
“Terima kasih, teman-teman. Kalian tidak perlu khawatir. Aku dan Hendra baik-baik saja. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk melewati ini bersama.” Aku menoleh ke arah suamiku. Dia malah mengecup bibirku. Teman-temanku segera protes harus melihat adegan itu. “Bisakah kamu serius sedikit?” Hendra hanya tertawa.
“Aku sarankan, kalian jangan melihat acara wawancara itu. Nanti kalian kehilangan banyak barang pecah belah mahal koleksi kalian karena kesal dibuatnya,” kata Hendra. Mereka tertawa kecil. “Dan istriku benar. Terima kasih sudah mengkhawatirkan kami. Entah apa jadinya kami tanpa dukungan kalian semua.”
“Kita bersahabat. Tentu saja kami akan mendukung kalian. Kamu dan Zahara juga sudah banyak menolong kami,” kata Lindsey. “Apalagi saat mencari keberadaan Clarissa, cucuku.”
“Saat masa kampanye Helmut,” kata Qiana dengan cepat.
“Saat menuntut sopir pembunuh putri dan menantuku,” ucap Claudia yang masih marah.
“Juga saat suamiku dijebak mantan pacar gilanya yang baru keluar dari penjara itu,” geram Darla.
Aku tersenyum mendengar dukungan dan ucapan dari mereka. Setelah saling memberi salam, panggilan video diakhiri. Aku menoleh ke arah Hendra, lalu memeluknya dengan erat. Iya. Aku tidak akan sendirian menghadapi semua ini. Aku hanya perlu bersikap lebih tegar dari diriku yang dahulu yang mudah sekali goyah.
Hadi begitu tidak sabar saat pagi itu kami bersiap berangkat ke taman untuk melihat binatang di alam bebas. Aku dan Hendra hanya tertawa melihat tingkahnya. Kali ini suamiku berhenti lebih lama setiap kali ada binatang yang mendatangi mobil kami. Dia tidak terburu-buru seperti pada kunjungan pertama kami. Tetapi dia tidak mengizinkan Hadi memberi makan kepada para hewan itu.
Puas melihat mereka dari balik jendela mobil, kami menuju tempat yang tidak sempat kami datangi sebelumnya. Aku melarang mereka membeli cendera mata dalam bentuk apa pun karena boneka binatang yang mereka beli sebelumnya saja masih belum punya tempat penyimpanan.
Kami kembali ke penginapan setelah makan siang. Anak-anak tertidur dalam perjalanan. Aku senang melihat wajah bahagia yang tergambar pada wajah mereka saat membaringkan mereka di tempat tidur. Aku dan Hendra duduk di teras dan menonton bersama menunggu anak-anak bangun.
“Apa acara berita masih membahas tentang kita?” tanyaku pelan, tidak bisa menahan rasa ingin tahuku. Hendra tertawa kecil.
“Kamu tahu bahwa hal sebesar skandal tidak akan mereda secepat itu. Apalagi ini menyangkut perusahaan sebesar milik Ayah. Walaupun orang-orang tidak terlalu tertarik mencari berita tentang kamu, mereka tidak pernah berhenti memberitakan segala hal tentang aku.”
“Oh, ya? Tetapi aku tidak pernah membaca berita tentang kamu di situs berita atau televisi.” tanyaku heran.
“Karena aku tidak pernah mau memberi konfirmasi apa pun. Berita apa yang mau mereka tulis jika aku selalu bungkam? Papa dan Mama juga tidak pernah menanggapi mereka. Bagian humas tahu bahwa mereka juga tidak diizinkan memberi komentar tanpa izin kami. Tetapi sikap diam kami justru membuat mereka tidak berhenti mencoba.”
“Karena mereka semakin penasaran,” kataku menyimpulkan. Hendra mengangguk.
“Berita yang saat ini beredar menjadi viral karena mereka punya bukti yang bisa dijadikan bahan. Mereka berharap dengan demikian, mereka bisa mengorek sedikit dari kehidupanku dan keluargaku yang memang selalu tertutup dari media. Itu juga sebabnya aku selalu memintamu agar tidak ada seorang pun yang memotret anak-anak kita.
__ADS_1
“Kita biarkan saja mereka memburu berita. Lama-lama juga mereka akan bosan. Lalu akan muncul skandal lain yang lebih menarik. Keluarga kita pun terlupakan.” Solusi yang dia sebutkan terdengar mudah. Aku harap semoga saja itu berhasil.
“Apa kamu sudah menemukan siapa dalang yang menyebarkan rekaman CCTV tersebut?” tanyaku.
“Semakin sedikit yang kamu tahu, semakin sedikit yang mengganggu pikiranmu. Biar aku dan timku yang mengurusnya.” Dia meletakkan telunjuknya di depan bibirku ketika aku akan protes. “Setelah semua masalah ini selesai, aku akan menceritakan segalanya kepadamu. Aku janji.”
“Seharusnya kita menghadapi ini bersama.”
“Iya. Tetapi tugasmu menjaga anak-anak agar tidak terluka karena masalah ini, sedangkan aku akan membalas semua pelakunya.” Aku berusaha untuk mengatakan sesuatu, dia malah menciumku. Ini tidak adil. Aku tidak mau hanya menjadi beban baginya. Masalah ini terjadi karena kesalahanku. Aku ingin setidaknya aku bisa membantunya memperbaiki reputasinya.
Ketika anak-anak bangun, mereka duduk bersama kami di teras. Setelah beberapa saat duduk di pangkuan papanya, dia mengajak kami untuk makan malam. Kebetulan aku juga sudah lapar. Hendra menggendong Dira, sedangkan Hadi berjalan di antara kami berdua sambil menggandeng tangan kami. Jarak antara karavan dan restoran tidak jauh, jadi kami memilih untuk berjalan kaki.
Bila anak-anak tahu dosa yang aku lakukan yang telah menyakiti papa mereka suatu hari nanti, apakah mereka akan memaafkan aku? Pertanyaan itu akhir-akhir ini mengisi kepalaku. Aku tidak akan marah kepada mereka andai saja mereka menjauh dariku karena itu adalah respons yang normal. Aku justru akan terkejut jika mereka mudah saja menerima fakta itu dan memaafkan aku.
Ternyata ada kesalahan yang dampaknya tidak hanya menyakiti satu atau dua orang saja. Dosaku telah menyakiti keluargaku, suamiku, mertuaku, dan mungkin suatu hari nanti, menyakiti anak-anakku. Aku telah berdamai dengan keluarga dan suamiku. Misiku berikutnya adalah berbaikan dengan mertuaku dan bersiap menghadapi respons Hadi dan Dira.
Aku sedang menyendokkan nasi ke piringku ketika seseorang mengecup bibirku. Aku mengedipkan mata dan melihat Hendra sedang tersenyum. “Jangan melamun, sayang. Mau berapa lama kamu memegang sendok itu? Tamu lain juga mau mengambil nasi.” Terdengar tertawa geli di dekatku. Aku menoleh dan melihat antrian orang di sebelah kananku.
“Aku lebih suka menggunakan cara itu untuk memanggilmu,” katanya santai. Dia baru saja mencium bibirku di depan umum bisa bersikap santai bagitu?
“Aku merasa semua orang sedang menatapku sekarang.” Aku tidak berani melihat ke sekitarku. Dia hanya tertawa.
“Mama ada masalah apa?” tanya Hadi yang meletakkan sendok makannya di atas piring.
“Tidak ada masalah, sayang. Makanlah.” Aku mengusap kepalanya.
“Nenek bilang, kalau Mama sedang diam dan berpikir sendiri itu artinya Mama sedang ada masalah.” Dia turun dari kursinya lalu mendekatiku. “Dan setiap Mama sedang ada masalah, Nenek bilang, aku harus memeluk Mama.”
“Oh, sayang. Terima kasih.” Aku membalas pelukannya. Jangan menangis, Za. Jangan menangis. Mungkin aku yang berpikir terlalu jauh. Hadi dan Dira tidak akan membenciku bila mereka tahu hal jahat yang sudah aku lakukan. Mereka akan memaafkan aku dan menyayangiku tanpa syarat.
Malam itu aku bisa tidur dengan nyenyak dan bangun dalam keadaan mengantuk. Hendra dan anak-anak masih melakukan kebiasaan joging mereka. Kami melewati taman, menyeberangi sungai lewat jembatan, dan berhenti hanya untuk bermain dengan hewan-hewan yang kami temui.
__ADS_1
Karena hari ini kami akan kembali ke vila, Hadi meminta agar kami berenang sebelum check-out. Maka sebelum pergi ke restoran untuk sarapan, aku memasukkan handuk dan mantel ke tas dan membiarkan Hendra yang membawanya.
“Ponselku.” Aku ingin melihat jam tetapi baru menyadari bahwa aku tidak membawanya.
“Ambillah. Kami tunggu.” Hendra memberikan kunci kamar kami kepadaku. Kami tidak pernah meninggalkan barang pribadi di kamar hotel, khawatir ada yang mengambilnya.
“Tidak. Kalian pergilah. Aku akan segera menyusul.” Aku membalikkan badan dan setengah berlari kembali ke karavan. Ponsel itu aku temukan ada di atas tempat tidur.
“Hai, Za.” Aku mendengar suara seseorang memanggil namaku saat aku baru menuruni tangga teras karavan. Aku menoleh dan melihat Dicky sedang berjalan bersama beberapa orang pria dan wanita. Mereka melihat aku dengan rasa penasaran. “Kamu ada di sini juga?”
“Maaf, aku pergi lebih dahulu.” Mengapa? Mengapa aku selalu bertemu dengan orang-orang yang tidak aku inginkan beberapa hari ini? Setelah Vivaldo, sekarang Dicky?
“Kamu pasti mau ke restoran juga.” Dicky berjalan di sisiku, menyamakan langkahnya denganku. Dia selalu saja tidak bisa menangkap sinyal dengan baik. “Kami juga mau ke sana. Kamu ke sini bersama siapa?” Dia melihat ke sekitar kami.
“Dicky, hentikan ini. Aku sudah menikah,” kataku dengan tegas. Hendra tidak akan suka melihat aku berjalan apalagi bicara dengan seorang pria begini.
“Itu tidak menghalangimu untuk mempunyai teman, ‘kan?” katanya tidak menyerah.
“Kita tidak berteman,” ujarku meluruskan.
“Apa kamu sudah lupa bahwa kita pernah berbagi cerita mengenai kehidupan kita yang sama-sama ditinggal oleh pasangan kita?” tanyanya. “Dan sekarang kamu mengatakan kita tidak berteman?”
“Sebentar.” Aku menghentikan langkahku. “Kamu jangan bicara sembarangan. Kita tidak pernah berbagi cerita. Kamu yang tidak berhenti bicara mengenai almarhumah istrimu. Aku tidak pergi dan mendengarkanmu karena kita berada pada satu meja di acara kampanye politikmu dan Helmut.”
“Tidak, Za.” Ah. Dia yang dimaksud Hendra dengan pria yang memanggilku Za. “Kamu tidak pergi karena kamu tidak menyadari bahwa kamu sebenarnya peduli kepadaku.” Omong kosong apa ini?
“Aku tidak mau membahas ini denganmu.” Aku kembali melangkahkan kakiku. Dia memegang lenganku membuatku terpaksa menghentikan langkahku.
“Dengar. Aku mau kamu tahu satu hal. Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku juga tidak peduli andai kamu membutuhkan pria lain untuk memuaskanmu. Tetapi saat Hendra meninggalkanmu lagi karena tidak bisa memenuhi kebutuhanmu, aku akan menikahimu. Aku mencintaimu, Za. Aku berjanji bahwa aku akan menerimamu apa adanya.”
Bicara apa dia? Aku membutuhkan pria lain untuk memuaskanku? Hendra yang memiliki segalanya, dia bilang, tidak bisa memenuhi kebutuhanku? Omong kosong apa yang sedang dia bicarakan?
__ADS_1