
Putraku tidak memberiku waktu satu menit pun untuk diriku sendiri. Dia benar-benar memanfaatkan hari liburnya dengan mengajakku dan Dira melakukan aktivitas bersama. Kami berenang, membuat prakarya, menggambar, menonton salah satu film pemberian papanya, lalu kini dia tidur setelah kelelahan. Aku dan Dira pun ikut tertidur di sisinya.
Saat aku terbangun, kedua anakku masih tertidur pulas di sisiku. Aku duduk dan keluar dari ruang keluarga dengan mengendap-endap. Aku belum ingin membangunkan mereka. Kesempatan itu aku gunakan untuk mandi, berganti pakaian, dan sedikit merias diri. Ada baiknya aku membawa anak-anak ke taman bermain di dekat rumah. Sore begini ada banyak anak seusia mereka bermain di sana.
Aku baru saja akan keluar dari kamar saat pintu diketuk. Yuyun mengantar kedua anakku yang sudah bangun tidur. Aku meminta Hadi untuk mandi dan berganti pakaian. Dia bersorak senang begitu tahu rencana kami selanjutnya. Aku membantu Dira untuk mandi.
Hadi masuk ke kamar Dira dan aku tersenyum melihat dia menepati ucapannya. Dia sudah bisa mandi dan berganti pakaian sendiri. Aku membantu merapikan rambutnya dengan jemariku, lalu memberinya sebuah ciuman. Dira juga minta dicium, maka aku menjepit pipi montoknya dengan bibirku. Dia tertawa. Masih tidak percaya rasanya aku punya putri yang begitu mirip denganku.
Terdengar deru mesin mobil di depan rumah saat kami menginjak anak tangga terakhir. Aku tertegun sejenak. Siapa yang bertamu ke rumah? Tidak ada teman atau keluarga yang memberitahu bahwa mereka akan datang berkunjung. Apa jangan-jangan itu Dicky? Tetapi hari ini adalah hari Sabtu, bukan hari Minggu.
Abdi bergegas berjalan dari arah belakang rumah menuju pintu depan. Dia membukanya dan jantungku nyaris berhenti melihat siapa yang berdiri di ambang pintu. Waktu seolah-olah berhenti karena dia sama sekali tidak berubah. Masih tampan dan gagah. Hanya satu hal yang berbeda. Dia tidak terlihat bahagia tanpa senyum penuh cinta yang dahulu selalu ditujukannya kepadaku.
“Tuan Mahendra?! Senang sekali akhirnya bisa melihat Tuan kembali!” ucap Abdi dengan senang.
“Terima kasih, Abdi. Aku juga senang bisa melihatmu. Apa semuanya baik-baik saja di rumah?” tanya Hendra. Bahkan suara lembut dan dalamnya pun tidak berubah.
“Baik, Tuan. Berkat Tuan, semuanya baik-baik saja.” Dari arah belakang rumah, pekerja lain datang mendekatinya. Yuyun, Liando, Fahri, dan rekan-rekan mereka.
“Bagus.” Dia kemudian melihat ke arahku. Hanya sesaat, lalu dia melihat ke arah putri kami, dan terakhir ke arah Hadi yang berdiri di sisiku. Dia berjalan mendekat, kemudian menyeka pipiku. “Apa kalian baik-baik saja?” Aku melepas tangan Hadi begitu menyadari bahwa aku sedang menangis. Aku cepat-cepat menyeka pipiku yang basah.
“Iya. Kami baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” jawabku pelan. Dia menatapku untuk beberapa saat tanpa mengatakan apa pun.
“Aku baik.” Dia melihat ke arah Hadi. Aku merasakan putraku menggenggam erat rok baju yang aku pakai. Dia bersembunyi di belakang tubuhku. Mengerti aku harus melakukan sesuatu, maka aku berlutut agar bisa bicara dengannya.
“Sayang, ayo, sapa papamu,” ucapku kepada Hadi.
“Papa?” tanyanya pelan. Dia memerhatikan wajah Hendra dengan saksama.
__ADS_1
“Iya, sayang. Papa datang menemuimu. Kamu ingat foto-fotonya, ‘kan? Ini Papa,” kataku lagi.
“Hai, Hadi. Akhirnya, kita bertemu lagi.” Hendra mengulurkan tangannya. Hadi melihat ke arahku. Aku mengangguk pelan, lalu dia menjabat tangan papanya.
Aku berdiri dan Hendra melihat ke arah Dira. “Dira sayang. Ini Papa,” kataku kepadanya. Dia hanya mengerutkan keningnya dengan jempol dimasukkan ke mulut saat menatap Hendra. Ketika papanya mengulurkan tangan untuk menyentuh pipinya, dia menangis dan memelukku dengan erat.
“Mama! Mama!” pekiknya ketakutan. Aku segera mengusap punggungnya untuk menenangkannya.
“Ini Papa, sayang. Papa adalah orang baik.” Tetapi Dira tidak mau menoleh ke arah Hendra. Mereka berdua memang sulit menerima orang baru. Butuh waktu untuk terbiasa dengan kehadiran orang yang belum pernah mereka temui sebelumnya. “Maafkan aku,” kataku pelan.
“Kamu sudah mengatakannya kepadaku, jadi aku tidak terkejut.” Dia melihat ke sekeliling kami. “Apa kita bisa bicara di ruang keluarga?” Aku menganggukkan kepalaku. Hadi menggandeng tanganku dan Dira masih dalam gendonganku. Kami menuju ruang keluarga. Anak-anak tidak mau jauh dariku.
Untuk mempermudah kami duduk bersama, aku memilih duduk di sofa tiga dudukan, jadi Hadi duduk di antara aku dan Hendra. Dia segera mendekatkan tubuhnya kepadaku saat papanya duduk di sisinya. Dira juga melakukan hal yang sama. Dia masih mengerutkan keningnya melihat Hendra.
“Mereka berdua mirip sekali denganmu.” Hendra menatap mereka secara bergantian.
“Tentu saja. Aku adalah ayah mereka.” Dia tersenyum bangga. Dia menoleh ke arah Hadi. “Apa kamu baik-baik saja? Mama memperlakukanmu dengan baik?”
Hadi segera memelukku. “Mamaku baik padaku.”
“Itu bagus. Apa kamu menyukai hadiahmu?” tanya Hendra lagi. Hadi menoleh ke arahnya.
“Aku suka. Terima kasih,” ucapnya pelan. Hendra melihat ke arah tumpukan kado yang belum dibuka. Dia menatapku dengan heran. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.
“Mengapa kamu tidak membuka kado yang diberikan untukmu?” tanya Hendra.
“Nanti saja. Hari ini mau main sama Mama.” Hadi hanya melihat sesaat ke arah kado tersebut, tidak tertarik sama sekali untuk mendekatinya.
__ADS_1
“Tapi kamu sudah membuka kado dariku?” Hendra tersenyum.
“Kado Natal dari Papa yang terbaik. Jadi, aku mau tahu kado ulang tahun dari Papa. Terima kasih, Pa. Aku suka semuanya,” jawab Hadi dengan nada bahagia.
“Kalau ada yang kurang, aku bisa menambahkan mainan atau buku apa saja yang kamu mau.” Hendra menawarkan hal yang sulit untuk Hadi tolak. Pria muda itu menoleh ke arahku.
“Sebaiknya tidak. Dia sudah mendapatkan banyak mainan.” Aku menggeleng pelan. Dia memberikan kado lebih banyak dari kesepakatan kami. Aku tidak akan membiarkan dia memanjakan anak kami dengan barang yang hanya berguna untuk beberapa saat saja.
“Baiklah. Kalian mau pergi ke suatu tempat? Apa aku boleh ikut?” tanyanya kemudian.
“Kami mau ke taman bermain, Pa. Dekat dari sini.” Hadi menoleh ke arahku. Dia begitu senang mengingat rencana kami tadi. “Ayo, Ma!”
Hendra bingung saat kami menolak untuk masuk ke mobilnya. Taman itu hanya berjarak dua rumah, jadi kami selalu berjalan kaki ke sana. Agar mereka bisa segera akrab, aku menggandeng Hadi di antara kami berdua. Dia masih belum mau menyentuh tangan papanya.
Taman itu sudah dipenuhi dengan anak-anak yang menggunakan setiap permainan yang tersedia. Aku mengizinkan Hadi untuk bergabung bersama teman-temannya. Ke mana dia melangkah, aku mengikutinya dengan mataku. Dira sudah cukup puas berkeliling dan mengamati orang-orang di sekelilingnya. Saat dia berlari, aku mengikutinya dan menolongnya ketika dia terjatuh.
Hendra memintaku untuk membiarkannya yang menolong gadis kecilnya bangun saat Dira tidak memerhatikan siapa yang menyentuh tubuhnya. Tetapi ketika dia melihatku berdiri tidak jauh darinya, dia menoleh dan melihat papanya yang sedang memegangnya. Dia segera berteriak memanggilku. Aku berlutut di dekatnya.
“Ini Papa, sayang. Papa hanya ingin bermain bersama Dira.” Aku mencoba untuk menjelaskannya.
“Mama.” Dia memelukku dan memintaku untuk menggendongnya. Saat aku sudah berdiri, dia menoleh ke arah Hendra dan mengamatinya. Kemudian dia membenamkan wajahnya di leherku.
“Aku ingat Mama juga mengalami kesulitan yang sama ketika aku seusia mereka. Aku tidak mau dekat dengan siapa pun yang tidak aku kenal.” Hendra menyentuh punggung Dira. “Aku yang salah. Seharusnya aku tidak menghilang begitu saja dari hadapan mereka.”
“Mereka hanya butuh waktu. Setelah mereka terbiasa dengan kehadiranmu, mereka tidak akan menolakmu lagi.” Aku tidak ingin dia menyerah karena sikap anak-anak kepadanya.
“Apa yang terjadi?” tanyanya. Aku yang sedari tadi memerhatikan Hadi, menoleh ke arahnya. “Apa yang telah aku lakukan kepadamu tiga tahun yang lalu sehingga Dira tumbuh di rahimmu?”
__ADS_1