
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di dalam bak mandi dan membiarkan air pancuran membasahi badanku. Aku sama sekali tidak merasa kedinginan. Aku tidak merasakan apa pun. Dia menciumku, membelai tubuhku, hingga semuanya selesai, aku tidak merasakan apa-apa.
Secepat dia membawaku masuk ke kamar hotel itu, secepat itu juga dia menyelesaikan semuanya. Dia sudah tertidur pulas di sisiku saat aku masih berusaha memproses apa yang baru saja aku lakukan bersamanya. Aku tidak menunggu sampai dia bangun untuk membersihkan diri sebisaku di kamar mandi dan pulang ke rumah.
Pria yang telah mengisi hati dan pikiranku selama ini, yang tidak bisa aku keluarkan dari kepalaku, ternyata tidak bisa memberiku jawaban yang aku cari. Mengapa jantungku tidak berdebar untuknya? Mengapa tubuhku tidak mendambanya? Bukankah dia adalah satu-satunya pria yang aku cintai?
Lalu bila aku tidak mencintainya lagi, apa yang membuatku mau saja dicium dan dibawa ke hotel untuk tidur dengannya? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang menguasai pikiranku saat itu. Apakah aku hanya penasaran? Ingin tahu bagaimana rasanya bila aku bersamanya? Itukah yang terjadi pada beberapa jam yang lalu?
Begitu rasa kantuk menguasaiku, aku berdiri, mematikan air pancuran, dan keluar dari bak mandi. Aku memakai salah satu gaun tidurku dan berbaring di tempat tidur tanpa menunggu rambutku tidak lembap lagi. Apa yang terjadi pada malam ini tidak perlu diingat lagi.
Mertua dan orang tuaku berkunjung pada hari Minggu itu. Aku menyukai kejutan yang mereka berikan untukku. Tidak biasanya mereka datang bersamaan. Mungkin mereka berpikir bahwa aku kesepian tanpa suamiku bersamaku. Mereka masing-masing membawakan masakan yang aku suka. Yuyun tidak perlu repot untuk memasak lagi. Bagian untuk para pekerja juga ada.
Kami makan siang bersama dan mereka terus saja menggodaku yang makan dengan porsi besar dengan menambahkan makanan ke atas piringku. Untung saja Zach tidak datang juga atau aku akan sendirian menghadapi serangan dari keluargaku. Lama-kelamaan aku curiga. Apakah mereka sudah mengetahui bahwa aku sedang hamil?
Setelah mengobrol santai sambil menikmati minuman dan kue di ruang keluarga, mereka pamit. Aku mengajak mereka untuk makan malam bersama, tetapi mereka menolak. Mereka ingin pulang segera agar tidak terjebak kemacetan dan bisa mengantar papa dan mamaku pulang lebih dahulu. Mereka memelukku secara bergantian sebelum masuk ke mobil, lalu suasana rumah pun kembali sepi saat aku masuk sendirian.
Tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena Hendra meneleponku dan kami berbincang bersama saat aku makan malam. Aku tidak merasa sendirian di ruangan itu mendengar dia menceritakan mengenai urusannya dengan Xavier yang bisa diselesaikan dengan baik.
__ADS_1
“Kamu ingin apa, sayang? Aku akan menyempatkan diri untuk berbelanja besok. Xavier dan Annora memaksaku untuk ikut ke mal bersama mereka.” Dia mendesah pelan untuk mendramatisir. Aku tertawa kecil.
“Aku tidak menginginkan apa pun. Kamu sudah memberiku begitu banyak barang, Hendra.” Aku mengatakannya dengan nada serius agar dia tidak membeli apa-apa untukku.
“Aku biarkan saja Annora yang memilihkannya untukmu. Kalian para perempuan biasanya punya selera yang sama,” godanya. Mendengarnya menyebut nama wanita baik hati itu, aku jadi rindu dengan suasana kota London. Sudah lama sekali tidak pergi ke sana.
Hendra akan pulang, maka aku membeli bahan makanan untuk membuat menu kesukaannya selama satu minggu ke depan. Dia pasti sudah bosan makan makanan Eropa dan ingin menikmati masakan khas negeri sendiri lagi. Troli yang aku dorong jauh lebih penuh dari biasanya, jadi aku memilih konter kasir yang terdekat denganku.
“Hai, sayang.” Seseorang tiba-tiba saja memeluk pinggangku dan mencium pipiku. Aku segera menjauhkan diri darinya.
“Apa maksud kamu, Ra? Aku menyapamu,” katanya dengan kening berkerut.
“Kamu sudah berjanji bahwa traktiran itu adalah yang terakhir. Kamu tidak akan mengganggu aku lagi.” Aku mengingatkannya.
“Apa? Kita sudah lebih dari sekadar teman lama, Ra. Apa kamu lupa apa yang terjadi pada malam itu?” tanyanya bingung.
“Aku tidak mau membahasnya. Tepati janjimu dan menjauhlah dariku. Yang kamu lakukan ini tidak sehat. Ini sudah bukan lagi sebuah kebetulan.” Aku mendorong troli ke kasir. Aku bisa saja pergi dari tempat ini secepatnya dan meninggalkan troli tetapi aku sudah menghabiskan begitu banyak waktu untuk berbelanja. Aku tidak mau mengulang dari awal lagi.
__ADS_1
“Hari ini memang bukan kebetulan. Aku tahu kamu akan datang pada hari Senin atau Kamis seperti saat kita pertama kali bertemu. Tetapi sepertinya kamu hanya berbelanja pada hari Senin karena kamu tidak datang pada hari Kamis lalu.” Dia masih berdiri di dekatku. “Ada apa ini, Ra? Apakah suamimu mengetahui apa yang terjadi? Katakan, apakah dia menyakitimu?”
“Jangan sentuh aku.” Aku mundur saat dia merangkulku. “Aku hanya mau kamu menepati janjimu dan menjauhlah dariku.”
“Baik. Aku akan kembali lagi saat emosi kamu sudah reda. Tolong, jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu.” Dia berani mengucapkan kalimat terakhir itu dan mengabaikan janjinya sendiri? Siapa dia sebenarnya? Dia bukanlah Aldo yang aku kenal.
Dalam perjalanan pulang, aku merasakan Kafin menoleh ke arahku beberapa kali lewat kaca spion depan. Setelah kejadian malam aku pergi ke hotel bersama Aldo tanpa memberitahu Liando, sikap para pekerja di rumah berubah kepadaku. Mereka menjadi lebih waswas. Tidak. Akan lebih tepat jika aku sebut, mereka sedang ketakutan.
Mereka pasti sudah bisa menebak apa yang aku lakukan bersama Aldo pada malam itu. Apalagi Abdi menyambutku di rumah dalam keadaan kacau. Hanya keajaiban yang bisa menutup mulut semua orang. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menutupi kejadian itu dari Hendra sebelum ada yang memberitahunya. Semoga saja dia tidak akan pernah tahu.
Abdi dan Liando membantu Kafin menurunkan semua kantong belanjaan yang ada di bagasi mobil. Aku masuk ke rumah hanya membawa satu kantong saja. Hal pertama yang aku lakukan adalah mandi. Aku tidak suka sentuhan yang ditinggalkan Aldo pada pipi dan bagian tubuhku yang lain tadi. Janji laki-laki memang tidak bisa dipegang. Beraninya dia masih muncul lagi.
Setelah mengenakan pakaian, aku mendekati kantong belanjaan dan menyimpan beberapa alat riasku di dalam bufet. Mataku melihat sebuah map saat aku akan menutup laci tersebut. Ingatanku segera kembali pada hari di mana Hendra sangat marah kepadaku.
Dua hari tidak merasakan apa pun, jantungku kembali berdetak dengan cepat. Tanganku yang memegang map itu gemetar. Kakiku mulai terasa lemah, tidak sanggup menopang tubuhku sendiri. Aku duduk di tepi tempat tidur. Ya, Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan? Aku telah mengkhianati suamiku sendiri. Dan keluargaku yang akan menanggung akibatnya.
Mama baru saja pulih dari operasi dan begitu bahagia dengan hidupnya sekarang bersama Papa. Mereka juga tinggal di rumah yang nyaman menikmati masa tua mereka. Lalu Zach, adikku yang sedang jatuh cinta, yang baru saja menemukan keberanian untuk melangkah lebih serius dengan wanita yang sudah lama mencintainya. Apa yang akan terjadi kepada mereka?
__ADS_1