Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 195 - Pergi untuk Selamanya


__ADS_3

“Kamu tahu sendiri bahwa aku dan Mama tidak bicara lagi. Aku tidak diusir saat membantunya sampai pulih nanti, aku sudah bersyukur. Aku tidak berharap keajaiban akan terjadi dalam sekejap, lalu hubunganku dan Mama mendadak kembali seperti semula.” Aku cemberut.


“Hubungan kalian tidak akan kembali seperti semula. Sebaliknya, hubunganmu dengan Mama akan lebih kuat dari yang sebelumnya,” katanya begitu yakin. Aku menoleh ke arahnya. Apa yang membuat dia memiliki kepercayaan sebesar itu?


“Mengapa kamu bilang begitu?” tanyaku menyampaikan apa yang aku pikirkan.


“Karena hubungan kita juga begitu.” Dia tersenyum, lalu mencium bibirku.


Menuruti permintaan Mama, aku datang ke rumah mereka pada keesokan harinya menjelang jam makan siang. Kami makan bersama, lalu aku mendampingi Mama melakukan senam ringannya. Baru duduk beristirahat sebentar, dia sudah tertidur. Aku menyesuaikan suhu pendingin ruangan agar kamar itu tidak terlalu panas sebelum turun ke lantai bawah.


Papa sedang bermain bersama Dira saat aku memasuki ruang keluarga. Televisi menayangkan salah satu film anak, tetapi pandangan mereka pada boneka binatang yang dibawa oleh putriku. Mereka bicara seolah-olah boneka itu hidup dan bisa memahami percakapan mereka. Aku tersenyum mendengar kosakata Dira bertambah lagi.


“Dia sudah tidur?” tanya Papa. Aku mengangguk pelan. “Baguslah. Dia sering sekali memaksakan dirinya untuk tetap terjaga ketika dia sebenarnya sangat mengantuk.”


“Semuanya baik-baik saja, Pa? Ada masalah dengan dada kiri Mama saat mandi pagi tadi?” tanyaku ingin tahu. Aku ikut duduk di atas karpet bersama mereka. Papa adalah suami yang sangat baik dan telaten. Aku tidak pernah menyangka bahwa dia mau merawat Mama tanpa bantuan suster atau siapa pun.


“Semuanya baik-baik saja. Aku menjaga agar jahitannya tetap kering. Bahkan sekarang menjadi lebih mudah sejak selangnya diambil.” Papa tersenyum. Dia melihat ke arah pintu lalu berbisik, “Tetapi bukan berarti mamamu tidak mengeluh dari aku membuka pakaiannya sampai membantunya mengenakan pakaian bersih.”


“Aku sudah bisa membayangkannya.” Aku tersenyum.


“Kamu tahu apa yang paling membahagiakan pada hari ini?” tanya Papa. Aku menunggu sampai Papa memberitahu aku. “Tidak ada lagi pembicaraan mengenai Nora. Akhirnya, gadis itu pergi dari hidup kami untuk selamanya.”


“Papa jangan senang dahulu. Akan ada wanita baru yang akan Mama pilih untuk didekatkan ke Hendra. Mama belum memaafkan aku, bahkan mulai menawarkan aku untuk mendekati dokternya.” Aku bergidik pelan. Papa tertawa kecil.


“Aku sudah lama menikah dengannya, tetapi setiap hari selalu saja ada kejutan baru yang membuat aku bertanya-tanya, siapa wanita yang aku nikahi ini sebenarnya.” Papa tertawa geli. “Mereka semua benar. Tidak akan ada kata cukup mengenal meskipun kita berpacaran lama dengan kekasih kita sebelum menikahinya.”


“Papa berpacaran lama dengan Mama?” tanyaku tidak pernah tahu mengenai hal itu sebelumnya. Papa mengangguk.

__ADS_1


“Kami menjalin hubungan selama lima tahun sebelum aku melamarnya dan yakin untuk menikah dengannya. Naava sudah lama memberi sinyal, tetapi aku menunggu. Dia sangat menyukai pekerjaannya dan aku tidak mau memaksanya meninggalkan hal yang dia sukai hanya demi menikah denganku,” kata Papa yang matanya menerawang jauh.


“Apa maksud Papa?” tanyaku tidak mengerti.


“Alamarhumah ibuku mensyaratkan istriku tidak boleh bekerja dan harus ikut dalam kegiatan sosial yang dia pelopori bersama teman-temannya. Naava memang tidak keberatan. Aku yang keberatan. Aku bersyukur telah menunggu saat yang tepat karena kami tidak perlu lama menantikan kehadiran anak.” Papa tersenyum bahagia dengan pandangan matanya yang penuh nostalgia.


“Naava adalah istri yang mandiri. Aku tidak pernah direpotkan olehnya. Kadang-kadang aku berharap dia meminta pertolonganku, satu kali saja. Sepertinya keinginanku itu baru terkabul sekarang.” Papa mengedipkan sebelah matanya ke arahku.


“Papa tidak keberatan dengan semua kerepotan ini? Serius?” tanyaku setengah menggodanya.


“Tidak. Aku malah menyukainya. Kamu tidak akan tahu betapa membosankannya hanya diam di rumah setelah berhenti dari pekerjaan yang selama ini membuat aku sibuk.”


Aku mengerti sekarang dari mana sikap romantis suamiku berasal. Dia meniru ayahnya. Sifatnya yang manis, rasa cintanya yang tidak mudah berpaling, juga kesabarannya menghadapi aku. Saat aku sedang berduka karena kehilangan bayi kami, dia nyaris dua puluh empat berada di sisiku. Dia tidak keberatan membawa pekerjaannya ke rumah, khawatir bahwa aku akan melakukan kebodohan yang sama lagi. Aku yakin bila aku sakit parah, dia tidak akan meninggalkan aku, tetapi setia di sisiku.


Itulah sebabnya aku tidak mau membayangkan andai kami tidak pernah bersama. Aku tidak akan menemukan laki-laki lain di luar sana yang akan mencintai aku seperti Hendra. Dia hanya untukku. Seperti halnya aku hanya untuknya. Sekali lagi aku mengutuk tiga bulan puasa yang harus aku jalani yang terlihat semakin jauh dari garis akhir.


Menepati janjinya, Annora dan keluarganya datang untuk menginap di rumah kami sebelum mereka kembali ke London. Suasana rumah yang sudah ramai menjadi semakin ramai dengan kehadiran mereka. Dan untuk pertama kalinya, aku bisa melihat Liam dan Jax yang kini berusia empat belas dan enam belas tahun. Mereka sangat tampan!


Liam meniru fisik Annora dengan rambut gelap dan mata hijaunya, sedangkan Jax mengambil fisik Xavier dengan rambut pirang dan mata biru cerahnya. Hendra sampai memegang daguku dan memutar wajahku beberapa kali ke arahnya saat aku menatap mereka penuh kekaguman. Apa salahnya mengagumi keindahan alam di hadapanku itu? Masa dia juga cemburu kepada anak-anak?


Dia bahkan tidak mengizinkan aku untuk menjabat tangan mereka. Merusak suasana hatiku saja. Xavier dan Annora yang sudah mengenal sifat posesif suamiku hanya tertawa melihat tingkahnya. Kami mempersilakan mereka untuk beristirahat di kamar dan melakukan apa saja yang mereka mau di rumah kami. Makan malam sudah disiapkan kapan saja mereka mau mengisi perut.


Liam dan Jax langsung menanyakan kata kunci jaringan nirkabel yang ada di rumah kami. Aku dan Annora saling bertukar pandang penuh arti. Anak-anak zaman sekarang sudah tidak bisa lepas dari internet. Abdi menuntun rekan-rekan kerjanya yang membawa koper mereka menuju kamar yang akan digunakan oleh Xavier dan keluarganya.


Sembari menunggu mereka membersihkan diri, kami menemani Hadi dan Dira menonton di ruang keluarga. Ara meringkuk di kakiku, sedangkan anak-anak berada di antara kami. Sudah lama rasanya kami tidak merasakan damai seperti ini.


“Ma, Nenek sakit apa sampai Mama setiap hari ke rumah Nenek?” tanya Hadi yang tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan kami mengenai film yang kami tonton.

__ADS_1


“Kanker, sayang,” jawabku sambil mengusap rambutnya yang halus.


“Kanker?” tanyanya terkejut. Wajahnya berubah sedih. “Mama Colin juga sakit kanker. Apa Nenek juga akan pergi jauh karena sakit ini, Ma?”


“Tidak, sayang.” Aku tersenyum kepadanya. “Nenek sudah dioperasi karena itu Mama menemani Nenek sebentar saja. Gantian dengan Kakek supaya Kakek tidak terlalu kelelahan. Nenek sedang masa pemulihan. Kata dokter, umur Nenek masih panjang. Jadi, kamu tidak perlu sedih.”


“Lalu mengapa mama Colin pergi karena sakit kanker, Ma?” tanyanya bingung.


“Itu karena sakitnya sudah parah dan mamanya terlambat ditolong,” jawabku pelan.


“Apa aku boleh ikut menemani Nenek bersama Mama?” tanyanya penuh harap. “Aku janji tidak akan mengganggu. Aku akan menuruti apa pun yang Mama katakan.” Aku melihat ke arah Hendra. Dia mengangguk pelan.


“Boleh. Besok sepulang sekolah, Pak Liando akan mengantar kamu dan Colin ke rumah Nenek. Janji tidak akan membuat Kakek dan Nenek marah?” Aku mengacungkan jari kelingking kananku. Dia segera mengaitkan kelilingking kanannya pada jariku.


“Janji, Ma!” ucapnya senang.


...*******...


...~Author's Note~...


Hari Seniinn ...! Itu artinya pemberian tiket merah untuk semua akun secara gratis. Hehehe .... Kalau teman-teman tidak punya buku lain yang akan dihadiahi tiket, berikan untuk cerita Hendra dan Zahara, ya. Ehem. ♡(`ω`)♡


Terima kasih atas dukungannya. Jangan lupa sentuh suka/like, beri komentar jika ada, dan beri rating pada cerita ini, ya. Oke, aku kembali mengetik bab selanjutnya. (。・ω・。)ノ♡


Salam sayang,


Meina H.

__ADS_1


__ADS_2