
Teman-temanku tidak berhenti bicara sejak mereka datang menjenguk Mama. Kami tidak punya masalah apa pun dengan keributan itu. Apalagi Mama sangat senang berbincang dengan mereka. Tetapi suster sudah tiga kali masuk untuk meminta kami menurunkan volume suara.
Mama akan pulang. Kami menunggu Papa dan Hendra mengurus administrasi sambil menemani Mama agar tidak bosan. Tas berisi pakaian dan keranjang berisi peralatan pribadinya sudah aku letakkan di dekat pintu. Kami sudah siap untuk keluar dari kamar ini.
“Nah, nah, semua urusan sudah siap. Nyonya besar sudah bisa pulang,” ucap Papa riang sambil masuk ke kamar. Mereka kembali beradu bicara hingga suster datang lagi memperingatkan kami.
Kami bergegas keluar dan berbagi menggunakan elevator. Para sahabat baikku bergantian memeluk dan mencium Mama saat kami sudah berada di dekat mobilku. Aku berterima kasih atas kunjungan mereka sebelum masuk ke mobil. Kami berjanji akan bertemu lagi saat mengantar Lindsey. Aliando yang mengantar orang tuaku ke rumah, sedangkan aku bersama Hendra di mobilnya.
Aku hampir tidak mengenali pekarangan rumah kami lagi. Pagar rumah diganti dengan yang baru. Ada taman kecil dengan rumput hijau, berbagai tanaman dalam pot, bahkan ada yang digantung di atap teras rumah. Semua dinding dicat ulang, begitu juga dengan langit-langit.
Hendra berdiri di sisiku. Aku memeluknya sambil mengagumi hasil pekerjaan renovasi tersebut. Bagian luarnya saja sebagus itu, aku tidak bisa membayangkan sebagus apa lagi bagian dalamnya. Papa dan Mama masuk lebih dahulu, aku mengikuti mereka dari belakang.
Dinding dicat kembali, begitu juga dengan langit-langit ruangan. Aku melihat dapur telah diberi keramik juga kabinet yang baru. Keramik pada lantai dan bak di kamar mandi juga diganti dengan yang baru. Keadaan rumah seperti baru. Bahkan beberapa perabotan lama yang sudah tidak layak juga diganti dengan yang baru.
“Terima kasih, Hen,” ucapku pelan. Dia hanya tersenyum lalu mencium pelipisku.
Mama terus-menerus mengagumi keadaan rumah yang berubah drastis tersebut. Dia tidak berhenti mengucapkan terima kasih kepada Hendra. Papa sampai harus meminta Mama untuk tidak melihat ke seluruh ruangan di dalam rumah untuk memeriksa keadaannya. Aku dan Hendra hanya tertawa.
Kami pamit agar Mama bisa beristirahat. Hendra juga perlu segera kembali ke kantornya. Kami tidak banyak bicara selama dalam perjalanan menuju tempat kerja Hendra. Dia harus terus menelepon untuk memberi instruksi atau menjawab setiap panggilan masuk. Tetapi aku tidak keberatan.
Aku melihat pemandangan kota melalui jendela mobil dengan salah satu tangan Hendra yang tidak melepaskan genggamannya pada tanganku. Tiba di depan gedung perkantorannya, suamiku menciumku lalu segera keluar dari mobil. Malam ini dia pasti akan pulang sangat terlambat karena sudah meninggalkan kantornya begitu lama.
Entah mengapa dadaku terasa sakit melihat dia berjalan memasuki gedung dan mobil yang aku tumpangi menjauh dari gedung tersebut. Sejak mengetahui kehamilan ini, aku sering sekali tidak mengenali emosiku sendiri. Katanya, itu normal.
Tetapi aku tidak menuruti keinginan tubuhku yang berubah manja. Jika aku tidak merasa lelah, aku tetap melakukan rutinitas sehari-hariku. Hanya frekuensi makanku yang bertambah yang terpaksa aku turuti. Setiap kali lapar, aku harus makan atau suasana hatiku juga akan ikut terganggu.
__ADS_1
Hendra yang paling sulit untuk aku hadapi. Dia begitu protektif dalam segala hal. Karena dia sudah banyak membaca buku dan artikel kesehatan yang berhubungan dengan kehamilan, dia mengingatkan aku untuk tidak melakukan ini dan itu, tidak memakan ini dan itu, atau tidak memakai ini dan itu. Aku sampai heran, siapa yang sebenarnya sedang hamil.
Seperti yang terjadi pada hari ini. Kami berdebat sejak bangun pagi, mengenai rencana kepergianku ke bandara untuk mengantar Lindsey dan suaminya yang akan terbang menuju Amerika. Perjalanan menuju bandara hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam dan dia bertingkah seolah-olah aku akan berada di dalam mobil selama berhari-hari. Aku tidak keberatan jika Aliando yang mengantarku ke bandara. Tetapi itu juga tidak boleh.
Akhirnya, lagi-lagi dia dan Kafin yang mengantarku pergi ke tujuan. Karena tingkah suamiku, sopirnya menjadi korban. Perjalanan yang biasanya hanya dia tempuh dari rumah, kantor, dan tempat janji temu Hendra, kini berubah total.
Dia juga harus mengantarku terlebih dahulu ke mana saja aku harus pergi, lalu mengantar tuannya. Kemudian dia harus menjemputku lagi dan mengantarku ke rumah, lalu dia harus kembali ke kantor menunggu sampai Hendra pulang atau mengantarnya ke mana saja dia harus pergi untuk urusan pekerjaan. Barulah tugasnya selesai setelah suamiku tiba di rumah. Ya, ampun.
Tidak jauh berbeda dengan pemandangan sebelumnya, Hendra harus menjawab telepon setiap kali ada yang menghubunginya untuk membicarakan tentang pekerjaan. Kalau terus-menerus begini, aku akan menghapal di luar kepala apa saja yang menjadi tugas dan tanggung jawab dari setiap divisi yang ada di perusahaannya. Bahkan setiap posisi yang ada di sana.
“Ada apa, sayang? Dari tadi kamu membuang napas terus.” Hendra tertawa kecil.
“Apa yang kamu sebut rahasia ini, justru kamu sendiri yang membongkarnya kepada orang banyak,” protesku. Hendra melihat ke arah Kafin.
“Semua pekerja di rumah kita tahu bahwa kamu sedang hamil,” ucapnya pura-pura tidak mengerti. Aku menoleh ke arahnya dengan mulut ternganga.
“Mereka tidak akan mengetahuinya. Mereka tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan selalu ada di mana pun kamu berada.” Dia melingkarkan kedua tangannya di tubuhku dan pada saat yang bersamaan, ponselnya bergetar. Dia menggeram pelan.
“Seharusnya kamu langsung ke kantor dan biarkan Aliando yang mengantarku daripada ….” Aku terpaksa berhenti ketika dia menatapku memohon agar aku diam sejenak. Aku mendengus kesal sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku.
“Hai, Xavier,” sapanya kepada orang di seberang telepon. Aku segera menyimak mendengarnya menyebut nama tersebut. “Iya, iya. Aku sudah memesan kamar hotel, jangan khawatir. Jangan lakukan itu kepadaku, aku tidak mau mengganggu kemesraanmu dengan Nora. Iya. Baik. Aku akan memberitahumu segera setelah aku mendarat.”
“Mendarat?” tanyaku tidak mengerti setelah Hendra menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Kamu akan pergi ke London lagi?”
“Itu yang membuat aku senewen. Perjalanan ini sudah aku tunda berulang kali. Ada keadaan darurat yang mengharuskanku untuk bertemu dengannya langsung dan mendiskusikan masalah yang kami temui.” Hendra mendesah pelan. “Aku tidak ingin meninggalkanmu.”
__ADS_1
“Jika ada keadaan darurat, seharusnya kamu beritahu aku. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Ada Kafin, Yuyun, Abdi, dan pekerja lainnya di rumah kita. Juga ada kedua orang tua kita yang akan selalu memantau keadaanku seperti biasanya saat kamu keluar negeri,” ucapku menenangkannya.
“Keadaan sekarang berbeda, sayang. Kamu sedang hamil.”
“Dan dokter sudah mengatakan bahwa aku dan bayi ini baik-baik saja.”
“Tetap saja aku khawatir jika aku jauh dari kalian.”
Qiana dan Darla sudah tiba lebih dahulu saat aku dan Hendra memasuki restoran tempat yang kami sepakati sebagai titik temu. Aku sangat lapar, jadi ini adalah waktu yang tepat. Mereka sudah makan lebih dahulu. Hendra berdiri dan berjalan menuju konter untuk membeli makanan kami.
“Apa kamu tahu bahwa kami berempat bertaruh?” Darla memajukan tubuhnya untuk berbisik kepadaku. Aku mengerutkan keningku. “Apakah kamu akan datang sendiri atau bersama Hendra.”
“Serius?” Aku tertawa mendengarnya.
“Serius.” Darla membagikan uang yang ada di atas meja kepada Qiana dan Lindsey. Hanya Eduardo yang cemberut. “Dan kami bertiga sama-sama menebak bahwa suamimu pasti ikut datang ke sini.”
“Mengapa kalian tidak melakukan hal lain yang lebih berguna?” Aku menggeleng pelan.
“Ah, iya. Sebelum aku lupa.” Qiana mengeluarkan sebuah amplop. Aku dan Darla saling bertukar pandang melihatnya. “Ini daftar barang yang aku inginkan. Tenang. Aku tidak meminta Brad Pitt atau Richard Gere.” Aku dan Darla tertawa.
“Tenang, sayang.” Lindsey memukul lengan suaminya yang berwajah pucat. “Kita tidak akan membeli semua barang pesanan Qiana dengan uang kita sendiri.” Pria itu mendesah napas lega. Kami tertawa kecil melihatnya.
“Aku akan mentransfer uang sebelum Lindsey berbelanja. Jangan khawatir, Edu,” kata Qiana.
Hendra datang membawa sebuah baki. Dia meletakkan sepiring nasi dengan ayam goreng mentega dan capcay, kemudian sepiring salad buah, segelas jus alpukat, dan sebotol air mineral di depanku. Kemudian seorang pelayan membawa baki yang berisi sepiring nasi dengan menu yang sama denganku, sebotol air mineral, dan secangkir kopi yang diletakkan di depan suamiku.
__ADS_1
“Bagaimana bisa kamu makan sebanyak itu dan tetap ramping, Zahara?” Lindsey menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku hanya tertawa kecil. Aku bersyukur bahwa selama ini porsi makanku memang tidak sedikit, jadi mereka tidak curiga melihat banyaknya makanan yang Hendra belikan.
Selesai makan siang bersama, kami mengantar Lindsey dan suaminya sampai pintu masuk terminal keberangkatan. Kami memeluknya secara bergantian dan menitip pelukan juga ciuman untuk putranya yang akan diwisuda. Lindsey dan Eduardo terlihat begitu bangga saat kami menyebut tentang putra mereka.