
“Aku dataaang …!” Qiana mengejar Charlotte yang berenang menggunakan ban bebeknya. Gadis kecil itu berteriak histeris, berusaha untuk menjauh dari jangkauan Qiana.
Aku cemberut melihat mereka berenang menikmati air danau. Aku hanya punya Rasmi yang duduk menemani aku di kursi malas di tepi danau. Meskipun aku sudah tidak pendarahan lagi, Hendra melarangku melakukan olahraga berat atau berada di air yang kebersihannya tidak terjamin. Jadi, aku hanya bisa berendam di bak kamar mandi. Sama sekali tidak boleh berenang.
Seminggu berada di tempat ini, kami lebih banyak bersantai di kamar, makan, menonton, berenang, hanya satu kali saja kami keluar bersama dari penginapan. Saat aku dan teman-teman berbelanja. Kami sangat menikmati setiap waktu santai kami di tempat ini. Membayangkan perjalanan pulang, aku mendesah pelan. Enam jam perjalanan darat, ukh.
Tetapi Claudia, Lindsey, Qiana, dan Rasmi setiap hari pergi ke lokasi wisata bersama suami, anak, juga cucu mereka. Mereka memamerkan kunjungan mereka ke menara pandang, pantai, air terjun, pemandian air panas, bahkan tempat wisata rohani. Aku tidak cemburu karena aku sudah pernah mendatangi semua tempat itu bersama Hendra.
“Apa yang kamu lakukan, Rasmi? Mengapa istriku mengeluh terus seperti ini?” tanya Hendra yang duduk di kursi malasku. Adik iparku itu tertawa.
“Kakak tertawa di danau sana meninggalkan istri Kakak sendirian di sini, siapa yang lebih tepat disebut sebagai penyebab murungnya kakak iparku?” balas Rasmi.
“Aku adalah sumber kebahagiaan istriku. Dia tidak akan pernah cemberut karena aku,” goda Hendra. Aku mendengus pelan. Rasmi tertawa melihat ulah kami. “Apa ada yang ingin kamu beli atau lakukan di pulau ini sebelum kita kembali ke Jakarta besok?”
“Aku hanya ingin pulang.” Aku menggeleng pelan.
Maka itu yang kami lakukan. Untuk menghindari kemacetan karena liburan akhir pekan, kami memilih untuk pulang pada hari Senin. Berbeda dari kedatangan kami, pada saat menyeberang menggunakan feri kembali ke Parapat, kami tidak henti berfoto bersama.
Pemandangan indah pagi itu tidak kami sia-siakan. Kami beruntung hari ini tidak hujan, langit juga bersih, dan angin tidak terlalu dingin. Kami duduk bersama di lantai paling atas dan menikmati angin kencang yang bertiup karena kecepatan feri. Perlahan pulau di seberang kami semakin dekat.
Karena bukan akhir pekan, tidak ada anak-anak kecil yang menyambut kami sambil mengharapkan lemparan uang logam. Mereka perenang ulung yang harus aku acungi jempol. Karena mereka bisa menangkap setiap uang logam yang dilempar ke danau.
__ADS_1
Aku melihat Claudia menatap ke arah gerbang keluar pelabuhan dengan wajah sedih. Dia pasti teringat dengan anak kecil mirip Clarissa yang dilihatnya pada saat kami datang ke sini. Ya, Tuhan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepada gadis kecil itu andai dia masih hidup. Hilangnya dia dari lokasi kecelakaan masih menjadi pertanyaan bagi kami semua.
Jika benar dia masih hidup, siapa yang melakukan hal sejahat ini? Mengapa memisahkan anak sekecil itu dari keluarganya? Lindsey dan Edu sudah menelusuri semua orang yang mungkin punya dendam kepada mereka. Nihil. Kami bahkan membantu dengan menyelidiki masa lalu anak-anak mereka juga. Tetapi hasilnya sama saja. Kami tidak menemukan petunjuk apa pun.
“Bagaimana bisa seorang anak yang berusia dua tahun hilang tanpa bekas dari tempat kejadian kecelakaan? Kedua orang tuanya ditemukan tewas di tempat, tetapi Clarissa tidak,” ucap Claudia pelan. “Apa mungkin ini ada hubungannya dengan orang yang tidak menyukai aku atau Mason?”
“Sudah, sayang. Cukup. Kita datang ke tempat ini untuk berkumpul bersama teman-teman kita. Kamu sudah cukup lama berduka.” Mason merangkul bahu Claudia. Sahabatku itu meletakkan kepalanya di bahu suaminya. Pembicaraan mengenai Clarissa pun selesai.
Kami berhenti sejenak di salah satu warung untuk menikmati pemandangan Danau Toba dari atas bukit. Rasanya tidak ingin beranjak dari tempat itu melihat birunya danau, hijaunya tumbuhan di sekitarnya, juga cerahnya langit. Kami mengambil foto bersama sebagai kenangan. Aku tidak yakin kami akan bisa datang lagi ke tempat ini dalam waktu dekat. Foto-foto ini akan bisa menjadi obat penawar rindu.
“Hanya ada satu kekurangan besar dari tempat ini,” ucap Claudia. Kami menoleh ke arahnya. “Lokasinya terlalu jauh dengan kondisi jalan yang buruk. Mengapa tidak dibangun tol, jalur kereta api atau bandara untuk mempermudah turis datang?”
“Tempat ini punya potensi besar seandainya saja diperlakukan layaknya Bali. Kalian bisa lihat sendiri teman-temanku ingin datang ke sini setelah melihat postinganku di media sosial. Aku orang yang jujur, jadi aku beritahu mereka bahwa menuju tempat ini tidak mudah.” Claudia menyesap kopinya.
“Pejabat penting di provinsi ini sering kedapatan melakukan suap atau korupsi, itu sudah menjadi satu petunjuk mengapa infrastrukturnya buruk,” bisik Helmut. Pejabat penting? Suap atau korupsi? Mengapa aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya? Aku tahu apa yang bisa kami lakukan untuk membalas perbuatan mereka.
Sopir beberapa kali menawarkan kami untuk mampir ke tempat yang menjual makanan khas setiap tempat yang kami lewati. Hendra menyetujui hampir semuanya. Jadi aku tidak heran melihat mobil dipenuhi dengan berbagai aroma sedap.
Mangga udang khas Parapat yang setengahnya sudah kami habiskan, roti tawar yang sudah diolesi dengan selai pilihan sendiri dan roti ketawa, atau yang lebih dikenal dengan onde-onde ketawa, dari toko roti terkenal di Pematang Siantar, kue kacang khas Tebing Tinggi, bahkan berbagai keripik yang kami beli di satu dari barisan panjang toko di Bengkel, Perbaungan. Aku bingung akan di mana kami simpan semua makanan itu di pesawat nanti?
Sampai di bandara, aku membiarkan para suami dibantu oleh sopir untuk mengurus barang bawaan kami. Aku menggandeng tangan Hadi, sedangkan Darla menggendong Dira yang masih asyik menjilat mangganya. Hendra yang mengurus setiap sisa pembayaran.
__ADS_1
“Ini oleh-oleh sekadarnya dari kami, Pak. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menggunakan jasa kami selama delapan hari.” Seorang wanita memberikan dua kardus besar dengan label toko yang terkenal dengan bolu gulungnya di Medan. Oh, Tuhan. Bagaimana lagi kami akan membawa kardus itu?
“Oh! Aku tahu bolu ini! Aku menyukainya. Terima kasih.” Qiana mengambil satu kardus dari tangan Hendra, lalu meletakkannya di troli yang dipegang oleh suaminya. Kami menatapnya tidak percaya. Dia melenggang menuju gerbang masuk, mengabaikan tatapan kami.
Penerbangan itu penuh dengan drama karena Dira sangat rewel. Dia mengantuk tetapi tidak mau tidur di kursinya atau di dada papanya. Dia mau tidur dalam pelukanku. Masalahnya, Hendra tidak mengizinkan putri kami duduk di pangkuanku sejak aku mengalami keguguran. Solusi satu-satunya adalah meninggalkan Hadi duduk sendiri. Aku duduk bersama Hendra dengan putri kami ada dalam pelukannya dan aku ikut memeluknya.
Aku bahkan belum bisa tenang ketika kami sampai di rumah. Dira masih belum mau lepas dariku. Aku harus bersamanya sampai dia tertidur di tempat tidurnya. Hendra tertawa kecil saat aku masuk ke kamar kami dengan langkah terseret. Aku benar-benar kelelahan.
Setelah dua hari beristirahat, malam ini Hendra mengajakku untuk ikut bersamanya ke suatu tempat. Kami membawa anak-anak bersama kami. Melihat kami menuju rumah Lindsey, aku menatapnya tidak mengerti. Tetapi aku senang bisa bertemu lagi dengan teman-temanku.
Kami makan malam bersama sambil membicarakan hal-hal ringan, lalu pengasuh Charlotte membawa anak-anak ke ruang keluarga untuk menonton. Kami para orang tua berkumpul di ruang kerja Edu. Aku menatap suamiku dengan bingung.
“Aku terbiasa kerja sendiri dengan caraku sendiri, tetapi kali ini aku harus mengalah. Istriku ingin dilibatkan dalam rencanaku.” Hendra memulai pembicaraan kami. Mendengar itu, aku mengerti tujuan dari pertemuan ini. Aku tersenyum kepadanya.
“Rencana kalian bagus, sayangnya, ada banyak titik lemah yang bisa membuat kalian mendapat serangan balik pada saat itu juga.” Hendra mengeluarkan sebuah diska lepas dan memasukkannya ke laptop yang tersedia. Lalu proyektor LCD menampilkan sebuah gambar yang bisa kami lihat pada layar putih yang ada di hadapan kami.
“Apa ini?” tanya Qiana melihat balok dan keterangan di dalam maupun di luar balok berbeda warna yang ada pada layar tersebut.
“Misi kita untuk menjebak ketiga orang yang berpikir bahwa mereka bisa lolos begitu saja. Kita akan dibagi dalam tiga tim. Jadi, dengarkan baik-baik tugas dari setiap tim. Kita tidak akan gagal bila setiap langkah dikerjakan dengan baik. Aku akan mulai dari timku dan Za.”
Aku menelan ludah dengan berat. Jantungku berdebar lebih cepat. Bukan karena aku takut, tetapi karena aku sudah tidak sabar untuk membalas perbuatan mereka bertiga.
__ADS_1