
“Ini aku, Ara. Aldo yang sangat kamu cintai, yang ingin kamu nikahi. Aku kembali dan ingin berjuang lagi bersamamu. Kita lupakan saja semua yang terjadi di masa lalu dan kita mulai dari awal. Sayang, tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita sekarang,” ucapnya memohon.
“Aku tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan suamiku. Aku juga tidak ingin hidup bersamamu.”
“Mengapa kamu tidak bisa tinggalkan dia?” Dia memicingkan matanya. “Karena dia memberimu kemewahan? Apa kamu tidak lihat di mana aku sekarang? Aku juga bisa memberimu hal yang sama bahkan lebih baik darinya. Kamu tidak akan kekurangan bila hidup bersamaku.”
“Apa dari tadi kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?” ucapku mulai frustrasi. “Aku tidak mencintaimu. Aku tidak menginginkanmu. Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal dan memintamu untuk memenuhi janjimu. Jangan temui aku lagi.”
“Tidak. Tidak, Ara.” Dia berjalan mendekatiku. Aku mundur selangkah.
“Semoga hidupmu bahagia. Selamat tinggal.” Tanpa menunggu lagi, aku membalikkan badanku. Baru kali ini aku bicara dengan orang yang hanya mau menang sendiri. Aku seperti bicara dengan tembok.
“Kalau kamu pikir suamimu begitu suci atas apa yang terjadi pada kita, kamu salah, Ara.” Kalimat itu menghentikan langkahku. “Sore itu, almarhumah istriku memang sengaja menciumku. Dia sudah tahu kamu akan datang.” Jadi, dia sudah tahu bahwa aku melihatnya berciuman dengan wanita itu tetapi berpura-pura sebagai korban? Dia masih bertanya mengapa aku mengakhiri hubungan kami?
“Lalu apa hubungannya dengan Hendra?” tanyaku tidak suka.
“Papamu yang memintanya melakukan itu. Supaya hubungan kita berakhir dan kamu bersedia menikah dengan Hendra. Coba pikir. Mengapa papamu merencanakan itu? Pasti suamimu yang menyuruhnya,” katanya memberi kesimpulan sendiri. Dia yang semula terlihat penuh penyesalan, kini berdiri begitu angkuh menghakimi ayah kandungku.
“Jadi, kalau ada perempuan lain yang menawarkan dirinya kepadamu, siapa pun yang membayar atau mengancamnya untuk melakukan itu, kamu akan menerima ciuman atau tubuhnya? Begitukah maksudmu?” tanyaku menantangnya.
“Apa? Mengapa kamu malah menyalahkan aku?” tanyanya keberatan.
“Aku tahu Papa seorang yang naif. Papa pikir yang aku butuhkan dalam pernikahan adalah rasa aman dan nyaman. Dan aku tidak akan heran andai Papa nekat menyuruh perempuan lain untuk menggodamu. Yang membuatku kecewa, kamu jatuh dalam perangkap itu. Al, aku tidak bodoh. Aku melihatmu menikmati ciuman itu. Ekspresi wajahmu tidak bisa berbohong,” ucapku kecewa.
__ADS_1
“Ara ….” Dia mencoba untuk memotong kalimatku. Tetapi aku tetap lanjut bicara.
“Sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini. Kamu tahu mengapa akhirnya aku memilih suamiku dan mengucapkan selamat tinggal kepadamu? Karena kamu bukan pria sejati dan kamu tidak jujur, Al. Kamu tidak pernah sekalipun mengakui perbuatanmu di belakangku. Kamu mengacungkan tanganmu kepadaku seolah-olah hanya aku yang bersalah dengan berakhirnya hubungan kita. Dan kamu baru minta maaf setelah aku mengaku bahwa aku melihatmu menciumnya? Wow!
“Setelah perbuatan yang sangat kamu nikmati itu, kamu berani menyalahkan papa dan suamiku? Hendra tidak sepicik itu. Dia cukup percaya diri dia bisa menyaingimu tanpa berbuat curang. Dan dia pria sejati yang berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf,” kataku dengan tegas.
“Sebentar, dengarkan aku,” katanya lagi masih berusaha untuk menyela.
“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.” Aku menggelengkan kepalaku. “Selamat tinggal, Al. Aku harap kamu juga memberi waktu untuk anak-anakmu seperti yang kamu lakukan kepadaku. Mereka telah kehilangan ibu. Jangan sampai mereka merasa telah kehilangan seorang ayah juga.”
“Kamu tidak bisa meninggalkan aku, Ra. Tidak setelah apa yang kita lakukan,” ancamnya.
“Atau apa? Kamu akan menghancurkan pernikahanku? Tidak perlu repot-repot. Itu sudah terjadi.” Aku tertawa sarkas. Dia mengerutkan keningnya.
“Lalu mengapa kamu harus kembali kepadanya? Tinggallah bersamaku,” pintaku lagi.
“Tapi aku mencintaimu, Ra!” Aldo berjalan mendekat dengan mata memerah. Aku segera mundur, tidak mau disentuh lagi olehnya. Tiba-tiba saja seseorang berdiri di antara kami.
“Nyonya Zahara sudah berkata tidak dari tadi. Tolong, jaga jarak Bapak dengannya.” Liando bicara dengan tegas kepada Aldo. Aku bersyukur dia datang pada saat yang tepat.
“Kita pergi sekarang.” Aku membalikkan badan dan berjalan menuju pintu keluar.
Liando mengantarku pulang ke rumah. Hubunganku dan Hendra sedang buruk, jadi sebisa mungkin aku berada di rumah saat dia pulang kerja nanti. Walaupun harapan itu pupus lagi. Suamiku pulang begitu malam sampai aku terkantuk-kantuk menunggu kepulangannya.
__ADS_1
Mengapa dia mendadak bekerja begitu keras? Apakah dia sengaja pulang lama untuk menghindariku? Aku sedang mengandung anak kami dan aku membutuhkan dukungan darinya juga. Tidak apa-apa bila dia ingin marah dan berteriak kepadaku, tetapi seharusnya dia masih peduli kepada anaknya.
“Kamu menemuinya lagi.” Dia menatapku dengan mata penuh amarah. Dia baru saja sampai di rumah dan itu kalimat pertama yang dia ucapkan?
“Iya. Tapi aku tidak,” ucapku berusaha untuk menjelaskan.
“Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun kepadaku. Kamu boleh menemuinya kapan saja yang kamu mau.” Dia berjalan mendekati tangga.
“Apa kamu akan terus menuduhku sesukamu dan tidak mau sekalipun mendengarkan penjelasanku? Apa yang dikatakan Aldo kepadamu tidak benar.” Aku mengikutinya.
“Tidak benar? Bagian mana yang tidak benar? Kamu dan dia tidak tidur bersama?” tanyanya tanpa menghentikan langkahnya atau menoleh ke arahku.
“Aku dan dia tidak kembali bersama,” jawabku.
“Apa bedanya, Zahara? Katakan kepadaku, apa bedanya antara kalian tidur bersama dengan kalian tidak kembali bersama? Kamu menemui dia lalu tidur bersamanya, bukankah itu artinya kalian sudah bersama kembali? Atau sekarang kamu punya kebiasaan baru dengan tidur bersama siapa saja yang kamu mau tanpa ada hubungan apa pun?” tanyanya menyakiti hatiku. Setiap pertanyaan yang dia ucapkan itu menancap begitu tajam tepat di jantungku.
“Maafkan aku,” ucapku pelan. “Aku hanya ingin mengatakan, maafkan aku. Aku sudah menyakitimu dan melanggar sumpah pernikahanku. Aku tidak akan menyangkali apa pun. Silakan percayai apa yang ingin kamu percayai. Aku sudah berulang kali membohongimu, jadi untuk apa memercayai omonganku lagi. Iya, ‘kan?” Dia menghentikan langkahnya.
Aku berjalan melewatinya dan bergegas menuju kamarku di lantai atas. Sudah tidak ada lagi yang bisa kami bicarakan. Dia sudah punya pendapatnya sendiri mengenai aku. Biar saja dia berpikir bahwa aku dan Aldo kembali bersama. Tidak apa-apa bila dia lebih percaya kepada orang lain daripada aku, istrinya sendiri.
Langkahku terhenti saat tangannya memegang lenganku. Aku menoleh ke arahnya dengan bingung. “Kamu sedang hamil. Perhatikan langkahmu. Kamu sedang menaiki tangga,” ucapnya pelan. Aku mengangguk. Dia masih memegang lenganku, jadi aku tidak bisa melanjutkan langkahku.
“Kamu bisa melepaskan tanganku sekarang.” Aku melihat ke arah tangannya.
__ADS_1
“Apa kamu ingin aku melepaskan tanganmu?” tanyanya menatap kedua mataku.
“Aku ingin kamu tidak melepaskan aku,” pintaku pelan setengah memelas. Dia menatapku untuk beberapa saat sebelum melepaskan tanganku dan meneruskan langkahnya menaiki tangga.