Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 109 - Terjadi Lagi


__ADS_3

~Za~


Aku adalah seorang ibu dan aku tidak bisa disalahkan atas instingku yang ingin menyelamatkan nyawa anakku jauh di atas nyawaku sendiri. Tidak ada yang bisa mengatakan bahwa aku melanggar janji karena janji pertamaku adalah menjaga anak-anakku sebaik mungkin.


Melihat bantuan datang tadi, aku pikir keadaan sudah aman dan kemenangan berada di pihak kami. Aku tidak tahu bahwa ada orang yang mendadak membuka pintu depan ketika aku berusaha untuk menyusul Hendra dan anak anjing itu menuju bagian samping rumah.


Dia segera menjadikan tubuhku sebagai tameng, bahkan mengarahkan benda yang terasa dingin di kepalaku. Badanku bergetar dengan hebat saat aku tahu bahwa itu adalah pistol. Aku sudah pasrah akan mati konyol di tangannya. Aku menyesal tidak mendengarkan ucapan Hendra, tetapi aku tidak menyesal mengikuti naluri keibuanku yang tidak sabar ingin tahu keadaan putriku.


Aku tidak akan pernah menduga bahwa makhluk kecil yang sangat aku benci karena namanya itu akan datang menggigit kaki pria itu sekuat tenaganya. Bunyi tembakan yang aku pikir diarahkan kepadaku membuatku refleks berteriak setengah mati. Ternyata salah satu dari petugas polisi itu menembak tangan si penjahat yang memegang senjata.


Makhluk kecil yang entah mengapa sangat marah itu tidak mau melepaskan pergelangan kaki pria itu meskipun polisi sudah datang untuk menahannya. Seorang petugas polisi mendekatiku dan membawaku kepada Hendra. Dia segera memelukku. Aku mendesah lega ketika merasakan Dira juga ada di dekatku. Tetapi aku belum sempat memeriksanya, Hendra memerhatikan wajahku baik-baik.


Dia tadi begitu khawatir kepadaku. Memeluk dan tidak mau melepaskan genggaman tangannya, lalu sekarang dia marah hanya karena hal kecil yang sudah aku lakukan? Dan sama seperti kebiasaan buruknya selama ini, aku tidak diizinkan untuk menjelaskan apa pun. Aku mencoba untuk lari, dia bergerak lebih cepat dengan menangkap tanganku.


Jantungku berdebar dengan keras karena dia memelukku dengan tangannya yang lain. Aku tidak tahu apa ini debaran karena takut atau harapan dia akan memberiku hukuman yang menyenangkan. Saat bibirnya menyentuh bibirku, hm, dia memberiku hukuman yang aku harapkan.


Aku berpura-pura tidak menginginkannya agar dia tidak segera mengakhirinya. Bisa saja dia ingin membalas perbuatanku kepadanya kemarin. Menyadari bahwa dia tidak bermain-main dengan ciumannya, aku membalasnya. Tiba-tiba saja dia mengangkat tubuhku. Aku menatapnya dengan bingung. Sebelum aku sempat berpikir, dia menciumku lagi.


Dia membaringkan tubuhku di tempat tidur. Jantungku berdebar semakin kencang. Apakah ini seperti yang aku pikirkan? Aku nyaris menangis ketika dia tidak berhenti sampai kami menyentuh kulit dengan kulit. Aku merindukan ini. Dia tidak dalam keadaan mabuk, jadi dia akan mengingat semua yang kami lakukan pagi ini.

__ADS_1


Kami sudah siap untuk menyatukan diri dan aku diam-diam mengucapkan selamat tinggal pada penantian panjangku. Dia berhenti. Aku merasakan dia berhenti bergerak di atasku. Kami sudah melangkah sejauh ini tetapi dia berhenti. Aku membuka mata berniat untuk memarahinya.


Namun wajah penuh kesakitan yang aku lihat di hadapanku, mata yang terpejam rapat-rapat, dan keringat yang bercucuran di mukanya membuatku terenyuh. Seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat. Aku menyentuh pipinya.


“Tidak apa-apa, Hendra,” kataku pelan.


“Maafkan aku. Aku tidak bisa melakukannya,” ucapnya terisak. “Aku pikir aku sudah siap. Tetapi aku belum bisa melakukannya.” Apakah dia masih marah kepadaku? Apakah alasan dia berhenti pagi ini sama dengan alasan lima tahun yang lalu? Apa yang membuatnya tidak bisa bercinta denganku? Apa karena dia berpikir bahwa tubuhku sudah bukan miliknya lagi?


Aku berusaha untuk duduk, dia bergeser ke sisi kiriku. Meskipun posisi ini tidak nyaman bagiku, aku tetap memeluknya. Hendra tidak suka bila ada yang melihatnya menangis. Jadi aku mencoba untuk mengabaikan hal itu. Aku mencium bahunya, lehernya, rahangnya, untuk membantu menenangkan dirinya. Dia hanya duduk kaku tanpa menyentuhku sama sekali.


“Aku harus membersihkan diri,” katanya pelan. Aku menatap wajahnya. Dia menghindari mataku.


“Sebaiknya tidak,” tolaknya. Aku mengalah dengan melepaskan pelukanku. “Tutup matamu.”


“Mengapa? Aku sudah sering melihat tubuhmu tanpa ditutupi apa pun,” kataku menggodanya.


“Tutup matamu atau aku akan tetap duduk di sini dan membiarkan Hadi atau Dira masuk ke kamar ….” ancamnya. Aku segera menutup mataku dengan kedua tanganku. Aku tidak akan membiarkan kedua atau salah satu dari anak-anakku melihat adegan untuk orang dewasa. Aku tersenyum saat merasakan kecupannya di keningku.


Bukan Zahara namanya kalau seratus persen menuruti perintah. Aku memberi sedikit jarak di antara jari-jariku agar bisa melihat tubuhnya dari belakang. Pria yang aku cintai sangat sempurna dalam segala hal. Tubuhnya, sifatnya, isi kepalanya, bahkan dompetnya. Aku memang sudah gila telah melepaskan pria bernilai seratus itu untuk menjadi incaran wanita lain.

__ADS_1


Sebentar. Apakah itu masalahnya? Dia menceraikan aku bukan karena dia tidak mencintaiku lagi. Apakah dia melepaskan aku karena dia tidak bisa lagi bercinta denganku? Itukah sebabnya dia membebaskan aku untuk bersama pria yang bisa membuatku bahagia? Mengapa dia berpikir bahwa bahagia berarti puas di tempat tidur? Apa dia benar-benar menilaiku serendah itu?


Tetapi apa yang bisa aku lakukan untuk menolongnya? Aku tidak mengetahui dengan baik cara kerja tubuh laki-laki saat, ah, iya! Untuk apa aku punya adik laki-laki jika tidak bisa aku manfaatkan? Bodoh sekali aku ini. Bicara dengan Papa bukanlah pilihan yang baik karena sudah pasti Papa tidak akan mau menemuiku lagi selama satu bulan penuh jika aku berani menanyakan hal yang sangat intim. Papa terlalu kolot. Begitu juga dengan Mama.


Membahas ini dengan teman-temanku juga tidak akan banyak membantu. Mereka semua sudah gila dan hanya akan menghina dan mengejekku yang malang ini. Padahal mereka adalah pilihan yang tepat karena pengalaman mereka di ranjang jelas lebih banyak dariku.


Baiklah. Aku bicarakan ini dengan Zach saja. Lagi pula dia mengenal Hendra dengan baik. Siapa tahu pria kesayanganku itu pernah membahas hal ini dengan adikku.


“Apa kamu tidak kedinginan sampai membiarkan tubuhmu tidak ditutupi apa pun dari tadi?” tanya Hendra yang baru saja keluar dari kamar mandi. Hm. Dia yang dalam keadaan segar bisa membuat wanita mana bersedia berlutut di kakinya. Ya, ampun, Za. Apa yang kamu pikirkan? Aku segera menggeleng-gelengkan kepalaku. “Pasti kamu berpikiran kotor.”


“Bukan salah kepalaku. Kamu yang memberikan tontonan gratis.” Aku merasa kedinginan, jadi aku menutupi tubuhku dengan selimut. “Aku sudah memutuskannya.”


“Memutuskan apa?” tanya Hendra sambil menjaga jarak dariku. Sikapnya itu malah membuatku semakin tertantang untuk mendekatinya. Aku baru berhenti saat dia terpojok di dinding.


“Aku akan membantumu dengan masalah disfungsi si Hendra kecil.” Aku melihat ke arah handuknya. Dia ikut melihat ke arah yang sama. “Dia akan bisa beraksi lagi nanti.”


“Kamu pikir, aku tidak bisa melakukannya karena ada masalah dengan organ reproduksiku?” tanyanya dengan wajah tidak percaya. Aku mengangguk cepat. Wajahnya memerah ketika dia menahan tawa. Apa yang lucu? Tidak lama kemudian, dia tidak menahan dirinya lagi dan tertawa terbahak-bahak. Begitu keras sampai aku kesal dibuatnya.


“Mengapa kamu malah tertawa?” tanyaku sedikit marah.

__ADS_1


“Sayang, tidak ada masalah denganku.” Dia berusaha untuk mengendalikan dirinya dan berhenti tertawa. Lalu dia mendekatkan wajahnya kepadaku. “Aku hanya perlu minum wiski secukupnya, lalu si Hendra kecil akan beraksi semalaman penuh tanpa masalah. Dira adalah buktinya.”


__ADS_2