
Mama tertawa saat kami semua sedang bingung. Pada saat berpisah pagi tadi, Dira masih baik-baik saja. Papa sampai membujuknya untuk mau lepas dari pelukan Hendra. Lalu mengapa sikapnya malah berubah drastis?
“Kalian ini bagaimana? Wajar saja Dira sampai menangis begitu. Dia tidak mengenali Hendra karena kepalanya tidak berambut.” Mama tertawa geli. Aku menoleh ke arah suamiku. Ah, benar juga.
“Sayang, jangan menangis lagi. Ini Papa, Nak. Coba lihat wajahnya baik-baik,” kataku sambil mendekatkannya kepada Hendra yang duduk di mobil.
“Mama! Mau Papa! Mana Papa?!” tangisnya lagi. Jika dia terus menolak masuk ke mobil, bagaimana kami bisa pulang?
“Dira, ini papa, Nak. Apa Dira tidak kenal lagi dengan suara papa?” tanya Hendra. Dira menoleh ke arahnya. Keningnya berkerut. Aku tahu bahwa dia mengenali suara dan wajah papanya, tetapi karena kini dia tidak berambut, putri kami berpikir bahwa Hendra adalah orang lain.
“Pakai ini untuk sementara.” Papa keluar dari rumah, lalu memberikan sebuah topi kepada Hendra. Dia mengambil dan mengenakannya.
“Nah, apa Dira bisa lihat siapa itu?” tanyaku kepada gadis kecil dalam gendonganku. Dia segera mengulurkan tangannya kepada Hendra.
“Papa!!” katanya senang. Ya, ampun. Harus dengan bantuan sebuah topi barulah dia bisa mengenali papanya. Aku berterima kasih kepada papaku, lalu masuk ke mobil.
Hendra membuka jendela mobil di sisinya sehingga kami bisa melambaikan tangan kepada kedua orang tuaku. Selama dalam perjalanan, Dira sesekali menoleh ke arah papanya. Mungkin dia ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar ayahnya. Aku dan Hendra tersenyum penuh arti melihat tingkahnya.
Aku melihat ke sekeliling kami, sepertinya tidak ada yang mencoba mengikuti atau menakuti kami lagi. Syukurlah. Berhadapan dengan orang yang punya banyak duit dan memiliki pengaruh memang berat. Karena mereka bisa menyuruh siapa saja untuk menyakiti kami dengan uang mereka.
Sesampainya di depan rumah, Liando dan Sakti membantu menurunkan kursi roda Hendra dari bagasi. Suamiku sudah tidak membutuhkan bantuan siapa pun lagi untuk turun dari mobil dan berpindah ke kursi rodanya.
__ADS_1
Mendengar gerbang terbuka, aku menoleh dan melihat sebuah mobil masuk. Sepertinya aku pernah melihat mobil tersebut. Tetapi aku tidak bisa mengingat pemiliknya.
Kami selalu menyambut siapa pun untuk datang ke rumah kami. Hanya orang-orang tertentu yang dilarang masuk. Orang tuaku sering menasihati agar kami menghentikan kebiasaan tersebut karena kami punya musuh yang sering sekali tidak kami duga-duga orangnya.
Seorang wanita keluar dari jok belakang, dan aku segera mengenalinya. Anak perempuannya ikut keluar dari mobil. Untung saja ingatan suamiku sudah kembali, jadi aku tidak perlu menjelaskan siapa perempuan jahat yang mendatangi kami. Aku lupa menambahkan dia dalam daftar orang yang tidak diterima masuk di rumah kami.
“Hendra, aku membutuhkan bantuanmu,” kata Keva mengabaikan aku yang berdiri lebih dekat dengannya. Tetapi dia tidak bisa mendekati kami karena Liando dan Sakti segera mengenali siapa perempuan itu. Dia pernah menyerangku saat kami berada di rumah sakit.
“Pergilah, Keva. Kita tidak sudah punya urusan apa pun lagi,” kata Hendra dengan tegas.
“Kita teman sekolah dan kamu bilang, kita tidak punya urusan lagi?” tanya Keva dengan nada sedih. “Aku telah kehilangan segalanya yang menjadi hakku karena tuduhan jahat tidak beralasan dari keluarga almarhum suamiku. Kamu mohon, tolonglah aku, Hendra.”
“Aku tidak mau mendengar omong kosong ini. Pergilah atau orang-orangku yang akan mengusirmu.” Hendra memegang tanganku dan menarikku menuju teras.
Dua orang pekerja kami yang lain menolong mengangkat Hendra dan kursi rodanya sampai ke pintu depan, lalu Abdi menutup pintu. Suara wanita itu pun tidak terdengar lagi. Sebelum aku yang mengatakannya, Hendra meminta Keva dimasukkan dalam daftar hitam.
Kami makan siang bersama, lalu aku menemani Hendra untuk beristirahat di kamar. Aku meminta Yuyun untuk menjaga anak-anak selagi aku tidak bersama mereka. Hendra membersihkan dirinya di kamar mandi, kemudian mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman.
Saat dia mengulurkan tangan agar aku menolong dia berpindah dari kursi roda ke tepi tempat tidur, aku menatapnya tidak percaya. Dia sudah bisa melakukannya sendiri, mengapa masih meminta bantuanku? Tetapi aku menurutinya.
“Sebelum aku lupa memberitahu kamu hal ini, apa kamu ingat saat Keva datang ke rumah sakit?” tanyaku sambil duduk di tepi tempat tidur. Dia mengiyakan. “Dia menyerang aku saat aku sedang sendiri. Pak Oscar melaporkan perbuatannya, tetapi dia hanya dikurung beberapa hari saja.”
__ADS_1
“Dia menyerang kamu dan kamu baru memberitahu aku sekarang?!” serunya kesal. “Lalu mengapa dia bisa masuk ke pekarangan kita? Kamu tidak memberitahu petugas keamanan bahwa dia masuk daftar hitam!?”
“Aku tidak ingat untuk memberitahu kamu karena kita sedang berada di rumah sakit. Apa kamu lupa bahwa kamu hanya tidur saja untuk memulihkan diri?” kataku membela diri. Dia menarik napas panjang. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikan kejadian itu darimu.”
“Baiklah.” Dia memicingkan matanya, pasti dia teringat dengan sesuatu yang penting. “Aku ingat aku meminta Irwan untuk memeriksa sesuatu mengenai dia. Apa laporan itu sudah kamu terima?”
“Iya. Dan aku juga meminta maaf menggunakan salah satu laporan untuk membalas perbuatannya,” kataku pelan. Bukannya marah, dia malah tersenyum.
“Tidak apa-apa, sayang. Aku memang ingin memberi dia pelajaran karena sudah berani memfitnah aku. Dia pikir dia bisa berbuat seenaknya supaya kita berpisah dan aku menikah dengannya. Apa dia pikir pernikahan itu hanya permainan?”
“Fitnah apa?” tanyaku. Dia menceritakan mengenai telepon dari wali kota yang menjadi awal dari bencana yang kami alami. “Kamu perlu menjaga emosimu. Jangan tantang semua orang di luar sana dan menambah musuhmu.”
“Aku mengantuk, sayang.” Dia menguap pelan, dan aku tahu itu hanya pura-pura. “Bila aku belum bangun juga jam tiga nanti, tolong, bangunkan aku.” Aku menggeleng kepala melihat tingkahnya.
Hadi sedang melanjutkan menyusun LEGO kapalnya, sedangkan Dira sedang mewarnai saat aku masuk ke ruang keluarga. Melihat televisi tidak dinyalakan, aku memutuskan untuk mencari berita yang dimaksudkan oleh Keva tadi.
Yang aku temukan malah berita mengenai kasus persidangan Vivaldo yang terlibat dalam kasus penyuapan besar, juga pasal berlapis lainnya, termasuk percobaan pembunuhan pada malam ulang tahunku. Aku tidak tahu berapa lama kali ini hakim akan memberinya hukuman. Kasihan anak-anaknya. Entah bagaimana kabar mereka sekarang.
Tanpa harus sulit mencari, berita berikutnya ternyata mengenai Keva yang dituduh telah sengaja mengakhiri nyawa suaminya sendiri. Aneh. Bila dia dituduh begitu, mengapa dia masih bisa bebas dan tidak segera dipenjara? Anaknya juga masih bersamanya. Apa keluarga almarhum suaminya tidak takut anak itu akan mengalami hal yang sama?
Aku segera membesarkan volume televisi ketika membaca kepala berita selanjutnya. Oh, Tuhan! Akhirnya! Wali kota itu dipanggil oleh penyidik sebagai saksi dalam dugaan penyalahgunaan dana sebuah proyek. Interogasi masih berlangsung dan belum ada seorang pun yang keluar dari ruangan itu untuk memberikan keterangan.
__ADS_1
Semoga saja dia ditetapkan sebagai tersangka. Bukti-bukti yang telah dikumpulkan Irwan tidak akan bisa dibantah. Lalu tuntutan kami atas kecelakaan yang menimpa Hendra juga bisa diproses.