Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 105 - Satu Sama


__ADS_3

“Sepertinya kalian berdua perlu bicara. Aku akan masuk lebih dahulu.” Aku membuka pintu vila yang tidak dikunci. Anak anjing itu segera menyalak menyambut kedatangan kami. Aku terus berjalan menuju kamar Dira. Tanpa mengganti pakaiannya, aku membiarkan dia tidur.


Anak anjing itu memutari kakiku mengharapkan aku melakukan sesuatu untuknya. Aku mendesah pelan. Untuk pertama kalinya, aku menyentuh dia dan mengangkatnya. Lalu meletakkannya di tempat tidur. Dia segera mengendus-endus Dira dengan senang. Menyadari bahwa putriku tidak membalas sambutannya, dia meringkuk dan berbaring di selimut di dekat kaki Dira.


Hendra melarang Hadi untuk membawa anak anjing ini tidur di kamarnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku perlu menurunkannya dari tempat tidur atau membiarkan dia menemani putriku? Tetapi dia sangat manis dengan posisi tidurnya itu. Mungkin dia hanya merindukan tuannya. Maka aku putuskan untuk membiarkan dia tidur bersama putriku dan menutup pintu kamarnya.


Pada saat yang bersamaan, Hendra keluar dari kamar Hadi. Dia mendesah keras. Aku menatapnya dengan heran. Ke mana wanita muda itu? Aku melihat ke arah pintu depan yang tertutup, lalu kembali ke arahnya. Dia hanya melihatku sesaat sebelum berjalan ke dapur.


Dia mengambil dua gelas air dan mengisinya dengan air minum. Satu diberikannya kepadaku, yang satu lagi dia teguk isinya sampai habis. Aku masih menatapnya penuh tanya.


“Ada apa?” Dia mengisi gelasnya yang sudah kosong tersebut.


“Ke mana sekretarismu tadi?” tanyaku ingin tahu.


“Dia sudah bukan sekretarisku lagi.” Dia membawa gelasnya dan berjalan menuju sofa di depan televisi. Aku mengikutinya.


“Bukankah dia bekerja dengan baik? Mengapa kamu memecatnya?” tanyaku lagi. Aku meminum beberapa teguk air, lalu meletakkan gelas di atas meja.


“Setelah mendengar kalimatnya yang sengaja dia ucapkan di depanmu, kamu masih bertanya? Apa kamu kehilangan kecerdasanmu setelah ketakutan setengah mati di jembatan tadi?” Dia tersenyum mengejekku. Aku memicingkan mataku mengingat kejadian yang memalukan itu.


“Dia hanya mengatakan perasaannya. Bukan memberitahuku dengan sengaja.” Aku membela gadis malang itu. Dia hanya putus asa karena ditolak oleh pria yang dia cintai.


“Dia sudah pernah mengatakannya. Dia tidak perlu mengatakannya lagi. Kedatangannya ke tempat ini setelah berulang kali menelepon nomorku jelas adalah sebuah kesengajaan. Melihat ternyata aku tidak datang ke tempat ini sendirian, tetapi bersamamu dan anak-anak, dia sengaja menyatakan cintanya lagi.” Dia meletakkan remote televisi ke atas meja setelah memilih satu siaran berita.

__ADS_1


“Apa dia sudah pergi?” tanyaku sambil melihat ke arah pintu depan. Hendra hanya diam saja. “Ada apa? Mengapa kamu diam saja?”


“Kamu serius ingin membahas tentang dia? Karena kalau iya, aku tidak punya tanggapan apa pun lagi,” katanya dengan nada tegas.


“Mengapa kamu masih sendiri, Hendra? Ada begitu banyak perempuan yang ingin menjadi istrimu, mengapa kamu tidak memilih salah satu dari mereka?” tanyaku ingin tahu. Dia tersenyum.


“Bagaimana denganmu? Mengapa kamu tidak menikah dengan pria yang bernama Dicky itu?” Dia balik bertanya. Aku menatapnya dengan saksama. “Dia anggota dewan, punya jaringan televisi besar di Indonesia, punya situs web berita yang ternama juga, dia calon suami idaman.”


“Kamu cemburu?” tanyaku pelan. Dia hanya diam dengan mata yang tetap terarah ke televisi. Aku memberanikan diri untuk mengulurkan tanganku dan menyentuh rambut di belakang kepalanya. Dia menoleh ke arahku penuh tanya.


“Apa yang sedang kamu lakukan?” Dia melihat ke arah lenganku yang terangkat penuh curiga. Aku mengangkat kedua kakiku ke atas sofa lalu duduk di pangkuannya. Kedua kakiku mengurung kedua pahanya. Aku membelai pipinya dengan tanganku yang lain. Dia masih menatapku tetapi tidak menolakku. Tepat seperti yang aku duga.


Aku menurunkan mataku menatap bibirnya, sebelum kembali melihat ke arah matanya. Kali ini dia menatapku dengan waspada. Aku tersenyum dan tidak membiarkannya menunggu lebih lama. Aku mencium bibirnya. Awalnya dia tidak membalasku. Ketika aku tidak berhenti mencoba, dia menyerah. Dia memelukku begitu erat dan tangannya yang ada di belakang kepalaku mengambil kendali. Aku membiarkan dia yang memimpin.


Saat aku merasakan kejantanannya menyentuh bagian bawah tubuhku, aku memberinya sedikit dorongan agar dia mengerti bahwa aku ingin berhenti. Dia tidak mau menuruti permintaanku, maka aku berhenti membalas ciumannya.


“Sekarang skor kita sama. Satu satu,” bisikku. Dia menggeram pelan. “Selamat menenangkan diri, Hendra sayang.”


“Aku hanya membuatmu takut. Yang kamu lakukan ini kejam.” Dia terlihat kesakitan. Aku hampir merasa kasihan melihatnya. Hampir. Tetapi dia pantas untuk mendapatkannya. Dia tidak punya kelemahan. Hanya ini satu-satunya cara untuk membalas perbuatannya tadi.


“Kamu benar. Hiburan sekali seumur hidup ini tidak boleh dilewatkan.” Aku tertawa puas, turun dari pangkuannya, dan masuk ke kamar. Dia mengatakan sesuatu dengan suara merintih, tetapi aku tidak mendengarnya lagi. Aku terlalu senang dengan kemenanganku yang sangat mudah itu.


Bertahun-tahun sejak memilik anak, aku tidak pernah tidur siang sepulas ini. Tubuhku terasa lebih segar saat aku bangun dan udara yang dingin menyambutku. Aku membuka mata dan mendengar keadaan di sekitarku. Tidak hujan. Mengapa udaranya terasa dingin?

__ADS_1


Aku meregangkan tubuhku dengan mengangkat tanganku ke atas. Sudah saatnya bangun karena aku harus ke kamar kecil. Ketika membalikkan badan, aku melihat seseorang berdiri tidak jauh dariku. Aku memekik terkejut. Setelah melihat siapa yang sedang berdiri sambil mengancingkan kemejanya, aku mengerti rasa dingin yang aku rasakan tadi. Dia sedang menatapku dengan tajam.


“Ada apa?” Aku tertawa kecil. “Ah, aku harus ke kamar mandi.” Aku bergegas turun dari tempat tidur, melewatinya menuju kamar mandi, dan menutup pintunya. Aku tertawa lagi.


“Tunggu saja. Aku akan membalasmu, Za,” ancam Hendra dari balik pintu. Dia tidak akan bisa melihatnya, tetapi aku menjulurkan lidah ke arah pintu.


Keluar dari kamar, aku bingung tidak ada aroma masakan yang menyambutku. Suara anak-anak juga tidak terdengar. Apa mereka masih tidur? Hendra juga tidak terlihat di mana pun. Sayup-sayup aku mendengar suara tawa saat berjalan ke dapur. Aku mengikuti arah datangnya suara. Dari kamar Dira. Aku membuka pintunya dan melihat mereka bertiga sedang bermain dengan anak anjing itu.


“Mama! Mama sudah bangun!” ucap Hadi senang. Aku mengerutkan keningku. “Ayo, Pa. Kita sudah bisa pergi sekarang.”


“Pergi ke mana?” tanyaku bingung.


Setelah beberapa kali mengajak kami makan di restoran dengan suasana yang mewah, kali ini Hendra membawa kami ke rumah makan yang sederhana dan ramai dengan pengunjung. Menu andalannya adalah ikan bakar. Udara yang dingin dipadukan dengan makanan yang hangat adalah surga. Melihat banyaknya jumlah pengunjung, suasana akhir pekan mulai terasa.


“Kita akan di rumah saja besok. Aku tidak tahan dengan keramaian pada hari Sabtu dan Minggu. Apa kamu keberatan, Hadi? Apa kamu masih ingin mengunjungi sebuah tempat di kota ini?” tanya Hendra. Hadi menggeleng pelan.


“Aku juga tidak suka keramaian, Pa. Besok kita berkemah saja atau berenang,” ucap Hadi senang. Tidak suka keramaian? Sejak kapan dia tidak suka dengan keramaian?


“Kalian sudah selesai?” Hendra melihat ke arah piring kami. “Kita pulang sekarang?”


Aku dan Hadi serentak menganggukkan kepala. Hendra memberiku tatapan dinginnya sebelum berdiri dan mengangkat putri kami dari tempat duduknya. Aku mengulum senyum. Dia masih marah karena perbuatanku tadi. Aku harus berhati-hati, bisa saja dia akan membalasku malam ini.


Hendra mendudukkan Dira di kursinya, lalu memasang sabuk pengamannya sebelum menggandeng Hadi dan membawanya ke tempat duduknya. Aku masuk bersamaan dengan dia duduk di belakang setir. Aku baru saja memasang sabuk pengaman ketika pintu di belakangku terbuka.

__ADS_1


“Papa! Papa!” pekik Dira. Kami menoleh ke belakang. Seorang pria memakai topeng mengangkat putri kami dari tempat duduknya.


“Dira!” Aku membuka pintu mobil dan keluar. Tetapi pria itu lebih cepat. Dia masuk ke mobil yang ada di sebelah kami dan melaju pergi. “Diraa!!” Oh, Tuhan. Apa yang terjadi?


__ADS_2