
~Za~
Aku adalah seorang wanita yang egois dan keras kepala, aku menyadari itu. Dan aku sangat dirugikan oleh sifatku itu. Aku kehilangan cintaku. Aku juga kehilangan suami yang sangat aku cintai.
Siapa pun yang melihat di mana aku tinggal, apa yang aku makan, dan apa yang aku pakai akan berkata bahwa aku beruntung dan sangat bahagia. Kenyataannya tidak demikian. Aku tidak bahagia dan sangat kesepian.
Di rumah besar ini, aku tinggal bersama anakku dan beberapa pelayan. Sebagai tuan rumah satu-satunya, aku tidak bisa lagi akrab dengan para pekerja. Semua karena kesalahanku. Mereka marah dan protes karena aku yang menyebabkan tuan mereka tidak mau tinggal lagi di sini. Mereka masih melayani segala kebutuhan hidupku dengan baik, tetapi mereka berhenti membicarakan masalah pribadi mereka denganku.
Hanya kehadiran anakku yang bisa menghiburku. Namun anak pertamaku terlalu mirip dengan ayahnya. Bukan fisiknya, tetapi sifatnya. Aku selalu teringat kepadanya. Dan hal itu sangat menyiksa. Karena setiap kali mengingat suamiku, aku selalu merasa bersalah.
Kesalahanku kepadanya sangat fatal, aku tahu itu. Aku telah menyerahkan diriku kepada laki-laki lain. Suamiku, bukan, mantan suamiku tidak bisa memaafkan aku dan tanpa ampun, dia mengakhiri pernikahan kami. Sebagai pihak yang telah melakukan kesalahan, aku tidak bisa protes dan pasrah saat menandatangani semua berkas perceraian tersebut.
Lima tahun sudah kami telah berpisah. Selama itu juga aku telah berhenti membencinya. Perasaan cintaku kepadanya justru semakin kuat. Aku membiarkan perasaanku tumbuh semakin besar karena aku hanya ingin bersama ayah dari anakku hingga aku meninggal nanti. Jika dia tidak menginginkan aku lagi, tidak apa-apa. Aku puas bisa menyatakan perasaanku dengan membesarkan anak kami sebaik mungkin.
Ada beberapa pria yang mencoba untuk masuk ke kehidupanku, rata-rata bukan pria sembarangan. Namun aku sama sekali tidak tertarik kepada salah satu dari mereka. Tidak ada yang seperti Hendra. Yang bersabar kepadaku, yang tidak menyerah denganku, yang sangat mencintaiku. Dahulu.
“Mama!!” Pintu ruanganku terbuka dan seorang gadis kecil berlari dengan langkah belum stabil ke arahku. Aku segera membuka lebar kedua tanganku. Dia berhambur ke pelukanku.
“Putri kesayangan mama sudah bangun.” Aku mencium pipi montoknya, lalu melihat ke arah Yuyun. “Terima kasih, Yun. Makan siang sudah bisa dihidangkan.”
__ADS_1
“Baik, Nyonya,” ucapnya patuh dan keluar dari ruangan.
“Dira sudah lapar?” tanyaku yang mengarahkan seluruh perhatianku kepadanya. Dia mengangguk sambil melihat ke arah layar laptopku.
“Baby Shark.” Dia mengatupkan kedua tangannya meniru gaya model anak-anak pada video musik lagu tersebut. Aku tersenyum dan memutar video yang dimintanya. Dia segera turun dari pelukanku dan menari mengikuti model pada video. Kalau sedang begini, dia begitu menggemaskan.
“Mamaaa!!” Terdengar suara seorang anak dari jauh. Aku tertawa kecil mendengarnya.
“Kakak, Ma! Kakak! Kakak pulang!” sorak Dira senang, langsung lupa dengan lagu kesukaannya. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan seorang anak laki-laki dengan seragam TK masuk. Dia segera memelukku lalu menghujaniku dengan ciuman. Dira ikut memeluknya.
“Kakak!” ucap Dira senang.
“Dira!” Hadi meletakkan tasnya ke atas sofa dan membukanya. Dia mengeluarkan sebuah kertas lalu menunjukkannya kepada kami. “Lihat! Lihat, apa yang aku gambar hari ini!”
“Bagus sekali gambarnya, sayang!” Aku mencium pipinya. Dia tertawa geli. “And I love you, too.”
“Thank you, Mama.” Dia memelukku dengan erat. Aku memejamkan mata menikmati cintanya yang sedang ditunjukkannya kepadaku. Jangan menangis, Za. Jangan sampai menangis.
“Ganti bajumu, kita sebentar lagi makan siang. Mama bereskan pekerjaan mama dahulu. Kakak ke kamar dengan Bu Yuyun, ya.” Aku mengusap-usap kepalanya.
__ADS_1
“Oke, Ma,” ucapnya patuh.
Kami makan siang bersama dan Hadi tidak berhenti menceritakan apa yang dia pelajari di sekolah dari gurunya dan apa yang dia lakukan bersama teman-teman sekelasnya. Karena dia anak yang cerdas dan suka bergaul, aku memasukkannya ke TK A. Hendra tidak mengatakan apa pun ketika aku memberitahunya rencanaku itu, jadi aku mendaftarkannya ke TK yang suasananya santai.
Sejauh ini dia sangat menyukainya. Dia tidak terlalu banyak melakukan aktivitas akademik dan hanya bersenang-senang dengan anak seusianya. Dira juga ingin sekolah seperti kakaknya, tetapi dia belum genap berusia dua tahun. Aku juga tidak mau melepasnya secepat ini. Aku masih ingin menikmati waktuku bersamanya di rumah.
“Papa tidak sayang kepadaku, ya, Ma? Kalau sayang, mengapa Papa tidak pernah datang?” tanya Hadi saat kami sedang menonton sebuah film anak-anak di ruang keluarga.
“Papa akan datang. Ada banyak hal yang harus dikerjakan sehingga Papa belum bisa datang menemuimu.” Aku mengusap rambutnya.
“Papa lebih sayang dengan pekerjaannya.” Dia cemberut. Aku tersenyum melihatnya.
“Kamu suka makan ayam goreng, bisa pergi ke sekolah, bisa beli mainan, itu semua membutuhkan uang. Mama hanya di rumah menjagamu dan tidak bisa menghasilkan uang sendiri. Tapi Papa bisa. Itulah sebabnya, Papa harus bekerja supaya kamu dan Dira bisa mendapatkan semua itu, sayang.” Aku berusaha untuk memberinya pengertian.
Semakin umurnya bertambah, semakin banyak pertanyaannya mengenai ayahnya. Aku tidak pernah menyembunyikan Hendra darinya. Fotonya ada di setiap sudut rumah ini. Jadi, baik dia maupun Dira bisa melihat wajah ayah mereka setiap hari. Aku harus melakukannya agar mereka tidak terkejut atau menganggapnya sebagai orang asing saat mereka akhirnya bertemu dengannya nanti.
Anak-anak suka sekali dibacakan buku cerita sebelum tidur. Setiap malam kami berkumpul di kamar Hadi. Mereka berdua akan berbaring sambil mendengarkan aku membacakan salah satu buku pilihan mereka. Ketika keduanya terlelap, aku membopong Dira dan menidurkannya di tempat tidurnya sendiri.
Walaupun anak-anak masih kecil, aku tidak membiarkan mereka tidur satu kamar. Aku tidak tahu sampai kapan Hendra akan mengizinkan aku tinggal bersama Hadi dan Dira. Maka aku menyiapkan mereka sedari kecil untuk bisa hidup mandiri, tidak terlalu akrab denganku juga tidak terlalu dekat terhadap satu sama lain. Jadi mereka tidak akan terkejut andai kami harus berpisah nanti.
__ADS_1
Aku sebenarnya tidak kuat tidur di ranjang kami. Terlalu banyak kenangan bersamanya di kamar dan tempat tidur itu. Kadang-kadang aku masih bisa merasakan dia hadir dalam tidurku. Dia memelukku sampai pagi seperti kebiasaannya. Tetapi saat bangun sendiri di kamar dan merasakan dinginnya sisi kasur di mana biasanya dia berbaring, aku tahu bahwa aku hanya bermimpi.
Namun hanya kenangan yang aku miliki. Meskipun menyakitkan, aku memilih untuk tetap tidur di kamar ini dan mengenangnya. Suatu hari nanti aku tahu bahwa aku akan keluar dari rumah ini. Aku tidak punya hak apa pun untuk tinggal di sini selamanya. Ini adalah rumah Hendra dan aku sudah bukan istrinya lagi.