Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 60 - Silakan Khianati Aku


__ADS_3

~Za~


Aku terduduk lemas saat mendengar laporan dari Liando. Suamiku mengetahui kejadian pada malam itu kemarin dan menanyakan kebenarannya kepadanya. Hendra tidak sepenuhnya percaya kepada Aldo, jadi dia mengonfirmasinya kepada sopir yang menemaniku pada hari itu.


“Maafkan saya, Nyonya. Saya telah melakukan kesalahan besar.” Liando berlutut di lantai.


“Tidak. Aku mohon, jangan lakukan ini. Duduklah. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku yang bersalah. Tidak ada gunanya kamu berbohong dan menyembunyikan kejadian pada malam itu dari Hendra. Cepat atau lambat, dia akan mengetahuinya juga.” Dia menurut dan kembali duduk.


“Bila dia sampai tahu bahwa kamu berbohong kepadanya, kamu akan kehilangan pekerjaanmu. Aku tidak mau menyusahkan kalian karena ulahku sendiri. Jangan khawatirkan aku atau suamiku. Kami akan selesaikan masalah di antara kami tanpa melibatkan kalian,” kataku berjanji.


Aku tidak tahu apa yang akan Hendra lakukan selanjutnya. Dia berkata bahwa dia tidak akan menceraikan aku dan membebaskan aku untuk melakukan apa pun dengan pria lain. Apakah dia mengatakannya hanya karena dia sedang marah atau ini adalah keputusan final? Aku tenang bila kami tetap bersama, aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan cintanya kembali.


Tetapi bila dia terus menghindariku, maka kami sama saja seperti pasangan yang sudah bercerai. Dia meminta kepada Abdi untuk memindahkan pakaian dan barang pribadinya ke kamar lain. Aku dan dia tidak tidur dalam satu kamar lagi. Malam ini pun aku makan seorang diri. Sudah pukul sepuluh malam dan dia belum juga pulang. Apakah dia ada janji makan malam?


Hatiku melompat bahagia ketika mendengar deru halus mesin mobilnya. Aku bergegas menuju pintu depan. Tidak lama kemudian Abdi membukakan pintu dan Hendra berjalan masuk ke rumah. Aku segera menyambutnya. Dia tidak melihat ke arahku melainkan langsung berjalan menuju tangga. Perubahan sikap yang layak aku terima.


Mataku kemudian menangkap sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Aku melihat ke arah tangan kanannya yang digips. “Hendra? Apa yang terjadi pada tanganmu?” tanyaku khawatir. Dia hanya diam dan berjalan terus menuju kamar di mana dia tidur sekarang.


Dia memegang kenop pintu dan memutarnya. Aku masih mengikutinya. Dia menoleh ke arahku dengan tatapan dinginnya. “Dia seharusnya tidak menyentuhmu dengan tangannya. Dia tahu kamu adalah istriku. Tapi dia mengambil kesempatan karena hatimu masih untuknya.”


“Tidak, Hen, kamu salah.” Hatiku bukan miliknya, tetapi milikmu. Mengapa begitu sulit bagiku untuk mengucapkan kalimat itu? Apa aku takut dia akan menolakku mentah-mentah jika aku jujur mengatakan perasaanku kepadanya?


“Silakan khianati aku sesukamu, Zahara. Tapi kamu tidak akan pernah bisa pergi dariku.” Dia masuk ke kamar dan menutup pintu tepat di depan wajahku. Zahara. Dia tidak lagi memanggilku Za, tetapi Zahara. Dadaku terasa perih karenanya.


Aku tidak bisa tinggal diam melihat pernikahanku hancur karena ulah orang lain. Entah bagaimana Aldo bisa tahu ke mana saja aku pergi dan selalu mendekatiku di saat aku sedang sendiri, maka aku pergi ke supermarket pada hari Kamis itu.

__ADS_1


Rencanaku ini sangat berisiko tetapi aku tidak punya cara lain selain bicara langsung dengannya. Aku tidak bisa diam saja membiarkan dia menyebarkan kebohongan mengenai kami berdua. Apalagi dia tidak hanya menyakiti suamiku lewat tindakannya itu. Dia juga menyakitiku. Oh, Tuhan. Aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi andai orang tua dan mertuaku mengetahui hal ini.


“Nyonya, mengapa kita datang ke tempat ini lagi? Bukankah Anda sudah memutuskan untuk pindah ke supermarket lain?” tanya Liando dengan bingung.


“Aku ingin menyelesaikan masalahku. Tolong awasi aku dari jauh. Selamatkan saja aku walau aku tidak memberimu sinyal apa pun.” Aku keluar dari mobil tanpa menunggu jawabannya.


Karena aku tidak datang untuk berbelanja, aku tidak mengambil troli dan hanya berdiri menunggu sampai dia datang. Benar saja. Tidak sampai lima menit menunggu, dia berjalan ke arahku dari pintu masuk supermarket. Dia tidak mencari lokasiku sama sekali melainkan langsung datang mendekatiku. Tidak salah lagi. Dia menguntitku atau ada orang yang selalu mengikuti ke mana pun aku pergi.


“Hai, sayang.” Aku segera mundur ketika dia berusaha untuk memelukku. Dia mengerutkan kening sebelum tersenyum, lalu melihat ke tanganku. “Kamu tidak berbelanja?”


“Kita perlu bicara.” Aku tidak melihat apakah dia mengikutiku. Aku berjalan ke bagian lain bangunan yang tidak dilalui banyak orang. Koridor di antara sebuah restoran dan pintu belakang terlihat cocok untuk menjadi tempat kami bicara. Aku membalikkan badan, dan dia juga ikut berhenti. “Seharusnya kamu tidak memberitahu Hendra,” kataku tanpa berbasa-basi.


“Aku harus melakukan itu karena kamu tidak akan pernah berani melakukannya,” ujarnya dengan nada serius. Aku bingung mendengar kalimatnya itu.


“Aku tidak pernah bilang bahwa aku ingin meninggalkan Hendra atau kembali kepadamu,” kataku.


“Apa? Kita tidak bertemu, kamu yang menemuiku.” Aku segera meralatnya. “Berhenti mengatakan sesuatu yang tidak benar. Ada apa ini? Apa kamu mau menghancurkan pernikahanku?”


“Ara ….” Dia berusaha untuk meraih tanganku. Aku segera mundur menjauh. “Tidakkah kamu bahagia kita diberi kesempatan kedua untuk kembali bersama? Ini saatnya bagi kita untuk meraih kebahagiaan yang sempat direnggut dari kita.”


“Kamu terlambat, Aldo. Tidak ada kesempatan kedua untuk kita. Kamu sudah kehilangan aku sejak kamu berhenti berjuang untuk cinta kita,” kataku dengan tegas.


“Berhenti berjuang? Siapa yang akhirnya memutuskan untuk setuju menikah dengan orang lain?” protes Aldo. Aku menatapnya tidak percaya.


“Siapa yang akhirnya memberikan ciuman pertamanya kepada orang lain?” protesku tidak mau kalah. Dia membulatkan matanya. Dia mundur selangkah seolah-olah aku baru saja memukulnya dengan keras lewat kalimat itu.

__ADS_1


“Kamu, kamu melihatnya?” tanyanya terbata-bata.


“Tentu saja aku melihatnya. Apa kamu lupa bahwa kita ada janji pada hari itu?” tanyaku tidak mengerti. Kami memang tidak pernah membicarakan penyebab hubungan kami berakhir. Tetapi, masa iya, istrinya tidak pernah mengatakan bahwa aku melihat mereka berciuman pada hari itu?


“Kamu tidak datang. Aku datang ke rumahmu dan papamu bilang kamu sedang tidak di rumah,” ucapnya pelan, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada hari itu.


“Aku memang sedang tidak di rumah. Aku menangis sepanjang jalan karena patah hati,” ucapku tanpa emosi. Aku sudah tidak merasakan apa pun lagi sekarang setiap kali mengingat kejadian yang pernah menghancurkan hati dan hidupku itu.


“Ara, maafkan aku,” ucapnya dengan nada memelas. Dia mengulurkan tangannya, tetapi aku hanya menatapnya tanpa emosi.


“Tidak ada gunanya lagi. Kamu sudah memilih jalan hidupmu tanpa aku. Aku juga telah memilih jalan hidupku tanpamu.” Aku menggelengkan kepalaku.


“Ara, aku mohon. Jangan lakukan ini lagi padaku. Jangan tinggalkan aku.” Dia masih mencoba untuk meraih tanganku, tetapi aku kembali mundur.


“Apa yang kita lakukan adalah kesalahan. Kita tidak bisa memiliki apa yang telah kita tinggalkan di masa lalu. Kamu bukan lagi Vivaldo yang aku kenal. Kamu rela melakukan apa saja demi memiliki apa yang kamu inginkan. Aldo yang aku kenal tidak begitu,” kataku tidak percaya.


“Oke. Aku mengaku salah telah menemui Hendra dan memberitahu segalanya tentang kita. Tapi kalau bukan aku yang mengatakannya, dia tidak akan pernah tahu dan kamu tidak akan pernah jadi milikku.” Aku benci setiap kali dia mencari pembenaran atas tindakan jahatnya.


“Aku tidak pernah bilang ingin menjadi milikmu,” kataku lagi dengan tegas.


“Setelah kita begitu intim, kamu bilang kamu tidak pernah bilang ingin menjadi milikku?”


“Itu tidak ada artinya sama sekali bagiku. Aku tidak merasakan apa-apa.”


“Tidak merasakan apa-apa? Siapa yang sedang kamu bohongi? Kamu jelas suka dengan apa yang kita lakukan di kamar hotel itu,” ujarnya bersikeras.

__ADS_1


“Kamu benar-benar sudah berubah.” Aku menatapnya tidak percaya. “Atau jangan-jangan inilah kamu yang sebenarnya yang tidak aku sadari sebelumnya?”


__ADS_2