
Aku memeriksa kamar anak-anak. Dia tidak ada di sana. Hadi dan Dira juga sepertinya belum tidur. Aku menuruni tangga dan memanggil namanya. Yuyun keluar dari sebuah ruangan dan mendekatiku. Sebelum aku sempat bertanya Hendra ada di mana, dia memberitahu bahwa suamiku sedang dalam perjalanan pulang.
“Anak-anak?” Aku melihat ke ruangan di mana dia tadi datang.
“Mereka tertidur saat menonton film, Nyonya,” jawabnya. Aku mengangguk. Aku melihat ke arah pintu. “Apa Nyonya lapar? Perlu saya ambilkan makanan?”
“Aku hanya ingin suamiku.” Aku tidak tenang melihat dia tidak ada di rumah. Mengapa dia pergi dan tidak memberitahu aku? Ada urusan apa di luar sana? Ada banyak wartawan, apa dia tidak khawatir mereka akan mengikutinya ke mana dia pergi? “Ng, kasihan anak-anak tidur di sana. Tolong, bawa mereka ke kamar mereka.”
“Baik, Nyonya.” Yuyun melihat ke arah Liando. Aku tidak menyadari bahwa Abdi, Fahri, juga Sakti berdiri di dekat kami. Mereka menatapku dengan wajah khawatir. Wajahku memanas menyadari bahwa aku tadi berteriak memanggil-manggil nama suamiku. Mereka pasti mendengarnya.
“Apa Nyonya membutuhkan sesuatu?” tanya mereka. Mungkin sebaiknya aku makan. Aku tidak merasa lapar tetapi aku baru makan satu kali hari ini. Yuyun dan Liando keluar dari ruang keluarga dengan anak-anak dalam pelukan mereka.
“Aku akan makan.” Aku berjalan menuju ruang makan. Fahri dan Abdi bergegas menuju dapur. Rasanya lega sekali setelah aku duduk di kursi.
Deru mesin mobil terdengar beberapa menit kemudian. Hendra sudah pulang! Aku berterima kasih kepada Fahri atas makanannya, lalu keluar dari ruangan itu. Abdi membuka pintu depan dan Hendra masuk dengan wajah khawatir. Aku segera berlari mendekatinya. Aku baru bisa bernapas lega saat berada dalam pelukannya.
“Kamu dari mana?” tanyaku.
“Baru ditinggal sebentar saja sudah rindu,” godanya. “Aku hanya mengurus pekerjaan sebentar. Ada beberapa dokumen penting yang perlu aku tanda tangani. Apa kamu lupa bahwa kamu sekarang istri seorang direktur utama?”
“Kamu tidak bilang bahwa kamu akan pergi.” Aku mempererat pelukanku.
“Manjanya istriku ini.” Aku memekik pelan saat Hendra tiba-tiba membopongku. “Mengapa kamu bangun? Seharusnya kamu tidur saja dan jangan memikirkan apa pun. Kamu perlu istirahat.”
“Aku terbangun karena kamu tidak ada di sisiku.” Aku meletakkan kepalaku di dadanya.
“Kamu bangun karena lapar.” Aku tertawa mendengarnya. Dia benar.
Aku tidur dengan pulas dalam pelukannya. Pada saat bangun, aku tidak menemukan dia di sisiku. Namun melihat angka pada jam digital, aku mengerti. Aku kesiangan. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku menemukan keluargaku ada di kolam renang.
Mereka menyambut kedatanganku dengan sorakan bahagia. Aku baru saja duduk, Yuyun sudah datang membawa baki berisi sarapan untukku. Aku berterima kasih kepadanya. Hadi dan Dira mengikuti Yuyun menuju rumah, sedangkan Hendra mendekatiku. Aku menolak saat dia mencoba untuk mencium aku dengan memberikan handuk kepadanya.
Dia malah berlutut di sampingku lalu memeluk dan menciumi aku. Aku memberontak ingin lepas darinya, dia malah semakin membuatku basah. Akhirnya, aku pasrah saja. Dia tertawa senang.
“Aku sudah mandi dan ini pakaian bersihku.” Aku menggeleng melihat tingkahnya.
__ADS_1
“Bagaimana keadaanmu?” Dia duduk di sisiku dan mengambil satu potong roti isi dari piringku.
“Lebih baik.” Aku tersenyum melihatnya makan begitu lahap.
“Anak-anak akan pergi ke taman bermain. Zach akan menjemput mereka nanti. Kamu keberatan bila mereka menginap di rumah adikmu malam ini?” tanyanya. Aku menggeleng pelan. Hadi dan Dira perlu keluar sebentar dari rumah ini. Keadaanku sedang tidak baik. Aku tidak bisa menemani mereka bermain seperti biasanya.
“Kamu akan jadi milikku saja sepanjang hari ini.” Aku tersenyum senang.
“Aku akan pergi sebentar sore ini dan akan pulang malam, aku harap kamu tidak keberatan.” Dia menatapku dengan memelas. Aku lupa. Dia sudah mengingatkan aku semalam bahwa aku adalah istri seorang direktur utama. Dia pasti punya acara yang harus dia hadiri.
“Pergilah, sayang. Aku akan menunggumu dengan sabar.” Aku mengedipkan sebelah mataku. Dia menghadiahi aku dengan kecupan di bibir.
“Habiskan sarapanmu. Aku mandi dan membantu anak-anak bersiap. Zach sebentar lagi datang.” Dia berdiri, aku menatap kepergiannya sambil menikmati tubuh bagian belakangnya dengan mataku. Sayang sekali. Kami tidak bisa bercinta selama tiga bulan ke depan.
Zach menatapku penuh simpati ketika dia datang. Rasmi juga begitu. Aku menerima pelukan dari mereka dan berterima kasih atas dukungan yang mereka berikan kepadaku. Hadi dan Dira pamit, lalu berlari mengikuti sepupu mereka ke mobil.
Aku dan Hendra hanya duduk bermalas-malasan di sofa sambil menonton film di ruang keluarga. Kami sesekali mendiskusikan apa yang terjadi dalam film. Dia menghindari topik yang serius dan mengarahkan percakapan pada hal-hal yang ringan.
Sepertinya aku tertidur karena saat membuka mata, aku sedang berbaring di kamar kami. Dia tidak ada di sisiku, dia pasti sudah pergi. Aku duduk dan terdiam sejenak. Tanganku menyentuh perutku. Sebelum duka kembali membuatku menangis, aku turun dari tempat tidur.
Aku menuju ruang depan dan menemukan Mama datang sendiri tanpa Papa. Dia tidak akan suka bila aku duduk di sisinya, jadi aku duduk di depannya dengan meja berada di antara kami. Melihat wajahnya, aku merasa seperti remaja yang akan dimarahi ibunya karena sudah berbuat nakal.
“Bila kamu tidak menginginkan uang, apa yang harus aku berikan agar kamu meninggalkan Hendra?” tanya Mama tanpa basa-basi. “Aku mohon, beritahu aku. Aku sudah tidak sanggup lagi melihat dia jatuh begitu dalam ke lumpur. Media dan orang-orang kini mencemoohkannya. Mereka yang dahulu menghormati kami juga tidak berhenti menghina keluarga kami. Katakan. Apa yang kamu mau?”
Mama terlihat putus asa. Dia sudah bukan lagi wanita arogan yang datang kepadaku dengan sikap sombongnya dan menawarkan uang dalam jumlah besar seperti membeli kerupuk. Dia adalah seorang ibu yang terluka melihat anaknya harus menderita.
Bukan hanya Mama, aku juga tidak mau melihat Hendra terus menderita. Jika ada jalan baginya untuk bebas dari semua rasa sakit yang telah aku sebabkan, aku akan mengambil jalan itu. Aku rela melakukan apa saja agar dia bahagia lagi.
“Apakah Tante yakin bahwa Hendra akan bahagia setelah aku pergi dari hidupnya? Tante bisa menjamin bahwa dia akan baik-baik saja tanpa aku?” tanyaku pelan.
“Tentu saja. Aku adalah ibunya. Aku tahu apa yang terbaik untuk putraku,” katanya dengan penuh percaya diri. “Akulah yang telah melahirkannya, membesarkannya, dan hanya aku yang akan bisa melindunginya melebihi kamu.”
“Apakah yang terbaik yang Tante maksudkan, Tante masih ingin menikahkannya dengan wanita pilihan Tante?” tanyaku lagi.
“Aku tidak akan hidup selamanya. Hendra membutuhkan seorang istri. Keluarga kami membutuhkan seorang penerus. Dia adalah seorang direktur utama sekarang, dia akan membutuhkan seorang anak untuk menggantikannya kelak. Dan aku yakin dia akan bahagia bersama Nora,” katanya serius.
__ADS_1
“Baik. Aku mohon, pegang kata-kata Tante itu. Aku tidak tahu bagaimana melakukannya, tetapi aku akan coba pergi dari Hendra. Bila aku berhasil, tolong, jaga dia untukku. Aku tahu bahwa aku hanya memberinya luka dan malu. Aku sudah tidak sanggup lagi melakukan ini. Aku lebih baik mati saja.” Aku berdiri dan berjalan menuju pintu.
“Semua orang membenci aku.” Kakiku mengarahkan aku ke bagian belakang rumah. “Aku bahkan tidak berhak mendapatkan satu kesempatan untuk membuktikan bahwa aku sudah berubah. Dosaku terlalu besar. Aku terlalu kotor. Semua orang berpikir bahwa aku hanya pantas untuk dilecehkan.”
“Apa yang kamu lakukan?” kata Mama mengikutiku. “Zahara.”
Aku membuka satu-persatu laci kabinet mencari benda yang aku butuhkan. Saat menemukannya pada salah satu laci, aku mengambil yang berukuran paling besar yang kelihatannya tajam. Fahri selalu rajin mengasah setiap pisau yang dia gunakan.
“Yuyun! Fahri! Abdi! Di mana kalian?!” pekik Mama sambil berjalan mendekatiku dan mencegahku membelah dadaku dengan benda itu.
“Tidak! Lepaskan aku!” Mama menahan kedua tanganku sehingga aku tidak bisa melakukan apa yang aku rencanakan.
“Zahara! Apa yang kamu lakukan?! Kamu tidak bisa melakukan ini,” ucap Mama panik.
“Lepaskan, Tante! Biarkan aku mati. Hendra tidak akan melepaskan aku bila aku masih hidup. Dia pasti akan mengejar aku lagi dan membawaku kembali. Aku mohon. Hanya ini satu-satunya cara. Biarkan aku mati.”
“Apa kamu sudah gila? Hendra bisa mengutuk aku seumur hidup kalau kamu sampai mati.”
“Nyonya!” pekik Abdi. Ada banyak tangan yang menahan tanganku sehingga sebentar saja, pisau itu sudah berpindah tangan dariku. “Nyonya, jangan lakukan ini.”
“Nyonya!” Yuyun memelukku sambil menangis keras. “Kuatkan diri Anda, Nyonya. Saya mohon. Jangan lakukan ini. Tuan akan sangat sedih.”
“Aku mau bertemu anakku. Aku mau bertemu dia. Kasihan dia sendirian di dalam tanah. Aku mau bertemu dia. Aku mau pergi menemaninya. Sayaang …! Maafkan mama, Nak. Anakku sayang …. Maafkan mama yang tidak bisa menjaga kamu.” Aku terduduk di lantai menangis memanggil anak yang bahkan belum sempat aku lihat. Berharap dengan begitu, dia akan kembali kepadaku.
Berapa lama lagi, ya, Tuhan? Berapa lama lagi aku harus menanggung hukuman atas dosaku? Aku sudah tidak kuat lagi.
...*******...
...~Author's Note~...
Hai, teman-teman. Aku mohon izin libur satu hari, ya. Selamat menyambut Hari Natal bagi yang merayakannya. Selamat menikmati makanan enak, hati-hati kolesterolnya naik. Hohoho .... Selamat liburan juga dan tetap jaga protokol kesehatan yang ketat untuk kita semua. ♡♡
Salam sayang,
Meina H.
__ADS_1