
“Kamu tidak beraksi semalaman penuh.” Aku meralat ucapan penuh kesombongannya itu.
“Segera mandi. Aku harus berpakaian. Sepertinya aku mendengar suara Hadi.” Dia bergegas mendekati lemari pakaian. Aku menurutinya dan memasuki kamar mandi.
Aku hanya butuh kurang dari sepuluh menit untuk siap bertemu dengan anak-anakku. Ara sudah tidak ada lagi di tempat tidurnya, jadi aku mengikuti arah datangnya suara. Aku membuka kamar Dira dan melihat putriku itu sedang duduk dalam pangkuan papanya sambil bermain dengan anak anjing yang telah menyelamatkan hidupku. Hendra menoleh ke arahku. Dia tersenyum.
“Mama! Selamat pagi.” Hadi segera menarik tanganku agar mendekati mereka. Aku duduk di sisi Hendra, lalu Hadi duduk di antara kami.
“Pagi, Mama.” Dira menatapku dengan mata bulat besarnya. Hendra memberikannya kepadaku.
“Apa kabarmu, sayang? Kamu senang bermain dengan Papa?” tanyaku sambil mencium pipinya. Dia tertawa bahagia, lalu aku memeluknya.
“Aya!” jawabnya cepat.
“Kamu senang bermain bersama Ara? Hari ini kamu mau ke mana? Berenang? Berkemah? Atau mau di kamar saja?” tanyaku. Sepertinya dia tidak mengingat kejadian buruk semalam.
“Makan, Ma.” Dia menyentuh perutnya.
“Ayo, kita makan. Mama tadi mencium aroma masakan enak di dapur.” Aku berdiri sambil tetap menggendong Dira. Hadi membukakan pintu, lalu melompat-lompat senang menuju meja makan.
Aku mendudukkan Dira di kursi khususnya dan membantu Hendra membuatkan minuman hangat. Kami sarapan bersama sambil membicarakan hal-hal ringan. Hadi dan Dira makan dengan lahap, maka aku tidak mau kalah. Melihat makanan yang ada di mangkuk Ara, aku meminta Hendra memberinya daging dan tulang untuk makan siangnya.
Kami hanya duduk di depan sofa menemani anak-anak menonton. Sebentar saja, aku tertidur pulas. Aku baru menyadari bahwa aku tidak tidur semalaman saat mencari Dira. Aku hanya terbangun saat perutku mulai menggangguku dan penciumanku menghirup aroma yang sedap.
Aku membuka mata dan merasakan seseorang menindih tubuhku. Aku menoleh dan melihat Dira meletakkan kepalanya di dadaku. Dia tertidur pulas. Hendra duduk di sisiku dengan Hadi tidur di dadanya. Aku tersenyum. Kami semua tidur bersama di sofa ini sejak tadi? Aku kembali menutup mata dan tidur untuk beberapa saat lagi. Aku tidak tega bergerak dan membangunkan mereka.
Pada sisa hari itu, kami hanya bermalas-malasan. Kami berenang sepuasnya, lalu anak-anak lelap di kamar mereka usai makan malam. Hendra mengatakan bahwa kami akan pulang pada Minggu pagi untuk menghindari arus balik pada akhir pekan. Aku pun mengepak pakaian kami kembali. Hendra mengemasi pakaiannya dan Hadi.
__ADS_1
“Kamu membeli terlalu banyak boneka.” Aku mendesah keras melihat tumpukan boneka binatang tersebut. Dia hanya tertawa.
Kami memasukkan beberapa barang yang tidak akan kami perlukan pada pagi hari ke bagasi mobil. Hanya dua koper dan tempat tidur Ara yang kami biarkan tetap ada di vila. Tidak sanggup lagi terjaga dan melakukan kencan malam kami, aku masuk ke kamar. Hendra juga sudah bersiap untuk berbaring di sofanya. Melihat ranjang, aku membuka pintu kamar.
“Apa kamu mau tidur di sini bersamaku? Kamu akan menyetir besok. Sofa itu pasti tidak nyaman untukmu.” Aku menawarkan hal yang semoga saja tidak akan aku sesali.
“Kamu yakin?” tanyanya memastikan.
“Hendra kecil tidak akan bisa beraksi dan mengganggu tidurku, jadi, ya, aku yakin.” Aku mengulum senyum. Dia tertawa kecil.
“Aku biarkan kamu menang kali ini karena aku benar-benar butuh berbaring di tempat tidur.” Dia berdiri, membawa bantal dan selimutnya, lalu memasuki kamar. Aku menutup pintu.
Begitu membaringkan tubuh di kasur, kami segera pulas. Bahkan ketika pagi datang dan anak-anak memasuki kamar untuk membangunkan kami, tidak ada yang mau turun dari tempat tidur. Kami berbaring berlima dengan Ara ikut meringkuk di bawah kaki kami.
Setelah kami merasa cukup istirahat, kami sarapan dan bersiap-siap untuk pulang. Kami pamit dan berterima kasih kepada pengurus vila. Hendra memasukkan kedua koper dan tempat tidur Ara ke bagasi mobil, kemudian mendudukkan Dira di tempat duduk khususnya.
“Papa di sini, sayang. Papa di sini, Dira.” Hendra memeluknya sambil mengusap-usap punggungnya. Aku ikut memeluknya.
“Mama di sini juga, Nak. Kamu baik-baik saja. Kami ada di sini.” Aku merasakan Hadi ikut memelukku dan Ara menyalak keras sambil mengitari kami.
“Mau duduk sama Mama?” tanya Hendra. “Kamu tidak bisa duduk bersama papa karena papa harus menyetir. Mama duduk bersamamu, ya?”
“Iya,” jawab Dira yang masih terisak. Hendra mempersilakan aku masuk ke mobil lalu memberikan Dira kepadaku. Aku memeluk dan menciumnya untuk menenangkannya.
Setelah menolong Hadi dan Ara duduk di jok belakang, Hendra duduk di sisiku. Dia tersenyum kepada Dira, lalu mengusap pipinya yang basah. Gadis kecil itu tersenyum saat papanya mencium pipinya. Kami memasang sabuk pengaman dan siap untuk kembali ke rumah.
Lalu lintas kembali ke Jakarta tidak padat sehingga kami hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga jam untuk tiba di rumah. Abdi, Liando, dan Sakti membantu mengeluarkan barang dari bagasi mobil. Meskipun Hadi tidur pulas, Hendra membangunkannya agar kami bisa makan bersama. Dira sudah bangun sejak kami memasuki pekarangan rumah. Ara mengikuti kami sambil mengendus-endus tempat yang baru pertama kali didatanginya.
__ADS_1
Fahri sudah menyiapkan begitu banyak menu yang lezat. Dalam satu minggu ini, perut kami sangat dimanjakan. Kami makan dengan lahap kemudian duduk bersama di ruang keluarga. Hadi duduk di samping papanya dan tidak mau melepaskan pelukannya. Dira juga begitu. Dia tidak duduk di pangkuanku dan lebih memilih duduk bersama Hendra. Ara yang tahu di mana tempatnya, sudah meringkuk di kaki Hendra.
“Lalu sekarang bagaimana?” tanyaku ketika anak-anak sudah tertidur lagi.
“Aku akan datang membawa mereka berlibur bulan depan bertepatan dengan ultah Dira. Akan aku kabari lagi kita akan pergi ke mana,” jawab Hendra.
“Kamu masih mengajakku juga?” tanyaku pelan.
“Tentu saja. Aku tahu Dira sudah dekat denganku tetapi itu karena kamu ada di sini. Aku tidak yakin dia mau bersamaku bila kamu tidak ada di dekatnya.” Dia membelai rambut putri kami. “Apa kamu tidak nyaman ikut bersama kami?”
“Apa yang sedang kita lakukan, Hendra?” tanyaku dengan nada serius. “Kita berciuman, berpelukan, bahkan hampir bercinta. Kita bukan suami istri. Lalu apa hubungan kita?”
“Terserah kamu mau menyebutnya apa. Aku tidak peduli.” Tatapan matanya kembali dingin. Setelah kami tidak berada di vila lagi, kini kami menjadi dua orang asing yang tidak punya hubungan dekat? “Kita adalah dua orang dewasa. Aku menciummu, kamu menginginkannya juga. Kamu memelukku dan aku tidak menolak. Apa untuk melakukan hal itu kita harus punya hubungan khusus?”
“Aku baru tahu kamu punya sisi ini. Apa kamu baru saja mengatakan bahwa kamu adalah seorang playboy? Kamu memeluk dan mencium wanita lain juga di luar sana?” Emosi mulai naik ke ubun-ubun kepala, tetapi aku menahan diri.
“Ada apa? Kamu cemburu?” Dia tersenyum penuh arti. Aku merapatkan bibirku. “Aku akan meminta Kafin mengantar pakaian dan barang kalian yang tertinggal di apartemenku. Jangan tersinggung jika aku tidak membalas semua pesanmu karena pekerjaan menyita waktuku.”
“Apa kamu tidak akan mengunjungi anak-anak di luar jadwalmu itu?” tanyaku penuh harap.
“Kita berdua akan ada dalam masalah besar bila anak-anak sampai terikat terlalu dalam denganku, Za. Mereka masih kecil, mereka tidak akan mengerti. Kamu dan aku sudah tidak bersama lagi,” katanya memberi pengertian.
Waktuku bersamanya pun berakhir. Satu minggu berjalan begitu cepat. Aku hanya bisa berjalan di belakangnya, mengantarnya pergi, kembali ke rumahnya sendiri. Hendra menghentikan langkahnya saat kami berdiri di teras. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya.
Tanpa memberi peringatan apa pun, dia memelukku dengan salah satu tangannya ketika tangannya yang lain berada di belakang leherku. Dia tahu bahwa aku akan menghindar dari bibirnya sehingga dia menahan kepalaku. Aku sama sekali tidak membalas ciumannya. Dia tidak bisa terus melakukan ini sesukanya sebelum ada kejelasan dalam hubungan kami.
Namun enam tahun pernikahan bukanlah sekadar angka. Dia tahu bagaimana membuatku menyerah pada sentuhannya. Aku membalas ciumannya dengan intensitas yang sama. Aku bisa merasakan bibirnya membentuk senyuman penuh kemenangan.
__ADS_1
Setelah menjauhkan wajahnya dariku, dia mendekatkan bibirnya ke telingaku. “Kamu terlalu banyak berpikir, sayang. Jika kamu menginginkan sesuatu, segera ambil sebelum didahului yang lain.”