Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 207 - Serasi


__ADS_3

Bodohnya aku. Mengapa aku menanyakan pertanyaan seperti itu pada kencan pertama mereka? Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia sampai berubah pikiran dan tidak tertarik lagi kepada Will? Gawat, gawat. Will akan sangat marah kepadaku kalau dia sampai tahu.


“Ibu, apa Ibu tidak tahu bahwa bisa pergi keluar negeri adalah impian banyak orang? Berlibur ke sana saja sulit untuk mendapatkan VISA-nya. Kalau bisa ke sana setelah menikah dengan Pak Lewis itu adalah anugerah, Bu!” Dia meletakkan kedua tangannya di pipinya dan menatapku dengan mata bahagia. Ya, ampun. Dia terdiam tadi bukan karena menyesali ucapannya tetapi karena terkejut. Aku mendesah pelan. Membuat aku kaget setengah mati saja.


“Saya tahu risiko menikah dengan orang asing adalah tinggal jauh dari keluarga saya. Itu sebabnya Kak Arga suka mengejek karena saya sangat manja di rumah. Dia tidak yakin bahwa saya sanggup hidup jauh dari keluarga.” Dia menggeleng pelan.


“Sepertinya kamu menyukai Will,” ucapku mengonfirmasi. Wajahnya merona.


“Dia pria yang baik, ayah yang hebat, siapa yang tidak akan menyukainya? Dia juga sangat sopan saat kami mengobrol pada acara ulang tahun pernikahan Ibu dan Pak Mahendra.” Dia tersipu. Wow. Ini pertama kalinya aku mencomblangi orang dan langsung berhasil. Ternyata aku berbakat juga.


“Sebaiknya kita kembali sekarang sebelum suamiku senewen mencari aku.” Aku memutar bola mataku. Gista tertawa kecil.


Minuman pesanan kami sudah diantar saat kami kembali ke meja. Hendra dan Will membicarakan sesuatu yang ada hubungannya dengan perkembangan politik belakangan ini. Topik yang tidak menarik. Suamiku mencium pipiku begitu aku duduk di sisinya. Aku menatapnya dengan heran.


“Kamu lama sekali di kamar mandi. Aku hampir saja berdiri untuk mencari tahu apa yang terjadi di salam sana sampai kamu tidak juga kembali,” katanya dengan nada khawatir.


“Kamu seperti tidak tahu saja apa yang terjadi bila dua perempuan sedang bicara berdua saja.” Aku menatap Gista penuh arti. Dia tertawa kecil. Lalu aku mengedipkan sebelah mataku kepada Hendra.


“Kalian tahu bahwa aku hanya paham sedikit bahasa Indonesia. Bisakah selama makan malam ini kalian bicara menggunakan bahasa yang bisa aku pahami?” Will menatap kami dengan curiga. “Karena entah mengapa hatiku berkata bahwa kalian sedang membicarakan aku.”

__ADS_1


“Baiklah, Will. Kamu tidak perlu curiga begitu. Yang kami bicarakan hanya hal yang baik.” Aku tertawa kecil. “Suamiku pernah bilang bahwa kamu hanya dikontrak beberapa tahun bekerja di sini. Apa ada kemungkinan kamu akan kembali ke Amerika?”


“Kontrak kerjaku hanya lima tahun dan bisa diperpanjang jika aku masih mau ditempatkan di sini. Aku tidak punya rencana kembali ke sana dalam waktu dekat. Tetapi saat Colin berusia delapan belas tahun nanti dan lulus SMU, dia berhak memutuskan sendiri ingin tinggal di mana. Bila sekolah masih menginginkan aku, aku akan tetap bekerja di sini.” Will sesekali melihat ke arah Gista seolah ingin memberitahu gadis itu mengenai rencana jangka panjangnya tinggal di Indonesia.


“Kamu tidak rindu dengan kampung halaman? Kamu jauh dari keluarga begitu lama.” Kini Gista yang bertanya. Aku menoleh ke arah Hendra. Dia menggeleng pelan agar aku tidak menginterupsi percakapan mereka.


“Kami tidak punya ikatan sekuat kalian yang masih tinggal dengan orang tua meskipun sudah bekerja. Aku sudah keluar dari rumah sejak kuliah. Kami hanya berkumpul pada saat Thanksgiving atau Natal, juga pada acara tertentu seperti pernikahan, kematian, atau jika ada yang merayakan ulang tahun.” Will mengangkat bahunya. “Jadi, tinggal jauh dari mereka bukanlah masalah.”


“Kamu benar. Aku menonton film kalian dan biasanya remaja yang sudah delapan belas tahun hidup mandiri dan tidak tinggal lagi bersama orang tuanya.” Gista mengangguk mengerti.


“Bagaimana denganmu? Apa kamu bisa hidup jauh dari keluargamu?” tanya Will ingin tahu.


Will dan Gista bahkan tidak melirik ke arahku saat aku pamit untuk mencuci tangan di wastafel. Aku tertawa kecil. Hendra menyusulku kemudian. Kami bertemu di koridor dekat toilet dan menyaksikan dua orang yang sedang kasmaran tersebut. Dia merangkulku. Aku mendekat dan meletakkan kepalaku di dadanya.


Bahkan dalam perjalanan pulang, mereka masih asyik berbincang. Aku dan Hendra saling bertukar pandang penuh arti. Aku mengulum senyum. Saat aku dan suamiku sedang dimabuk asmara, kami sudah menikah, jadi kami merayakannya dengan bercinta di tempat tidur, di bak mandi, bukan dengan bicara. Aduh, mengapa aku malah memikirkan ini? Kami masih puasa.


Sampai di depan rumah Gista, Will bersikap layaknya pria sejati yang membukakan pintu untuknya, lalu mengantarnya sampai ke pagar. Seorang pria keluar untuk membukakan gembok. Aku tertawa kecil melihat Arga tersenyum penuh arti ketika melihat Gista dan Will secara bergantian. Teringat dengan apa yang dikatakan Gista di toilet tadi, aku langsung memahami arti tatapan kakaknya itu.


“Terima kasih, teman-teman. Aku sangat menghargai apa yang kalian lakukan untukku hari ini!” ucap Will dengan senyum bahagia. “Aku akan membutuhkan bantuan kalian lagi besok. Apa aku boleh menitipkan Colin agar aku bisa bertemu dengan Gista?”

__ADS_1


“Lagi?” tanyaku tidak percaya. Dia tertawa.


“Iya. Aku mengajaknya untuk bertemu besok. Dia langsung menyetujuinya dan memberikan nomor teleponnya. Aku ingin membawa putraku juga, tetapi ini pertemuan pertama kami tanpa siapa pun. Aku ingin kami bisa leluasa membicarakan tentang diri kami sebelum aku melibatkan Colin dalam hubungan kami.”


“Hubungan? Kalian masih berkencan, Will, belum ada hubungan apa pun.” Aku meralatnya.


“Oke, oke. Tetapi kamu mengerti apa maksudku.”


“Aku tidak perlu mengingatkan kamu agar berhati-hati, ‘kan, Will?” ucap Hendra. Kami berdua menatapnya dengan bingung. “Kedekatan kalian akan memengaruhi profesionalitasnya. Aku tidak mau menyesal telah mempertemukan kalian malam ini. Jadi, jangan sakiti gadis itu.”


“Aku tidak akan menyakiti dia atau mengecewakan kalian. Aku janji. Kami mungkin akan bertengkar atau selisih paham, tetapi aku janji masalah itu akan selesai sebelum aku mengantarnya pulang. Aku juga yakin bahwa dia cukup dewasa untuk tidak membawa masalah pribadi dalam pekerjaannya,” ucap Will bersungguh-sungguh. Wow. Dia benar-benar mencintai Gista. Gadis itu sangat beruntung.


“Kamu juga harus menjaga ucapanmu untuk tidak membawa dia kembali ke negaramu. Bila sekolah itu tidak memperpanjang kontrakmu, kamu harus mencari pekerjaan lain di sini. Gista baru saja memulai pekerjaannya sebagai sekretarisku. Aku tidak mau mencari orang baru lagi,” kata Hendra dengan tegas.


“Aku berencana memperkenalkan dia kepada keluargaku pada Thanksgiving nanti, aku harap kamu tidak keberatan memberinya libur selama satu bulan,” ucap Will. Ada nada penuh harap pada suaranya. Aku menoleh ke arah suamiku, menunggu jawabannya.


“Satu bulan? Mengapa lama sekali?” tanya Hendra heran. Dia masih fokus menatap ke arah jalan.


“Karena aku berencana mengadakan pernikahan kami di sana juga,” jawab Will dengan santai. Hendra mendadak menepi dan menghentikan mobilnya. Kami sama-sama menoleh ke jok belakang ke arah Will.

__ADS_1


“Apa?!”


__ADS_2