Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 44 - Ini Bukan Kebetulan


__ADS_3

Aku tidak suka harus berbohong lagi. Semalam aku tidak memerhatikan bagaimana Aldo menatapku karena aku tidak mau menimbulkan kecurigaan Papa dan Mama. Jadi aku hanya melihat ke sekeliling tanpa memfokuskan pandangan pada satu hal. Ternyata malah pria itu yang merusak segalanya. Untuk apa dia menatapku seperti itu di depan mertuaku?


Saat kami bertemu di swalayan dan makan bersama, dia tidak memberiku perhatian khusus. Kami berbicara layaknya teman lama, tidak lebih. Lalu mengapa dia melakukan itu semalam. Bukan hanya menatap seperti yang Mama katakan, dia juga berani memegang tanganku walaupun hanya sesaat ketika aku melewatinya.


“Kami tidak ada hubungan apa-apa, Ma. Aku juga baru bertemu dengannya semalam.” Aku sangat takut dengan reaksi mereka. Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa Aldo adalah mantanku? Hendra tidak ada di sini, aku tidak siap menghadapi reaksi mereka seorang diri.


Papa, Mama, dan Hendra bersikap sangat baik kepadaku. Tetapi aku tidak pernah bermimpi bahwa mereka akan tetap memperlakukan aku seperti ini bila aku melakukan satu kesalahan kecil saja. Hendra sudah menunjukkan sifat aslinya saat aku mengecewakannya dengan meminum pil. Papa dan Mama pasti akan kecewa jika mereka tahu bahwa Aldo adalah laki-laki yang menjalin hubungan denganku saat aku menolak lamaran Hendra.


“Aku sudah bilang, menantu kita adalah wanita yang cantik. Wajar saja para pria itu menatapnya. Karena itulah Hendra sangat berhati-hati menjaga istrinya.” Papa kembali mengingatkan. Mama terlihat tidak puas tetapi dia mengangguk pelan.


“Aku benar-benar tidak suka dengan cara laki-laki menatap menantuku. Dia adalah istri putraku. Aku tidak suka melihat dia harus berhati-hati setiap kali tampil di depan umum. Untung saja dia sudah punya tiga orang sahabat yang memperlakukannya dengan baik sehingga dia tidak kesepian.” Mama menatapku penuh simpati.


“Mama jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Setiap kali aku merasa kesepian, aku bisa datang ke rumah orang tuaku, ke rumah ini, atau berkumpul dengan teman-temanku.” Aku tersenyum. Mama tersenyum puas mendengarnya.


Tidak ingin mengubah jadwal kegiatanku, pada hari Senin itu aku pergi ke penatu dan berbelanja di supermarket. Menyadari bahwa porsi makanku kini lebih besar dari sebelumnya, aku membeli bahan makanan sebanyak dua kali lipat dari jumlah biasanya.

__ADS_1


Ada banyak makanan yang dijual yang mengundang selera, tetapi aku menahan diri untuk tidak membelinya. Masakan koki kami jauh lebih sehat untuk dikonsumsi. Maka aku melewati bagian makanan dan bergegas menuju kasir sebelum aku berubah pikiran.


“Berapa kali dalam seminggu kamu berbelanja, Ara? Bukankah baru beberapa hari yang lalu kamu membeli bahan makanan sebanyak ini?” tanya seorang pria yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatku. Aku melihat ke sekelilingku. Mengapa dia ada di tempat ini?


“Kamu menguntitku?” kataku tidak suka. Aku melanjutkan langkahku menuju kasir.


“Kantorku di sekitar sini. Atasanku memintaku untuk membeli minuman untuk rapat sore ini.” Dia tertawa kecil. “Apakah begitu sulit bagimu menerima bahwa kita bertemu secara tidak sengaja?”


“Belanjaanku banyak. Kamu sebaiknya mengantri di kasir lain saja. Atasanmu pasti menunggu.” Aku berdiri membelakanginya setelah berhasil masuk ke antrian. Seorang ibu di depanku sedang menunggu barang belanjaannya selesai dipindai oleh petugas.


“Apa kamu khawatir suamimu melihat kita bersama makanya kamu takut terlihat mengobrol denganku?” tanyanya yang ternyata masih berdiri di belakangku.


“Tentu saja aku punya alasanku sendiri. Tapi kamu pasti tidak akan percaya kepadaku,” katanya dengan nada sedih. Aku ingin sekali pergi secepatnya dari tempat ini. Terdengar bunyi benda bergetar. Bukan dari dalam tasku.


“Ya, Nak,” ucap Aldo. Ternyata ponselnya yang bergetar. “Jangan menangis. Bicara yang jelas. Apa?! Iya, iya. Ayah pulang sekarang.”

__ADS_1


Setelah membayar semua belanjaanku, aku menerima kartuku kembali. Tanpa mengatakan apa pun lagi, aku segera pergi dari konter kasir tersebut. Aku berdiri di depan pintu utama dan menunggu sampai Kafin datang.


“Ara, apakah kamu membawa mobilmu sendiri?” tanya Aldo yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sisiku. “Ah, aku sudah menghubungi taksi, semua unit mereka sedang bertugas. Aku perlu membawa putraku ke rumah sakit. Aku hanya punya sepeda motor, tidak akan nyaman untuk membawa seseorang ke rumah sakit.”


“Hubungi ambulans. Naik mobilku juga tidak akan banyak membantu. Kamu bisa lihat sendiri lalu lintas merayap karena ini jam makan siang,” kataku tidak mengerti. Mengapa dia malah meminta bantuan kepadaku?


“Menunggu ambulans terlalu lama. Anak-anak juga tidak akan mau membuka pintu untuk orang asing. Aku mohon. Rumahku tidak jauh dari sini,” desaknya lagi. Kafin datang, dia membukakan pintu mobil untukku sebelum mengambil alih troli belanjaan. “Ara ….” Aku benar-benar membenci hari ini.


“Masuklah.” Aku akhirnya mengalah. Dia berjalan memutar dan masuk ke mobil dari sisi kananku. Aku tahu dia panik, tetapi mengapa dia tidak menolong Kafin memasukkan barang-barang ke bagasi agar kami bisa lebih cepat pergi dari tempat ini?


“Ayah akan datang sekitar lima atau sepuluh menit lagi. Jangan lakukan apa pun pada tangan adikmu. Tidak, jangan beri es, air hangat atau apa pun. Ayah sebentar lagi sampai.” Dia terus bicara dengan anaknya bahkan sampai Kafin sudah keluar dari areal parkir supermarket.


Aldo menunjukkan jalan yang harus ditempuh oleh sopirku tanpa mengakhiri hubungan telepon. Ternyata dia bicara jujur, jarak rumahnya tidak jauh. Dia tinggal di bagian belakang jalan utama dan termasuk ramai. Tetapi jalan tersebut tidak semacet lalu lintas pada jalan utama. Menunggu sampai ambulans datang akan memakan lebih banyak waktu daripada menggunakan mobilku. Kembali ke kantornya terlebih dahulu untuk mengambil sepeda motornya, itu juga akan butuh waktu lama.


Rumahnya sangat sederhana. Mungkin karena dia tinggal seorang diri. Tetapi mengapa anak-anaknya ada di rumah? Bukankah katanya mereka tinggal bersama orang tuanya? Lalu mengapa mereka malah berada di sini?

__ADS_1


“Tolong, tunggu sebentar. Aku akan segera kembali,” ucapnya memohon. Aku mengangguk. Aku melihat ke arah Kafin yang hanya diam saja di jok depan. Bila Hendra sampai bertanya kepadanya ke mana saja dan bertemu dengan siapa saja aku hari ini, maka bukan hanya aku, dia juga bisa berada dalam masalah besar.


Tidak lama kemudian, Aldo keluar dari rumah bersama tiga orang anaknya. Yang paling tua adalah yang perempuan, dia satu-satunya yang tidak sedang menangis. Dia memegang adik laki-lakinya yang sepertinya anak kedua, sedangkan Aldo menggendong anaknya yang paling kecil. Tidak ada siapa pun lagi yang keluar bersama mereka. Bagaimana bisa dia meninggalkan anak-anak sekecil itu tanpa pengawasan orang dewasa?


__ADS_2