
Aku merasa sedikit cemburu dengan perhatian yang Mama berikan kepada Nora. Dia melakukan kesalahan dan Mama dengan cepat memaafkan dia. Tetapi tidak dengan aku dan kesalahanku. Aku cepat-cepat mengalihkan pikiranku dari hal buruk itu. Aku sudah cukup mengasihani diriku sendiri. Bila aku hanya bisa memiliki Hendra, tidak apa-apa. Dia saja sudah cukup.
Mereka sudah pergi, kami hanya bertiga di dalam ruang kerja Hendra. Dia segera mendekatkan wajahnya kepadaku dan menciumku begitu lama. Dira sampai protes karena merasa diabaikan. Aku mendorongnya menjauh, dia malah memeluk tubuhku dan memperdalam ciumannya.
“Hendra!” protesku saat dia menjauhkan wajahnya dariku. Dia tertawa kecil. “Jangan membuat aku menginginkan kamu semasih kita puasa panjang begini.”
“Aku mencintaimu, sayang.” Dia mencium pipiku. “Kamu yang sabar, ya. Mama … entahlah. Mungkin karena Mama sedang sakit, dia tidak tahu harus bagaimana bersikap terhadap kamu. Papa sudah memberitahu Mama mengenai tes DNA aku dan Dira. Tetapi Mama sepertinya sulit percaya bahwa kamu tidak tidur dengan laki-laki lain selama kita berpisah.”
“Iya. Aku mengerti.” Bukan itu masalahnya. Selama Mama dekat dengan Nora, dia tidak akan lepas dari pikiran buruk mengenai aku. Wanita itulah masalahnya. Dengan mendampingi Mama selama pengobatan nanti, aku tidak heran bila hubungan mereka semakin baik.
“Seperti kata teman-temanmu, pikirkan hal yang baik saja. Ada acara besar di depan kita. Abaikan sikap Mama dan Nora tadi.” Hendra mendudukkan Dira kembali ke pangkuannya dengan tangannya tetap berada di bahuku.
“Tenang saja. Aku sudah punya kamu di pihakku. Itu lebih dari cukup.” Aku tersenyum.
“Bagus. Itu baru istriku.” Dia memindahkan tangannya ke belakang kepalaku, lalu mencium aku lagi. Aku memekik terkejut.
Aku tidak mendengar kabar apa pun dari Mama selama beberapa hari berikutnya, maka aku anggap bahwa konsultasinya dengan dokter bedah berjalan lancar. Suamiku juga tidak menyebut-nyebut apa pun tentang itu. Mama mungkin tidak mau mengabari aku, tetapi dia pasti akan memberitahu Hendra mengenai perkembangan pengobatannya.
Teman-teman datang ke rumah saat aku pulang dari menjemput gaun yang akan aku kenakan pada hari besarku. Mereka memaksa aku untuk memakainya dan menunjukkan kepada mereka. Aku terpaksa menurut dan ruangan itu segera heboh dengan pekikan mereka.
Begitu melihat aku dengan gaunku, mereka segera berdiskusi mengenai gaya tataan rambut yang cocok untukku. Aku menginginkan yang sederhana saja. Rambut panjangku diberi kesan spiral dan dibiarkan tergerai. Tetapi mereka serentak menjawab tidak. Mereka mengeluarkan sebuah tiara dari tas yang mereka bawa, lalu menunjuk model rambut yang telah mereka pilih melalui tablet Darla.
__ADS_1
“Misi kita adalah menunjukkan kepada Hendra betapa beruntungnya dia telah menikah denganmu. Juga memberitahu kepada dunia bahwa kalian masih menikah dan baik-baik saja. Jadi, kamu harus tampil sempurna. Setiap media yang meliput tidak boleh sampai memotret kamu dalam keadaan buruk, lalu menjadikan kamu bahan guyonan lagi,” kata Qiana berapi-api.
“Oh, Zahara! Kamu akan cantik sekali dengan model rambut dan tiara ini! Aku ingin sekali punya cicit yang cantik seperti kamu. Apa menurut kamu Hadi bisa kita dekatkan dengan Charlotte?” tanya Claudia penuh harap.
“Tidak!!” Aku dan teman-teman serentak memberi jawaban itu. Kami saling bertukar pandang, lalu tertawa bersama.
“Mengapa tidak?” tanya Claudia cemberut.
“Karena Hadi tidak punya ikatan emosi yang sama kepada Charlotte seperti yang dia rasakan kepada Clarissa.” Aku menggelengkan kepalaku. “Aku suka Charlotte, jangan salah paham. Dan bila Hadi jatuh cinta kepadanya suatu hari nanti, aku ingin itu terjadi secara alami. Bukan karena kita yang mendekatkan mereka berdua.”
“Baiklah.” Claudia mengalah.
“Aku lapar. Kita makan siang?” tanyaku ketika mendengar suara Hadi dan Colin memasuki rumah. Mereka serentak merapikan barang-barang mereka dan kami menuju ruang makan.
“Aku sangat senang menonton konferensi pers itu. Nora pantas mendapatkannya. Walaupun aku lebih suka melihat dia dipenjara.” Qiana tersenyum puas, lalu mendesah pelan.
“Keluarganya cukup berpengaruh. Tidak mudah untuk menghukum dia bila masalahnya hanya seputar pencemaran nama baik.” Darla menimpali. “Tetapi melihat dia mengakui perbuatannya dan meminta maaf, itu sudah cukup. Dia mempermalukan Zahara, maka dia pun dipermalukan.”
“Tetapi aku tidak mengerti. Mengapa kasus Zahara bisa heboh, sedangkan dia tidak?” tanya Lindsey bingung. “Aku tidak membaca ada komentar miring mengenai dia. Aku sangat berharap ada satu atau dua orang yang akan membukakan aibnya yang lain. Seperti fitnah yang mereka lakukan kepada Zahara. Aku sudah cari dan nihil.”
“Lindsey, keluarganya pasti membayar orang untuk langsung menurunkan komentar miring sebelum ada yang sempat membacanya. Dia sudah mengaku sendiri bahwa dia membayar orang untuk membuat komentar buruk mengenai Zahara. Maka hal yang mudah baginya untuk membayar orang menghapus semua komentar buruk tentang dia,” kata Darla.
__ADS_1
“Benar juga. Wanita itu sangat jahat.” Lindsey bergidik pelan.
“Kalau kalian mau berita mengenai dia menjadi besar, itu hal yang mudah. Apa aku boleh turun tangan?” tanya Claudia penuh harap.
“Tidak!!” kata kami dengan cepat. Claudia kembali cemberut.
“Tipikal orang Asia. Lain di mulut, lain di hati,” keluhnya. “Aku tidak akan melakukan yang kalian lakukan. Aku tidak akan segan-segan membalas perbuatan orang yang jahat kepadaku.” Aku sudah melihatnya langsung saat mereka membalas perbuatan sopir tersebut. Sadis, tetapi adil.
“Balas dendam tidak akan ada habisnya. Meskipun dia mengakui kejahatannya dan meminta maaf, dia bisa saja melakukan serangan kepada Zahara. Kalian dengar sendiri bahwa dia mengaku cinta kepada Hendra. Itu artinya, dia belum menyerah.” kata Darla mengingatkan.
“Darla benar. Nora mendapatkan dukungan penuh dari mertuaku. Kalian tahu bahwa Mama masih marah kepadaku dan berharap aku meninggalkan suamiku. Mama sangat dekat dengan wanita itu,” kataku pelan. “Bahkan untuk urusan berobat, Mama lebih memilih dia untuk menemaninya.”
“Berobat?” tanya Lindsey khawatir. “Tante Naava sakit apa?”
“Kanker päyúdara stadium dua.”
“Oh, Tuhan.” Mereka serentak menatapku dengan sedih.
“Aku turut sedih, Zahara. Entah mengapa masalah dalam keluargamu tidak juga berakhir. Semoga Tante Naava mendapatkan pengobatan yang terbaik dan bisa pulih,” kata Lindsey penuh simpati. Aku berterima kasih kepada mereka.
“Mengapa dia memilih wanita itu untuk mendampinginya? Aku tidak yakin Nora akan mendampingi Tante Naava dari awal pengobatan sampai sembuh nanti. Bila dia tidak mau kamu yang bersamanya, mengapa tidak mempekerjakan seorang perawat pribadi saja?” tanya Qiana khawatir. Aku tersenyum mendengar dia punya pendapat yang sama dengan Hendra.
__ADS_1
“Sudah jelas. Tante Naava ingin membuktikan kepada Zahara dan Hendra bahwa Nora adalah wanita yang terbaik untuk putranya.” ucap Claudia menyimpulkan.
Lindset menggeleng tidak mengerti. “Kejahatan Nora lebih besar dari kesalahan yang Zahara lakukan. Aku mengerti bila dia masih butuh waktu untuk memaafkan sahabat kita. Tetapi mengapa Tante Naava tetap berpihak kepada wanita itu?”