Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 240 - Dua Kali Lipat


__ADS_3

Pengacara tadi pergi, aku dan orang tuaku masih berada di ruang tamu. Mama cemberut karena aku memarahinya di depan orang lain. Aku harus melakukannya atau Mama akan berpikir bahwa aku adalah anak kecil yang bisa disetirnya. Bahkan ketika aku masih anak-anak, Mama tidak pernah mengatur apa yang ingin aku lakukan.


“Kalian berdua tidak bisa bersitegang begini bila ingin kita tinggal bersama dengan damai di rumah ini. Sebaiknya kalian sudah berbaikan saat aku kembali nanti. Sekarang, ayo, kita makan. Aku harus pergi ke kantor. Ada banyak pekerjaan menunggu,” kata Papa sambil berdiri.


“Apa ada yang bisa aku bantu, Pa?” tanyaku meskipun aku tidak tahu bagaimana cara membantunya dalam pekerjaan di perusahaan kami saat ini.


“Tidak. Terlalu banyak perubahan, kamu tidak akan bisa menerima semua informasi sebanyak itu dalam satu hari. Lebih baik kamu pulihkan kesehatanmu dahulu. Setelah perban di kepalamu dilepas, kamu bisa kembali bekerja.” Papa menepuk bahuku.


Aktivitas yang aku lakukan di rumah sangat membosankan. Setelah makan obat, aku tidur siang, lalu bangun hanya untuk mengikuti terapi. Papa sepertinya sudah memesan salah satu penyedia alat latihan sehingga salah satu ruangan di rumah sudah diubah menjadi ruang latihan khusus untukku.


Bila aku melakukan fisioterapi selama dua kali sehari, Mama satu kali lebih banyak. Dia didampingi oleh seorang perawat untuk melakukan senam ringan setelah sarapan, makan siang, dan makan malam. Apa aku perlu melakukan itu juga? Tetapi aku pernah bertanya, pelatihku hanya memberi aku izin untuk melakukannya dua kali sehari.


“Bagaimana keadaan Mama, Pa?” tanyaku saat kami tinggal berdua saja di dalam ruang keluarga. Mama sudah memasuki kamarnya bersama seorang perawat. Sebelum keluar ruangan, Mama sudah mengucapkan selamat malam. Jadi, aku berasumsi bahwa Mama tidak akan turun lagi.


“Baik. Perkembangannya juga baik. Besok adalah jadwal pemeriksaan rutinnya. Semoga saja dokter tidak menemukan adanya sel kanker di tubuh mamamu,” kata Papa penuh harap.


“Apa yang terjadi dalam hubungan Papa dan Mama? Aku tidak pernah melihat Papa semarah itu kepada Mama di depanku,” tanyaku khawatir.


“Kamu juga semarah itu kepada mamamu sendiri,” Papa tertawa kecil. “Semuanya berubah sejak enam tahun yang lalu. Amarah mamamu bertambah beberapa kali lipat sejak kejadian belakangan ini. Banyak yang terjadi sejak awal tahun ini, Nak. Bukan hanya nama baik keluarga kita yang dipertaruhkan, tetapi pernikahan kalian juga.”


“Apa yang terjadi belakangan ini, Pa?” tanyaku ingin tahu.


“Sejak kamu dan Zahara memutuskan untuk kembali bersama, ada tiga orang yang secara brutal mencoba untuk memisahkan kalian.”


“Aku dan Za memutuskan kembali bersama?”


“Iya. Kalian berpisah selama lima tahun setelah Hadi lahir. Kamu tidak mau mengunjungi putramu sama sekali. Aku menghormati keputusanmu pada saat itu, tetapi aku tidak akan membiarkan kamu mengulang kesalahan yang sama,” kata Papa dengan nada serius. Aku terdiam mendengarnya.

__ADS_1


“Aku tidak mengizinkan kamu memintanya membayar dua kali lipat atas kesalahan yang sama. Itu sangat kejam. Kamu menyakitinya sama saja dengan menyakiti dirimu sendiri. Lalu apa untungnya perpisahan ini bagimu?


“Kamu hanya perlu bersabar sampai ingatanmu pulih sepenuhnya. Mengambil keputusan dengan tergesa-gesa seperti ini tidaklah baik.” Papa mengambil amplop yang ada di atas meja, lalu memberikannya kepadaku. “Bukalah.”


Aku membuka amplop itu dan mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya. Yang pertama adalah hasil tes DNA Hadi, aku melihat hasilnya. Dia adalah putra kandungku. Yang berikutnya adalah Dira dengan hasil yang sama. Aku menghela napas lega. Aku merindukan Za dan anak-anak.


Mungkin Papa benar. Aku telah berbuat tidak adil kepada Za. Aku tidak mempertimbangkan bahwa aku pasti sudah pernah melakukan hal yang membuat dia membayar mahal atas perbuatannya. Apa yang aku lakukan sekarang adalah salah.


Namun aku tidak bisa memungkiri bahwa aku terluka. Kejadian itu masih segar di ingatanku. Aku tidak berpura-pura merasakan sakit dan benci kepadanya. Iya. Aku membencinya, aku sangat membenci dia yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Tega sekali dia jatuh dalam pelukan pria lain.


“Jangan membenci Zahara. Dia memang salah, tetapi dia tidak sepenuhnya memberikan diri kepada mantannya. Vivaldo menjebaknya,” kata Papa seolah membaca pikiranku. Aku menatapnya tidak percaya. “Kamu tahu itu, tetapi kamu tetap menceraikan dia karena dia tidak mencintai kamu.


“Usia kita tidak panjang. Berusahalah untuk mengingat hal yang baik, dan kembalilah kepadanya. Kasihan anak-anak kamu. Mereka sudah lama tidak melihat kamu sejak dirawat di rumah sakit. Baru beberapa saat, kamu meninggalkan mereka lagi. Pikirkan itu.”


Gara-gara ucapan Papa, aku tidak bisa tidur dengan tenang. Obat bahkan tidak bisa membantuku segera lelap. Padahal aku sangat lelah. Meskipun aku tidak harus menaiki tangga untuk menuju kamar, entah mengapa badanku terasa lebih letih.


Apa ini karena Za tidak ada di sisiku? Atau rasa amarahku kepadanya yang membuat aku merasa lebih lelah? Tidak. Aku tidak boleh menyesali apa yang telah aku putuskan. Bila aku tetap bersama dia dan anak-anak pada saat ini, kami pasti hanya akan bertengkar. Itu juga bukan hal yang baik. Aku terlalu marah untuk berada di dekatnya.


“Aku sudah tidak muda lagi, Nak. Aku tidak bisa mengurus kamu sekaligus ibumu. Tenagaku habis menolongnya mandi, kamu juga ikut merepotkan aku. Ada apa denganmu pagi ini?” tanya Papa yang menolong aku mengenakan pakaianku.


“Ada banyak ingatan yang menyakitkan, Pa. Karena itu kepalaku sangat sakit,” kataku berusaha menahan rasa sakit.


“Kalau setelah minum obat nyeri itu tidak hilang, kamu sebaiknya ikut kami ke rumah sakit,” kata Papa memberi saran. Aku mengangguk.


Untungnya, setelah sarapan dan meminum obat, sakit kepalaku berangsur pulih. Aku menonton di ruang keluarga menunggu kedatangan pelatihku. Saat Papa dan Mama bersiap untuk pergi, aku ikut mengantar. Sebuah mobil yang aku kenal mendekat dan berhenti di depan rumah.


“Apa ini, Pa?” tanya Mama. “Aku tahu dia tidak akan datang tanpa diundang. Apa yang Papa lakukan dengan memintanya datang ke rumah ini?”

__ADS_1


“Kita akan pergi dan Hendra sendirian di rumah. Bila sesuatu terjadi kepadanya, dia tidak mau seorang pun menyentuhnya. Lalu apa kita akan biarkan dia sekarat? Begitu mau kamu?” tantang Papa. Mama terdiam mendengarnya. “Aku sudah cukup mendengar perdebatan tentang menantu kesayanganku. Sudah cukup.”


“Selamat pagi, Pa, Tante,” sapa Za kepada orang tuaku dengan sopan.


“Masuklah, Nak. Kami harus pergi sekarang. Bila putraku mempersulitmu, tolong telepon aku. Dia tahu bahwa dia bukan anak-anak lagi, tetapi aku akan memperlakukan dia seperti anak-anak jika dia bertingkah begitu.” Papa menatapku dengan tajam. Yang benar saja.


“Baik, Pa,” ucap Za menurut. Dia tidak melihat ke arahku sama sekali saat mengantar kepergian orang tuaku. Aku melihat ke arah mobilnya. Dia tidak membawa anak-anak bersamanya. Siapa yang menjaga mereka? Apa dia sering meninggalkan Hadi dan Dira dalam pengawasan orang lain?


Za masuk ke rumah dan seolah-olah tahu harus ke mana. Tentu saja dia tahu. Apa yang sedang aku pikirkan? Dia menuju ruang keluarga yang pintunya dibukakan oleh kepala pelayan. Aku memang tadi dari ruangan itu, maka mau tidak mau, aku ikut masuk bersamanya.


Dia hanya duduk diam sambil menonton televisi. Kemudian dia mengambil remote dan mengganti saluran televisi. Dia terus mengganti sampai mendapat saluran yang memutar sebuah film horor. Seingatku dia tidak suka film jenis ini.


“Apa kamu harus bertindak sampai sejauh ini hanya karena sebuah ingatan?” tanyanya pada saat televisi sedang mengeluarkan bunyi guruh yang menggelegar, menambah dramatis pertanyaannya tersebut. Apa dia sengaja memilih genre ini?


“Apa maksudmu? Kamu keberatan aku tinggal di tempat orang tuaku sendiri?” tanyaku tidak suka. Dia menoleh ke arahku dan lagi-lagi bunyi guntur memenuhi ruangan. Mengapa suasana percakapan kami jadi horor begini?


“Apa kamu harus menyuruh pengacara tidak dikenal untuk datang menemui aku dan memberikan surat cerai? Apa kamu tidak cukup jantan untuk mengucapkan kata itu di depan mukaku? Serius, Hendra? Apa amnesia membuat kamu berubah menjadi pengecut sekarang?”


...*******...


...~Author's Note~...


Crazy Up sudah berakhir, tetapi aku usahakan bisa mempublikasi 3 bab per hari bila waktunya memungkinkan. BIla tidak bisa, aku pasti akan menambah bab baru setiap hari.


Selamat bergabung untuk teman-teman pembaca baru. Terima kasih sudah berkenan mampir dan membaca karyaku ini dengan sabar dari bab pertama. Semoga suka dengan kisah Hendra dan Za. (。・ω・。)ノ♡


Seperti biasanya pada setiap hari Senin, ehem, bila tidak ada bacaan lain yang ingin diberikan karcis merah, vote karyaku ini, ya. Terima kasih atas dukungannya, teman-teman. ♡♡

__ADS_1


Salam sayang,


Meina H.


__ADS_2