Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 190 - Hari Pertama


__ADS_3

Hendra tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merayakan kemenangannya. Pagi itu dia segera memulai satu minggu hadiah taruhannya. Aku tidak boleh mengeluh saat kami joging pagi. Aku sudah biasa melakukannya setiap hari, tetapi bukan salahku bila aku tidak suka bangun pagi.


Ara tidak membuat segalanya mudah bagiku. Dia malah berlari-lari memutari kakiku sambil menyalak senang. Mengapa dia tidak berlari saja di depanku bersama Hadi dan Dira? Belum lagi suamiku sengaja memamerkan bahwa dia melakukan putaran lebih banyak dariku.


“Tersenyum, sayang. Kalau kamu tidak mau menerima konsekuensi dari mengeluhkan olahraga pagi, jangan pasang wajah murung begitu,” katanya yang sengaja berlari-lari kecil di sisiku. Aku segera memasang senyum termanisku. Aku tidak mau tahu hukuman apa yang sudah dia siapkan untukku.


Begitu dia tidak melihat ke arahku lagi, aku mendesah keras. Aku sudah berlari selama tiga puluh menit, sampai berapa lama lagi baru aku boleh berhenti? Anak-anak masih bersemangat, masa aku harus ikut berlari juga? Dan mengapa pekarangan kami terasa semakin luas pagi ini?


Papa dan Mama datang untuk menjaga anak-anak, maka aku dan Hendra pergi ke rumah sakit bersamaan dengan Liando pergi mengantar Hadi ke sekolah. Suamiku tidak ikut turun dari mobil karena ada rapat penting yang harus dihadiri. Dugaanku benar. Wartawan kemarin hanya datang untuk mencari Nora. Pagi ini tidak ada satu orang pun yang menunggu di pintu masuk.


Melihat Papa tidak ada di ruang tunggu, aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar. Mendengar jawaban dari dalam, aku membuka pintu secara perlahan. Papa dan Mama menatap aku. Papa dengan senyum penuh artinya, sedangkan Mama dengan wajah tidak sukanya.


“Sudah jam berapa ini kamu baru datang?” omel Mama saat aku bahkan belum menutup pintu. “Dokter sudah pergi dan aku sudah melakukan olahraga ringan. Aku tidak suka sarapan yang sudah disiapkan rumah sakit. Rasanya tidak enak. Mulai besok, bawakan masakan Fahri.”


“Sayang, dia baru datang, kamu malah mengomelinya. Setidaknya tunggu sampai dia duduk,” kata Papa melerai. “Duduk di sini, Zahara. Apa itu yang kamu bawa?”


“Selamat pagi, Pa, Tante. Aku membawakan makan siang untuk kita.” Aku meletakkan tempat bekal yang aku bawa di atas meja di samping sofa.

__ADS_1


“Aku mau memakannya sekarang.” Mama menjulurkan tangannya.


“Tidak sekarang, sayang. Bila kamu lapar, aku yakin sebentar lagi kudapan akan diantar untukmu.” Papa melarang. Mama cemberut mendengarnya.


“Kalau Tante lapar, ada salad buah. Apa Tante mau?” ucapku menawarkan.


“Apa kamu tidak mendengarkan aku, Zahara? Kudapan untuk istriku akan diantar nanti,” kata Papa mengulangi kalimatnya tadi.


“Berhenti menggoda Tante, Pa. Ini hanya buah. Aman untuk dimakan.” Aku tertawa kecil. Aku tahu bahwa Papa sengaja membuat Mama marah.


“Seharusnya Hendra ada di sini agar aku tidak kalah melawan kalian berdua.” Aku dan Mama tertawa mendengarnya.


Aku mengeluarkan salah satu kotak bekal yang berisi potongan buah, lalu wadah kecil yang berisi saus salad khusus yang sudah disiapkan oleh Fahri. Aku membagi buah tersebut pada tiga piring, menuang saus di atasnya, lalu meletakkan piring pertama di atas meja beroda di depan Mama. Dia segera melahapnya. Aku dan Papa saling bertukar pandang. Aku memberikan bagian Papa dan kami makan bersama.


Bagian dada yang dioperasi adalah bagian kiri, jadi Mama bisa menggunakan tangan kanannya dengan leluasa. Lagi pula Mama adalah wanita yang mandiri. Dia tidak akan mau meminta tolong meskipun dia merasa sakit atau tidak nyaman menggunakan tangan kanannya tersebut.


“Pa, tolong besarkan volume TV-nya.” Mama menatap layar dengan serius. Aku ikut menonton apa yang telah menarik perhatiannya.

__ADS_1


Ada tayangan berita terkini di televisi. Tulisan pada layar menyatakan bahwa ada pertemuan dadakan antara pemegang saham Kencana Karya Grup. Beberapa orang yang tidak aku kenal memenuhi layar televisi. Mereka keluar dan masuk sebuah gedung yang dikelilingi oleh wartawan. Perusahaan milik keluarga Nora.


Lalu tayangan itu berganti fokus pada sebuah ruangan dan tulisan juga diganti bahwa konferensi pers telah berlangsung. Vakumnya kepemimpinan perusahaan itu mendorong para pemegang saham untuk bertemu dan memutuskan siapa yang menjadi direktur utama selanjutnya.


Mereka menyebut nama seorang pria yang mengejutkan banyak orang. Karena semua menganggap bahwa Nora selaku wakil direktur utama akan automatis dipilih menjadi direktur utama berikutnya. Lalu mereka menyebutkan alasannya secara blak-blakan. Nora bukanlah anak kandung Om Nelson dan istrinya. Maka saham sebesar dua puluh lima persen yang diwariskan neneknya kepadanya dianggap tidak sah. Saham itu diberikan kepada keponakan terdekat Om Nelson yang lebih memiliki hak atas warisan tersebut.


“Nora bukan anak kandung Nelson?” ucap Mama pelan. Aku dan Papa saling bertukar pandang sebelum melihat ke arah Mama. Dia masih mengarahkan pandangannya ke televisi. Terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Bagaimana bisa tidak ada yang mengetahui hal itu?”


“Mereka bertiga sengaja menyembunyikannya agar perusahaan itu tetap menjadi milik keluarga mereka,” jawab Papa. Mama menoleh ke arahnya.


“Nelson punya bagian saham sebanyak dua puluh lima persen. Nora juga. Bila bagian Nora diberikan sepenuhnya kepada sepupunya, bukankah bagian mereka tetap lebih banyak? Aku tahu bahwa istrinya punya lima persen saham di sana.” Mama terlihat sedang berhitung dengan hati-hati. “Bila mereka berdua memberikan bagian mereka kepada Nora, dia tetap bisa menjadi direktur utama.”


“Apa kamu lupa bahwa sepupunya itu punya bagian saham sebanyak sepuluh persen? Dan aku yakin bahwa dengan kebohongan besar yang mereka sembunyikan ini, tidak ada pemegang saham yang mau memihak kepada mereka lagi. Kencana Karya adalah perusahaan keluarga. Mereka pasti akan mendukung anggota keluarga mereka sendiri untuk menjadi pucuk pimpinan,” kata Papa.


“Ini kemenangan mudah bagi keponakan Nelson. Dia cukup mendapat tambahan dukungan sebesar enam belas persen saja, sudah bisa duduk di kursi direktur utama. Tetapi aku yakin dia mendapat lebih dari itu. Dia anak yang cemerlang. Kencana Karya akan baik-baik saja di tangannya.” Papa memasukkan sepotong buah ke dalam mulutnya dengan wajah bahagia.


“Aku tidak percaya mereka melakukan semua ini. Bila hanya mereka bertiga yang mengetahui tentang status Nora, bagaimana rahasia ini bisa terbongkar?” tanya Mama heran. Dia melihat ke arah aku dan Papa. Kami sama-sama hanya menggelengkan kepala kami.

__ADS_1


Mama tidak perlu tahu mengenai Annora dan rencananya yang telah membantu membongkar rahasia besar tersebut. Entah bagaimana cara dia meyakinkan keluarga itu mengenai status Nora yang sebenarnya, aku merasa lega sekaligus kasihan karena bukan dia yang menjadi pemimpin tertinggi di perusahaan yang dia pikir adalah miliknya tersebut.


“Kalian tidak terlihat kaget dengan berita itu. Kalian pasti sudah tahu mengenai hal ini sebelumnya, ‘kan?” tanya Mama curiga. “Atau jangan-jangan, ini semua adalah rencana Hendra?”


__ADS_2