Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 215 - Tidak Khawatir Lagi


__ADS_3

“Papa!!” seru Colin yang melepaskan tangannya dari pegangan Hendra, lalu berlari menuju pasangan yang tadi aku perhatikan.


Will dan Gista yang sedang asyik berbincang menoleh dan mereka serentak membulatkan mata karena terkejut. Colin segera menghamburkan diri ke pelukan ayahnya. Gista memasang wajah khawatir. Mungkin ekspresiku juga sama dengannya.


“Jangan khawatir begitu,” kata Hendra yang tertawa kecil. Dia mengangkat Dira dari ayunan, lalu berjalan menyusul Colin.


Aku melihat Will mengatakan sesuatu kepada putranya. Gista mengulurkan tangan dan Colin tersenyum saat menjabat tangannya. Sepertinya semua berjalan lancar, tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Saat anak itu duduk di samping papanya, aku tahu bahwa Colin merasa nyaman duduk dengan Gista bersama mereka.


Melihat mereka duduk bersama seperti itu, aku sudah bisa bayangkan bahwa mereka akan menjadi keluarga yang bahagia. Pasti ada drama, pertengkaran, dan kesusahan yang akan menambah rasa, tetapi semua pernikahan mengalaminya. Apakah sudah saatnya aku berhenti khawatir dengan keputusan Will? Mereka akan baik-baik saja walau menikah secepat rencananya, ‘kan?


“Kalian ada di sini. Aku pikir kalian akan menonton atau makan di restoran,” ucap Hendra penuh arti.


“Apa kamu tidak punya kreativitas lain dalam berkencan, Hendra? Menonton dan makan di restoran? Apa kamu tidak tahu bahwa kita juga bisa makan di taman seperti ini?” ejek Will. Suamiku memutar bola matanya, sedangkan aku dan Gista tertawa geli.


“Aku akan membeli es krim untuk anak-anak. Kalian mau sesuatu?” tanya Hendra. Dira yang ada dalam gendongannya bersorak senang. Colin segera berdiri dan mendekati Hadi. Dia pasti tidak mau ketinggalan untuk memilih sendiri es krim kesukaannya.


“Gista ingin makan bakso. Aku akan ikut denganmu.” Will menoleh ke arah kekasihnya, Gista mengangguk pelan. “Kamu mau juga, Zahara?” Aku segera mengiyakannya.


Para pria pergi bersama anak-anak. Will menggandeng tangan Colin dan Hadi. Kedua anak kecil itu melompat-lompat senang di kedua sisinya. Aku duduk di atas alas di samping Gista. Dia tersenyum kepadaku.


“Aku bahagia melihat semuanya lancar,” kataku dengan tulus.

__ADS_1


“Terima kasih sudah mempertemukan kami, Bu. Will persis seperti yang ada dalam bayangan saya. Dia pria yang baik, sabar, sekaligus menyenangkan. Ah, tetapi untuk satu hal dia sangat tidak sabar,” katanya penuh arti. Aku menatapnya dengan rasa ingin tahu. “Saya tahu bahwa hubungan antara pria dan wanita akan berakhir pada pernikahan. Masalahnya, dia ingin kami menikah pada akhir tahun ini. Tidakkah itu terlalu cepat?”


“Aku dan suamiku malah tidak punya waktu untuk berkencan dan saling mengenal. Kami menikah sangat cepat. Tetapi risikonya dalam pernikahan kami memang sangat besar. Kamu tahu sendiri bahwa kami berpisah selama hampir lima tahun.” Rasanya perpisahan itu hanya mimpi. Kami kembali bersama dan perasaan kami terhadap satu sama lain menjadi lebih kuat dari sebelumnya.


“Saya mendengar cerita itu. Tetapi Bapak dan Ibu sekarang sangat bahagia dan saling mencintai.” Dia bersorak kecil. “Itu yang paling penting.”


“Iya. Itu yang paling penting,” kataku setuju. “Jadi, kamu masih punya beberapa bulan untuk saling mengenal. Lagi pula pernikahan itu masih rencana. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Bisa saja kalian menikah tahun depan.”


“Yang membuat saya ragu adalah Colin. Saya tidak yakin saya akan bisa menjadi ibu yang baik. Saya bekerja, pasti tidak bisa memberikan cukup waktu untuk memerhatikannya.” Wajahnya berubah sedih. Aku menepuk pahanya.


“Satu-persatu, Gista. Jangan semuanya kamu pikirkan sekaligus. Will juga bekerja dan memberi waktunya hanya pada akhir pekan. Hubungan dia dengan Colin baik-baik saja. Aku malah sering mendengar anak itu memuji ayahnya. Dia tidak pernah sekalipun mengeluhkan keadaannya. Dia malah senang bisa bermain bersama Hadi dan Dira sepulang sekolah,” kataku menenangkannya.


“Benarkah? Kalau begitu, beban saya sedikit terangkat.” Dia mendesah pelan.


“Se-serius, Bu? Anak sekecil itu tahu mengenai lamaran?” tanyanya terkejut. Aku tertawa sambil menganggukkan kepalaku.


“Dia ingin menikah dengan Dira agar mereka bisa tinggal bersama. Dia begitu lugu dengan berpikir bahwa menikah hanya untuk melegalkan pria dan wanita tinggal bersama.” Aku tertawa lagi.


“Ibu dan Bapak jawab apa?” tanyanya ingin tahu.


“Kami hanya bisa terbatuk karena tersedak makanan kami sendiri.” Kami tertawa bersama. “Aku dan suamiku jelas tidak tahu harus menjawab apa. Hadi dan Dira tidak pernah mengajukan pertanyaan serumit itu. Jadi, siap-siaplah, Gista. Kamu punya anak yang cerdas.”

__ADS_1


Para pria dan anak-anak kembali, kami duduk bersama di alas yang sempit tersebut. Will atau Gista pasti sengaja memilih alas ini agar mereka bisa duduk berdekatan. Aku dan Gista menyantap semangkuk bakso, sedang mereka menikmati es krim masing-masing.


Kami memilih topik yang aman untuk dibahas agar Colin tidak mengajukan pertanyaan yang belum bisa dijawab, baik oleh Will maupun Gista. Setelah es krim di tangan mereka habis, Colin dan Hadi kembali bergabung bersama anak-anak lain di tempat bermain. Ara ikut menemani mereka.


Menjelang malam, kami pulang dengan keluarga dan kendaraan kami masing-masing. Will, Gista, dan Colin dengan mobil mereka, sedangkan aku dan keluargaku dengan mobil kami. Karena perut kami belum lapar, kemacetan lalu lintas yang memperlambat kami tiba di rumah tidak terlalu mengganggu. Ara dan anak-anak pulas di jok belakang.


Aku menatap suamiku penuh arti ketika dia keluar dari kamar mandi. Dia terlihat seksi setiap kali baru selesai mandi. Godaan terbesar yang belum bisa aku sentuh tanpa membuatku menderita. Tiga minggu lagi, maka puasa kami akan berakhir.


“Jadi, itu alasan kamu membawa anak-anak ke taman?” tanyaku menatapnya curiga. Dia sengaja menghindari tatapanku dengan sibuk memadamkan lampu nakas, lalu menyelip ke balik selimut.


“Apa maksud kamu, aku tidak mengerti.” Dia melingkarkan tangannya di pinggangku, tetapi aku belum mau berbaring. Barulah dia mengangkat wajahnya dan menatapku penuh tanya.


“Kamu mau melakukan apa dengan membuat mereka kelelahan bermain, hm?” tanyaku. Dia tertawa kecil. Tangannya yang ada di pinggangku menarikku hingga aku berada dalam posisi berbaring. Aku refleks meletakkan kedua tanganku di dadanya. “Hendra! Aku sedang tidak ingin bercanda. Berhenti menggodaku seperti ini.”


“Jangan salahkan aku. Kamu yang salah telah berpenampilan cantik hari ini sehingga aku tergoda.” Kedua tanganku tidak bisa menghalanginya untuk mendekat dan mencium bibirku.


“Aku tidak memakai baju khusus atau berdandan, mengapa aku yang salah?” protesku.


“Kalau begitu, kamu yang salah karena kamu sangat cantik,” katanya mencari-cari alasan. Aku tidak bisa lagi membalas ucapannya. Dia membungkam aku dengan ciumannya. Oh, Tuhan. Mengapa tiga minggu datangnya lama sekali?


Begitu bangun pagi, Hendra dan anak-anak memilih untuk berenang daripada joging. Udara memang sedang hangat, jadi itu adalah pilihan yang tepat. Aku tidak bisa ikut dan hanya mengawasi mereka dari tepi kolam. Ara yang sudah bisa berenang dengan ahli juga ikut bergabung bersama mereka.

__ADS_1


Setelah makan siang, kami mengantar anak-anak ke rumah Papa dan Mama. Hendra ingin bicara secara serius dengan mamanya, maka lebih baik kami datang tanpa mereka. Lagi pula malam nanti kami akan makan bersama orang tuaku, juga dengan keluarga Zach.


Kepala pelayan menyambut kedatangan kami. Dia mengantar kami ke ruang depan. Aneh. Tidak biasanya Papa dan Mama duduk di ruangan itu. Biasanya mereka menghabiskan waktu berdua di ruang keluarga. Aku lebih dahulu masuk ketika pelayan tersebut membukakan pintu. Ah, pantas saja mereka berada di ruangan ini. Ternyata ada tamu.


__ADS_2