
Aku melakukan segalanya dengan benar. Dia juga menyukai apa yang aku lakukan dan selalu dalam keadaan siap sebelum aku memberikan benihku kepadanya. Lalu apa yang salah? Apakah aku yang punya masalah sehingga istriku tidak bisa hamil juga?
Enam tahun adalah waktu yang lama. Aku tidak juga mendengar kata cinta keluar dari mulutnya, jadi aku tidak bisa merasa tenang sebelum kami memiliki anak bersama. Tidak akan ada alasan yang kuat baginya untuk tetap tinggal bersamaku jika belum ada juga anggota baru di tengah-tengah keluarga kecil kami. Aku tidak ingin kehilangannya.
“Hendra?” tanyanya dengan suara mengantuk. “Mengapa kamu memelukku erat sekali?”
“Oh.” Aku segera melonggarkan pelukanku. “Maafkan aku.” Dia hanya menggumam pelan tidak jelas, lalu kembali pulas. Ya, Tuhan. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia.
Pagi itu aku tidak langsung ke kantor tetapi mampir ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes dan konsultasi langsung dengan dokter pribadiku. Untung saja dia mau memenuhi permintaanku untuk bertemu sepagi itu. Dengan wajah segar, dia menyambutku di ruang praktiknya.
“Hasilnya bagus, Hendra. Tidak ada masalah pada tubuhmu.” Pria itu tersenyum dan merapikan kembali laporan hasil laboratorium tersebut.
“Kamu yakin? Aku bisa memiliki anak, ‘kan?” tanyaku memastikan. Dia mengangguk.
“Sebanyak yang kamu inginkan,” katanya setengah bercanda. Tetapi aku sedang tidak ingin tertawa. Dia memberikan laporan itu kembali kepadaku.
“Lalu apa yang terjadi kepada kami? Enam tahun ini kami tinggal bersama dan tidak pernah terpisah begitu lama. Mengapa tidak satu pun dari usaha kami yang membuahkan hasil?” tanyaku bingung.
__ADS_1
“Maka yang berikutnya perlu memeriksakan diri adalah Zahara. Aku tidak mengatakan bahwa dia yang bermasalah. Bisa saja dia juga sehat, maka kesimpulannya kesabaran kalian sedang diuji.” Dia tersenyum. “Aku tahu kamu tidak akan membawanya ke sini untuk diperiksa.”
“Dan membiarkan kalian melihat daerah intimnya. Tidak akan.” Aku mengambil amplop tersebut, lalu berdiri. Dia tertawa kecil.
“Kamu terlalu posesif kepada istrimu itu. Tetapi aku juga akan melakukan hal yang sama bila aku punya istri secantik dia,” godanya.
Yang terpenting adalah masalahnya bukan padaku. Bila Za yang tidak bisa hamil karena kondisi kesehatannya, aku tidak keberatan. Kami bisa mengadopsi satu atau dua orang anak. Protes dan kemarahan orang tua kami akan aku hadapi. Lagi pula mereka tidak perlu tahu siapa di antara kami berdua yang memiliki masalah.
Anak bukanlah segalanya bagiku. Aku hanya menginginkan istriku tetap bersamaku.
Kepala bagian IT sudah menunggu di ruanganku ketika aku datang. Aku duduk di sofa di sampingnya dan menerima laptopnya. Dia menunjukkan temuannya pada rekening milik direktur keuangan. Dari hasil penelusurannya, dana mencurigakan yang masuk ke rekeningnya adalah uang pajak yang tidak disetor sepenuhnya. Lalu dia juga melaporkan siapa yang menyuruh orang untuk meretas surel kerjaku dan mengirim surel palsu ke Xavier.
Setelah memecat direktur keuangan dan mengangkat orang untuk menggantikannya segera, aku juga memecat direktur perencanaan yang telah membayar orang untuk mengacaukan kerja sama bisnisku dengan Xavier. Aku harus menunggu sampai bagian HRD mendapat pengganti yang tepat.
Aku sedang menuju elevator untuk makan siang di kantin perusahaan ketika ponselku bergetar. Aku membaca nama pada layar dan tersenyum. “Hai, sayang.”
“Aku akan cepat. Aku tidak ingin mengganggumu. Apakah aku datang langsung ke lokasi undangan atau kamu akan menjemputku di rumah?” tanyanya.
__ADS_1
“Kamu tidak mengganggu. Kamu boleh meneleponku kapan saja. Dan aku akan menjemputmu.” Aku tidak akan menghadiri undangan apa pun dengan membiarkan dia mengemudikan mobilnya sendiri.
“Baiklah. Aku akan memesan penata rias untuk datang ke rumah. Sampai nanti,” katanya dengan suara riang. Entah apa yang membuatnya akhir-akhir ini merasa bahagia. Sebenarnya aku ingin bisa bicara dengannya lebih lama lagi, tetapi dia sudah ingin mengakhiri pembicaraan kami.
“Sampai nanti. Aku mencintaimu. Bye.” Aku tidak pernah berharap dia akan membalas ucapan cintaku, jadi aku tidak terkejut dia hanya mengatakan salam sebelum mengakhiri hubungan telepon.
Ketika pada malam itu dia menyambut kepulanganku, aku nyaris membatalkan niatku untuk pergi bersamanya. Dia cantik sekali dengan riasan dan gaun yang dikenakannya. Usianya terus bertambah setiap tahun, tetapi kecantikannya tidak pernah berkurang. Aku membuang jauh pikiran untuk tidur dengannya dengan mandi secepat yang aku bisa dan mengenakan setelan yang sudah disiapkannya.
Hal pertama yang kami lakukan saat tiba di hotel adalah memenuhi permintaan wartawan yang ingin mengambil foto kami berdua. Ini adalah salah satu alasan aku tidak pernah membiarkan istriku mengenakan gaun yang terbuka dan memamerkan kulitnya. Aku tidak mau banyak orang melihat apa yang hanya boleh aku lihat.
Beberapa dari mereka meminta wawancara singkat, aku hanya menjawab pertanyaan yang ada hubungannya dengan bisnis yang aku kerjakan. Untuk urusan pribadi hanya aku abaikan saja. Tidak ada yang perlu tahu apa yang terjadi di dalam rumah tanggaku.
Ketika penerima tamu mengantar kami menuju meja di mana kami ditempatkan, ada banyak mata yang memandang ke arah kami. Atau lebih tepatnya, ke arah istriku. Ini adalah alasan lainnya aku tidak membiarkan dia mengenakan pakaian yang menunjukkan lekukan tubuhnya. Aku tidak mau ada yang berfantasi di kepalanya dengan menggunakan badan istriku.
Papa dan Mama yang tiba lebih dahulu berdiri dan menyambut kedatangan kami. Mereka memuji penampilan istriku saat memeluk dan menciumnya. Hanya Papa satu-satunya pria dalam ruangan itu yang aku izinkan untuk memeluk dan menciumnya. Pria lain harus puas dengan menjabat tangannya saja. Za tidak pernah protes atau melawanku dalam hal ini, jadi aku puas melihat dia juga menjaga jarak dengan para pria yang mendatangi kami.
“Nak, mereka hanya akan menjabat tangannya.” Papa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kami berdiri di pintu keluar hotel menunggu mobil kami tiba. Begitu puncak acara selesai, kami memilih untuk pulang dan tidak tinggal sampai acara usai. Beberapa orang mengulurkan tangannya saat kami berjalan menuju pintu keluar, aku tidak mengizinkan mereka menyentuh tangan istriku.
__ADS_1
“Aku tidak peduli. Za adalah istriku, maka aku berhak menentukan siapa yang boleh dan yang tidak boleh menyentuhnya. Sekalipun itu hanya tangannya.” Aku merangkul tubuh istriku. Zahara hanya tersenyum melihat tingkahku.
“Aku bisa kehilangan rekan bisnisku kalau kamu terus bersikap seperti itu,” keluh Papa.