
Aku mengajak Liando untuk makan siang sebelum kembali ke rumah, dia menurut. Aku memintanya untuk menjaga Dira selagi aku menenangkan Hadi di kamarnya. Putriku makan bersamanya di ruang makan dengan riang.
Saat aku masuk ke kamar, Hadi sudah mengganti pakaiannya dan masih menangis. Aku duduk di tepi tempat tidur dan mengangkatnya ke pangkuanku. Dia menangis di dadaku. Aku mengelus-elus punggungnya untuk membantunya berhenti menangis.
“Kamu lapar?” tanyaku pelan. Dia mengangguk. “Mau makan sekarang?” Dia menggeleng pelan.
Sesuatu telah terjadi di sekolahnya. Aku sudah bisa menebak ini pasti ada hubungannya dengan aku dan berita yang sedang viral. Dia masih anak-anak, lima tahun dan harus menangis karena ulah orang lain? Apa yang ada dalam pikiran orang-orang itu? Aku berharap hanya orang tua murid yang bersikap jahat kepadanya, bukan para guru atau staf sekolah.
“Naik kereta api, tut tut tut …. Siapa hendak turut? Ke Bandung-Surabaya. Bolehlah naik dengan percuma. Ayo, kawanku, lekas naik. Keretaku tak berhenti lama. Tut tuuut ….” Aku menyanyikan lagu itu yang diikuti dengan tawa gelinya.
“Pada hari Minggu kuturut Ayah ke kota. Naik delman istimewa kududuk di muka. Kududuk samping Pak Kusir yang sedang bekerja. Mengendali kuda supaya baik jalannya. Tuk-tik-tak-tik-tuk. Tik-tak-tik-tuk. Tik-tak-tik-tuk …. Tuk-tik-tak-tik-tuk. Tik-tak suara sepatu kuda.” Dira segera masuk kamar dan tertawa mendengarku bernyanyi. “Tuk-tik-tak-tik-tuk. Tik-tak-tik-tuk. Tik-tak-tik-tuk …. Tuk-tik-tak-tik-tuk. Tik-tak suara sepatu kuda.”
“Mama! Mama! Lagi!” pinta Dira senang. Aku mengangkatnya agar duduk di sisiku di tempat tidur, lalu menyanyikan lagu itu kembali. Dira bertepuk tangan senang dan mereka ikut bernyanyi bersamaku. Melihat Hadi sudah lebih baik, aku mengajak mereka ke ruang makan.
Liando pamit, aku berterima kasih kepadanya. Hadi sedang menikmati makanannya, jadi aku mengantar Liando sampai pintu untuk menanyakan apa yang terjadi. Dia tidak tahu banyak, hanya melihat Hadi yang keluar dari sekolah dengan wajah sedih, kemudian menangis ketika ada di dalam mobil. Tetapi tidak mau menjawab pertanyaannya.
“Baiklah. Aku akan mencari tahu apa yang terjadi besok. Salamku untuk semua pekerja di rumah.”
“Baik, Nyonya.”
Setelah makan siang, anak-anak menonton siaran untuk usia mereka yang ada di televisi. Aku bisa melanjutkan tulisanku sejenak. Sesekali aku melirik ke arah Hadi. Dia sudah tertawa lagi bersama adiknya setiap kali ada adegan lucu pada film yang mereka tonton.
Aku melirik ke arah Ara yang duduk dengan santai di sisi Dira di sofa. Hari sudah sore, mereka tidak mungkin hanya menonton saja sampai Hendra pulang. Tetapi bila kami keluar apartemen, aku tidak yakin suasana sudah cukup aman bagi kami. Bagaimana kalau ada wartawan yang melihat kami?
“Liando, bagaimana keadaan di luar apartemen? Apa kamu melihat ada wartawan tadi?” tanyaku kepadanya lewat telepon.
__ADS_1
“Nihil, Nyonya. Mereka hanya berkerumun di rumah dan kantor Tuan,” jawabnya.
“Apa menurutmu akan aman bagiku membawa anak-anak ke taman yang ada di dekat apartemen?” tanyaku pelan agar anak-anak tidak mendengar. Aku tidak ingin memberi mereka harapan palsu.
“Apa saya perlu datang ke sana, Nyonya?” tanyanya.
“Tidak, tidak. Kami akan jalan kaki saja,” tolakku. Jarak dari rumah ke apartemen tidak dekat. Sebentar lagi jam pulang kerja, dia akan butuh waktu lebih lama.
“Tetapi Tuan melarang Nyonya bepergian tanpa saya.” Ah, benar juga.
“Tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan meminta salah satu petugas keamanan untuk menemani kami. Jangan khawatir. Hendra tidak akan marah kepadamu.”
Aku tahu Liando masih khawatir, tetapi aku tidak bisa terus merasa takut pergi ke mana pun. Vivaldo atau wartawan itu tidak bisa mengambil kebebasanku. Aku mengajak anak-anak untuk pergi ke taman, mereka segara bersorak senang.
Kami mengenakan sepatu kets untuk mempermudah berjalan kaki dan bermain. Aku memasang rantai pada kalung Ara dan menasihatinya untuk menurutiku atau dia tidak akan pernah ikut jalan-jalan bersama kami lagi. Dia hanya menjawab dengan salakan dan kibasan ekornya.
“Ma, itu Colin.” Hadi menunjuk ke arah di depan kami. “Coliinn!!”
Aku melepaskan tangannya dan membiarkan dia berlari mendekati anak yang sesuai dengan gambarannya. Berambut cokelat dan aku yakin matanya berwarna biru. Dia berdiri di dekat seorang pria bertubuh tinggi dengan warna rambut yang sama.
“Hai, Hadi!” sapa anak laki-laki itu dengan ramah. Mereka membicarakan sesuatu dengan riang menggunakan bahasa Inggris. Didengar dari aksennya, anak laki-laki itu pasti berasal dari Amerika. Aku tersenyum kepada pria yang aku yakin adalah ayahnya.
“Hai!” sapa pria itu dengan ramah. Dia mengulurkan tangannya. “Kamu pasti Zahara. Istri Hendra.” Aku hanya bisa menatap tangannya, ingat bahwa suamiku tidak akan suka bila aku menjabat tangannya itu.
“Maafkan aku. Hendra tidak mengizinkan aku bersentuhan dengan pria lain.” Aku memasang wajah segan. Dia tertawa.
__ADS_1
“Iya, iya. Aku lupa. Namaku Wilbur Lewis.” Dia melihat ke arah Dira. “Hai, Dira.” Putriku membalas sapaannya. “Apa kalian sedang tinggal di sini? Aku tidak pernah melihat Hendra dan anak-anak lagi sejak pertama kali kami bertemu mereka.”
“Iya. Untuk sementara.”
“Mama, aku main ke sana dengan Colin, ya?” tanya Hadi sambil menunjuk ke arah permainan anak-anak yang terletak di tengah taman. Aku mempersilakannya. Ara mengikutinya dan Colin.
“Apa ini karena berita mengenai kamu di televisi?” tanyanya pelan. Aku memejamkan mata. Aku ingin sekali berada di satu tempat di mana tidak ada orang yang mengenaliku karena berita itu. “Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk ….”
“Tidak apa-apa. Iya, alasannya itu. Rumah kami dipenuhi dengan wartawan.” Aku tidak mengalihkan tatapanku dari Hadi. Tidak ada orang yang menatapnya dengan aneh. Baguslah.
“Wow. Aku tahu bahwa Hendra adalah seorang pengusaha tetapi aku tidak tahu bahwa dia punya banyak musuh di luar sana yang ingin menjatuhkannya.” Dia mengajakku untuk mendekati sebuah ayunan yang aman untuk Dira. Aku mendudukkannya dan dia menyukainya. Aku mendorongnya perlahan, Dira tertawa bahagia.
“Setiap orang punya musuh, Wilbur.”
“Will. Panggil aku Will,” katanya yang tersenyum melihat ekspresi bingungku.
“Ah, iya. Will.”
“Semoga masalah kalian bisa segera diatasi,” katanya dengan tulus. Aku berterima kasih kepadanya. “Semoga kamu juga kuat menghadapinya. Hendra sepertinya orang baik. Kalian pasti bahagia bisa kembali bersama hidup lagi.”
Pria ini sangat baik, pantas saja Hendra berteman dengannya dan mengizinkan Hadi dekat dengan putranya. Dari pertama bicara, tidak sedikit pun dia mengatakan hal yang buruk kepadaku. Dengan wajah bahagia, dia menceritakan pengalaman pertamanya bertemu dengan Hendra.
Aku sudah bisa membayangkan wajah dingin dan sombongnya saat Will menggambarkan kesan pertama pertemuan mereka. Dia memang begitu kepada orang lain. Aku tidak tahu mengapa cinta bisa mengubahnya, bahkan sampai ke ekspresi wajahnya. Tetapi hanya saat bersamaku atau ketika aku berada di sisinya. Di luar itu, dia kembali menjadi Hendra yang arogan.
“Lagi, Ma! Lagi!” pinta Dira. Tanpa aku sadari, aku berhenti mendorong ayunannya. Aku memberi dorongan lagi dan dia kembali tertawa bahagia.
__ADS_1
Will melihat ke arah belakangku, lalu ekspresi wajahnya berubah. Apa yang sedang dia lihat? Aku menoleh tetapi sebelum menggerakkan kepalaku, seseorang memelukku dengan erat dari belakang. Apa-apaan ini?