
“Aku mengkhawatirkanmu karena kamu belum kembali juga, sayang. Apakah semuanya baik-baik saja? Dia menyakitimu?” tanya Hendra. Aku menatapnya dengan mata memelas.
“A-aku tidak menemuinya di sini. Aku-aku benar-benar baru dari toilet.” Aku tidak mau dia marah dan menjauh lagi dariku. Aku tidak mau dia sampai salah paham melihat Aldo juga ada di sini.
“Aku percaya kepadamu.” Dia merangkul bahuku. “Sepertinya kamu menganggap peringatan dariku sebagai ancaman kosong. Satu kali lagi aku melihatmu muncul di hadapan istriku, kamu akan merasakan akibatnya, Vivaldo.”
“Memangnya apa yang bisa kamu lakukan kepadaku? Kamu yang seharusnya berhati-hati. Satu laporan dariku, aku bisa membuat perusahaanmu itu gulung tikar,” ancam Aldo. Dia salah memilih lawan. Dia akan menyesali ucapannya itu. Hendra bukanlah tandingannya.
Hendra mencium pelipisku. “Kita kembali sekarang.” Aku menurut saat dia membawaku kembali ke arah aula. “Kamu tidak apa-apa?”
“Aku jujur, Hendra. Aku tidak menemuinya. Dia tiba-tiba saja sudah ada di sana saat aku keluar dari toilet,” ucapku berusaha untuk menjelaskan.
“Aku sudah bilang, aku percaya kepadamu.” Dia mengulang kalimatnya tadi. Aku mendesah lega.
Kami kembali bergabung bersama teman-temanku. Kini Lindsey bergabung bersama kami. Karena semua tempat duduk pada meja itu terisi, aku dan Hendra berdiri mendengarkan mereka bicara. Suamiku memelukku dari belakang dan aku memegang tangannya yang ada di depan tubuhku, tidak mau sedikit pun berada jauh darinya.
Zach mengundangku untuk datang ke rumah pada hari Minggu itu. Dia tidak memberitahu untuk alasan apa. Saat aku memeriksa ponsel, hari ini bukanlah hari ulang tahunnya, Mama, ataupun Papa. Juga bukan hari ulang tahun pernikahan orang tua kami. Lalu untuk apa dia mengajakku dan Hendra bertemu di rumah segala?
Aku membawa rendang daging sapi dan capcai dari rumah untuk menu tambahan makan siang kami. Jadi, Mama tidak perlu memasak banyak makanan untuk kami. Walaupun mereka menyambut kami dengan tangan terbuka, Papa dan Mama heran melihat kedatangan kami.
“Lo? Zach tidak bilang bahwa dia mengundang kami datang?” tanyaku bingung.
“Tidak. Dia sudah pergi beberapa jam yang lalu. Apa mungkin dia lupa bahwa dia mengundang kalian untuk datang?” tanya Mama tidak kalah bingungnya.
“Sudah, tidak usah dipikirkan. Aku senang kalian datang,” ujar Papa melerai. Dia mengajak Liando untuk membawa masuk wadah makanan yang dibawanya.
Kami baru saja duduk di ruang tamu ketika deru halus mobil memasuki garasi rumah. “Ah, itu dia sudah pulang.” Papa berdiri dan membukakan pintu depan.
__ADS_1
Melihat Zach datang bersama seorang wanita, aku akhirnya mengerti. Adikku sudah yakin dengan pilihannya sehingga dia datang membawa kekasihnya untuk diperkenalkan kepada orang tua kami. Mungkin dia membutuhkan dukungan moril melalui kehadiran kami.
“Pa, Ma, perkenalkan, calon istriku, Rasmi Dwi Nugraha,” ucap Zach dengan wajah tersipu.
“Hai, Om, Tante. Perkenalkan, nama saya, Rasmi.” Wanita muda itu memperkenalkan diri dengan wajah bahagia. Hendra menarik tanganku agar aku berdiri dan berpindah duduk di pangkuannya. Dengan begitu, Zach dan Rasmi hanya berdua saja di sofa tersebut.
“Kamu ini,” bisikku. Dia hanya tersenyum.
Papa dan Mama menyambut calon menantu mereka itu dengan wajah bahagia. Zach dan Rasmi bergantian menjawab pertanyaan mereka mengenai bagaimana mereka bisa bertemu, latar belakang keluarga, dan segala detail lainnya. Aku dan Hendra hanya mendengarkan.
“Pa, Ma, aku sudah lapar. Apakah kita bisa lanjutkan ini sambil makan?” tanya Hendra.
“Tentu saja. Ayo, ayo, kita meja makan sekarang.” Papa segera berdiri dan membantu Mama untuk berdiri juga. Mereka berjalan lebih dahulu ke meja makan. Aku menatap suamiku penuh rasa terima kasih. Aku memang sudah lapar sekali. Dia mengecup bibirku sebelum membantuku untuk berdiri.
Melihat dari respons Papa dan Mama, sepertinya mereka tidak keberatan dengan wanita pilihan Zach. Rasmi juga bersikap sangat sopan. Setelah tahu posisinya di perusahaan keluarganya, aku kagum melihat sikapnya yang begitu rendah hati. Dia sama sekali tidak memandah rendah aku dan keluargaku yang jelas-jelas tidak sederajat dengannya.
Tepat pada jam sembilan, aku dan Hendra pamit untuk pulang. Aku sudah sangat mengantuk. Zach juga ikut pergi untuk mengantar Rasmi pulang. Wanita itu memelukku dan berjanji akan datang pada acara di rumah kami pada minggu berikutnya.
“Harus atau aku akan bicara empat mata dengan mereka.” Hendra mendekati tempat tidur dan berbaring di sisiku.
“Bicara empat mata? Maksudmu, kamu akan mengancam mereka untuk menerima Zach menjadi bagian keluarga mereka?” tanyaku tidak percaya. Dia tertawa.
“Tidak seekstrem itu. Rasmi tulus mencintai Zach, mereka seharusnya memberi dukungan. Tidak mudah menemukan orang yang mau membalas cinta kita. Adikmu akan bahagia bersamanya. Jadi, sebagai kakak iparnya, aku akan membantunya sekuat tenaga.” Hendra memelukku.
“Apakah kamu bahagia hidup bersamaku?” tanyaku pelan.
“Sangat. Bagaimana denganmu?” Dia balik bertanya. Aku mengangkat wajahku agar dia bisa melihat kedua mataku.
__ADS_1
“Aku juga bahagia.”
Orang pertama yang datang pada hari itu tentu saja keempat orang tua kami. Kedua mamaku segera menuju dapur untuk membantu persiapan konsumsi acara. Teman-temanku juga datang membantu apa yang bisa mereka lakukan. Claudia dan Mason melihat-lihat orang yang sibuk di sekitar mereka. Mungkin mencari tahu apa yang bisa mereka bantu.
Aku dan Hendra sepakat untuk mengenakan pakaian berwarna putih. Rasanya kami seperti akan mengulang sumpah pernikahan kami. Tidak ada seorang pun yang mengizinkan kami ikut membantu, maka kami hanya duduk di ruang keluarga bersama kedua papa kami.
Tepat pada jam empat sore, kami memulai acara ibadah singkat yang dipimpin langsung oleh pendeta dari gereja di mana aku dan Hendra terdaftar sebagai jemaat. Begitu acara selesai, aku dan suamiku mengantar pria itu sampai teras rumah karena dia harus menghadiri acara lain. Aku tidak lupa memberi bekal makanan untuknya.
Keadaan rumah menjadi ramai dengan orang-orang yang menikmati hidangan makan malam sambil berbincang dengan santai. Kami sengaja membuka semua pintu ruangan di lantai dasar agar para tamu lebih leluasa duduk di mana pun yang mereka inginkan. Rumah pun tidak terasa sesak. Kami bahkan sengaja memasang lampu lebih banyak di teras untuk mereka yang ingin berada di sana.
“Apakah tidak ada pemberian hadiah untuk si kecil pada hari ini?” tanya Claudia bingung.
“Apa kamu ingin memberinya hadiah?” tanya Lindsey heran.
“Tentu saja. Aku tidak akan ada di sini saat si kecil lahir. Aku ingin menjadi orang pertama yang memberi hadiah kepada calon suami cucu pertamaku,” ucap Claudia dengan nada serius.
“Claudia, dia bahkan belum lahir dan kita belum tahu apakah anak pertama dari anak-anak kita adalah perempuan.” Lindsey menatapnya tidak percaya.
“Kalau dia laki-laki, maka dia akan menjadi suami dari anak kedua Zahara.” Claudia bertepuk tangan dengan senang. Oh, Tuhan. Mengapa semua orang berharap aku akan hamil lagi?
“Mengapa kamu hanya ingin menjodohkan cucumu dengan anak Zahara? Bagaimana dengan kami?” kata Qiana setengah protes.
“Apa kalian berencana punya anak lagi?” tanya Claudia membulatkan matanya. Wajah Qiana memucat. Kami tertawa terbahak-bahak.
“Bila kamu ingin memberikan sesuatu untuk putra kami, kami akan menerimanya dengan senang hati,” ucap Hendra kepada Claudia.
“Semoga kalian menyukainya. Apa kalian sudah menyiapkan kamar untuknya?” tanya Claudia dengan antusias. Aku dan Hendra menggeleng pelan. “Syukurlah!” Dia melihat ke arah suaminya.
__ADS_1
Mason mengeluarkan ponselnya, lalu meletakkannya di dekat telinganya. “Kalian boleh masuk.”
Kami saling bertukar pandang. Claudia berjalan keluar dari ruang keluarga dengan cepat. Teman-temanku mengikutinya. Aku dan suamiku juga menyusul mereka. Karena mobil memenuhi halaman rumah, sebuah mobil boks hanya bisa parkir di dekat gerbang. Beberapa orang pria mengeluarkan begitu banyak kardus besar dan membawanya masuk ke rumah. Oh, Tuhan. Mengapa dia memberi begitu banyak hadiah?