
Nora dan seorang wanita keluar dari mobil di depan kami. Sopir Papa menghentikan mobil tepat di depan teras. Papa menolong Mama untuk keluar, sedangkan aku menggandeng tangan Dira menuju rumah. Mama mengajak kedua wanita itu untuk masuk bersama kami.
“Mari, Tante. Aku bantu.” Nora mendekati Mama. Ibu mertuaku melihat ke arah Papa sesaat lalu melepaskan tangannya dan memberikannya kepada wanita itu. Mereka berjalan beriringan menuju ruang depan. Aku dan Papa saling bertukar pandang. Lalu aku tersenyum melihat wajah kesalnya.
Setelah menolong Mama untuk duduk, Nora duduk di sisinya diikuti oleh mamanya. Aku dan Papa duduk berdampingan dengan Dira berada di antara kami. Seorang pelayan wanita masuk sambil membawa baki berisi minuman hangat dan makanan ringan. Merasakan tatapan mata Nora, aku menoleh ke arahnya. Dia menatapku penuh arti.
Aku mengulum senyum. Apa dia pikir aku peduli dengan persaingan memperebutkan perhatian Mama? Dia boleh melakukan apa saja semampunya. Tetapi dia tidak akan bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Hendra sudah memilih aku dan kami sudah kembali bersama. Tidak ada yang bisa merusak ikatan di antara kami berdua. Meskipun dia memiliki Mama di pihaknya, Mama tidak akan bisa memengaruhi putranya untuk meninggalkan aku.
Perpisahan kami dahulu juga tidak ada campur tangan siapa pun. Hendra sendiri yang memutuskan untuk mengakhirinya karena dia berpikir bahwa aku tidak mencintainya. Dia lelah berjuang sendiri dalam pernikahan kami sehingga berasumsi bahwa aku akan bahagia bersama pria pilihanku. Saat itu dia tidak tahu bahwa dialah pria itu.
Mama tidak bodoh. Dia mungkin gegabah mengambil keputusan berdasarkan perasaannya. Dan aku tidak bisa menyalahkannya. Itu adalah respons alamiahnya sebagai seorang ibu yang melindungi putranya. Tetapi Mama tidak akan selamanya membenci aku. Dia dan aku hanya membutuhkan waktu untuk bisa memperbaiki hubungan kami. Dan Nora tidak akan bisa menghalangi niatku itu.
“Bagaimana keadaan Tante sekarang?” tanya Nora dengan wajah penuh simpati. Mama tersenyum.
“Aku baik-baik saja. Terima kasih. Operasinya berjalan lancar dan kami tadi ke rumah sakit untuk melepas selang yang mereka pasang di dekat dada kiriku. Aku hanya perlu banyak beristirahat untuk memulihkan diri.” Mama tidak menarik tangannya saat Nora menyentuhnya.
“Maafkan aku, Tante. Ada banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini yang membuat aku tidak bisa mendampingi pengobatan Tante. Ayah difitnah dan sedang memperjuangkan haknya bersama pengacara kami. Lalu ada orang-orang jahat yang ingin merebut perusahaan keluarga kami,” ucap Nora dengan wajah sedih.
“Iya. Aku mengikuti beritanya di televisi. Bagaimana keadaan kalian sekarang? Apa saja yang mereka ambil?” tanya Mama ingin tahu. Dia menatap Nora dan mamanya secara bergantian.
__ADS_1
“Mereka mengambil semuanya, termasuk rumah peninggalan ibu mertuaku,” jawab mama Nora pelan. Ibu dan anak itu memasang wajah sedih.
“Oh, ya? Lalu kalian tinggal di mana sekarang?” tanya Mama terlihat prihatin.
“Nelson punya apartemen pribadi atas namanya sendiri. Kami tinggal di sana sekarang. Kami tidak sepenuhnya mengalami kesulitan karena masih ada perhiasan dan tabungan pribadi. Kami masih bisa bertahan hidup.”
“Aku juga akan mencari pekerjaan di tempat lain agar kami bisa bangkit lagi,” timpal Nora.
“Bagus. Kamu harus merawat ayah dan ibumu. Mereka sudah sangat banyak berkorban untukmu.” Mama tersenyum. Pintu diketuk, Papa mempersilakan masuk. Seorang pelayan masuk untuk memberitahukan bahwa makan siang sudah siap.
Nora dan mamanya diundang untuk makan bersama kami. Aku hanya tersenyum melihat Papa yang menatap aku dengan mata tanpa emosinya. Mama masih mengobrol dengan Nora dan mamanya. Aku mendengarkan sambil menolong Dira makan. Setiap kali dia ingin menambah sayur atau daging, aku memberikannya sampai dia merasa cukup.
“Sayang, kamu yang urus Dira dan temani mereka sebentar, ya. Aku dan Zahara akan segera kembali.” Mama berdiri dan mengulurkan tangannya kepadaku. Papa menganggukkan kepalanya.
Papa pelan-pelan mendesah lega ketika kami masuk ke ruangan. Aku mengulum senyum dibuatnya. Dia pasti bosan menunggu dan tidak tahu harus membahas apa dengan ibu dan anak itu. Aku menolong Mama kembali duduk di samping Nora dan ibunya. Wanita itu melihat ke arahku dengan wajah tidak suka. Aku mengabaikannya.
“Tante tadi melakukan apa?” tanya Nora ingin tahu.
“Senam ringan untuk membantu mempercepat pemulihanku. Aku perlu menjaga agar bahu, diafragma, dan lengan kiriku tetap bisa berfungsi dengan baik seusai operasi. Karena tadi baru melepas selang, aku perlu berhati-hati agar tidak memperburuk lukaku.” Mama tersenyum ke arahku. “Suamiku yang membantu aku pada pagi dan malam hari, sedangkan Zahara membantu aku pada siang hari.”
__ADS_1
“Bila Tante mengajari aku, aku bisa membantu mulai besok. Zahara pasti punya kesibukannya sendiri. Apalagi dia punya dua orang anak yang harus dia jaga. Aku masih menunggu respons dari lamaran kerja yang aku kirim. Jadi, waktuku lebih fleksibel dari dia.” Nora menawarkan bantuannya. Mama mengangguk pelan.
Setelah beberapa kali melihat Mama menguap, Papa akhirnya mengambil alih dan mengajak Mama untuk beristirahat di kamar. Nora dan mamanya menggunakan kesempatan itu untuk pamit pulang. Mama ingin mengantar mereka sampai ke teras, maka Papa tidak melarang.
Nora yang kembali membantu Mama berjalan sampai pintu depan. Mereka melangkah dengan hati-hati. Lalu berhenti di beranda. Aku dan Papa yang menggendong Dira berdiri di belakang Mama. Papa memberikan Dira kepadaku agar dia bisa mengambil alih memegang Mama.
“Terima kasih sudah datang. Juga untuk bunga dan buah yang sudah kalian bawa,” kata Mama dengan tulus.
“Sama-sama, Tante. Semoga Tante segera pulih, ya. Supaya kita bisa berbelanja, jalan-jalan, atau mempersiapkan konser amal lagi.” Nora melirik ke arah ibunya. “Iya, ‘kan, Bu?”
“Iya,” jawab mama Nora. “Kita akan mengadakan konser amal bulan depan. Persiapannya masih lima puluh persen, tetapi setiap pengisi acara sudah mulai berlatih. Kami semua menunggu kamu kembali bergabung bersama kami.”
“Terima kasih. Aku juga sudah tidak sabar untuk menyibukkan diri lagi dan bertemu dengan orang-orang yang menerima bantuan kita.” Mata Mama menatap penuh kerinduan. Dia pasti merasa bosan hanya berada di rumah saja dan tidak bisa lagi beraktivitas di luar seperti biasanya.
“Kalau begitu, kami pergi sekarang. Aku akan datang lagi besok siang untuk membantu Tante melakukan senam.” Nora melihat ke arah Papa. “Kalau ada video referensinya, tolong kirimkan ke aku, ya, Om. Supaya aku pelajari, jadi besok aku sudah menghapalnya dengan baik.”
Papa menatap aku dan Mama secara bergantian sebelum kembali melihat Nora. “Tentu saja.”
“Nora,” kata Mama dengan senyum lembut di bibirnya. “Aku sangat berterima kasih atas semua perhatian yang sudah kamu berikan kepadaku, suamiku, dan putraku. Kamu telah memberikan yang terbaik yang kamu miliki kepada kami.”
__ADS_1
“Itu bukan apa-apa, Tante. Aku senang bisa melakukannya.” Wanita itu tersenyum bahagia. “Sampai jumpa besok, Tante.”
“Tidak. Kamu salah paham,” kata Mama lagi. Nora mengerutkan keningnya. “Aku tidak memuji kamu sebagai undangan agar kamu bisa datang besok membantu aku. Aku sedang mengucapkan selamat tinggal. Kamu tidak perlu lagi datang ke rumah ini. Juga jangan sapa aku melebihi seorang kenalan biasa saat kita bertemu di luar suatu hari nanti.”