Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 148 - Hari Bahagia Sahabatku


__ADS_3

Bagaimana masa lalu bisa terus mengejar hingga merusak kehidupan yang telah susah payah dibangun pada masa kini berada di luar nalarku. Aku sudah menyaksikan banyak air mata yang tumpah di wajah sahabatku ketika suaminya selingkuh dan wanita itu hamil. Pernikahan mereka berada di ujung tanduk tetapi mereka bertahan.


Tidak mudah bagi Qiana untuk membangun rasa cinta dan percayanya setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Helmut. Dua puluh lima tahun bukanlah angka yang main-main. Tidak ada yang perlu mengatakannya, kami juga tahu bahwa tidak ada pernikahan yang sempurna. Tetapi perempuan itu sama sekali tidak punya hak untuk berdiri di sana dan merusak hari bahagia sahabatku.


“Enam tahun yang lalu,” kata wanita itu memulai serangannya, namun mikrofon itu mati. Aku, Lindsey, Darla, dan Claudia sepertinya punya ide yang sama karena kami setengah berlari menuju panggung langsung ke arah Nidya.


Pembawa acara itu merebut mikrofon kembali dari tangannya, aku dan sahabatku mendorong Nidya ke belakang panggung. Petugas keamanan sudah datang, jadi kami menyerahkan dia kepada mereka. Perempuan itu protes keras, tetapi tidak ada yang memedulikannya. Dia diseret keluar dan kami berempat tersenyum puas.


Kami menepuk kedua telapak tangan kami terhadap satu sama lain, bangga dengan apa yang baru saja kami lakukan. “Sebaiknya kita kembali sekarang. Siapa tahu ada pengacau lain lagi yang berusaha merusak acara.” Darla mengajak kami keluar untuk masuk melalui pintu depan.


“Kita mau ke mana?” tanya Claudia bingung. Darla menyadari kesalahannya dan mengatakan kembali kalimatnya tadi dalam bahasa Inggris.


Aku bernapas lega melihat acara masih milik Helmut dan Qiana. Mereka kini menyanyikan lagu kesukaan mereka berdua. Helmut dengan suara indahnya, sedangkan Qiana dibantu penyanyi latar untuk menutupi kekurangan pada suaranya.


Kami berdiri di dekat pintu masuk, menunggu sampai mereka selesai bernyanyi. Kami tidak ingin mengalihkan perhatian undangan dengan berjalan di tengah aula menuju meja kami. Saat tepuk tangan memenuhi aula itu, kami berjalan kembali ke tempat duduk kami masing-masing.


Pasangan itu duduk di tempat mereka di antara mejaku dan Lindsey. Qiana menggerakkan bibirnya membentuk kalimat terima kasih. Aku dan Darla tersenyum sambil menganggukkan kepala kami. Acara berlangsung dengan lancar dan setiap orang menikmati acara hiburan serta makanan yang masih melimpah di meja saji.


“Dasar perempuan tidak tahu malu,” maki Darla saat kami berkumpul bersama usai acara.


“Apa kamu tidak punya kosakata lain selain itu, Darla?” Lindsey tertawa kecil.


“Tolong, bicaralah dengan bahasa yang bisa aku pahami,” kata Claudia mengingatkan. Kami tertawa. Terlalu biasa dengan kehadirannya, kami sering lupa bahwa dia tidak fasih berbahasa Indonesia. Qiana menerjemahkan apa yang dikatakan Darla dan Lindsey tadi.


“Kalian sudah gila, tetapi aku sangat berterima kasih atas apa yang sudah kalian lakukan.” Qiana tertawa geli.

__ADS_1


“Apa kalian mengundang dia? Bagaimana dia bisa masuk?” tanyaku bingung. Qiana dan Helmut bukan pasangan biasa, jadi untuk alasan keamanan, yang bisa masuk aula untuk mengikuti acara hanya mereka yang membawa undangan.


“Kami tidak mungkin mengundangnya. Petugas keamanan pasti sedang lalai, jadi dia bisa masuk lewat bagian belakang panggung,” tebak Qiana. Alasan yang masuk akal.


“Sebaiknya kita pulang sekarang. Anak-anak sudah tidur.” Hendra menoleh ke arah Hadi yang sudah pulas dalam gendongannya. “Kita masih punya banyak waktu bersama pada acara liburan nanti.”


“Oh! Aku sudah tidak sabar lagi!” Claudia bersorak senang. “Aku sudah melihat foto tempat-tempat yang kalian sebutkan. Aku ingin sekali melihatnya langsung!”


Pada liburan keluarga bulan ini, aku dan Hendra memutuskan untuk menghabiskannya bersama teman-teman kami. Zach dan Rasmi juga akan ikut bersama putra mereka. Setelah berdebat panjang, Hendra akhirnya mengizinkan adik iparnya untuk mengambil cuti selama satu minggu. Rasmi tidak kesulitan untuk cuti karena dia adalah seorang wakil direktur utama.


Aku membaringkan Dira di tempat tidurnya, lalu membiarkan Hendra yang mengganti pakaiannya. Dia memintaku untuk segera bersiap tidur. Melihat Ara menatapku dengan wajah memelas, aku mengalah. Aku mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di atas tempat tidur putriku. Dia berputar-putar di sekitar kaki Dira sebelum meringkuk dan memejamkan matanya.


Baru beberapa langkah menuju pintu, aku merasakan sakit pada perutku. Aku berhenti sebentar. Aku menarik napas perlahan sampai rasa sakitnya reda. Sepertinya hari ini aku terlalu memaksakan diri. Aku tidak bisa tidur semalam dan hari ini tidak sempat istirahat siang. Tetapi mulai besok aku bisa beristirahat. Masih ada empat hari sebelum pergi berlibur nanti.


Rasa sakitnya hilang, aku mendekati pintu yang terbuka dari luar. Hendra tersenyum kepadaku. Dia menahan pintu agar aku bisa keluar, baru dia masuk ke kamar. Aku memakai krim pada wajah dan mengusap losion pada tanganku saat Hendra masuk ke kamar kami.


“Apa kamu menginginkan aku, sayang?” tanyaku setengah berbisik.


“Selalu,” jawabnya tanpa membuka matanya. “Tetapi tidak malam ini. Kita berdua sedang kelelahan. Besok pagi, ya.”


“Janji?” pintaku. Dia berjanji.


Entah karena aku kelelahan atau janjinya untuk memberikan permintaanku saat kami bangun pagi, aku tidur pulas tanpa mimpi buruk lagi. Aku dibangunkan dengan ciuman-ciuman singkatnya pada wajahku. Sepertinya dia juga tahu bahwa aku membutuhkan waktu untuk pulih setelah pelecehan yang dilakukan oleh kedua pria itu beberapa hari yang lalu.


Hendra memperlakukan aku dengan lembut mengingat kondisiku yang sedang hamil muda. Tetapi setelah merasakan surga bersamanya, aku harus melewati neraka dengan berolahraga bersamanya dan anak-anak pada pagi itu. Kami mengobrol sebentar melihat Will dan Colin juga berada di taman. Dia menutup percakapan kami dengan sebuah humor.

__ADS_1


Aku sedang menemani Dira dan Ara bermain ketika layar televisi berubah dan menunjukkan berita terkini. Pembawa berita mengatakan bahwa Vivaldo mengadakan konferensi pers untuk membuat sebuah pengumuman penting. Lalu layar itu dipenuhi dengan wajahnya yang duduk dengan sebuah mikrofon di depannya dan beberapa mikrofon berlabel stasiun televisi di atas meja.


Tanganku mengepal saat dia dengan lancangnya menyebut bahwa Hadi adalah putra kandungnya dengan menunjukkan bukti pada secarik kertas yang memperkuat pernyataannya. Berengsek. Dia benar-benar bukan manusia. Cukup aku saja yang dia seret. Mengapa dia harus membawa-bawa anakku juga? Siapa yang dia bayar untuk membuat hasil tes palsu itu?


Rasa sakit kembali terasa pada perutku. Aku memekik tertahan. Tenang, Za. Tenangkan dirimu. Aku menarik napas panjang agar rasa sakit itu segera reda. Dira melihat ke arahku dengan wajah khawatir. Wanita yang datang setiap hari membersihkan apartemen juga segera mendekatiku.


“Nyonya, apa Nyonya baik-baik saja? Apa perlu saya telepon Tuan?” tanyanya khawatir.


“Tidak. Jangan.” Rasa sakit itu mulai mereda. “Tolong, ambilkan segelas air hangat.”


“Mama.” Dira berdiri lalu memelukku. Aku membalas pelukannya dan sakitnya menghilang. Aku mencium wajah putriku sampai dia tertawa geli.


“Terima kasih, sayang. Mama sayaaang kepada Dira.” Pelukannya menenangkan aku.


“Sayang Mama.” Dia mencium pipiku.


Aku berusaha menenangkan diri setelah meminum segelas air hangat. Hendra pasti mendengar berita tersebut dan tidak tinggal diam. Vivaldo menyatakan perang bukan hanya kepadaku dan suamiku, tetapi juga kepada teman-temanku. Dia akan menyesal telah mengabaikan peringatan yang mereka berikan kepadanya di bandara.


Hendra bersikap normal pada saat dia pulang kerja. Dia sama sekali tidak menyinggung mengenai berita yang sedang ramai dibicarakan. Menyadari bahwa teman-temanku tidak melakukan panggilan video untuk membahasnya pasti ada hubungannya dengan suamiku. Dia ingin menyelesaikan masalah ini tanpa sepengetahuanku.


Pada malam itu, aku menikmati pelukan dan ciumannya. Kami tertawa bersama sebelum tidur. Pria ini terlalu baik untukku. Masalah demi masalah datang dalam hidupnya karena aku. Tetapi dia tidak pernah sekalipun mengeluh atau menyalahkan aku karenanya. Untuk kedua kalinya, aku tidak bermimpi dalam tidurku.


“Sayang, bangun.” Aku merasakan sentuhan pada bahuku. Seseorang membelai wajahku dan menyeka rambutku ke belakang telinga. Tetapi mataku berat. “Aku tidak ingin membangunkan kamu, tetapi keadaan kamu sedang tidak baik, sayang. Bangunlah.”


“Ng, ada apa? Aku masih mengantuk.” Aku menggeliat pelan dan terdiam saat merasakan sakit di perutku. “Hendra?” Aku membuka mataku. “Perutku sakit.”

__ADS_1


“Kita ke rumah sakit, ya.” Dia mencium keningku. Aku menatapnya dengan bingung.


“A-apa yang terjadi?” Sikapnya itu membuat jantungku mulai berdebar dengan kencang. Dia membantuku untuk duduk. Aku melihat ke arah perutku dan menemukan bercak merah pada kasur yang membuatku ketakutan. “Tidak.”


__ADS_2