Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 229 - Kekhawatiran Baru


__ADS_3

“Kamu fokus sembuh dahulu. Aku tidak akan memperlakukan kamu layaknya suamiku, jika kamu belum bisa mengingat aku adalah istrimu,” kataku dengan tegas. “Meskipun kita adalah suami istri, aku tidak akan menyentuh kamu secara intim, jadi berhenti merayu aku seperti tadi.”


“Kamu galak juga pada orang yang sedang sakit,” ujarnya dengan wajah cemberut. Bila biasanya aku akan mencium bibirnya itu, tetapi aku tidak akan melakukannya sekarang. Dia belum ingat siapa aku.


“Selamat malam, Hendra.” Aku membuka pintu kamar, dan meninggalkan dia untuk beristirahat.


Sakti dan Liando segera berdiri saat aku mendekati mereka. Aku meminta Liando untuk menjaga suamiku dengan baik. Dia mengangguk dengan patuh, lalu aku dan Sakti berjalan bersama menjauhi pintu kamar di mana suamiku berada.


Ruang tidur kami terasa kosong tanpa kehadirannya. Tetapi rasa lelah karena begitu banyak informasi yang harus aku terima sepanjang hari ini membuatku mengantuk. Aku segera tertidur begitu membaringkan tubuhku di ranjang.


Aku terbangun pada pagi harinya karena suara tawa anak-anak di dekatku. Mataku masih berat. Karena tidak bisa tidur lagi, aku membuka mata dan bertemu pandang dengan sepasang mata yang bening di depanku.


“Mama!!” seru Dira senang. Aku tertawa mendengarnya. Melihat dia sedang berbaring bersamaku, aku segera memeluk tubuhnya dan mencium pipinya.


“Selamat pagi, Ma!” sapa Hadi yang memelukku dari belakang. Aku memeluk mereka berdua dan menghujani mereka dengan ciuman. Mereka tertawa bahagia.


“Apa kalian sudah sarapan? Siapa yang membantu kalian mandi?” tanyaku menyadari mereka sudah harum dan berganti pakaian.


“Kami sudah sarapan dengan Kakek dan Nenek. Aku mandi sendiri, Ma. Dira dibantu Nenek,” jawab Hadi dengan bangganya. Pintu kamar terbuka, kami serentak melihat ke arah sana.


“Aduuh, apa yang kalian lakukan?” pekik Mama. “Nenek bilang, jangan bangunkan Mama. Biarkan dia beristirahat sebentar lagi. Mengapa kalian bangunkan secepat ini?”


Tiba-tiba saja Ara melompat naik ke tempat tidur. “Ara! Jangan!” seruku. Tetapi dia tidak peduli, dia mendekati aku dan mencium wajahku sesukanya. “Aku belum mandi.”


“Lebih bagus begitu. Setelah dia selesai menyapa kamu, sebaiknya kamu segera mandi. Sarapanmu akan aku minta supaya disiapkan. Kamu mau makanan tertentu?” tanya Mama sambil mengambil Dira dari pelukanku.

__ADS_1


“Tidak, Ma. Apa saja yang sudah disiapkan Fahri akan aku makan.” Aku tertawa merasakan Ara bernapas di rambutku. “Sudah cukup, Ara. Aku harus mandi sekarang.”


Mama keluar dari kamar bersama Hadi dan Dira, sedangkan Ara tetap berada di atas ranjang. Dia pasti sedang merindukan tuannya. Aku tidak tahu apa Hendra sudah bisa mengingat beberapa hal baru lagi pagi ini.


Setelah aku dan orang tuaku membujuk mereka, Hadi dan Dira akhirnya setuju untuk di rumah saja bersama kakek dan nenek mereka. Aku tidak bisa membawa mereka setiap hari ke rumah sakit dan melibatkan Zach atau Pak Oscar untuk urusan izin. Rumah sakit bukanlah tempat yang cocok untuk anak-anak. Aku tidak mau jika mereka sampai jatuh sakit.


Mertuaku sudah tiba lebih dahulu di rumah sakit. Mereka menunggu sampai aku datang untuk masuk kamar melihat kondisi putra mereka. Tetapi sebelum kami sempat masuk ke kamarnya, seorang suster mendekati aku.


Dokter Andreas memintaku untuk menemuinya di ruangan dokter spesialis saraf yang akan membantu membaca hasil MRI suamiku. Aku menurut dan mengikuti suster tersebut menuju ruang praktik dokter itu bersama Papa dan Mama.


“Selamat pagi, Bu Mahendra. Silakan duduk,” sambut Dokter Andreas. Dia juga mempersilakan Papa dan Mama untuk duduk. Di depan kami, di belakang meja dokter ahli saraf tersebut telah digantung hasil MRI kepala Hendra. Dokter itu menjelaskan apa yang ada pada gambar kepada kami.


“Jadi, kesimpulannya, tidak ada masalah pada kepala, otak, maupun jaringan saraf yang ditunjukkan lewat gambar. Operasinya berhasil dengan baik, tidak ada lagi darah yang menggumpal. Kami juga tadi menyempatkan untuk memeriksa keadaan pasien pada pagi ini.


“Dilihat dari kembalinya beberapa memori secara perlahan, kita tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Lama-kelamaan ingatannya akan kembali. Mungkin tidak semua hal akan diingatnya, dan itu normal. Kita juga sebagai orang sehat lupa beberapa kenangan penting karena sudah lama berlalu,” ucap dokter itu sedikit menenangkan hatiku.


Hendra memang benar mengalami amnesia, jadi dugaanku salah. Padahal aku berharap dia akan tertawa menyambutku pagi ini dan memberitahu aku bahwa dia hanya bercanda. Aku berharap bahwa dia hanya ingin menakut-nakuti kami semua.


Dia baru mengingat beberapa hal mengenai dirinya, orang tua, juga pekerjaan. Apakah dia sudah mengingat sesuatu mengenai aku? Semoga saja dia mengingat hal yang baik, bukan hal yang buruk. Ya, Tuhan. Aku sangat menyesal sudah memperlakukan dia begitu buruk pada enam tahun awal pernikahan kami. Bagaimana responsnya nanti saat ingatan itu kembali?


“Jadi, dia sudah bisa mengingat kami, Dok?” tanya Mama dengan nada bahagia.


“Sudah, Bu,” jawab dokter saraf tersebut.


Kedua dokter memberi kami beberapa anjuran agar Hendra merasa nyaman selama ingatannya perlahan-lahan kembali. Mereka juga memberi beberapa larangan yang sebaiknya tidak kami lakukan yang bisa memperlama proses pemulihannya. Kami menuruti ucapan mereka.

__ADS_1


Mama ingin bertemu putranya lebih dahulu, maka aku mempersilakan mereka untuk masuk. Aku menunggu di ruang duduk bersama Sakti. Televisi yang ada di ruang tunggu itu menyala dan sedang menayangkan siaran berita.


Aku tersenyum melihat mereka akhirnya tahu di mana Hendra sedang dirawat. Aku tidak akan bisa pulang dengan tenang nanti. Aku menoleh ke arah Sakti dan dia segera mengerti maksud dari tatapanku. Dia hanya menggeleng pelan.


Papa keluar dari kamar dan mempersilakan aku untuk menemui suamiku. Aku segera berdiri, lalu menemukan dia dan Mama sedang berbincang dengan santai. Sudah lama rasanya melihat mereka bisa bicara dengan damai tanpa berdebat.


“Ah, lihat dia, Ma!” Hendra tersenyum begitu bahagia saat melihat aku datang. “Apa Mama percaya bahwa aku menikah dengan Za? Dia menolak aku berkali-kali tetapi keajaiban itu nyata! Dia menjadi istriku, Ma! Apa aku bilang? Kami pasti akan menikah.”


“Kamu ingat kejadian itu?” tanya Mama sambil bergantian melihat ke arah aku dan putranya.


“Duduk di sini, sayang.” Hendra menepuk tepi tempat tidurnya. Dia mengingat aku? Tetapi mengapa dia mengingat bagian yang sejauh itu? “Iya. Aku ingat bahwa aku sangat mencintainya, sayangnya dia sudah punya pacar. Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga dia lebih memilih aku.”


“Kalian sudah menikah selama dua belas tahun, Nak,” kata Mama.


“Iya, Ma. Za mengatakan itu kepadaku semalam.” Dia menoleh ke arahku dengan kening berkerut. “Ada apa, sayang? Mengapa kamu tidak mau duduk di sisiku. Semalam kamu mau duduk di sini bersamaku.” Aku pun menurutinya.


“Apa kamu sudah sarapan dan meminum obat pagimu?” tanyaku pelan.


“Sudah. Rasanya tidak enak. Apa kamu membawa makan siang untukku?” Dia melihat ke arah tanganku. “Aku tidak yakin aku akan selera makan makanan rumah sakit lagi.” Mama tertawa kecil yang aku yakin karena teringat dengan ulahnya sendiri.


“Ng, ya. Aku bawa makanan. Fahri sudah menyiapkan menu khusus untukmu.” Aku menunjukkan ke arah pintu. Sakti yang menjaga kotak makanan kami. Dia melirik ke arah belakangku.


“Oh, ya? Aku suka dengan ikannya. Semoga dia memasak menu yang sama.” Dia terlihat begitu ceria. Berbeda sekali dengan sikapnya semalam yang masih berhati-hati. Ini adalah Hendra pada tahun pertama kami menikah. Hendra yang belum aku sakiti dengan pengkhianatanku.


Ya, Tuhan. Bila mengingat aku pertama kali membuatnya sebahagia ini, apakah hal yang sama juga akan terjadi ketika dia mengingat pengkhianatanku untuk pertama kalinya? Apa dia akan semarah saat dia mengetahui bahwa aku dan Vivaldo tidur bersama pada enam tahun yang lalu?

__ADS_1


__ADS_2