
“Tentu saja boleh. Semua orang boleh datang. Tolong, jangan bawa apa-apa untukku. Aku hanya ingin mengundang makan, tidak perlu membawa bunga, buah, atau kado apa pun,” kata Mama dengan tegas. Aku tertawa kecil. Hendra tidak akan peduli dengan peringatan itu.
Kami kembali ke rumah Papa dan Mama, lalu makan siang setelah duduk sejenak di ruang keluarga. Aku membantu Dira makan dengan menambahkan makanan apa saja yang dia minta. Aku bersyukur kedua anakku tidak pemilih dalam hal makanan. Fahri telah mengerjakan tugasnya dengan baik sejak mereka pertama kali makan makanan tambahan.
“Gerhard bersikap agak berbeda hari ini. Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Mama kepadaku. Dia tersenyum penuh arti.
“Berbeda bagaimana, Tante?” tanyaku berpura-pura tidak mengerti.
“Dia tidak sebahagia biasanya saat melihat kamu. Apa terjadi sesuatu saat kalian bertemu di rumah ini?” tanya Mama lagi.
“Tidak terjadi apa-apa, Tante. Kami hanya bicara dan tiba-tiba saja Ara menggonggong marah ke arahnya.” Aku mengangkat kedua bahuku.
“Ara menggonggong ke Gerhard? Ada apa?” Mama bergantian melihat aku dan Papa. “Apa anjing itu menyakitinya? Itukah sebabnya dia jadi kelihatan takut begitu?”
“Tidak ada yang menyakiti siapa pun. Ara hanya menyalak keras saja. Dia tidak menggigit dokter itu,” kata Papa menenangkan Mama. “Kamu seperti tidak tahu sifat Golden Retriever saja. Anjing jenis itu sangat bersahabat dengan manusia. Mereka hanya menggonggong pada orang jahat.”
“Jadi, maksud Papa, Dokter Gerhard adalah orang jahat?” tanya Mama tersinggung.
“Insting anjing sangat kuat dan jarang salah. Kamu tahu itu. Kalau tidak, polisi tidak akan membuat unit khusus di mana anjing menjadi rekan mereka.” Papa mengambil satu sendok sup dari mangkuk saja. “Lagi pula dokter itu tidak punya etika. Zahara sudah menikah, dia masih saja menatapnya seperti orang yang sedang jatuh cinta.”
__ADS_1
“Semua orang berhak untuk jatuh cinta. Mengapa kamu langsung melabeli dia tidak punya etika?” ucap Mama lagi masih dengan nada tersinggung.
“Sayang, cukup. Hentikan semua ini.” Papa meletakkan sendok dan garpu yang dipegangnya ke atas piring. “Sudah cukup menjodoh-jodohkan Hendra dan Zahara dengan orang lain. Demi Tuhan, aku sudah tidak tahan lagi. Putraku dan menantuku sudah berbaikan dan mereka hidup bahagia. Aku tidak akan mengizinkan siapa pun, termasuk istriku sendiri, untuk merusaknya.”
“Aku tidak merusak apa pun. Pernikahan mereka memang sudah lama berakhir. Kamu tidak pernah percaya kepadaku. Kita lihat saja nanti, berapa lama kali ini mereka bertahan dalam pernikahan pura-pura mereka. Menantu yang kamu sayangi ini pasti akan selingkuh lagi.” Mama melihat ke arahku dengan tatapan tidak suka.
“Aku hanya membantu dia untuk bersikap jujur. Lebih baik melihat dia menggoda pria lain dan bermesraan dengan mereka di depan mata kita daripada di belakang kita. Toh, cepat atau lambat, kita akan mengetahuinya juga. Di mana letak kesalahanku?” Mama melihat ke arah Papa dengan marah. “Sekali selingkuh, dia akan mengulanginya lagi.”
Kalimat itu sangat menyakitkan, tetapi Mama tidak sepenuhnya salah. Akulah yang bersalah. Aku tidak bisa melanjutkan makanku mendengar mereka bertengkar karena aku. Suasana ruangan itu mendadak tegang. Bahkan para pelayan yang ada di sekitar kami yang siap untuk melayani kami tidak berani bergerak dari tempat mereka.
Suara tawa menginterupsi pertengkaran mereka. Aku melihat ke arah kiriku. Dira sedang tertawa bahagia sambil melihat Papa dan Mama. “(K)akek! (K)akek!” Dia menunjuk Papa dengan tangannya yang masih memegang sendok. Kami semua tertegun mendengarnya. Papa yang pertama tertawa, aku mengikutinya. Mama menyusul kemudian. Tidak akan ada yang bisa melawan pesona putriku.
“Mama!” Dia menoleh ke arahku. Aku mencium kepalanya, lalu dia melanjutkan makannya.
“Mungkin dia meniru sifat ayahnya,” kata Mama dengan santai. “Entah siapa pun orangnya.” Aku tidak menahan diri lagi. Kalimat itu berhasil memancing keluar amarahku.
“Bila Tante tidak mau melihat aku dan putriku ada di sini, kami akan pergi sekarang. Hina saja aku, tetapi jangan putriku. Aku terima semua perlakuan ini. Aku layak untuk mendapatkannya. Tante mau menghina dan merendahkan aku seumur hidupku, juga tidak apa-apa. Tetapi tolong, jangan libatkan anak-anakku. Tante mau percaya atau tidak, Hadi dan Dira adalah anak-anak Hendra, suamiku.
“Aku akan terus mengatakan ini sampai Tante berhenti mengatakan hal yang tidak benar mengenai Hadi dan Dira. Nora, Dicky, dan Vivaldo adalah pembohong besar. Semua orang yang ikut bersaksi memperkuat pernyataan mereka adalah orang-orang bayaran mereka. Jadi, tolong, hina aku saja. Jangan anak-anakku.” Aku sama sekali tidak mengalihkan pandanganku darinya selama aku bicara. Aku ingin Mama tahu bahwa aku tidak main-main dengan kalimatku itu.
__ADS_1
“Maafkan kami, Nak. Seharusnya ini tidak terjadi.” Papa terlihat tidak enak. Aku tersenyum kepadanya. “Habiskan makananmu sebelum kamu pulang.” Aku menurutinya.
“Siapa yang bilang kamu boleh pulang? Kamu masih punya tanggung jawab kepadaku.” Mama mengingatkan aku mengenai kebiasaan siang kami.
“Tidak hari ini, Tante. Aku tidak tahu apakah besok aku akan datang, tetapi hari ini aku tidak bisa menemani Tante untuk melakukan senam seperti biasanya.” Aku menolak.
Sudah cukup dia menghina aku selama beberapa minggu terakhir dan aku hanya diam saja. Dokter sudah menyatakan bahwa kankernya tidak kembali. Maka aku tidak perlu lagi menjaga perasaannya dan membiarkan dia menginjak-injak aku. Aku juga tidak akan mau diatur sesukanya lagi.
Merawatnya bukanlah tanggung jawabku. Aku hanyalah menantu yang tidak dia inginkan. Tetapi aku berada di sini untuknya atas keputusanku sendiri. Aku bahkan menentang ucapan suamiku yang sudah berulang kali melarangku untuk datang ke rumah ini sendiri tanpa kehadirannya.
“Aku pikir kamu melakukan semua ini supaya aku luluh dan mau menerimamu sebagai menantuku. Ternyata aku salah sangka.” Mama tertawa kecil. Wajahnya kemudian berubah serius. “Kalau kamu pulang sekarang, maka tidak perlu datang lagi besok. Kamu tidak perlu membantu aku lagi. Aku bisa menyewa seorang suster untuk melakukannya.”
“Benar, aku melakukan ini untuk memenangkan hati Tante lagi. Tetapi bukan agar Tante menerima aku sebagai menantu. Sekali lagi, aku adalah istri sah Hendra, jadi Tante suka atau tidak, aku adalah menantu sah Tante,” kataku dengan tegas. “Bisakah aku meminta agar kita melanjutkan makan? Aku tidak ingin bersikap tidak sopan dengan tidak menjawab Tante saat mulutku penuh makanan.”
Mama menoleh ke arah salah satu pelayan. “Siapkan kotak makanan dan masukkan semua yang ada di atas piringnya agar dia bisa segera pergi,” kata Mama dengan marah.
Pelayan itu terlihat tidak enak antara menuruti perintah nyonya rumah atau menjaga perasaanku. Aku tersenyum kepadanya dan sedikit mengangguk. Aku meletakkan sendok dan garpu yang aku pegang di atas piring sebagai tanda bahwa dia boleh membungkusnya agar bisa aku bawa pulang.
“Yang kamu lakukan ini tidak benar, Naava,” ucap Papa dengan suara menahan amarah. “Kamu tidak bisa mengusir menantuku begitu saja. Apa yang sedang merasuki pikiran kamu?”
__ADS_1
“Papa tinggal pilih, aku atau dia yang keluar dari rumah ini?” tanya Mama dengan tajam.