
Aku membiarkan air mataku jatuh membasahi wajahku. Benteng pertahananku runtuh seketika. Kalimat itu tidak hanya dia ucapkan dengan wajah dinginnya, tetapi juga dengan mata yang menatapku tajam penuh dengan kebencian. Kalimat itu tidak dia ucapkan dengan makna kosong. Hendra yang sangat aku cintai kini benar-benar membenciku.
Sebelum kakiku menyerah menahan berat badanku sendiri, aku bersandar pada dinding. Aku sebelumnya tidak merasakan ini, tetapi sekarang aku merasa sangat kotor. Kesalahan satu malam itu telah mengubah suami yang sangat mencintaiku menjadi benci kepadaku. Caranya menatapku seperti melihat kotoran yang sangat menjijikkan.
“Apakah kamu yakin, kita akan bertahan hidup bersama selamanya seperti ini? Jika kamu begitu membenciku, mengapa tidak lepaskan aku saja? Kita tidak perlu lagi saling menyakiti. Bila setiap kali melihat aku membuatmu terluka, tolong, akhiri saja semua ini. Aku tidak sanggup lagi,” isakku.
“Tidak sampai satu bulan, kamu sudah tidak sanggup? Apa kamu tahu bahwa aku harus menghadapi rasa bencimu kepadaku selama enam tahun? Aku menanti kamu bisa membalas cintaku selama enam tahun kita bersama. Aku mencintaimu, memujamu, mendambakanmu, memanjakanmu selama enam tahun tanpa pernah merasa lelah.
“Aku tidak sanggup melihat pria lain menyentuh tanganmu. Apa kamu pikir aku bermain-main dengan melarangmu dekat dengan pria mana pun? Aku serius, Zahara. Apa kamu tidak bisa mengerti rasa sakit yang harus aku tahan mendengar kamu memberikan tubuhmu kepada orang lain? Dan bukan orang biasa. Pria itu adalah orang yang selama ini kamu cintai.
“Tidak apa-apa jika kamu belum bisa mencintaiku. Tetapi mengapa tubuhmu juga harus kamu berikan kepadanya? Aku adalah satu-satunya pria yang pernah menyentuhmu seintim itu. Teganya kamu. Kamu memberikan satu-satunya milikku kepadanya.
“Menyentuhmu seperti tadi dan melihatmu seperti ini, bukan hal yang mudah bagiku. Aku tidak bisa tidur bersamamu lagi, aku juga tidak kuat berada satu ruangan denganmu lagi. Karena setiap kali melihatmu, aku tahu bahwa kamu bukan milikku lagi. Hatimu dan tubuhmu sekarang sepenuhnya milik kekasihmu itu. Sudah tidak ada lagi tempat untukku.”
“Maafkan aku,” pintaku penuh harap. “Aku mohon maafkan aku.”
Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah kami bicara pada malam itu. Yang aku ingat hanyalah aku terduduk di lantai dan kami menangis bersama. Tetapi bangun tidur pada pagi harinya, aku sudah berbaring di tempat tidur. Seorang diri.
Saat aku turun ke ruang makan, Hendra tidak ada di sana. Dan aku patah hati mendengar laporan dari Abdi. Suamiku pergi keluar kota subuh tadi. Dia baru saja pulang dan sudah pergi lagi? Berapa lama kepergiannya kali ini? Dua minggu? Satu bulan? Mendengar pengakuannya semalam, aku tidak berani mengirim pesan kepadanya. Aku tidak mau membuatnya terluka setiap kali bicara denganku.
Mungkin lebih baik begini. Kami menjaga jarak untuk beberapa waktu sampai entah kapan waktu akan menyembuhkan luka di hatinya. Seperti dia yang telah sabar menghadapi aku, kini giliranku bersabar menunggu dia pulih dari rasa sakitnya.
Untuk pertama kalinya, aku datang sendirian memenuhi janji konsultasi ke dokter kandungan. Aku mendapat nasihat panjang lebar karena berat badanku tidak naik sesuai yang diharapkan. Dokter membuatku berjanji agar menjaga diriku dengan baik demi bayi dalam kandunganku.
__ADS_1
Kedua ibuku masih datang secara rutin setiap pagi untuk senam bersamaku. Sesekali aku menginap di rumah salah satu dari mereka. Dan aku senang Mama menuruti saran yang dianjurkan oleh ibu mertuaku. Aku bisa melihat Papa sangat bahagia melihat Mama menjadi jauh lebih muda dan cantik hanya dengan mengganti gaya berpakaiannya saja.
Aku dan Zach berlomba menggoda mereka berdua yang bagaikan remaja yang sedang dimabuk asmara. Diam-diam aku merasa cemburu melihat kemesraan mereka. Aku sudah lama tidak merasakan sentuhan dari suamiku lagi. Cepat-cepat aku membuang pikiran itu dari kepalaku. Aku sudah lama bersikap egois memamerkan kemesraan kami. Seharusnya aku merasa bahagia untuk orang tuaku. Bukan malah mengasihani diri.
Begitu mengetahui bahwa Hendra keluar kota lagi, teman-teman datang ke rumahku dan menolak bertemu di restoran atau kafe langganan kami. Aku dengan senang hati menyambut mereka. Lagi pula aku juga sudah rindu makan rujak yang selalu menjadi favorit kami semua.
Lindsey dengan panjang lebar menceritakan mengenai persiapan pernikahan anaknya. Dia mengingatkan kami agar menjahit bahan pakaian yang sudah diberikannya kepada kami. Aku segera meminta Yuyun untuk mengambilkan gaunku tersebut. Mereka segera bersorak senang melihat desainnya yang sangat bagus.
Darla menceritakan mengenai rencana liburannya bersama suaminya ke luar negeri. Lindsey dan Qiana segera mengusulkan nama-nama negara untuk dia kunjungi. Tentu saja aku dan Darla tahu alasan utama mereka menyampaikan semua itu. Mereka ingin menitip membeli barang desainer terkenal yang dijual di negara tersebut.
“Aku tidak tahu apakah aku harus menceritakan ini dengan nada duka atau bahagia,” kata Qiana pelan saat gilirannya untuk berbagi cerita. Kami memusatkan perhatian kami sepenuhnya kepadanya. “Nidya keguguran. Dia jatuh dari tangga dan menuduh bahwa suamiku yang mendorongnya.”
“Bagaimana hal itu bisa terjadi? Jatuh bagaimana?” tanya Lindsey ingin tahu.
“Mengapa dia tidak berhati-hati sehingga jatuh dari tangga? Apakah dia masih memakai sepatu berhak tinggi?” tanyaku tidak mau kalah. Kami bertiga bicara dalam waktu yang bersamaan.
“Bisakah kalian tenang sebentar? Aku tidak bisa mendengar pertanyaan kalian jika diucapkan secara bersamaan begini,” ucap Qiana yang meninggikan intonasi suaranya. Kami bertiga terdiam. “Nah. Begini lebih baik. Aku belum selesai bicara, kalian sudah berlomba untuk bertanya.”
“Kabarnya, dia terjatuh saat menuruni tangga darurat di markas besar partai. Sepertinya dia panik atau bagaimana, dia menyebut nama suamiku. Padahal di saat yang bersamaan, Helmut sedang ada janji makan siang bersama rekan bisnisnya. Hal itu bisa dibuktikan dengan CCTV restoran. Akhirnya, dia dikeluarkan dari organisasi karena dianggap tidak menjaga integritas.
“Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak tahu apakah ini kabar baik atau buruk,” pungkas Qiana.
“Dua-duanya,” ucap Darla. “Biar bagaimana pun kita adalah perempuan, pasti berduka mendengar sesama kita kehilangan anaknya. Tetapi kita juga tidak bisa memungkiri bahwa lewat kejadian ini, maka masalah yang sedang kamu dan Helmut hadapi pun selesai.”
__ADS_1
“Kamu tahu bahwa masalah antara aku dan Helmut tidak akan selesai begitu saja, Darla. Dia tidur dengan perempuan lain sampai hamil.” Wajah Qiana berubah sedih.
“Aku justru terkejut jika masalah kalian selesai dengan mulus. Kamu sangat mencintai suamimu. Jadi wajar saja bila kamu terluka dengan pengkhianatannya.” Darla memegang tangan Qiana. “Kalau kamu bersikap biasa saja, maka itu lebih buruk. Kamu sudah tidak mencintai suamimu lagi.”
Itukah yang terjadi pada kami? Hendra marah dan kecewa kepadaku, tetapi tidak membiarkan aku pergi dari sisinya, karena dia masih mencintaiku? Dia mengatakan benci sepenuh hatinya bukan karena dia benar-benar benci tetapi karena dia masih mencintaiku?
“Bagaimana denganmu, Zahara? Apa kabar keponakanku di dalam sana?” tanya Lindsey.
“Dokter memarahiku karena berat badanku tidak bertambah secara signifikan,” ucapku pelan.
“Apakah aku perlu mengirimimu es krim setiap hari?” tanya Qiana.
“Aku bersedia mengirim kue setiap hari untukmu dan si kecil,” ucap Lindsey bersamaan.
“Aku akan meminta sopirku untuk mengantarkan buah dan bumbu rujak untukmu,” kata Darla tidak mau kalah.
“Tidak, teman-teman, tidak perlu.” Aku melerai mereka. “Ibu mertua dan mamaku sudah cukup untuk menggangguku setiap hari mengenai makanan. Tolong, jangan ditambah lagi.” Mereka tertawa mendengarnya. Mereka pasti membayangkan bagaimana kedua ibuku mengontrol setiap hal yang aku lakukan dan makan agar cucu mereka lahir dengan selamat.
“Aku tidak tahu apa yang aneh dengan kepergian Hendra keluar kota sesering ini ….” Darla menatapku dengan saksama. “Tetapi bila kalian sedang ada masalah, sebaiknya kamu mulai aktif melakukan apa yang biasanya dia lakukan untuk mendapatkan perhatianmu kembali.”
“Iya. Seperti sekarang. Jika dia tidak menelepon, maka kamu yang harus melakukannya. Bisa jadi dia hanya bosan karena inisiatif selalu datang darinya.” Lindsey mengedipkan sebelah matanya.
“Dan dia sedang menguji kamu, apakah rasa cinta kamu juga sebesar rasa cintanya kepadamu.” Qiana ikut menambahkan. Mereka benar juga. Aku sedang berusaha untuk memenangkan hatinya kembali tetapi aku terlalu sibuk menjaga perasaanku sendiri. Seharusnya aku tetap fokus kepadanya dan apa yang dia inginkan. Baiklah! Aku akan memperbaiki strategiku.
__ADS_1