
Mendengar kata cintanya jauh lebih menyakitkan daripada menerima perlakuan kasarnya semalam. Mendengar suara sedihnya membuatku tidak nyaman dibandingkan dengan mendengar ancaman bernada dinginnya. Aku tidak menyukai perasaan yang aku rasakan di dadaku ketika mendengar ketulusan pada suaranya.
Karena itu aku membalikkan badanku dan menutup mulutnya dengan mulutku. Aku tidak mau mendengarnya mengatakan cinta lagi. Lebih baik bila dia terus menyakitiku dan melukaiku. Semua ini akan lebih mudah aku jalani bila dia memperlakukan aku dengan jahat. Aku tidak mau kebaikan hati dan rasa cintanya membuatku berubah pikiran hingga menyukai pernikahan ini.
“Sayang, tolong jangan lakukan ini,” ucapnya di tengah-tengah ciuman kami. Dia tidak akan bisa menolakku, dia selalu menginginkan aku. “Tolong, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu semalam. Tetapi jangan lakukan ini.”
“Bukankah kamu ingin kita memiliki anak?” Aku menyentuh wajahnya dan menatap kedua matanya. “Kamu sudah memberikan apa yang aku butuhkan, sekarang giliranku memberikan apa yang kamu inginkan.” Hendra menatap kedua mataku lalu membelai pipiku.
“Apakah kamu menginginkan aku?” tanyanya penuh harap.
Tidak. Aku tidak akan pernah mau menginginkan dirinya, mendambakannya, aku juga tidak mau mengharapkan pernikahan ini akan berjalan seperti yang dia inginkan. Aku tidak akan pernah jatuh cinta kepadanya. Aku tidak akan membiarkan hatiku menjadi miliknya. Jadi, aku memilih untuk tidak menjawabnya dan menciumnya lagi.
Sesuai dengan janjiku kepada Papa dan Mama, aku menjemput mereka pada pagi itu dan kami pergi ke rumah sakit bersama. Hendra benar. Aliando tidak lagi menjadi sopirku. Hanya pada satu hari itu saja. Aku sudah bisa pergi ke mana pun yang aku mau.
Kami menemui dokter yang sudah biasa menangani Mama, dan dia memberitahukan kepada kami mengenai prosedur yang harus kami lakukan sebelum pemasangan cincin bisa dilakukan. Ada beberapa pemeriksaan yang harus Mama lewati.
Aku mendaftarkan Mama untuk mengikuti semua pemeriksaan yang diminta oleh dokter. Aku dan Papa dengan sabar menemani Mama berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain untuk rontgen, tes darah, dan pemeriksaan lainnya yang tidak bisa aku hapal namanya.
Menunggu hasil pemeriksaan darah lebih lama dibandingkan pemeriksaan lainnya yang sudah bisa langsung dibaca oleh dokter. Kami disarankan agar kembali pada keesokan harinya agar Mama tidak terlalu lelah. Aku mengajak mereka untuk makan siang di kantin rumah sakit sebelum mengantar mereka pulang. Mama terlihat sangat bahagia, aku ikut bahagia karenanya.
Setelah mengantar kedua orang tuaku pulang, aku juga kembali ke rumah. Aku tidak ingin menunda pulang karena tidak ingin terjebak kemacetan pada jam pulang kerja karyawan. Menunggu Hendra pulang, aku memanfaatkan waktuku dengan memeriksa blogku dan menulis mengenai pengalaman pertamaku menemani Mama menjalani proses persiapan pemasangan cincin di jantung.
Entah kapan aku tertidur, aku mendengar suara Hendra memintaku untuk bangun. Aku membuka mata kemudian menguap panjang. Dia hanya tertawa. Aku melihat dia sudah mengganti pakaiannya dengan kaus berleher huruf V berwarna krem, bukan setelan kerjanya lagi.
__ADS_1
“Kamu sudah pulang? Jam berapa ini?” Aku melirik arlojiku. Jarum menunjukkan pukul delapan tepat. Mengingat aku sudah melewatkan jam makan malam, perutku terasa lapar.
“Maaf, ada urusan mendadak di kantor, jadi aku pulang agak terlambat. Kamu pasti lapar. Ayo, kita makan sekarang,” ajaknya. Aku menurut.
Kami menuju ruang makan dan makanan sudah tersaji di atas meja. Aku meminum air untuk membantuku mengusir rasa kantuk. Hendra membantu menyendokkan nasi, ayam goreng, dan sayuran ke atas piringku. Aku berterima kasih kepadanya.
“Apakah pemeriksaan di rumah sakit tadi melelahkanmu?” tanyanya pelan. “Aku pulang tadi tidak tega membangunkanmu, jadi aku mandi lebih dahulu agar tidurmu bisa lebih lama.”
“Pemeriksaannya tidak banyak. Kami pulang setelah makan siang.” Aku menguap pelan. Aneh. Mengapa aku mengantuk sekali? “Aku juga tidak sadar aku tertidur di ruanganku.”
“Baik. Makanlah. Lalu kita segera tidur. Besok kamu akan ke rumah sakit lagi, ‘kan?” tanyanya. Aku menganggukkan kepalaku.
“Mama sangat senang hari ini. Dokter sangat positif bahwa Mama bisa menjalani operasi pemasangan cincin jika semua hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya kendala yang berarti.” Aku tersenyum mengingat wajah bahagia Mama sepanjang pagi tadi.
Pada keesokan paginya, aku terkejut melihat ada pekerja bangunan di rumah Papa dan Mama. Aku mematikan mesin mobil dan keluar untuk melihat apa yang sedang mereka kerjakan. Papa keluar rumah bersama Mama, lalu menyapaku. Aku melepaskan kacamata hitamku.
“Apakah ada atap rumah yang bocor, Pa?” tanyaku saat Papa menolong Mama masuk ke jok belakang mobil.
“Tidak. Hendra yang mengirim mereka. Katanya, dia ingin memperbaiki rumah agar lebih nyaman untuk kami tinggali,” ucap Papa dengan nada bangga. Aku tersenyum mendengarnya. Papa masuk ke dalam mobil, lalu aku memutar mobil dan kembali duduk di belakang setir.
“Ketika kami menebus rumah, orang utusannya memberitahu kami mengenai niat suamimu untuk merenovasi rumah. Tetapi karena kami akan ke rumah sakit, kemarin mereka baru datang pada sore hari. Itu pun hanya untuk melihat-lihat apa yang perlu diperbaiki di rumah kita,” tambah Papa. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
“Dan pagi ini ada banyak sekali barang yang datang dan tukang yang akan bekerja. Hendra bilang, rumah bisa dipercayakan kepada mandor. Tidak akan ada barang yang hilang dari rumah. Karena itu kami tenang meninggalkan rumah.” Papa mendesah lega.
__ADS_1
“Suamimu baik sekali. Seharusnya dari dahulu kamu menyampaikan kebutuhanmu kepadanya. Dia kedengarannya sangat bahagia bisa menolong kami.” Papa melihat ke arah Mama.
“Mulai dari sekarang, Papa dan Mama boleh mengatakan apa saja kepadanya. Aku tidak akan melarang lagi. Hendra benar. Dia adalah putra kalian juga sejak dia menikah denganku. Jangan segan menyampaikan apa pun jika Papa dan Mama membutuhkan bantuannya,” kataku pelan.
“Benarkah?” tanya Papa tidak percaya.
“Tetapi tolong pikirkan tentang aku setiap kali Papa dan Mama membutuhkan sesuatu.”
“Nak, kami tidak akan memanfaatkan kekayaan atau kebaikannya untuk keuntungan kami pribadi,” ucap Mama dengan tangannya berada di bahuku. “Bukan hanya kamu, kami juga punya harga diri. Kami hanya akan datang kepadanya di saat kami tidak berdaya lagi.”
Aku menyentuh tangan Mama yang ada di atas bahuku tersebut. “Terima kasih, Ma. Aku percaya kepada Papa dan Mama.”
Dokter memberi kabar yang membahagiakan. Mama bisa segera menjalani prosedur pemasangan cincin tersebut. Aku mendesah lega mendengarnya. Jadwal paling cepat yang bisa dia berikan adalah dua hari kemudian. Kami segera menyetujui jadwal tersebut.
Mama diminta untuk beristirahat yang cukup, menjaga pikiran tetap positif, makan makanan yang sehat, juga tidak mengerjakan hal yang bisa membuatnya lelah. Papa berjanji kepada dokter bahwa dia sendiri yang akan memastikan bahwa Mama akan menuruti semua sarannya tersebut. Kami hanya tertawa mendengarnya.
Pada malam hari sebelum hari pemasangan cincin dilaksanakan, aku datang ke rumah mereka untuk makan bersama. Aku meminta Yuyun untuk memasakkan makanan yang sehat untuk penderita penyakit jantung. Kedua mertuaku datang dengan membawa makanan ringan. Hendra dan Zach juga menyusul setelah mereka pulang kerja.
Kami makan bersama sambil bercanda seperti biasanya. Tidak takut sama sekali dengan ancaman Hendra, Zach masih saja berani mengejekku. Aku membalasnya semampuku sebelum mengadu kepada suamiku yang lagi-lagi malah ikut tertawa, bukan membelaku. Dan tentu saja ibu mertuaku hadir sebagai penolong dengan memberi nasihat panjang lebar kepada putranya.
Suamiku mengajakku untuk pulang ketika melihatku menguap, tetapi aku menolak. Dia akhirnya memaksa bahwa kami harus segera pulang karena Mama juga membutuhkan istirahat, saat aku menguap untuk kedua kalinya. Aku akhirnya menurut. Kedua mertuaku juga ikut pamit pulang.
Dia meminta Kafin yang menyetir mobilku ke rumah, sedangkan dia mengendarai mobilnya sendiri. Aku duduk di sisi pengemudi. Aku membuka jendela di sisiku dan melambaikan tangan kepada keluargaku saat Hendra mengendarai mobil menjauh dari depan rumah.
__ADS_1