
Aku hanya bisa diam. Aku berdiri di ambang pintu kamar mandi dan tidak tahu harus berbuat apa atau berkata apa. Sudah lama aku tidak melihat wajah penuh luka itu. Kembali melihatnya lagi, aku tidak bisa memutuskan harus menjawab dengan jujur dan menyakitinya atau berbohong dan seumur hidup dipenuhi rasa bersalah.
Mengapa aku bisa seceroboh ini? Seharusnya tadi aku keluar saja dari kamar mandi dan membantu dia mencari jam tangan itu. Kalau saja aku berpikir dengan cepat, semua ini tidak akan terjadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
“Jangan bilang kamu masih ingin pergi dariku,” ucap Hendra lagi. Aku memejamkan mata dan kembali hanya diam. “Apa kamu pikir dengan tidak memiliki anak, aku akan menceraikanmu?”
“Aku tahu kamu tidak mencintaiku, tapi tidakkah kamu mau belajar? Aku mencintaimu, sayang. Aku pikir waktu akan membuatmu mencintaiku perlahan-lahan. Apa yang tidak aku miliki yang dimiliki oleh Vivaldo? Katakan,” desaknya.
Aku membuka mataku. Pertanyaan itu sudah usang dan aku sudah sering kali menjawabnya. Tetapi pria itu tidak juga mengerti. Bagaimana cara membuatnya memahami keadaanku? Mungkin ini adalah jalan keluar yang aku tunggu-tunggu. Iya. Ini adalah jalanku untuk bisa keluar dari pernikahan ini. Aku hanya perlu menjawabnya dengan jujur. Tidak perlu berbohong lagi.
“Kamu sudah tahu jawabannya. Aku memberikan hatiku kepadanya, Hendra. Kamu? Kamu mencoba merebut apa yang telah aku berikan kepada pria lain. Bagaimana caranya aku mencintaimu ketika aku telah lama mencintai pria lain?” ucapku dengan dingin.
“Tapi kamu sendiri yang setuju kita menikah. Kalau kamu begitu benci kepadaku, kamu bisa jawab tidak di altar. Itu akan membuat keluargaku malu dan kamu berhasil membalas dendam. Sebaliknya, kamu menjawab iya, Za. Itu artinya kamu bersumpah di depan Tuhan untuk tetap di sisiku sampai kematian memisahkan kita.”
“Kamu membuat Papa dan Mama terus membujukku untuk menikahimu. Aku harus bagaimana lagi?” tanyaku menuntut.
“Aku tidak membujuk mereka. Aku sudah bilang, aku hanya bertemu mereka satu kali itu saja,” katanya tidak mengerti.
“Menjawab tidak di altar?” ucapku mengabaikan penjelasannya itu. “Memangnya hanya nama baik keluargamu yang aku pikirkan? Bagaimana dengan kedua orang tua dan adikku? Aku masih punya hati, Hendra. Aku tidak akan mencoreng nama baik mereka.”
“Aku tidak akan mengizinkanmu pergi dariku.” Hendra berjalan mendekatiku.
__ADS_1
“Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Menahanku di penjara emas ini selamanya?” tantangku. Aku tidak takut dan mundur ketika dia sudah berdiri tepat di hadapanku.
“Iya. Kalau itu perlu. Tapi pertama-tama, kamu harus memberiku seorang anak.” Tanpa peringatan, Hendra mencium bibirku. Aku segera menghindar darinya.
“Tidak!” pekikku sambil memalingkan wajahku dan mendorong tubuhnya menjauh dariku. Tidak. Aku tidak mau ada anak. Aku tidak akan bisa pergi darinya jika kami mempunyai anak.
Hendra melingkarkan tangannya di tubuhku lalu dengan tangannya yang lain menahan kepalaku sehingga aku kembali melihat ke arahnya. Dia mencium bibirku lagi. Aku memberontak sekuat tenaga tanpa hasil. Tanganku mendorong, memukul, mencakar sampai aku lelah sendiri, tetapi dia bergeming. Pelukannya begitu erat membuatku tidak bisa menjauhkan diri darinya.
Dan aku membenci tubuhku yang memberikan respons dengan menyerah kepada ciumannya. Hendra memutar tubuhku dan aku berjalan mundur sampai akhirnya dia membaringkan aku di tempat tidur. Tidak. Aku tidak akan bisa mencegah diriku hamil jika dia sampai berhasil melakukan niatnya. Aku tidak ingin memiliki anak dengannya.
Aku belum pernah merasakan betapa lemahnya aku secara fisik dibandingkan dengannya. Dia memang bertubuh lebih tinggi dan besar dariku, tetapi tubuhnya sekarang terasa lebih besar dan menakutkan. Dia sama sekali tidak memedulikan protes kerasku dan aku berhenti menolak ketika dia berhasil memberikan benihnya kepadaku.
Dia memeluk tubuhku begitu erat saat kami berbaring bersama berusaha mengatur napas kami yang memburu. Ketika Hendra melonggarkan pelukannya, aku mengerahkan sisa tenagaku dengan mendorongnya, bangun dari tempat tidur, dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah menutup pintu, aku terduduk di lantai. Aku menangis sepuasnya sampai air mataku tidak bisa keluar lagi.
Merasakan tubuhku menggigil, aku mengambil salah satu mantel mandi dan mengenakannya. Tidak terdengar suara apa pun dari arah kamar, aku memutuskan untuk keluar. Langkahku terhenti ketika aku melihat Hendra duduk di tepi tempat tidur. Dia hanya mengenakan celana tidur panjangnya dan tidak memakai baju.
Aku memeluk tubuhku dengan kedua tanganku dan bersandar di bingkai pintu kamar mandi. Aku tidak mau melihat ke arahnya sama sekali dan menjaga jarak aman di antara kami.
“Aku tahu orang tuamu membutuhkan uang untuk menebus rumah mereka dan membayar biaya operasi Mama,” ucap Hendra pelan. Aku menoleh dan menatapnya tidak percaya. Bagaimana dia bisa tahu? “Rumah itu akan dilelang kalau mereka tidak segera menebusnya.”
“Aku juga tahu orang tuamu menggunakan hampir seluruh simpanan mereka untuk membiayai pengobatan Mama. Solusinya begitu sederhana, tetapi Papa tidak mau meminta uang dariku karena kamu ‘kan?” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Aku sudah sering mengatakan bahwa aku adalah putra mereka juga, tetapi entah mengapa mereka begitu khawatir denganmu sehingga tidak mau menyampaikan keluhan mereka kepadaku. Aku dengan senang hati akan membantu mereka menebus rumah dan membiayai pengobatan Mama.” Dia tersenyum kecut. “Apakah aku menantu yang begitu jahat sampai mereka segan kepadaku?”
“Lalu Zach, dia yang paling menarik.” Dia tersenyum kecil. “Dia tersangkut kasus hukum yang berat karena teledor menerima sebuah kasus membela seorang mafia. Mereka sudah pasti kalah, dan itu artinya Zach mati. Anak buahnya tidak akan mau melihat bos mereka dipenjara.”
“Hen,” ucapku dengan nada khawatir.
Aku seharusnya tidak terkejut suamiku mengetahui semua rahasia keluargaku, bahkan rahasia yang aku sendiri pun belum mengetahuinya. Zach terlibat dengan mafia? Tidak pernah sebelumnya aku merasa begitu tidak berdaya. Tidak berdaya hingga kesulitan bernapas.
Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa menolong kedua orang tuaku atau pun adikku. Aku sama sekali tidak punya uang ataupun tabungan. Aku juga tidak punya kekuasaan atau mengenal orang-orang berpengaruh yang bisa menolong Zach lepas dari mafia yang menjadi kliennya. Oh, Tuhan. Aku hanya punya seorang saudara. Aku tidak mau dia mati. Aku juga akan kehilangan Mama jika itu sampai terjadi. Ibu mana yang kuat menahan kesedihan kehilangan anaknya? Apalagi Mama punya masalah dengan jantungnya. Dan Papa, bagaimana Papa akan sanggup hidup bila Mama pergi?
“Semua itu bisa aku selesaikan besok, rumah mereka ditebus tunai, Mama bisa operasi secepatnya, dan Zach lepas dari kesepakatan maut itu. Kamu tidak akan kehilangan rumah, mamamu, dan Zach. Aku tahu kamu sangat menyayangi mereka. Kamu rela melakukan apa saja untuk mereka berdua. Pertanyaannya, apakah kamu bersedia menyelamatkan mereka?” ucap Hendra dengan dingin.
Tubuhku tiba-tiba bergetar dengan hebat. Tentu saja aku ingin mereka berdua bisa diselamatkan. Tetapi aku tidak punya apa pun yang bisa ditawarkan kepadanya sebagai ganti usahanya tersebut. Kecuali, kecuali satu hal itu. Kepalaku mendadak berdenyut membayangkan hal yang akan dilakukan Hendra kepadaku andai aku berkata setuju. Dadaku sesak dan jantungku bergemuruh.
“Kamu meminta tubuhku sebagai bayarannya?” Suaraku bergetar. Hendra tersenyum lalu menatapku dengan serius.
“Tidak, Za. Kamu suka atau tidak, tubuhmu adalah milikku. Aku tidak perlu membayarnya. Kapan saja aku butuhkan, aku bisa mengambil apa yang menjadi milikku.”
“Lalu apa yang kamu minta?” Bibirku bergetar dengan hebat. Tidak. Jangan yang satu itu.
“Hatimu. Itu artinya kamu akan selalu memberikan dirimu kepadaku secara utuh. Aku tidak mau lagi menghadapi yang aku alami tadi. Kamu bertingkah seolah-olah aku memerkosamu. Demi Tuhan. Kamu istriku, Za,” ucapnya dengan tajam.
__ADS_1
“Itu artinya juga, kamu akan berhenti bicara tentang pergi atau pun perceraian. Dan yang terakhir, kamu harus memberiku anak sebanyak yang aku mau. Aku tidak peduli apakah mereka laki-laki atau perempuan. Aku akan mencintai mereka, karena wanita yang melahirkan mereka adalah wanita yang aku cintai.”