
~Za~
Papa dan Mama datang berkunjung ketika aku mengantar pengacara itu ke depan rumah. Zach yang biasanya hanya mengantar mereka tanpa keluar dari mobil, bergegas mendekati aku. Dia menatap mobil pria itu pergi dari depan rumahku.
“Mengapa dia datang ke sini, Kak?” tanya Zach curiga. Dia pasti mengenal siapa pria itu.
“Dia membawa surat cerai yang harus aku tanda tangani,” jawabku santai. Dia membulatkan matanya. Aku menutupnya dengan telapak tanganku. “Awas, matamu bisa copot.”
“Apa yang terjadi? Mengapa kalian ini mudah sekali mengucapkan cerai? Apa belum cukup lima tahun yang sudah kalian jalani?” protesnya.
“Cerai? Siapa yang ingin cerai?” tanya Mama sambil memandang aku dan Zach secara bergantian.
“Hendra ingat dengan kejadian antara aku dan Vivaldo. Tanpa mengajakku bicara baik-baik, dia menelepon mertuaku dan mereka pergi kemarin pagi,” jawabku acuh tak acuh.
“Mengapa kamu malah diam saja di sini? Cepat, jelaskan kepada suamimu bahwa itu hanya salah paham. Anak tidak tahu malu itu yang telah mengganggu kamu,” desak Mama.
“Ma, dia sedang hilang ingatan. Aku tidak bisa mengajaknya membicarakan sesuatu yang tidak bisa dia ingat. Tetapi setidaknya aku tahu satu hal. Dia tidak mencintai aku sebesar yang sering dia ucapkan. Dasar laki-laki pembohong,” umpatku sambil membalikkan badan dan masuk ke rumah.
Segalanya menjadi lebih mudah bagiku ketika aku mengumpatnya. Aku tidak perlu meneteskan air mata berhargaku lagi untuk laki-laki yang hanya bisa mengambil keuntungan dari kelemahanku itu. Cinta, cinta omong kosong. Semua pujiannya juga hanya omong kosong.
Kasihan anak-anak. Mereka selalu saja menjadi korban atas keegoisan kami berdua. Semoga saja Zach dan Pak Oscar berhasil melempar wali kota itu ke penjara. Dia adalah sumber masalah. Tidak mau dosanya terbongkar, malah menambah dosanya sendiri. Tetapi Hendra juga salah. Mengapa dia harus memancing amarah pria yang punya jabatan penting itu? Laki-laki bodoh.
Belum cukup semua umpatan untuknya aku ucapkan di kepalaku, Papa menelepon dan membujuk aku agar mau datang ke rumah dan menemani laki-laki bodoh itu. Aku masih kesal dengannya. Tetapi dia masih suamiku, jadi aku tidak tega menolak permintaan Papa.
Aku akhirnya bisa duduk dengan tenang saat dia sedang tidur siang. Papa bilang bahwa dia mengalami sakit kepala yang parah saat bangun tidur. Apa yang dia ingat hari ini? Apa masih seputar perselingkuhan itu? Penyakit yang aneh. Mengapa tidak bukakan hal-hal baik mengenai aku saja? Mengapa selalu yang buruknya?
Jam pada dinding menunjukkan sudah lewat pukul tiga sore. Apa sebaiknya aku membangunkan dia? Tepat pada pukul empat nanti, pelatihnya datang untuk fisioterapi kedua hari ini. Ah, tidak. Aku biarkan saja dia tidur lebih lama. Dia membutuhkannya.
Pintu terbuka, aku menoleh. Aku pikir itu adalah Hendra, ternyata Mama. Aku menegakkan tubuhku dan mengunci layar ponselku. Rasmi memberitahu aku bahwa bukuku akan mulai buka pemesanan awal pada sore ini, jadi aku penasaran bagaimana sambutan pembaca atas buku keempatku.
__ADS_1
“Mengapa kamu ada di sini? Kamu tidak mencoba menggoda dan merayu putraku agar mau pulang ke rumahmu bersamamu?” tanya Mama sambil duduk di sofa yang ada di depanku. Seorang wanita juga ikut masuk. Dilihat dari pakaiannya, dia pasti perawat Mama.
“Hendra sedang tidur, Tante,” jawabku sekenanya karena tidak tahu harus mengatakan apa.
“Kamu tahu bahwa dia tidak akan kembali lagi kepadamu, ‘kan? Jadi, apa pun yang akan kamu lakukan, dia tidak akan pernah memaafkan kamu lagi. Sebaiknya kamu mulai bersiap-siap untuk berpisah dengannya. Aku pastikan, kali ini kalian akan berpisah untuk selamanya,” ancamnya.
Aku bosan. Sungguh. Sudah berbulan-bulan komunikasi kami selalu saja tentang ini. Kalau bukan karena aku tergila-gila kepada putranya, aku tidak akan diam saja menerima perlakuan ini dari siapa pun. Entah mau sampai kapan Mama berpikir bahwa aku ini perempuan murahan.
Tetapi saat dia mengutuk aku lagi dan lagi, aku tidak bisa mencegah benteng pertahananku runtuh. Aku bukanlah orang suci, aku tahu itu. Aku punya kesalahan yang tidak termaafkan, itu juga aku tahu. Namun bukan aku yang menyebabkan suamiku mengalami kecelakaan hingga hilang ingatan.
Tidak semua hal yang terjadi atas kehidupan kami adalah akibat dari kesalahanku. Tuhan juga tidak akan sekejam itu. Mengapa ibu mertuaku harus sejahat ini kepadaku? Aku harus bagaimana lagi supaya dia mau memaafkan aku?
“Ma, hentikan!” Terdengar seruan Hendra yang akhirnya berhasil membuat Mama terdiam. “Za tidak ada hubungannya dengan kecelakaan yang aku alami. Tolong, berhenti menyalahkan dia atas segala hal. Dan hanya aku yang boleh membicarakan urusan pernikahan kami. Mama atau siapa pun juga tidak berhak untuk ikut campur.”
“Kamu adalah putraku. Dia telah menyakiti kamu, maka dia juga menyakiti aku,” kata Mama.
“Jangan bawa-bawa namaku, sebut-sebut kebahagiaanku, jika yang Mama rasakan dan lakukan kepadanya adalah keegoisan Mama sendiri.” Hendra memegang tanganku dan meminta aku untuk berdiri. “Aku akan pergi besok ke tempat lain. Aku tidak bisa tinggal di sini bersama Mama lagi.”
“Apa? Kamu lebih memilih tinggal bersama perempuan yang sudah memberikan tubuhnya kepada laki-laki lain, yang mengkhianati sumpah pernikahannya, daripada ibumu sendiri? Aku melakukan apa yang menurutku baik untukmu, aku tidak akan dengan sengaja menyakitimu, Hendra. Berpisah dengannya lebih cepat akan lebih baik untukmu. Percaya kepadaku,” kata Mama.
“Saat Mama berpikir dengan kepala dan hati yang jernih, pada saat itulah aku akan percaya pada kata-kata Mama. Kita sudah bicarakan ini kemarin. Aku memberi kesempatan terakhir kepada Mama. Jadi, aku akan pergi besok.” Hendra menggerakkan kursi rodanya dan membawaku bersamanya.
Mama hanya diam dan tidak mengatakan apa pun lagi. Aku terpaksa mengikuti Hendra. Dia mau membawaku ke mana? Dia membuka pintu dan keluar lebih dahulu. Saat aku akan melewati pintu, aku menyempatkan untuk menoleh ke arah Mama. Dan apa yang aku saksikan membuat aku tidak mengerti. Mama tersenyum. Bukan senyuman biasa. Mama tersenyum begitu bahagia.
Hendra membawa aku ke kamarnya. Dia menyaksikan dua orang pelayan memasukkan semua pakaiannya ke koper. Aku duduk di tepi tempat tidur dan memikirkan tentang ekspresi Mama tadi. Mengapa aku bisa berada di keluarga yang aneh begini?
“Kamu akan pergi ke mana? Kamu sudah punya tempat tinggal?” tanyaku memecahkan keheningan di antara kami.
“Untuk sementara, aku akan tinggal di hotel. Aku bisa menanyakan info tempat tinggal sementara di sana nanti,” jawabnya masih dengan wajah kesal.
__ADS_1
“Kamu pasti tidak ingat ini. Kita punya sebuah apartemen. Kamu bisa tinggal di sana untuk sementara waktu,” kataku memberi saran.
“Apartemen? Dan kamu baru memberitahu aku sekarang?” protesnya.
“Siapa yang tiba-tiba pergi dari rumah tanpa berdiskusi denganku? Berhenti menyalahkan orang lain atas keputusan yang kamu ambil sendiri. Kamu dan mamamu sama saja,” ucapku dengan sengaja.
“Aku dan mamaku tidak sama. Aku tidak menyalahkan kamu. Aku hanya bertanya mengapa kamu baru, ah, sudahlah. Aku tidak akan pernah menang bila berdebat denganmu,” katanya.
“Sakti tahu di mana apartemen itu berada, dia juga tahu kode masuknya. Aku akan meminta Liando mengirim makanan untukmu karena kamu belum boleh makan sembarangan,” lanjutku.
Dia menoleh ke arahku. “Apa kamu baik-baik saja? Mengenai apa yang Mama katakan, tolong, jangan dimasukkan ke hati. Aku tidak tahu mengapa mamaku jadi begitu.” Aku hanya tersenyum.
Ketika Papa akhirnya pulang, aku merasa sangat lega. Aku tidak perlu lagi menghadapi drama di rumah ini. Aku menolak untuk makan malam bersama mereka. Aku sudah terlalu lama meninggalkan anak-anak. Aku memutuskan untuk tidak memberitahu insiden yang terjadi antara aku dan Mama. Biar itu menjadi rahasia di antara kami saja.
“Mama pulang! Mama!!” sambut Hadi dan Dira begitu Abdi membukakan pintu depan untukku. Aku tertawa melihat ada noda cokelat di wajah mereka.
“Pak Fahri membuatkan es krim cokelat, ya?” tebakku.
“Iya, Ma!” jawab Hadi. Dia lalu bercerita dengan riang apa yang dikerjakannya bersama kakek dan neneknya sepanjang hari. Aku menatap Papa dan Mama dengan penuh ucapan terima kasih.
Setelah makan malam, Papa dan Mama pamit untuk pulang. Mereka hanya bisa mengatakan agar aku bersabar menghadapi suamiku. Aku tidak mau bersabar lagi menghadapinya, itu hanya akan membuat aku menangis melihat keadaan kami. Tetapi aku tidak mengatakan itu di depan orang tuaku dan menyimpan segalanya di dalam hati.
Untuk mengganti waktu yang tidak bisa aku gunakan bersama mereka, aku menemani anak-anak di kamar Hadi sambil membacakan sebuah buku cerita untuk mereka. Aku duduk di tepi tempat tidur Dira seperti pada malam sebelumnya setelah membopongnya dari kamar kakaknya.
Sebelum anjing baik hati masuk ke kamar dan memeluk aku sepanjang malam, aku keluar dari kamar putriku. Air mata mengalir satu per satu membasahi pipiku. Ini adalah malam keduaku tanpa Hendra. Aku tersenyum mendengar langkah kaki halus menaiki tangga. Sesaat kemudian, aku melihat Ara berlari ke arahku. Aku segera meletakkan telunjuk di depan bibirku agar dia tidak menyalak.
Mendengar langkah kaki lain, aku menunggu sampai seseorang muncul dari tangga. Abdi menuju koridor ke arah kamarku, maka aku memanggilnya. Dia berhenti dan menoleh ke arahku, kemudian berjalan tergopoh-gopoh.
“Nyonya, ada polisi datang membawa surat izin penggeledahan,” lapornya. Apa? Surat izin apa itu? Aku dan Hendra tidak melakukan kejahatan mengapa mendadak ada yang mau menggeledah?
__ADS_1