Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 52 - Acara Tetap Berjalan


__ADS_3

Aku yang semula lelah dan mengantuk, malah tidak bisa berhenti berpikir. Apa yang akan terjadi besok? Apakah pernikahan akan tetap dilanjutkan atau dibatalkan? Aku mengkhawatirkan Darla dan Gio. Mereka sudah mengundang banyak orang dan mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Jika pernikahan sampai dibatalkan, mereka pasti kecewa.


“Mengapa kamu belum tidur?” Hendra keluar dari kamar mandi, lalu memadamkan lampunya. Dia berjalan mendekati sisi tempat tidur. “Kamu memikirkan Darla dan acara pernikahan besok.”


“Iya. Bagaimana jadinya jika pernikahan dibatalkan?” tanyaku khawatir. Dia berbaring di sisiku.


“Pernikahan akan tetap berlangsung. Kamu seperti tidak pernah mengalaminya saja. Kita juga bertengkar hebat pada malam sebelum pernikahan kita. Dan aku berhasil membujukmu untuk tetap menikahiku.” Dia mencium keningku. “Tidurlah. Besok akan menjadi hari yang melelahkan.”


“Mengapa masih ada pria yang beranggapan bahwa berteman dengan lawan jenis adalah hal yang aman ketika dia sudah mempunyai kekasih? Apakah mereka tidak tahu bahwa banyak wanita yang mudah jatuh cinta karena perhatian?” tanyaku pelan.


“Aku tidak berteman dengan lawan jenis sebelum atau sekarang saat bersamamu,” jawab Hendra.


“Kalimat itu lagi. Aku tidak percaya kamu tidak pernah berteman dengan perempuan sebelum aku.”


“Aku serius. Kamu adalah teman wanita pertama dan terakhirku. Apakah teman kelompok atau teman belajar termasuk teman? Menurutku tidak. Karena aku tidak memilih untuk bersamanya, melainkan ditentukan oleh guru atau dosen,” katanya menjelaskan.


“Pantas saja kamu tidak suka bila aku berteman dengan lawan jenis.”


“Berteman? Mereka menyentuhmu saja tidak akan aku izinkan.” Dia segera memeluk tubuhku. “Sudah bicaranya. Ayo, tidur.” Aku tersenyum mendengarnya. Dia sudah tidak bisa digambarkan sebagai suami pencemburu, bahkan posesif bukanlah kata yang cocok untuk mendeskripsikan sikapnya atas perhatian orang kepadaku, terutama lawan jenis.


Mungkin ini yang namanya cinta. Aku juga merasakannya saat masih bersama Aldo. Sampai aku merasakan sakitnya pengkhianatan yang dilakukannya dengan wanita lain. Jika aku tidak punya perasaan apa-apa kepadanya, rasanya tidak akan sesakit itu. Tetapi karena pada saat itu aku begitu mencintainya, pengkhianatannya menghancurkanku.


“Bangun, sayang.” Aku rasanya baru saja pulas saat merasakan seseorang mengusap-usap pipiku. “Kamu harus segera bersiap-siap. Penata riasmu sudah datang.”

__ADS_1


“Aku masih mengantuk.” Aku membalikkan badan agar dia tidak mengganggu tidurku lagi. Aku mendengar suara tawanya. Tidak lama kemudian aku mencium aroma yang sangat harum. Ukh, perutku berontak minta diisi karena aroma itu. Aku terpaksa membuka mata.


“Akhirnya, kamu bangun juga.” Hendra mencium pipiku. Aku melihat sebuah piring dengan roti isi diletakkan tepat di depan wajahku. “Hanya makanan yang bisa membuat kamu bangun dengan cepat.” Aku memukul lengannya mendengar ejekannya itu.


Dia membantuku duduk. Aku menerima segelas air darinya dan meneguknya secukupnya, lalu aku memakan roti tersebut. Suasana kamar sudah terang-benderang, jam berapa ini? Aku melihat ke arah jam tanganku yang ada di atas nakas. Sudah pukul sembilan pagi!


“Mengapa kamu baru membangunkan aku? Aku hanya punya waktu satu jam untuk bersiap-siap,” ucapku panik. Aku meletakkan piring ke atas nakas, lalu menurunkan kakiku ke lantai.


“Kamu hanya perlu mandi dan berdandan. Satu jam cukup.” Dia menghalangiku untuk turun dari tempat tidur dan mengembalikan piring tadi. “Habiskan rotimu. Segera mandi dan datanglah ke ruang depan. Penata riasmu sudah datang.” Aku menurutinya.


Tepat pada jam sepuluh, aku dan Hendra sudah berada di area halaman hotel. Pernikahan putri Darla mengambil tema pesta kebun. Dengan lokasi yang dekat dengan pantai, angin yang bertiup di kebun itu cukup kencang. Untung saja rok gaun kembar kami menyentuh mata kaki, jadi kami tidak perlu takut paha kami akan kelihatan saat rok tertiup angin.


Kedua mempelai sepertinya berhasil membicarakan masalah mereka dengan baik. Pernikahan tetap dilaksanakan. Acara pemberkatan berjalan dengan lancar, yang dilanjutkan dengan makan siang. Aku dan kedua temanku duduk pada meja yang sama. Hanya Darla yang tidak bersama kami.


“Teman baik Brady datang. Dafhina cemburu berat. Mereka sudah sepakat bahwa wanita itu tidak akan diundang, tetapi semalam dia datang.” Lindsey melihat ke arah di mana wanita yang dimaksud tersebut sedang duduk.


“Ahh, teman Brady seorang perempuan.” Qiana mengangguk mengerti.


“Iya. Kecemburuan Dafhina beralasan. Gadis itu beberapa kali membuat Brady harus memilih antara dia dengan kekasihnya. Dan pria itu melakukan kesalahan dengan lebih memilih sahabatnya.” Lindsey mengangkat kedua bahunya.


“Karena itu hubungan mereka putus-sambung.” Qiana mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku tidak mempermasalahkan laki-laki berteman dengan perempuan asal tidak ke mana-mana berduaan saja. Harus selalu ada teman yang lain bersama mereka. Dengan begitu, tidak akan tumbuh perasaan yang berbeda di antara mereka.”


“Sebaiknya jangan berteman dengan lawan jenis lagi bila sudah terikat pernikahan. Itu adalah benih awal perselingkuhan,” ucap Lindsey mengingatkan. “Aku dan Edu sangat ketat dalam hal itu. Apalagi kami berdua sama-sama pernah pacaran dengan sahabat baik kami sendiri.”

__ADS_1


“Suamiku tidak akan selingkuh dariku. Iya, ‘kan, Pa?” Qiana menyentuh tangan suaminya. Helmut mengangkat tangan istrinya dan menciumnya.


“Aku setia kepadamu, Ma,” jawabnya dengan wajah bahagia. Qiana tersipu malu, kami tertawa kecil melihatnya. Untuk beberapa saat, kami menggoda mereka berdua.


Setelah acara resepsi selesai, kami kembali ke kamar kami masing-masing. Aku dan Hendra bergantian menggunakan kamar mandi. Aku mendesah lega bisa mengenakan dress longgar lagi. Kami akan makan malam di teras restoran, jadi aku memakai baju hangat agar tidak kedinginan.


Pengantin baru berbulan madu di hotel yang berbeda yang jaraknya tidak jauh dari kami, sedangkan para tamu lainnya menuju bandara untuk pulang ke kota mereka. Hanya tinggal kami saja yang saling mengenal di hotel ini.


“Kita bisa makan malam di kamar saja jika kamu merasa lelah, sayang.” Kami berjalan bersama menuju elevator.


“Aku baik-baik saja. Kita hanya duduk dan berbincang sepanjang acara pernikahan tadi. Aku tidak lelah sama sekali,” ujarku menenangkannya. Dia tersenyum.


Kami adalah orang terakhir yang datang. Ketiga sahabatku dan suami mereka sudah tiba lebih dahulu. Kami bisa mengambil makanan sebanyak yang kami butuhkan yang tersedia di konter. Aku sangat menyukai prasmanan.


Seperti kebiasaan kami, tidak ada yang bicara saat kami sedang makan. Kami baru mulai membahas hal-hal ringan ketika menikmati makanan penutup. Helmut mengajak para pria untuk melanjutkan malam ke bar. Hendra kelihatan keberatan, tetapi aku mendorongnya untuk mengikuti mereka. Aku akan kembali ke kamar bersama para sahabatku.


“Apa sebenarnya rahasiamu, Zahara? Bagaimana bisa suamimu cinta mati kepadamu?” tanya Qiana penasaran. Kami tertawa kecil.


“Tidak ada rahasia apa pun. Seharusnya kamu tanyakan itu kepada Hendra.” Hanya dia seorang yang tahu jawaban atas pertanyaan itu.


“Mungkin begitu sikap suami yang cintanya lebih besar dari istri, ya. Tolong, jangan salah paham denganku.” Qiana meminta maaf. Aku mengangguk mengerti. Dia benar, jadi aku tidak akan marah. “Mengenai pembahasan kita saat resepsi tadi, aku juga tidak setuju kita tetap berteman akrab dengan lawan jenis setelah menikah. Tetapi aku dan Helmut selalu berdebat mengenai hal itu.”


“Untuk menghindari pertengkaran, kamu lebih memilih untuk tidak sepakat denganku.” Lindsey mengangguk mengerti. Qiana mengiyakannya.

__ADS_1


“Suamiku sedang dekat dengan seorang wanita. Dia muda, cerdas, dan sangat cantik. Setiap kali aku bertanya, dia selalu berkata bahwa mereka hanya teman politik, tidak lebih.” Wajah Qiana berubah sedih. “Tetapi dia mulai lebih membela temannya daripada aku. Seperti yang terjadi pada Dafhina. Dan aku mulai merasa bahwa suamiku sedang selingkuh di belakangku.”


__ADS_2