bukanlah cinta.


“Iya, aku sangat mencintainya. Dan aku pastikan bahwa aku mencintai Mahendra lebih dari wanita yang kini berada di sisinya. Lagi pula Mahendra sudah bercerai darinya. Meskipun mereka kembali tinggal bersama, itu tidak akan bisa menutupi kenyataan bahwa mereka telah menipu orang banyak. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai semua orang tahu apa yang mereka sembunyikan dengan berpura-pura akur lagi.”


__ADS_2