Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 157 - Menyusun Rencana


__ADS_3

“Kamu mau ke mana, sayang?” tanya Hendra saat aku sedang memakai sepatu ketsku. “Mengapa kamu berpakaian seperti itu?” Aku mengenakan kaus dan celana jins.


“Ada apa dengan pakaianku?” tanyaku bingung.


“Bukankah kita hanya akan menghabiskan waktu di hotel dan tidak pergi ke mana pun?” tanyanya.


“Teman-teman mengajakku untuk berbelanja. Apa kamu tidak akan mengizinkan aku pergi, sayang?” Aku memasang wajah memelas. Dia menatapku curiga, tidak percaya dengan aktingku sama sekali.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kalian bahas kemarin di tepi danau dengan sangat serius? Apakah sesuatu telah terjadi?” tanyanya lagi.


Aku mendekatinya, lalu mengecup bibirnya. “Aku hanya pergi sebentar. Kamu butuh sesuatu? Kaus atau cendera mata untuk para pegawaimu?” Aku sengaja tidak menjawab pertanyaannya.


“Kamu tahu bahwa kamu tidak boleh menyembunyikan apa pun dariku, ‘kan? Tidak boleh ada rahasia di antara kita, sayang.” Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


“Kamu menerima wawancara itu tanpa mengatakan apa pun kepadaku, bukankah kamu juga sudah melanggar perjanjian kita, sayang?” balasku. Dia terdiam. Aku mengambil tas sandangku dan berjalan menuju pintu. “Aku titip anak-anak. Jaga mereka dengan baik. Aku segera kembali.”


Teman-teman sudah menunggu di samping kedua mobil kami dengan sopir yang sudah siap untuk mengantar ke mana pun kami ingin pergi. Hendra, Zach, dan Mason berdiri tidak jauh dari kami, melihat kami dengan tatapan tidak suka. Tetapi aku dan teman-teman hanya mengabaikan mereka saja. Kami menggunakan dua mobil agar perjalanan kami lebih nyaman.


Pergi berbelanja hanyalah alasan kami untuk menjauh sejenak dari tatapan para suami yang terus saja melihat kami dengan curiga setiap kali kami berkumpul bersama. Claudia ingin mendiskusikan rencana pembalasan dendam kami tanpa diketahui oleh para pria. Mereka terlalu melindungi kami, rencana ini tidak akan bisa berjalan dengan kehadiran mereka.


Sopir membawa kami ke sebuah restoran yang menyajikan makanan barat agar Claudia tetap bisa menikmati makanan ringan yang kami pesan. Darla memilih meja yang berada di teras dan bukan di bagian dalam rumah makan agar kami tidak terlalu tegang.


Mereka memeriksa jadwal acara yang akan mereka hadiri dalam waktu dekat dan mendiskusikan siapa yang menangani siapa. Qiana dan Helmut diundang menghadiri acara ulang tahun ketujuh belas anak seorang anggota dewan yang kemungkinan besar akan dihadiri oleh Dicky juga. Salah satu sepupu Nora mengadakan resepsi pernikahan di hotel miliknya dan aku ingat bahwa aku melihat undangan itu di rumah kami. Tinggal Vivaldo.


“Aku bisa mengajaknya bertemu untuk membicarakan tentang menerbitkan buku mengenai kisah heroik hidupnya.” Rasmi memberikan usul. Kami menatapnya dengan wajah bahagia. Itu adalah ide yang bagus! Kami segera menentukan siapa yang menemani siapa dan apa yang perlu kami siapkan.

__ADS_1


“Mengapa kita tidak culik mereka bertiga saja, lalu kita buang ke tengah laut? Tetapi kita siksa mereka dahulu biar tahu rasa. Aku dengan senang hati akan mengurus Nora. Tidak akan ada yang menemukan bangkai mereka karena sudah dimakan ikam hiu,” kata Qiana memberi usul. “Aku bisa mencarikan kapal untuk kita sewa. Para suami tidak perlu tahu hal ini.”


Aku dan teman-teman menatapnya dengan mulut menganga lebar. Kami tidak pernah tahu bahwa dia akan punya pikiran seperti itu untuk melenyapkan mereka bertiga. Rencana itu sangat menggoda bila dilihat dari reaksi teman-teman, tetapi kami tidak boleh membunuh orang.


“Menghilangkan bukti tanpa jejak sama sekali itu mustahil, Qiana. Bagaimana kalau ada yang merekam perbuatan kita? Hidup kita mungkin tidak ada dalam bahaya, tetapi kita akan dihukum penjara seumur hidup. Kamu mau kehilangan kesempatan melihat anak-anakmu diwisuda atau melihat mereka berhasil mengejar mimpi?” tanya Darla. Kami bergidik.


“Anak-anakku masih kecil, aku tidak mau masuk penjara.” Aku menggeleng cepat.


“Aku juga tidak mau.” Rasmi mengusap perutnya.


“Tidak ada yang akan dipenjara. Mereka bertiga yang akan kita jebloskan ke penjara. Kalau pun rencana kita gagal, setidaknya mereka akan mendapat malu setelah kita tunjukkan kepada dunia siapa mereka itu sebenarnya.” Darla meyakinkan kami. Dia melihat ke arah Qiana. “Dan kita tidak akan menempuh cara yang melanggar hukum.”


“Huh! Tidak seru.” Qiana menyilangkan tangannya di depan dadanya. Kami tertawa geli.


“Tidak. Aku akan menyewa orang yang mengerti teknologi untuk menyiapkannya. Kita hanya perlu melakukan apa yang sudah kita bicarakan tadi. Tidak boleh sampai ada kesalahan. Kesempatan ini hanya datang satu kali. Kalau sampai gagal, mereka tidak akan percaya lagi bahwa kita mendekati mereka tanpa ada niat tertentu,” ucap Claudia mengingatkan.


“Duh, aku berdebar-debar.” Lindsey meletakkan tangannya di depan dadanya. Aku juga.


“Kita sudah pamit untuk berbelanja, sekarang saatnya untuk bersenang-senang,” ajak Darla. “Beli apa saja yang kalian mau, aku yang bayar.” Kami segera bersorak senang.


Sopir membawa kami kembali ke arah pelabuhan di mana pasar tradisional berada. Ada banyak toko yang menjual segala jenis pernak-pernik buatan penduduk setempat atau didatangkan dari daerah sekitar. Aku hanya membeli dress lucu untuk Dira, baju untuk Hadi yang serasi dengan pakaian adiknya, dan kaus pasangan untukku dan Hendra.


Darla memberikan sebuah tas terbuat dari anyaman untukku melihat aku hanya membeli pakaian. Aku tahu bahwa aku tidak akan bisa menolaknya, maka aku menerimanya sambil tertawa. Claudia, Qiana, dan Lindsey adalah sahabat baik dalam urusan belanja. Kami harus menarik mereka untuk kembali ke mobil sebelum kartu kredit Darla jebol.


Para suami menyambut kedatangan kami dengan mata membelalak lebar. Mata mereka fokus melihat pada kedua tangan kami yang penuh dengan kantong belanjaan. Tentu saja kecuali suamiku. Dia malah senang melihat aku sesekali berbelanja menghabiskan uang pemberiannya.

__ADS_1


“Tolong, sayang, jangan katakan bahwa semua belanjaan ini dibayar dengan kartumu,” pinta Helmut memelas. Qiana tertawa geli. Dia melirik ke arah Gio yang wajahnya segera memucat, mengerti arti lirikan tersebut.


“Tidak …,” kata Gio pelan. Dia melihat ke arah istrinya penuh protes.


“Aku sangat mencintaimu, sayang.” Darla mengecup bibir suaminya. Para suami yang lain tertawa lega sambil menepuk punggung Gio penuh simpati.


Kami kembali ke kamar masing-masing dan berjanji akan bertemu lagi pada jam makan malam. Hendra dan anak-anak mengikuti aku ke kamar kami. Dira segera berputar senang begitu menerima baju barunya. Hadi juga ikut melompat senang, sedangkan suamiku tersayang hanya berdiri di dekat pintu. Dia menatapku dengan mata menyipit.


“Anak-anak, papa sudah memilihkan film favorit kalian. Mau papa bantu naik ke tempat tidur?” tanya Hendra. Hadi dan Dira segera berlari menuju kamar mereka. Aku tertawa kecil. Tidak lama kemudian, suamiku kembali dan duduk di sisi tempat tidur.


“Kamu dan teman-temanmu merencanakan sesuatu di belakangku. Aku tidak suka kamu melibatkan dirimu dalam hal yang bisa membahayakan keselamatan kamu,” katanya dengan mengarahkan pandangannya kepadaku.


“Tidak ada hal yang membahayakan. Kamu ini berlebihan sekali.” Aku membalikkan badan berniat menyimpan pakaian ke lemari. Tetapi dia memeluk tubuhku dan menarikku duduk di pangkuannya.


“Apa kamu pikir aku tidak tahu apa yang membuat kalian melakukan semua ini?” bisiknya di telingaku. Aku tertawa geli. “Aku sudah membaca beritanya. Aku tidak mengizinkan kamu terlibat pada apa pun yang sudah kalian rencanakan untuk membalas mereka.”


“Tidak. Kamu tidak bisa menghalangi aku untuk melakukan itu,” protesku keras. Aku berusaha untuk membalikkan badan agar bisa melihat wajahnya, dia mencegah aku dengan mempererat pelukannya.


“Jangan sampai aku melarang kamu berteman dengan mereka karena mereka sudah membuat kamu menentang ucapanku, suamimu sendiri,” ancamnya dengan nada suara dingin. Aku merapatkan bibirku. “Aku sudah katakan bahwa menghadapi mereka tidak mudah. Berita itu tidak mengejutkan aku sama sekali. Aku sudah menyiapkan rencana berikutnya.”


“Aku akan membantu kamu,” kataku bersemangat.


“Tidak.”


“Bila kamu tidak melibatkan aku dalam rencanamu ini, Hendra, percayalah, aku akan duduk di lantai sekarang dan mulai menangis sampai kamu berkata iya. Silakan saja kalau kamu mau menguji aku.”

__ADS_1


__ADS_2