
“Kami baru berbelanja di butik dekat sini. Lalu aku teringat bahwa kita sudah lama tidak makan malam di restoran kesukaan kamu. Bagaimana kalau kita makan bersama?” ucap Mama dengan wajah berbinar-binar bahagia. Aku ingin meralat bahwa itu bukan restoran kesukaanku, tetapi Za. Mengingat bahwa Mama sangat membencinya, aku mengurung niatku itu.
“Aku tidak bisa ikut, Ma. Aku sudah ada urusan sore ini,” tolakku. Mama melihat ke arah pintu.
“Sherry, batalkan semua janji Hendra pada malam ini. Dia akan makan malam bersama keluarganya. Terima kasih.” Mama menggandeng tangan Nora dan duduk di sofa. Sherry menatapku meminta konfirmasi. Aku mengangguk pelan. Tidak ada gunanya berdebat dengan ibuku. “Cepat selesaikan pekerjaanmu, kami menunggu.”
Lima menit kemudian, Papa datang dan kami keluar bersama dari ruanganku. Sherry yang masih ada di balik mejanya mengucapkan salam, aku hanya mengangguk pelan. Ini akan menjadi hari terakhir dia ada di sini saat aku datang ke tempat kerja. Semoga saja penggantinya bisa bekerja lebih baik darinya dan tidak berniat jatuh cinta dengan atasannya sendiri.
Nora berulang kali berusaha untuk menggandeng tanganku atau melingkarkan tangannya di lenganku. Aku menolak. Dia pasti berpikir bahwa dengan adanya dukungan dari Mama, maka dia punya kesempatan besar untuk bisa mendapatkan aku. Karena sudah bosan memberinya penjelasan, lebih baik aku biarkan saja dia berpikir sesukanya.
Makan di restoran kesukaan Za membuatku teringat kepadanya. Aku bahkan tidak menyadari bahwa aku memesan daging seperti yang dia pesan. Wanita yang satu ini memang hebat. Lima tahun berpisah, dia masih saja menguasai hati dan pikiranku. Tetapi aku juga salah. Aku sering mengalah dengan dorongan hatiku dan nekat tidur di sisinya setiap kali insomniaku kambuh.
Aku tidak memiliki masalah tidur sebelumnya. Sejak bercerai dengan Za, aku mulai kesulitan tidur. Awalnya aku masih bisa tidur pulas beberapa jam sampai akhirnya aku tidak bisa tidur sama sekali tanpa bantuan obat. Untung saja Za punya kebiasaan yang sudah aku kenal. Aku lebih memilih tidur diam-diam di sisinya daripada mengonsumsi obat.
“Hendra, apa kamu mendengar kami?” tanya Mama membuyarkan lamunanku. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. “Nora punya kabar baik untukmu.” Aku kembali memotong daging di atas piringku dan memasukkannya ke mulutku dengan garpu. Tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan wanita yang duduk di sisiku.
“Ada sebuah hotel di Bali yang akan dijual. Milik temanku. Dia akan menikah dan berniat mengikuti suaminya ke negaranya. Kondisi bangunannya masih bagus, hanya saja beberapa bulan ini memang tidak banyak tamu karena dia sibuk menyiapkan pernikahannya. Dia tidak sempat lagi mengurus hotel itu. Kalau kamu tertarik, aku bisa membawamu menemuinya,” kata Nora dengan antusias.
Kata mana dari kalimatku semalam yang tidak bisa dia pahami? “Aku tidak akan membeli hotel lagi.”
__ADS_1
“Bila waktu adalah masalahmu, maka aku bersedia membantumu untuk mengelolanya. Kamu tidak harus mengangkatku menjadi General Manager di hotel. Aku bisa membantumu sekaligus mengurus hotel milik papaku juga.” Dia mengulang saran yang diberikan ayahnya semalam.
“Jika kamu serius ingin mencari suami, aku beritahu satu hal. Ketika seorang pria berkata tidak, itu artinya tidak. Bujukan atau rayuan tidak akan bisa mengubah pendiriannya,” kataku dengan tegas. Aku merasakan tatapan tajam Mama ke arahku, tetapi aku tidak menoleh dan mengabaikannya.
Wanita itu tidak menyerah juga dan terus saja membicarakan mengenai keuntungan yang akan aku dapatkan jika aku membeli hotel tersebut. Dia bahkan menyebutkan berbagai ide acara yang bisa diadakan untuk menarik lebih banyak tamu. Mengapa dia tidak memberikan semua usul itu kepada temannya? Aku tidak membutuhkannya.
Mama memaksaku untuk mengantarnya pulang, aku menolak. Dia datang bersama Mama, maka dia pun harus pulang bersamanya. Wanita itu bukan temanku atau keluargaku. Akhirnya, sopir Mama yang mengantarnya pulang. Aku bisa kembali ke apartemenku.
“Acara apa yang ingin kamu hadiri tadi?” tanya Mama ingin tahu. Papa yang sudah membukakan pintu mobil untuknya, terpaksa menunggu sampai Mama selesai bicara. “Pasti ulang tahun Hadi, ‘kan? Jangan harap aku akan membiarkanmu menemui wanita itu lagi.”
“Jadi, itu alasan Mama mendadak mengundangku makan malam?” tanyaku mengonfirmasi.
“Ma, antrian sudah panjang. Kita harus pergi sekarang,” kata Papa. Mama menurut. “Sampai nanti, Nak. Jaga dirimu.” Aku mengangguk pelan.
Kekhawatiran Mama itu tidak beralasan. Aku tidak punya rencana untuk menghadiri acara ulang tahun Hadi pada hari ini. Pertemuan kami kembali setelah lima tahun tidak bertemu tidak akan aku lakukan di depan banyak orang. Pertemuan pertamaku dengan anak-anakku juga tidak akan aku biarkan disaksikan oleh orang banyak. Aku ingin melakukannya di antara kami saja.
“Hadiah yang aku minta sudah sampai di rumah?” tanyaku kepada Kafin.
“Sudah, Tuan. Isinya lengkap sesuai permintaan Tuan,” jawabnya dengan sopan. Aku mengangguk puas. “Nyonya menitipkan kotak bekal itu untuk Tuan.”
__ADS_1
“Kamu bawa pulang dan nikmati bersama keluargamu.” Aku tidak ingin mengingat rumah dengan kembali menyantap makanan buatan Fahri.
“Nyonya sudah memberikan bagian saya dan keluarga, Tuan,” lapornya. Aku hanya menatapnya dari kaca spion yang ada di atas dasbor. “Ah, ba-baik, Tuan. Saya akan bawa pulang semuanya.”
“Aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu. Pergilah berlibur bersama keluargamu. Aku cuti satu minggu, jadi aku tidak akan membutuhkan sopir. Hubungi Abdi bila kamu memerlukan hotel atau tiket pesawat. Dia yang akan mengurusnya untukmu, aku yang menanggung biayanya.”
“Te-terima kasih, Tuan,” katanya terharu.
“Fokus, Kafin. Kamu sedang menyetir,” ujarku mengingatkan. Aku tersenyum melihat dia menyeka wajah dengan lengan kemejanya. “Terima kasih sudah setia mengantarku ke mana pun. Aku tidak bisa memberi banyak, tapi semoga kamu dan keluargamu menyukai liburan kalian. Beritahu aku jika uangnya kurang. Jangan segan.”
“I-iya, Tuan,” katanya pelan.
Ara segera menyalak senang saat aku baru saja membuka pintu apartemen. Karena dia bersikap baik, aku mengangkatnya dan membiarkan dia meluapkan rasa rindunya. Aku meletakkannya di lantai sebelum masuk ke kamar mandi. Seperti kebiasaannya, dia menggonggong keras penuh protes karena aku tinggalkan sendirian di kamarku.
Dia kembali menyalak senang melihat aku keluar dari kamar mandi menuju ruang pakaian. Aku benar-benar kehilangan ketenangan di tempat ini sejak kehadirannya. Apalagi dia jenis anjing yang sangat membutuhkan perhatian. Apa semua Golden Retriever seperti itu atau ini karena dia betina?
“Mengapa perempuan sulit jujur dengan perasaannya, Ara?” Kami sudah duduk santai di sofa menonton film kesukaannya. Anjing itu menyalak sambil menggoyang-goyangkan ekornya. “Ah, tidak semua perempuan. Wanita pilihan ibuku blak-blakan membicarakan apa yang ada dalam pikirannya. Apa hanya Za yang begitu?”
Aku berdebar-debar memikirkan akan melakukan apa selama satu minggu ke depan. Apa anak-anakku akan mau menghabiskan waktu bersamaku atau aku akan dianggap sebagai orang asing? Akan aku pikirkan nanti. Setelah pertemuan pertama terlewati, segalanya akan lebih mudah nanti.
__ADS_1
Selama ini hanya aku sendiri yang datang menemui mereka ketika mereka sudah pulas. Tetapi kali ini aku akan datang menunjukkan diriku di hadapan mereka. Sudah saatnya kami bertemu lagi.