
~Hendra~
“Kamu tidak seharusnya memperlakukannya seperti itu,” protes Mama saat ketiga tamu tadi sudah pulang. Aku juga ingin pulang, tetapi Mama menahanku.
“Sayang, sudahlah. Hendra bukan lagi anak kecil yang harus selalu didkte.” Papa mencoba untuk menengahi. “Bila dia tidak menyukai perempuan itu, kamu tidak bisa memaksanya.”
“Jadi, aku harus membiarkan dia menolak semua wanita yang aku pilihkan untuknya?” tanya Mama tidak suka. “Bila aku tidak bertindak, dia akan sendiri selamanya. Kita juga membutuhkan penerus, Pa. Apa Papa mau keluarga kita terhenti di anak kita yang keras kepala ini?”
“Apa maksud Mama? Aku punya anak,” kataku tidak mengerti.
“Anak dari perempuan murahan itu? Aku tidak suka menerimanya menjadi bagian dari keluarga kita. Lihat saja apa yang terjadi. Dia punya anak lagi entah dari pria yang mana.” Mama mendengus pelan. “Dia benar-benar perempuan tidak bermoral. Dia tinggal di rumahmu, hidup dari uangmu, dan berani mencoreng namamu dengan tidur dan mengandung anak dari laki-laki lain.
“Kamu bukannya mengusir dia keluar malah ikut membiayai hidup anak perempuan itu juga. Otak Hadi bisa rusak bila dia terus hidup bersama perempuan nakal itu!” kata Mama kesal. “Kalau kamu tidak mau menikah lagi, segera ambil Hadi darinya atau kamu akan melihat mayatku besok.”
“Aku tidak akan mengubah pikiranku. Mama boleh terus mengancamku tetapi Hadi akan tetap berada dalam pengasuhan ibu kandungnya. Sekali lagi aku katakan, aku adalah ayahnya, maka aku yang berhak menentukan siapa yang membesarkannya.” Aku berdiri. “Aku pamit.”
Kafin sudah menunggu di depan mobil. Melihat aku mendekat, dia membukakan pintu mobil untukku. Tanpa perlu bergelut dengan kemacetan, sebentar saja aku sudah tiba di apartemenku. Kafin sudah menikah dan memiliki dua orang anak, jadi dia selalu pulang ke rumahnya setelah aku tidak membutuhkan jasanya lagi.
Aku baru saja membuka pintu, sesuatu menyambutku dengan salakannya sambil mengendus-endus kakiku. Dia mengangkat kaki depannya yang disandarkan di kakiku berharap agar aku mengangkat tubuhnya. Sikapnya itu mengingatkan aku kepada seseorang yang menyambutku pulang dengan cara yang mirip.
__ADS_1
“Kamu pasti akan menjilat wajahku sesukamu, jadi aku tidak akan menggendongmu lagi. Itu hukuman untuk ketidaktaatanmu pagi tadi.” Seolah-olah mengerti kalimat yang aku ucapkan, dia membuat suara sedih yang hanya aku abaikan. “Aku hampir terlambat ke kantor karena ulahmu.”
Dia menggonggong keras dengan suara kecilnya, protes karena aku tidak juga mengangkat tubuhnya. Aku berjalan ke dapur dan membuka salah satu botol berisi air minum. Aku memerhatikan sekitarku. Pembersih rumah sudah mengerjakan tugasnya dengan baik. Aku melihat ke lantai di dekatku. Mangkuk makanan dan minuman makhluk nakal itu masih berisi.
Saat aku berjalan menuju kamar, gonggongannya semakin keras menandakan dia mulai frustrasi karena diabaikan. Aku menghentikan langkahku. Semua perempuan memang sama saja. Aku menunduk dan dia segera berlari mendekati kedua tanganku.
Dan benar saja. Dia segera menjulurkan lidahnya dan menjilat wajahku. Aku membiarkannya melepas rindu sesaat. Kemudian aku meletakkannya kembali di lantai. Dia menyalak-nyalak penuh protes sambil mengikutiku ke kamar dan terus ke kamar mandi.
“Ara!” kataku memberinya peringatan. Dia merintih pelan, lalu menurunkan bokongnya dan menatapku dengan kaki depan tetap ditegakkan di depan tubuhnya. Dia memberiku tatapan memelasnya. “Aku hanya mandi sebentar, lalu aku akan menemanimu. Tunggu di sofa.”
Dia hanya menelengkan kepalanya, berpura-pura tidak memahami perintahku. Selama dia hanya diam dan tidak mengikutiku masuk ke kamar mandi, maka segalanya aman. Aku segera mandi, lalu hampir tersandung tubuh makhluk kecil itu saat menuju ruang pakaian.
Apartemen itu kembali tenang ketika kami berdua sudah duduk bersama di sofa menonton siaran televisi kesukaannya. Ara adalah anjing jenis Golden Retriever. Dia baru berusia delapan minggu empat hari. Jadi, dia baru empat hari tinggal bersamaku. Seorang rekan bisnisku memiliki anjing peliharaan yang baru saja melahirkan delapan anak. Dia memberikan satu ekor kepadaku. Katanya, agar aku tidak merasa kesepian.
Barulah saat aku menyebut nama Ara, dia menyalak dengan senang sambil menggerak-gerakkan ekornya. Aku bisa merasakan darahku berhenti mengalir ke otakku saat dia memberi respons pada nama itu. Untung saja aku tidak perlu melanjutkan menyebut nama lain atau dia akan menyalak pada nama Za atau Zahara. Dan aku membuat diriku sendiri berada dalam bahaya.
Bagaimana mungkin aku tidak memikirkan wanitaku setiap kali aku memanggil nama anjing ini? Aku memang bodoh. Di antara jutaan nama yang ada di dunia ini, mengapa aku malah menyebut namanya? Apabila dia tahu nanti, apakah dia akan memukul dan menuntutku? Aku memanggil nama anjingku dengan nama panggilannya di keluarganya.
“Luna. Sweety. Apel. Poppy. Lemon.” Aku menyebut alternatif nama yang mungkin dia suka, tetapi anjing nakal ini tidak memberi respons. “Ara.” Dia segera menatapku dan menyalak keras. Sial.
__ADS_1
Ketika Ara akhirnya tertidur pulas, aku membaringkan tubuh kecilnya di tempat tidurnya. Aku masuk ke kamar dan membiarkan pintunya sedikit terbuka. Hanya pintu kamar mandi luar yang aku biarkan terbuka, aku tidak mengizinkannya menggunakan toilet di kamarku.
Beberapa saat berusaha untuk tidur, kantuk tidak juga datang. Aku menyerah dan menatap langit-langit kamar. Jarum jam pada tanganku menunjukkan pukul dua belas. Seharusnya ini adalah jam yang aman. Aku memeriksa Ara yang masih pulas, lalu keluar dari apartemen tanpa suara.
Rumah ini sama sekali tidak berubah meskipun aku sudah tidak tinggal di sini lagi. Petugas keamanan membukakan gerbang untukku. Aku segera mematikan mesin mobil agar tidak ada yang terbangun. Kamar pertama yang aku datangi adalah kamar putri kecilku. Dia sudah besar, bukan bayi lagi. Aku mencium rambutnya dan menatapnya sepuasku sebelum melakukan hal yang sama di kamar Hadi.
Tempat terakhir yang aku datangi adalah kamar kami. Wanitaku sudah tidur pulas sehingga tidak terbangun saat aku membuka pintu, berjalan mendekati tempat tidur, bahkan berbaring di sisinya. Aku memeluknya dari belakang. Dia selalu tidur seperti orang mati. Sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Hal yang kini aku manfaatkan demi keuntunganku sendiri.
“Hendra?” Dia mulai mengigau seperti kebiasaannya.
“Iya, sayang. Ini aku.” Aku mencium rambutnya yang mengeluarkan aroma bunga.
“Bukan. Kamu hanya hantu,” igaunya lagi. Yang benar saja.
Sebelum dia bangun, aku sudah keluar dari kamar dan berjalan menyusuri tangga. Abdi bergegas berjalan dari arah belakang rumah menuju pintu depan. Dia membukakan pintu sepelan mungkin untukku. Semua pekerja di rumah ini sudah tahu kebiasaanku, kecuali keluarga kecilku.
“Selamat pagi, Tuan,” sapanya dengan ramah.
“Pagi, Abdi. Semuanya baik-baik saja di rumah?” tanyaku. Dia mengangguk pelan. “Jaga keluargaku dengan baik.” Dia mengangguk dan mematuhiku.
__ADS_1
Keadaanku sudah lebih segar walaupun hanya tidur beberapa jam saja di sisi istriku. Aku tahu yang aku lakukan ini tidak benar. Tetapi dia masih milikku, jadi aku tidak sepenuhnya melakukan hal yang salah. Aku hanya melakukannya tanpa izinnya.
Pekerjaan pada hari itu tidak sebanyak biasanya sehingga bisa aku selesaikan dengan cepat. Aku melirik jam tanganku. Tepat pukul empat sore. Aku baru saja mematikan laptop dan merapikan meja ketika pintu ruang kerjaku terbuka. Mama masuk dengan wajah ceria. Yang mengikutinya adalah hal yang tidak aku duga-duga. Dia datang bersama wanita semalam. Apa lagi yang ibuku inginkan dariku?