Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 156 - Beruntung


__ADS_3

“Aku benar-benar berharap gadis itu adalah dia,” isak Claudia dalam pelukan suaminya. “Kasihan Clarissa. Bagaimana kalau benar dia masih hidup dan sedang sendirian di luar sana?”


Mereka tidak menemukan gadis yang dilihat oleh Claudia di pelabuhan tadi. Sahabatku itu mengakui bahwa dia melihat gadis kecil berusia sekitar lima tahun berambut pirang melintas di dekat gerbang. Tetapi saat dia berlari ke arah di mana dia melihatnya, gadis itu tidak ada di mana pun.


Mason dan teman-temanku sudah berusaha untuk mencarinya juga. Sayangnya, mereka tidak bisa pergi jauh karena kapal akan segera berangkat. Dan di sinilah kami, duduk bersama di atas kapal menuju pulau seberang.


Angin danau sangat dingin meskipun matahari bersinar dengan terik. Awan putih bergumpal di angkasa sesekali menghalangi sinar matahari. Dan air danaunya begitu biru merefleksikan warna langit. Tetapi rasa sedih membuat kami mengabaikan keindahan alam di sekitar kami.


Hendra membawa Hadi dan Dira ke dekat pagar agar mereka bisa melihat pemandangan danau. Aku bisa mendengar teriakan senang anak-anak menikmati angin kencang dan melihat entah apa di bawah feri. Suamiku memegang mereka berdua dengan erat.


“Nenek,” sapa Charlotte. Aku kembali melihat ke arah sahabatku. “Jangan menangis. Nenek boleh peluk Polly supaya tidak sedih lagi.” Dia memberikan boneka kelincinya. Claudia tersenyum. Dia menyeka pipinya, lalu mengangkat cucunya itu ke pangkuannya.


“Aku lebih suka memelukmu, Char. Terima kasih.” Claudia memeluk cucunya dan menciumnya. Kami semua saling bertukar pandang lalu tersenyum lega.


Tiba di Tomok, sopir mengendarai mobil selama beberapa menit menuju tempat penginapan yang Hendra maksudkan. Kami kembali ke hotel di mana aku dan suamiku pernah menginap. Aku sangat menyukai tempat ini bahkan aku rekomendasikan di blogku. Claudia kembali ceria. Dia segera membawa cucunya menuju tepi danau. Kami membiarkan para pria yang mengurus kamar kami.


“Ini yang aku sebut dengan berlibur!” ucap Claudia senang. Dia membuka kedua tangannya lebar-lebar sambil menghirup napas panjang.


Hadi menarikku menuju jembatan kayu ke arah pulau kecil di mana terdapat gazebo lengkap dengan tempat duduknya. Teman-teman mengikuti kami. Sambil berlindung di gazebo itu, kami menikmati angin danau dan terasa lebih dekat dengan alam.


“Tempat ini indah sekali,” bisik Qiana pelan. Aku mengangguk pelan.


“Pada akhir pekan, biasanya ada banyak orang yang menginap di sini. Mereka yang menaiki perahu penumpang bisa langsung berlabuh di tempat yang tersedia. Mereka tidak memiliki tempat yang bisa dilalui mobil, makanya feri tidak bisa berlabuh di sini juga,” kataku menjelaskan.


“Mereka punya tempat berenang sendiri, jadi kita tidak perlu mengkhawatirkan anak-anak.” Lindsey melihat ke sisi kanan kami di mana ada anak tangga untuk menuju danau.


Hendra datang untuk memberitahukan bahwa kamar kami sudah beres dan mengajak kami untuk makan siang. Makanan yang mereka sajikan sangat enak. Tidak selezat buatan Fahri, tetapi aku tidak akan mengeluh. Claudia dan Mason juga tidak keberatan dengan rasa masakan tersebut.


Kamar kami berdampingan, jadi anak-anak tidur di kamar yang bersebelahan dengan kami. Ada pintu yang menjadi penghubung sehingga Hadi dan Dira tidak perlu takut berada jauh dari kami. Hendra tidak meminta dua tempat tidur kami diganti dengan ranjang tunggal yang berukuran lebih besar. Dia malah memanfaatkan kesempatan untuk tidur bersama di ranjang untuk satu orang.

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa bergerak dengan bebas saat tidur bila berbaring sedekat ini denganmu?” keluhku ketika kami beristirahat siang.


“Kamu tidak pernah mengeluh tidur sedekat ini denganku di ranjang besar kita,” katanya santai. “Tidurlah. Apa kamu tidak lelah? Aku saja lelah sekali.”


Aku mengalah dan membiarkan dia tidur memelukku begitu erat sampai aku tidak leluasa bergerak. Biasanya aku menyukai posisi tidur kami ini, tetapi badannya besar. Ukuran tempat tidur ini hanya cukup untuk menampung tubuhnya. Aku berkali-kali merasa khawatir akan jatuh bila aku bergerak sedikit saja.


Namun saat dia pulas, aku tidak bosan menatap wajah damainya. Dia tidak tampan, itu harus aku akui. Vivaldo adalah tipe pria kesukaanku dari segi fisik. Dicky bahkan lebih tampan lagi. Tetapi aku tidak tertarik lagi pada hal lahiriah. Mereka tidak mengerti. Aku sudah bukan lagi gadis remaja yang mencintai pria dari pesona luarnya.


Meskipun di mata orang lain Hendra tidak menarik, jiwanya sangat indah. Hal yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh orang banyak. Bagi mereka, dia adalah laki-laki arogan, egois, tidak punya perasaan, rela melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Bagiku, dia adalah kekasih yang penyayang, ayah yang hebat, dan pria yang bertanggung jawab. Penampilannya bisa menipu, tetapi dia hebat di ranjang. Hal itu akan menjadi rahasiaku saja.


“Apa kamu sudah puas mengagumi wajahku?” tanya Hendra yang aku pikir masih tidur. Aku tertawa mendengarnya. “Apa kamu tidak lelah, sayang?”


“Aku tidak bisa tidur,” jawabku jujur.


“Baik. Aku akan pindah ke tempat tidur sebelah.” Aku segera menahan tubuhnya dengan mempererat pelukanku. Dia tertawa.


“Lalu, mengapa kamu tidak bisa tidur?”


“Aku sedang memikirkan betapa beruntungnya aku punya suami seperti kamu.”


“Aku sudah sering katakan, kamu tidak akan menyesal menikah denganku,” katanya sombong. Aku melepaskan pelukanku dan berniat untuk duduk, kali ini dia yang menghalangi aku untuk bergerak. “Mengapa kamu mudah sekali marah? Lagi pula aku berkata jujur.”


“Sayang?” tanyaku. Dia menggumam pelan. “Apa kamu tidak lelah hidup bersamaku?” Dia menggelengkan kepalanya. “Apa kamu tidak tertarik untuk mencoba hidup baru dengan wanita lain?” Dia kembali menggelengkan kepalanya. “Wanita bernama Nora itu cantik juga.”


“Kamu lebih cantik.” Dia membuka matanya lalu mengecup bibirku. “Bila kamu hanya ingin membahas hal tidak penting seperti ini, sebaiknya kita bangun.” Terdengar suara tangisan Dira. “Hadi pasti menggodanya lagi. Aku akan membawa mereka berenang.”


Suamiku membantu anak-anak berganti pakaian, lalu mereka bergandengan tangan menuju danau. Aku mengunci kamar kami dan mengikuti mereka. Satu-persatu temanku datang. Kami duduk bersama di kursi malas melihat keindahan danau, sedangkan para suami dan anak-anak asyik dengan permainan air mereka.


“Mengapa hanya Hendra, Gio, dan Zach yang punya tubuh bagus? Dunia ini memang tidak adil,” keluh Qiana. “Aku mati-matian menjaga bentuk tubuhku, Helmut malah tidak peduli tubuhnya semakin tahun bertambah gendut.”

__ADS_1


“Suamiku sudah mencoba mengajaknya berolahraga bersama. Helmut selalu menolak,” ucapku.


“Ada hal lain yang lebih penting untuk dibicarakan daripada berat badan.” Darla mengarahkan layar tabletnya kepada kami. “Nora, Dicky, dan Vivaldo dinyatakan tidak bersalah dan tidak terlibat dalam skandal yang berhubungan dengan Zahara dan Hendra. Kru televisi dan salah satu karyawan bagian IT hotel mengaku sebagai dalang dari bocornya rekaman CCVT tersebut.”


Qiana segera mengambil tablet itu dan membaca berita yang terpampang pada layar. Aku yang duduk di sisinya, ikut membacanya. Nora dan Dicky membantah bahwa mereka bertemu untuk serah terima rekaman CCTV mengenai aku dan Vivaldo. Mereka bertemu hanya untuk membahas mengenai kerja sama proyek baru mereka. Pertemuan dengan Vivaldo juga ada hubungannya dengan proyek tersebut.


Dicky juga membantah keterlibatannya dengan penculikan Dira. Dia tidak mengenal laki-laki yang buron tersebut. Menurut pengakuannya, laki-laki itu datang menemuinya untuk mengancam karena salah satu manajer pernah menawarinya pekerjaan.


Vivaldo menuntut balik laboratorium di mana tes DNA dia dan Hadi dilakukan atas tuduhan penipuan. Menurutnya, dia tidak tahu-menahu bahwa mereka akan membohonginya dengan membuat hasil tes palsu. Dia percaya sepenuhnya bahwa mereka memberi hasil yang autentik.


“Aku ingin merobek-robek senyum arogan di mulut Vivaldo, menarik rambutnya sampai dia botak, dan mematahkan tangan juga kakinya,” kata Lindsey geram. “Seandainya bisa, aku ingin memelintir leher Nora dan Dicky supaya mereka langsung mati saja.”


“Aku juga benar-benar ingin mencekik orang saat ini. Zahara telah dihina besar-besaran di media, dihina ke mana dia pergi, bahkan sampai dilecehkan di supermarket, mereka malah lolos begitu saja. Aku tidak bisa membiarkan ini,” ucap Qiana.


“Tentu saja kita tidak akan membiarkan mereka melenggang bebas begitu saja,” kata Darla setuju. “Dia telah kehilangan bayinya karena tekanan yang mereka berikan. Kita tidak akan tinggal diam.”


“Ada satu hal yang terjadi yang mungkin belum kalian ketahui,” ucapku pelan. Mereka mengarahkan pandangan mereka kepadaku. “Pada hari perayaan ulang tahun perusahaan suamiku, aku hampir digauli dua pria di koridor toilet.”


“Kamu apa?!” tanya mereka berempat terkejut. Aku segera meletakkan telunjukku ke depan bibirku. “Zahara!” protes mereka.


“Aku shock, oke? Karena itu aku belum berani menceritakannya kepada kalian.” Aku menjelaskan alasan diamku. “Aku tidak mau mereka lepas. Aku hampir kehilangan seluruh harga diriku, aku tidak mau mereka bebas dari hukuman. Dipermalukan di depan layar saja tidak cukup. Mereka berhasil membalas setiap serangan Hendra dan lolos dari jerat hukum dengan mulus.”


Mereka berlima memegang tanganku ketika aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Bayiku bukanlah satu-satu hal yang mereka rebut dariku, mereka juga nyaris merampas kehormatan yang aku jaga dengan baik.


“Aku tahu bagaimana membuat mereka merasa malu di depan umum, sekaligus mendapatkan ganjaran atas setiap perbuatan mereka.” Claudia memasang wajah yang serius. “Tetapi kita harus melakukannya pada saat yang bersamaan.”


“Apa maksudmu?” tanya Darla.


“Mereka bertiga bekerja sama melakukan semua ini. Bila satu orang dijebak, dia akan memberitahu yang lain sehingga rekannya tidak jatuh pada perangkap yang sama. Bila kita mau menghukum mereka bertiga, maka kita harus melakukannya pada waktu yang sama.”

__ADS_1


__ADS_2