
“Apa yang kamu tunggu, Abdi? Usir pria itu.” kataku kepada kepala pelayan kami.
“Baik, Nyonya.” Abdi melihat ke arah belakangnya. Liando segera datang mendekat dan mereka masing-masing memegang lengan Aldo dan menyeretnya keluar dari rumahku.
“Lepaskan aku! Ara, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu lebih memilih hidup menderita di rumah ini? Ara!” Aku hanya diam melihat Abdi dan Liando menyeretnya keluar.
“Apa dia sudah gila? Mengapa dia datang lagi setelah apa yang dia lakukan semalam?” tanya Claudia tidak mengerti.
“Pria mana yang akan rela melepaskan wanita secantik Zahara, Claudia? Apalagi setelah dia berhasil mencicipinya.” Qiana melihat ke arahku. “Jangan salah paham. Aku memujimu.”
“Itu jenis pujian yang tidak ingin aku dengar, Qiana,” kataku pura-pura protes. Teman-teman hanya tertawa. Mereka kembali berjalan menuju ruang duduk.
Aku melihat ke arah pintu. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya membuat dia mengerti? Aku tidak ingin kembali lagi kepadanya. Aku ingin hidup bersama Hendra, bukan pria lain. Jika dia terus datang seperti ini, pernikahanku akan benar-benar hancur.
Setelah makan siang bersama, teman-temanku pamit untuk melanjutkan aktivitas mereka yang lain. Aku berterima kasih atas kedatangan mereka. Kami saling berpelukan dan memberi ciuman di pipi sebelum berpisah. Aku berdiri di teras mengantar kepergian mereka.
“Apa kamu sudah memberitahu petugas keamanan untuk tidak pernah mengizinkan laki-laki itu memasuki pekarangan rumah ini lagi?” tanyaku kepada Abdi.
“Sudah, Nyonya,” jawabnya dengan sopan.
“Tolong, minta Liando bersiap mengantarku ke rumah sakit sore ini. Aku akan beristirahat sebentar.” Aku menaiki tangga setelah mendengar responsnya.
Perubahan emosi yang drastis sejak semalam membuatku sangat lelah. Walaupun aku tidur pulas, tubuhku terasa baru saja melakukan pekerjaan fisik yang berat. Tanpa mengganti pakaian, aku membaringkan tubuh di tempat tidur dan segera terlelap.
__ADS_1
Rasa sakit yang amat sangat tepat di bagian tengah atas perut membangunkanku. Aku mengusap perut besarku mencoba mencari di mana si kecil berada. Mengapa dia tidak bisa membiarkan mamanya tenang sebentar saja? Aku melirik ke arah jam digital yang ada di atas nakas. Sudah pukul empat sore. Aku mendorong tubuhku untuk berada di posisi duduk. Saatnya bersiap ke rumah sakit.
Lalu lintas yang buruk membuatku tiba pukul enam sore di tempat parkir. Liando ikut bersamaku menuju kamar di mana Mama dirawat. Dia membantuku membawakan keranjang berisi makanan. Suamiku sudah ada di dalam kamar, begitu juga dengan Rasmi.
“Hai, sayang.” Hendra segera berdiri mendekatiku. Dia memelukku sambil mencium rambutku. “Semuanya baik-baik saja?” Aku mengangguk pelan. Aku melihat ke arah Mama.
“Hai, Ma,” sapaku kepada wanita yang melihatku dengan tatapan sedihnya.
“Kami akan menunggu di luar. Kalian bicaralah.” Hendra melepaskan pelukannya. Papa dan Rasmi berdiri, lalu berjalan melewatiku menuju pintu.
“Kemarilah.” Mama menepuk tepi tempat tidurnya. Aku menurut. “Apa kamu baik-baik saja?” Aku mengangguk, lalu memeluknya.
“Maafkan aku, Ma. Tolong, maafkanlah aku. Aku sudah sangat mengecewakan Mama.” Aku tidak menahan tangisku lagi.
“Tidak. Mama jangan katakan itu.” Aku melonggarkan pelukanku dan menatap wajahnya. “Aku menikah dengan Hendra atas kesadaranku sendiri. Aku juga tidur dengan Aldo adalah pilihanku sendiri. Mama sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini.”
“Jawab pertanyaan ini.” Mama menatapku dengan serius. Aku menelan ludah dengan berat, menunggu pertanyaannya. “Apa ini anak suamimu?”
“Iya, Ma. Anak ini anak Hendra,” kataku dengan tegas. Mama mendesah pelan.
“Syukurlah.” Mama melihat ke arah pintu. “Aku lapar. Panggil mereka agar kita bisa makan bersama.” Aku segera menurutinya.
Kami makan bersama sambil membicarakan hal-hal yang ringan. Mama tidak mau menyentuh makanan yang disediakan oleh rumah sakit. Untung saja aku membawa masakan yang aman untuk dikonsumsi olehnya. Melihatnya makan dengan lahap, aku merasa lebih tenang.
__ADS_1
Zach kemudian datang dan suasana kamar itu segera menjadi ramai. Dia menggangguku tetapi Rasmi dan Hendra serentak membelaku. Aku tertawa melihat wajah patah hatinya karena pacarnya lebih memilih untuk berpihak kepadaku daripada dia.
Setelah berjanji akan datang lagi menjenguk Mama, kami pamit pulang. Papa tetap menemani Mama di kamar sampai Mama tidur. Zach tidak bisa mengantar Rasmi pulang karena dia datang dengan mengendarai mobilnya sendiri. Kami pun berpisah di pintu utama rumah sakit.
“Aldo datang lagi,” kataku saat kami sudah berbaring di tempat tidur.
“Abdi sudah memberitahuku.”
“Mengapa petugas keamanan masih membiarkan dia masuk setelah insiden semalam?” tanyaku tidak mengerti.
“Aku yang mengintruksikan begitu. Hanya kamu yang bisa mengatakan hal itu kepada mereka. Bukan aku. Aku sudah bilang, kamu bebas bertemu dengannya kapan pun kamu mau.” Aku membulatkan mata mendengar kalimat itu. Apa aku tidak salah dengar?
“Apa maksudmu? Aku pikir kita baik-baik saja. Mengapa kamu malah mengatakan itu?” protesku.
“Kita jangan bertengkar lagi, ya.” Dia membelai wajahku. Aku terpaksa terdiam mendengarnya. “Aku lelah dengan semua yang harus kita hadapi karena ulahnya semalam. Jadi, aku mohon jangan bahas dia lagi. Silakan katakan mengenai apa saja, kecuali dia. Ini terakhir kalinya aku mendengar namanya kamu sebut semesra itu dengan bibirmu.”
“Aku tidak ….” Aku mencoba untuk menjelaskannya, tetapi dia malah membungkamku dengan ciumannya. Aku bodoh sekali. Keadaan kami ternyata tidak baik-baik saja. Dia masih berpikir bahwa aku dan Aldo punya hubungan khusus. Mengapa dia berpikir begitu?
Memenuhi janjiku kepada Papa, aku datang ke rumah sakit membawa makanan ringan dan makan siang kami. Aku mengajak Liando untuk makan bersama kami, tetapi dia menolak. Papa memotong apel untukku dan Mama saat kami berbincang dengan santai. Aku senang melihat wajah Mama sudah tidak pucat lagi. Dia terlihat jauh lebih segar dari semalam.
“Bukankah itu Vivaldo?” tanya Papa sambil melihat ke arah layar televisi. Aku menoleh.
Televisi sedang menayangkan siaran berita di mana seorang kepala instansi dan asistennya terjaring operasi tangkap tangan saat sedang menerima suap sejumlah ratusan juta. Bukan hanya Aldo, aku juga mengenal laki-laki yang berjalan bersamanya itu. Sejumlah petugas polisi dan pria berpakaian bebas berjalan bersama mereka keluar dari sebuah hotel.
__ADS_1
Dilihat dari waktu penangkapan, sepertinya dia ke hotel tersebut sepulang kerja. Seingatku, dia tidak mengenakan kemeja itu saat dia datang ke rumahku pada saat teman-temanku sedang berkunjung. Apa yang dia lakukan? Apa dia tidak memikirkan nasib anak-anaknya bila dia masuk penjara? Apakah dia begitu membutuhkan uang sampai menerima suap nyaris menyentuh satu miliar?