
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Hendra menyusupkan tangannya ke depan tubuhku, lalu meletakkan sisi pipinya di sisi kepalaku. Perbedaan tinggi badan kami sebagai jelas setiap kali aku tidak memakai sepatu berhak tinggi. Dan aku tahu dia tidak nyaman menunduk begini.
“Setelah gagal menggunakan Hadi, dia berniat melibatkan Dira juga? Apa dia benar-benar manusia?” tanyaku menyampaikan apa yang mengganggu pikiranku dari tadi.
“Orang seperti dia terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Semakin sulit dimiliki, dia semakin terobsesi untuk merebutnya.” Dia menatap aku dari kaca jendela kamar di depan kami.
“Sama seperti kamu,” godaku.
“Aku tidak pernah menempatkan kamu pada posisi sulit. Kamu menolak, aku mencoba lagi. Aku tidak pernah memaksakan kemauanku kepadamu. Apalagi sampai menyakiti orang-orang yang kamu sayang atau menyebarkan aib mereka,” kata Hendra membela diri.
“Tetap saja kamu akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan,” kataku menyimpulkan. “Heran. Bagaimana aku bisa jatuh cinta kepada Vivaldo?”
“Apa aku perlu membantu kamu untuk mengingatnya?” tanya Hendra menggoda aku. Dia sedang tersenyum licik dari bayangan wajahnya yang terpantul di kaca jendela. “Dia tampan, setia, baik hati, mencintai kamu sepenuh hatinya ….”
“Hentikan.” Aku tertawa geli mengingat kalimat itu.
“Mencintai keluarganya, pekerja keras …,” lanjutnya. Aku membuka tautan tangannya di depan dadaku agar dia melonggarkan pelukannya.
“Aku bilang, hentikan.” Aku membalikkan badanku agar bisa melihat wajahnya. Hendra tertawa. “Apa kamu menghapal semua yang aku ucapkan pada hari itu?”
“Setiap kata yang kamu ucapkan,” katanya dengan serius. Aku mengangakan mulutku. “Itu adalah hari pertama kamu menginjak rumahku, datang menemui aku atas keinginan kamu sendiri, dan kamu cantik sekali dengan api di matamu. Lalu beberapa saat setelah kamu pergi, Papa menelepon dan memberitahu bahwa kamu bersedia menikah denganku. Hari terbaik dalam hidupku.”
“Tetapi itu hari terburuk untukku.” Aku cemberut. Aku melingkarkan tanganku di tubuhnya, lalu meletakkan kepalaku di dadanya. Aku memejamkan mata menikmati irama debaran jantungnya. “Apa kita tidak bisa bercinta satu kali saja?”
“Tidak. Sekalipun kita memakai pelindung, bagaimana kalau kamu sampai hamil? Tubuh kamu masih dalam masa pemulihan,” tolaknya dengan tegas.
“Suami lain pasti senang saat istrinya yang mengajak bercinta. Kamu malah menolakku berulang kali.” Aku melepaskan diri dari pelukannya, dia tidak melonggarkan dekapannya. “Lepaskan aku!”
“Kamu mengejek bahwa aku selalu menggunakan cara apa saja untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Lalu bagaimana dengan sikapmu ini? Hm?” Dia menelusuri pelipis, pipi, hingga telingaku dengan hidung besarnya itu.
__ADS_1
“Kita tidak sama,” kataku tersinggung disamakan dengan dia dan Nora yang egois itu.
“Aku berjanji, setelah tiga bulan berlalu, kita akan bercinta sepanjang hari. Anak-anak akan kita titipkan di rumah Papa dan Mama. Kalau perlu, aku akan membahagiakan kamu sampai kamu tidak bisa bangun dari tempat tidur lagi,” bisiknya. Hm. Godaan yang sulit untuk ditolak.
“Apa konsekuensinya kalau kamu gagal memenuhi janjimu ini?” tantangku, pura-pura tidak tertarik dengan idenya itu.
“Lakukan apa saja yang kamu mau. Aku milikmu sepenuhnya,” jawabnya. Kapalaku segera dipenuhi dengan berbagai ide cemerlang untuk menghukum dia bila tidak menepati janji.
Sebagai sahabat yang tidak pernah mengecewakan aku, teman-teman segera datang ke butik ketika aku meminta mereka untuk menemui aku. Aku hanya punya waktu satu minggu untuk menyiapkan acara ulang tahun pernikahanku dan Hendra.
Mereka membantu aku memilih gaun untukku dan setelan untuk Hendra. Kami hanya butuh waktu satu jam untuk menemukan desain yang tepat untuk kami. Hendra menuju kantornya, aku dan teman-teman melanjutkan persiapan berikutnya.
Aku tidak perlu mengkhawatirkan tempat karena Hendra sudah lama memesan aula di sebuah hotel. Kami hanya perlu memilih menu makanan dan minuman, serta dekorasi ruangan juga panggung. Hendra menyarankan untuk membuat undangan digital dan tidak mencetak apa pun.
“Ini seperti resepsi pernikahan dibandingkan dengan ulang tahun pernikahan.” Darla melihat-lihat bunga mawar yang ada di toko bunga yang kami datangi. Ini adalah hari kedua mereka membantu aku mempersiapkan acara bahagiaku.
“Apakah sudah ada kabar dari Hendra dan Helmut mengenai kelanjutan rencana kita? Apa mereka sudah berhasil menemukan sesuatu yang bisa memenjarakan mereka?” tanya Claudia ingin tahu.
“Ini baru hari kedua, Claudia. Tenang saja. Kalau Hendra sudah ada kabar baik, dia pasti akan segera memberitahu kita,” ucap Lindsey. Dia memasukkan kembali kartu kreditnya ke dalam dompet setelah membayar bunga untuk hiasan rumahnya. Claudia mendesah pelan.
“Oke. Semua yang ada dalam daftar sudah beres. Tinggal menunggu hari perayaannya saja,” ucapku puas. Aku memeluk mereka. “Terima kasih untuk bantuan kalian semua.”
“Ayo, saatnya makan. Aku sudah lapar.” Darla mengelus-elus perutnya.
Kami memilih salah satu restoran terdekat dan segera memilih berbagai makanan pembuka untuk bisa segera kami nikmati. Setelah pesanan pertama kami dimasukkan ke dalam sistem, pelayan kembali mendatangi meja kami agar kami bisa memesan menu makanan utama.
“Claudia, kamu yakin tidak apa-apa mengundur tanggal kepulangan kalian?” tanyaku khawatir.
“Mason bisa bekerja dari mana saja yang dia mau. Perusahaan itu miliknya. Jadi, kamu jangan khawatir.” katanya santai. “Kami tidak akan mau ketinggalan perayaan besar tahun ini. Kamu dan Hendra kembali bersama itu bukan hanya kebahagiaan kalian. Tetapi kebahagiaan kami juga.”
__ADS_1
“Terima kasih.” Aku tersenyum kepadanya.
“Hei, mengapa kita tidak ikut mereka saja ke Amerika?” ucap Lindsey memberi saran. “Anak-anak sudah cukup besar untuk dibawa berlibur. Mereka tidak banyak mengeluh selama kita berlibur di Samosir. Bukankah kita juga sudah lama ingin berlibur ke luar negeri?”
“Oh, aku mohon, aku mohon, aku mohon, jawab iya,” pinta Claudia dengan wajah memelas. Kami tertawa melihatnya. Itu rencana yang baik di waktu yang baik. Kami saling bertukar pandang.
“Kita hampir melupakan seseorang,” kataku mengingat satu orang yang tidak ada di antara kami. “Rasmi sedang mengandung. Aku tidak yakin ini waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan sejauh itu. Dia bisa merajuk berbulan-bulan bila kita pergi tanpa mengajaknya.”
“Ah, benar juga,” ucap Lindsey. Kami terdiam sejenak.
“Bukankah itu ibu Hendra?” Qiana memandang ke arah pintu masuk. Aku menoleh ke belakang dan melihat Mama berjalan bersama teman-temannya menuju meja yang sudah dipesan.
“Hubungan kalian masih buruk?” tanya Lindsey. Aku mengangguk pelan. “Entah apa tanggapannya kini setelah tahu seperti apa Nora itu. Dia pasti sangat kecewa.”
“Tetapi dia pandai menyembunyikan emosinya.” Darla menatap kami satu-persatu. “Kalian harus lihat bagaimana tenangnya dia saat video itu diputar di depan semua orang. Mereka yang kaya dari lahir memang beda. Dia sangat pintar membawa dirinya. Aku sampai cemburu melihat betapa baiknya dia mengendalikan dirinya.”
Melihat Mama mengingatkan aku pada percakapan dengan dua suster saat melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di rumah sakit. Bila dilihat baik-baik, Mama sehat dan tidak tampak sakit. Dia bahkan tertawa bahagia bersama teman-temannya. Syukurlah, Mama sudah bisa berekspresi dengan bebas lagi. Sejak Hendra mengonfirmasi semua gosip yang Nora dan Dicky sebarkan, sudah tidak ada lagi orang yang berani menghina atau mengejek kami.
Sepulang dari makan siang, aku menyempatkan diri mampir ke rumah sakit. Suster Henny bertugas pada hari ini, jadi aku bisa langsung bicara dengannya. Dia mengajakku untuk menemui dokter yang sudah bicara dengan Mama. Kebetulan dokter tersebut sudah mengakhiri tugas dan bersiap menuju tempat praktik berikutnya.
“Ini sebenarnya rahasia dan tidak bisa saya diskusikan dengan keluarga pasien tanpa persetujuan pasien. Tetapi karena sudah sebulan lebih saya tidak mendengar kabar apa pun darinya, saya butuh bantuan keluarga untuk bicara dengannya. Nyawanya lebih penting daripada izin praktikku.” Dokter itu duduk di kursinya.
“Maafkan saya, Dok,” ucapku segan. Dia menggeleng pelan seraya tersenyum.
“Ibu Naava.” Dia membuka sesuatu pada komputernya. “Ini dia. Kanker päyúdara stadium dua. Sifat kankernya agresif namun belum menyebar ke kelenjar getah bening. Ini adalah kelenjar yang ada di bawah ketiak. Bila tidak segera ditangani, saya khawatir kankernya bisa menyebar ke organ lain juga. Yang terdekat adalah paru-paru. Jadi, sebelum hal itu terjadi, saya memintanya untuk berobat.”
“A-apakah harapan hidup mamaku tinggi, Dok?” tanyaku khawatir.
“Semakin cepat kankernya ditangani, semakin tinggi harapan hidup pasien.”
__ADS_1