
Sepanjang hari itu aku habiskan di ruang khususku untuk menulis di blog juga melanjutkan naskah novel keempatku. Aku hanya berhenti ketika menemani Dira bermain atau saat makan siang setelah Hadi pulang sekolah. Yuyun menemani mereka bermain sehingga aku bisa konsentrasi bekerja.
Karena itu aku sangat terkejut melihat tulisan yang lewat di bagian bawah layar televisi mengenai hasil pertemuan Hendra dan Sherry di Disnaker pada pagi tadi. Aku tahu bahwa wanita itu melapor ke sana mengenai pemecatannya yang sepihak, tetapi aku tidak tahu bahwa pertemuan dengar pernyataan dari terlapor itu diadakan pada hari ini.
Hendra telah melakukan kesalahan besar, sangat besar dengan tidak memberitahuku sama sekali mengenai hal ini. Pantas saja semalam dia pulang begitu larut dan pagi tadi dia pergi ke kantor lebih cepat dari biasanya. Aku mengurung niatku untuk menyambutnya di pintu depan.
Aku menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan, mencoba untuk menenangkan diriku. Tetapi usaha itu gagal. Langkah kaki yang terburu-buru mendekati ruangan di mana aku berada, lalu pintu pun terbuka. Anak-anak masuk lebih dahulu, disusul Ara yang menyalak senang. Mataku menatap pria yang masuk terakhir dengan kesal.
Satu buket besar bunga mawar merah yang dibawanya tidak bisa membuatku tersenyum. Dan aku tidak heran melihat dia menatapku dengan bingung, sekaligus takut. Bagus. Aku masih bisa membuatnya sedikit gentar ketika melihatku dalam keadaan marah.
“Hadi, Dira, mama ke kamar menemani Papa, ya. Kalian temui Bu Yuyun di ruang makan. Kami segera menyusul.” Aku mematikan televisi dan berjalan mendekati pintu. Hendra membukanya untukku. Anak-anak segera menyusul dan berlari menuju ruang makan bersama Ara.
Hendra meraih tanganku saat aku sudah berada di tangga, aku segera menepisnya. Dia melangkah lebih cepat, lalu merangkul bahuku. Aku pun menjauhkan tangan itu dari pundakku. Dia tidak menyerah. Kali ini dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan aku mencubitnya dengan keras.
“Aaw! Sayang, itu sakit.” Dia mengaduh, tetapi aku tidak peduli.
Sampai di kamar, aku menunggu dia menutup pintu sebelum bicara. Dia memasang wajah memelas sambil memberikan buket bunga itu kepadaku. Aku hanya menyilangkan tangan dan menatapnya dengan kesal. “Tidak ada rahasia di antara kita, sayang? Benarkah?”
“Jika kamu marah karena pertemuan di Disnaker, aku bisa menjelaskannya.” Dia mencoba untuk memeluk, aku menjauh.
“Aku tidak butuh penjelasan. Kamu telah menyimpan rahasia dariku. Jika ini adalah masalah perusahaan, tidak apa-apa. Aku tahu bahwa ada hal yang sifatnya rahasia yang tidak boleh diketahui oleh istri sekalipun. Tetapi ini adalah perkara yang diketahui oleh publik, kecuali aku. Aku, istrimu sendiri.” Aku kembali mundur ketika dia mencoba untuk menyentuhku lagi.
“Mengapa kamu tidak memberitahuku bahwa pertemuannya diadakan pada pagi ini, Hendra?” tanyaku retorik. “Malam ini aku tidak mau tidur bersamamu. Silakan pilih, aku atau kamu yang tidur di kamar tamu.”
“Za, kamu tidak bisa,” protesnya. Aku segera berjalan melewatinya dan mendekati pintu. Tentu saja dia tidak akan membiarkan aku pergi begitu saja dengan meraih tanganku dan menarikku mendekat. Dia tertawa kecil.
__ADS_1
“Sebentar, Nyonya Mahendra.” Dia melingkarkan kedua tangannya di tubuhku. Aku memberontak ingin melepaskan diri, tetapi tidak ada hasilnya.
“Lepaskan aku!” kataku tidak menahan amarahku lagi.
“Aku mengaku salah. Tetapi aku melakukannya bukan karena aku tidak percaya kepadamu atau ingin menyembunyikan ini darimu. Aku terlalu fokus menyelesaikan masalah ini sesenyap dan secepat mungkin. Tolong, maafkan aku, sayang.” Dia memelukku tanpa terpengaruh sedikit pun dengan usaha kerasku untuk lepas darinya. Aku menyerah sebelum kehabisan tenaga.
“Tolong, lepaskan aku,” pintaku pelan. Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku.
“Berjanjilah bahwa aku bisa tidur di sini bersamamu,” katanya setengah berbisik. Aku menahan diri agar tidak terpengaruh dengan suara lembutnya itu.
“Tidak. Itu adalah konsekuensi atas kesalahanmu hari ini. Lepaskan aku!” kataku dengan tegas.
“Tidak. Kamu harus berjanji, baru aku akan melepaskan pelukanku.” Menyadari bahwa aku kalah kuat darinya, aku mengalah.
“Aku boleh tidur di sini bersamamu malam ini dan untuk seterusnya,” katanya membaca pikiranku. Sial. Bagaimana dia bisa tahu? “Sayang? Aku belum mendengarmu berjanji.”
“Kamu boleh tidur di sini bersamaku malam ini dan untuk seterusnya,” kataku dengan gigi rapat.
“Aku mencintaimu, sayang.” Dia mencium bagian belakang kepalaku, lalu melepaskan pelukannya. “Aku akan mandi secepat mungkin, lalu kita makan malam bersama.” Dia melangkah ke kamar mandi sambil bersiul kecil.
Memangnya hanya dia saja yang bisa menyimpan rahasia? Oke. Aku juga bisa.
Tempat pertemuan kami siang itu adalah sebuah kafe yang menyajikan makanan dan minuman ringan. Namun mereka juga menyediakan beberapa menu makanan utama bagi tamu yang lapar. Aku sengaja makan siang lebih dahulu bersama anak-anak di rumah agar kami hanya memesan makanan ringan. Aku tidak tahu berapa lama pertemuan itu akan berlangsung.
Aku telah terbiasa tepat waktu pada saat menepati janji temu atau menghadiri sebuah undangan karena Hendra, maka aku tidak terkejut melihat aku dan anak-anak tiba lebih dahulu. Mereka begitu bersemangat memesan es krim kesukaan mereka, aku hanya memesan teh hangat.
__ADS_1
“Kalian ingat tadi mama bilang apa, ‘kan?” tanyaku kepada mereka setelah pelayan pergi membawa catatan pesanan kami.
“Aku ingat, Ma. Kami tidak boleh mengganggu Mama bicara dengan Nenek. Aku juga tidak boleh membuat Dira menangis. Mama jangan khawatir. Aku hanya akan makan es krim. Mama bawa buku mewarnai punyaku?” Dia melihat ke arah tasku.
“Mama bawa.” Aku mengusap-usap kepalanya. “Mama kasih nanti setelah es krimnya habis, ya. Supaya buku kamu tidak kotor.”
“Aku juga, Ma. Mewaynai,” ucap Dira tidak mau kalah.
Begitu pesanan mereka diantar, anak-anak sibuk menikmati es krim mereka masing-masing. Aku memasang celemek makan Dira agar dia tidak mengotori pakaiannya. Untuk sementara, mereka tidak akan membutuhkan aku.
“Kamu sudah datang,” kata Mama yang berdiri di sisi meja di mana kami berada. Aku sengaja memilih meja bundar agar mudah duduk di sisi Hadi dan Dira. Aku berdiri menyambutnya.
“Hai, Tante,” kataku dengan sopan.
“Tidak usah berpura-pura sopan, tidak ada Hendra di sini.” Mama melihat kedua anakku lalu duduk dengan wajah tidak suka. “Mengapa kamu membawa mereka? Mau memamerkan kepadaku hasil dari perselingkuhanmu?” Aku segera menutup telinga Hadi. Dia belum pernah mendengar kata itu dan aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya bila dia bertanya nanti.
“Aku tidak bisa meninggalkan mereka di rumah, Tante. Menitipkan mereka ke orang tuaku akan membutuhkan waktu lebih banyak. Tante jangan khawatir, mereka tidak akan merepotkan.” Aku menahan diri untuk tidak terpancing dengan kalimat jahatnya.
“Aku tidak akan lama karena aku tidak yakin aku akan bisa berlama-lama berada di dekatmu.” Mama mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Secarik kertas diletakkan di depanku. “Aku sudah membubuhi tanda tangan di kertas cek kosong itu. Silakan tulis angka berapa saja. Sepuluh miliar, satu triliun, aku tidak peduli. Aku mau kamu tinggalkan Hendra secepatnya.”
Tanganku yang ada di pangkuanku gemetar. Aku meremasnya pelan untuk mengurangi getarannya. Aku memang bukan berasal dari keluarga yang berada. Kemewahan hidup baru benar-benar aku rasakan saat menikah dengan Hendra. Tetapi uang dan harta tidak menyilaukan mataku. Bahkan jika Hendra kehilangan segalanya, aku akan tetap setia mendampinginya. Jadi, menghargai kesetiaanku dengan uang sangat menyakitiku.
“Maafkan aku, Tante. Aku tidak akan meninggalkan suamiku. Aku sudah pernah menjalani hidup tanpa dia dan aku tidak ingin mengalaminya lagi.” Aku mendorong kertas itu kembali ke hadapannya.
“Omong kosong. Semua orang ada harganya.” Mama tersenyum. “Aku akan memberi rumah itu menjadi milikmu, begitu juga kedua mobil yang selama ini kamu dan anakmu gunakan. Ditambah dua puluh persen bagian di perusahaan keluarga kami. Tawaranku masih berlaku, kamu bisa menulis besar angka yang kamu inginkan pada cek kosong ini. Apa itu hargamu?”
__ADS_1