
Hendra menatapku sesaat sebelum menjawab. “Mama telah melahirkan dan membesarkan kalian dengan baik. Tentu saja aku sayang kepadanya.”
“Kalau begitu, Papa akan tinggal bersama kami untuk selamanya?” tanya Hadi penuh harap. Mata Hendra berubah sedih. Aku hanya menundukkan kepalaku. Apa yang orang-orang katakan itu benar. Memahamkan anak bahwa papa dan mama mereka tidak lagi bersama adalah hal yang sulit.
“Hadi ….” Hendra kehilangan kata-kata untuk memberi penjelasan.
“Jangan pergi lagi, Pa. Tinggallah bersama kami,” pinta Hadi lagi.
“Hujan-hujan begini, enak juga makan mi rebus, ya.” Aku berusaha untuk mengalihkan perhatian putraku. Dia menoleh ke arahku dengan mata berbinar-binar.
“Aku mau, Ma! Pakai sosis dan bakso yang banyak, ya?” ucapnya penuh harap.
“Boleh. Papa menyimpan banyak sosis dan bakso di kulkas.” Aku meletakkan mug yang aku pegang di atas meja kecil, lalu berjalan keluar dari tenda.
“Aku ikut, Ma! Aku bantu Mama membuatnya.” Hadi berdiri dan mengulurkan tangannya kepadaku. Aku membantunya untuk berdiri. Aku melihat ke arah Hendra. Dia membentuk kata terima kasih dengan gerakan bibirnya. Aku mengangguk pelan.
Tentu saja Hendra memanggil pengurus rumah misterius yang akhirnya bisa kutemui juga. Dia tidak mengizinkan aku memasak mi sendiri. Aku memberi sosis dan bakso untuk direbus kepada pengurus rumah tersebut. Mangkuk Hadi mendapat masing-masing satu buah lebih banyak.
Hendra yang membawa baki dengan keempat mangkuk berisi mi rebus ke tenda. Hanya bagian Dira yang tidak berkuah agar memudahkannya untuk makan sendiri. Topik tadi pun terlupakan. Pengurus rumah datang mengantarkan tiga gelas air dan satu gelas khusus balita. Aku meletakkannya di atas meja kecil. Anak anjing itu juga mendapatkan bagiannya. Daging rebus dengan tulang.
Kami duduk kekenyangan dengan pandangan ke arah hujan yang awet setelah menghabiskan makanan masing-masing. Mendengar bunyi benda bergetar, aku menoleh ke atas meja kecil. Seseorang menghubungi ponselku. Aku memeriksa layarnya dan melihat ada panggilan video.
“Halooo …!” Terdengar sapaan seperti paduan suara begitu wajah keempat sahabatku muncul di layar ponselku. Perkembangan teknologi komunikasi memang luar biasa.
“Haaiii …!” Aku membalas sapaan mereka. Hadi segera mendekat.
“Hai, Tante Lindsey, Tante Qiana, Tante Darla, dan Aunt Claudia.” Hadi melambaikan tangannya. Keempat wanita itu serentak membalas sapaannya.
“Kalian sedang berada di mana?” tanya Lindsey sambil melihat kami dengan saksama.
“Tolong, bicara dengan bahasa yang bisa aku pahami,” pinta Claudia. Kami tertawa bersama.
“Kami sedang di vila milik Hendra.” Aku mengarahkan ponsel agar Hendra dan Dira bisa terlihat oleh mereka. Hadi berdiri, mendekati anak anjing itu, dan menggendongnya.
“Oh, Zahara! Aku sangat bahagia untukmu!” ucap Claudia terharu. Dia bahkan meneteskan air matanya. Aku menatapnya dengan bingung. “Akhirnya, kalian kembali bersama.”
“Ng, kamu salah paham, Claudia. Kami hanya berlibur bersama anak-anak. Dira masih kecil, jadi Hendra tidak bisa menghabiskan waktu bersama mereka tanpa mengajakku,” kataku menjelaskan.
__ADS_1
“Iya, ‘kan? Akan sangat membahagiakan bila mereka kembali bersama,” ucap Lindsey dengan senyum bahagia.
“Tidak, tidak. Aku tetap tidak setuju,” timpal Qiana. Mereka berebutan bicara sampai aku bingung harus mendengar siapa dan menanggapi yang mana lebih dahulu.
“Oh, anak anjing itu manis sekali! Siapa namanya, Hadi?” tanya Claudia mengabaikan kehadiranku. Kebiasaan mereka ini membuatku kesal saja.
“Namanya Ara, Tante,” jawab Hadi sambil mengangkat anak anjing itu agar terlihat jelas di layar. Anak anjing itu menyalak senang mendengar namanya disebut.
“Ara? Aku seperti pernah mendengar nama itu,” ucap Qiana yang sedang berpikir. Anak anjing itu kembali menyalak. Lalu tawanya meledak. Yang lain juga ikut tertawa.
“Apa? Apa yang lucu?” tanya Caudia tidak mengerti.
“Apa kamu ingat Zach memanggil Zahara dengan nama apa?” tanya Lindsey. Anak anjing tidak tahu malu itu menyalak lagi. Oh, Tuhan. Ini sangat mengesalkan. Claudia berpikir sejenak. Dia kemudian menatap layar dengan mata membulat, sedetik berikutnya, dia ikut tertawa.
“Ini lucu sekali! Bukankah kalian tidak mengizinkan anak-anak memanggil nama orang dewasa? Dan kamu mengizinkan Hadi menggunakan namamu untuk anak anjingnya?” tanyanya bingung.
“Itu bukan anak anjing kami. Itu milik Hendra dan bukan aku yang memberinya nama!” ucapku kesal. Bukannya berhenti, mereka malah semakin tertawa bahagia.
“Kalian sebaiknya berhenti menggoda dia, gadis-gadis. Atau aku yang akan kena getahnya nanti,” Hendra mendekat agar wajahnya bisa muncul juga di layar.
“Kamu tidak mau datang lagi ke Indonesia. Apa artinya sebuah perayaan tanpa kehadiranmu, Claudia?” ucap Hendra menantangnya. Claudia tersenyum penuh arti. Jantungku berdebar lebih cepat. Apa ini? Apa yang mereka berdua sedang bicarakan?
“Aku akan datang pada perayaan ulang tahun pernikahan perak Qiana dan Helmut. Apa kamu bisa jamin pada saat itu aku akan melihatmu dan Zahara kembali bersama?” Claudia balas menantang.
“Tergantung,” jawab Hendra misterius.
“Aku tahu kamu pasti akan curang. Kalau tidak ada jaminan apa pun, untuk apa aku datang ke sana? Aku bisa menyaksikan acara Qiana lewat video saja.” Claudia cemberut. Aku melihat Qiana. Dia yang biasanya sangat sensitif, kali ini tidak terlihat tersinggung dengan kalimat itu.
“Aku sudah bilang, kata-kata Hendra tidak bisa dipercaya. Apalagi Zahara,” timpal Lindsey.
“Mengapa aku ikut disalahkan juga?” protesku.
“Sebentar, teman-teman.” Darla melerai. Kami semua diam. “Hendra belum selesai bicara. Katakan, tergantung pada apa, Hendra?”
“Tergantung pada Zahara. Apa dia ingin kami kembali bersama atau tidak.” Hendra menatapku. Teman-teman segera bersorak memberi dukungan.
“Ayo, Zahara. Tunjukkan kemampuanmu! Taklukkan dia!” ucap Claudia memberi semangat.
__ADS_1
“Jangan biarkan dia menginjak-injak harga dirimu, Zahara. Kita perempuan juga bisa meruntuhkan hati laki-laki.” Qiana tidak mau kalah. Aku hanya menatap mereka tidak percaya.
Percakapan penuh penghinaan itu pun berakhir setelah mereka puas menyampaikan apa yang ada di kepala mereka masing-masing. Mereka menghubungiku tanpa ada alasan yang jelas. Dan aku tidak tahu harus menyembunyikan wajahku di mana. Hal yang paling memalukan, anak anjing itu terus menyalak setiap kali nama Ara dan Zahara disebut.
“Ma, lihat!” ucap Hadi membuyarkan lamunanku. “Hujan sudah berhenti. Ayo, Ma. Kita lakukan kebiasaan kita. Hari belum gelap. Boleh, ya?”
Aku membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan pikiranku dari percakapan yang memalukan tadi, jadi aku segera memenuhi permintaannya. Hendra menatapku dengan heran. Aku membantu Dira memakai jas hujan dan sepatu bot yang berbahan plastik. Hendra menolong putra kami memakai jas hujannya. Setelah aku memakai jas dan sepatu bot, kami keluar.
“Kalian mau ke mana?” tanya Hendra heran.
“Sebaiknya kamu pakai jas hujan dan sepatu khususmu kalau mau ikut.” Aku melihat ke arah pakaiannya. Dia kembali tidak lama kemudian, lalu kami menuju jalan di depan vila.
“Itu, Ma! Itu!” Hadi menunjuk ke arah yang kami cari. Kami segera mendekat dan melompat di kubangan air tersebut. Hadi tertawa bahagia meskipun air itu justru membuat kami basah kuyup. Anak anjing itu berlari-lari riang mengitari kami.
“Apa yang kalian lakukan? Za, apa kamu tidak tahu berapa umurmu sekarang? Mengapa kamu malah mengajak anak-anak bermain air kotor begini?” protes Hendra.
“Santailah, Hendra yang terhormat. Ini hanya air hujan. Tidak sekotor yang kamu pikirkan.” Aku mengambil Dira dari gendongannya dan menurunkannya ke jalan. Dia mengikuti kakaknya bermain-main dengan air menggunakan kakinya. Aku tidak melepaskan tangannya sama sekali.
Kami berpindah dan menemukan kubangan dengan lebih banyak air. Tempat ini sepi, jadi belum ada kendaraan yang lewat yang mengurangi jumlah air pada kubangan yang kami temui. Hendra yang semula skeptis, ikut bermain dan tertawa bersama kami.
“Aku tidak yakin apa yang kita lakukan tadi aman untuk anak-anak. Bagaimana kalau mereka demam nanti?” tanya Hendra khawatir setelah kami menidurkan anak-anak di kamar mereka.
“Mereka baik-baik saja. Ketika mereka agak besar nanti, aku malah mau mengajak mereka mandi hujan.” Aku tersenyum tidak sabar menunggu saat itu tiba. “Kesenangan yang gratis seperti itu tidak boleh dilewatkan. Kamu besar dengan mainan mahal, jadi kamu tidak mengerti permainan yang tidak perlu bayar dan lebih menyenangkan.”
“Aku akan memberimu pelajaran bila anak-anakku sampai sakit nanti,” katanya mengancam. Dia meletakkan sebuah mug berisi cokelat hangat dengan banyak marshmallow di atas konter. Hmm.
“Ngomong-ngomong, apa maksud ucapanmu kepada teman-temanku tadi? Tergantung padaku? Aku baru tahu bahwa kamu berniat agar kita kembali bersama.” Aku menghirup minuman hangat itu. Hendra duduk di kursi tinggi yang ada di sisiku.
“Aku tidak pernah bilang begitu.” Dia menatapku dengan heran.
“Tapi kamu tadi bilang ….” Apa aku salah dengar?
“Teman-temanmu yang ingin kita kembali bersama. Aku hanya menyampaikan satu syarat yang bisa membuatku kembali kepadamu. Dan aku tidak bilang, AKU ingin KITA kembali bersama,” ralatnya.
“Sombong sekali kamu.”
“Aku hanya bicara jujur. Aku tidak mau kamu salah paham lalu berpikir bahwa aku sedang memberi harapan kepadamu.”
__ADS_1